
Sebuah benda pipih Ayumi tempelkan di daun telinganya. Dia terlihat berbicara, berjalan memasuki kamar, kemudian duduk di sofa yang berada tepat di sudut ruangan itu.
"Jadi bagaimana keadaan Bang Amar? Sudah baikan?" Tanya Ayumi.
"Sudah. Tinggal pemulihan saja, sama masih belajar jalan, begitu-begitu juga dia sedikit cengeng, sakit sedikit pasti mengeluh, dan merengek."
Suara Tutih terdengar menjelaskan. Sementara Ayumi mendengarkan sambil mengangguk-angguk kepala.
"Bagaimana acaranya? Lancar? Lalu cucu Ibu jadinya perempuan atau laki-laki?"
Senyuman Ayumi terbit, lalu dia menundukan pandangan, dan mengusap perut yang semakin hari terlihat semakin membesar.
"Perempuan, Bu."
"Ya ampun. Ibu tidak bisa bayangkan bangaimana menggemaskannya dia nanti, … lalu bagaimana? Sudah mulai nyicil beli pakaian bayi? Sudah harus mulai beli dari sekarang, Ibu hamil itu bisa melahirkan kapan saja, setidaknya kalian sudah siap jika saat-saat itu terjadi." Katanya dengan antusias.
Tutih berbicara panjang lebar, seperti sedang memberikan sebuah pengetahuan dasar kepada calon orang tua baru, yang tentunya masih sangat awam.
"Mmmm, … sudah. Mama dan Papa membawa banyak pakaian bayi dari Jerman. Mungkin Ayumi sama Abang tinggal beli barang-barang yang besar, seperti lemari, tempat tidur, sama kebutuhan lainnya. Mana Abang juga ada rencana renovasi satu kamar di rumah ini, mau diubah jadi kamar bayi, jadi kapan Ibu nengokin aku?"
Dengan perasaan penuh harap Ayumi bertanya. Namun, tiba-tiba saja suasana menjadi hening, ketika Tutih diam dan tidak menjawab lagi.
"Bu?" Panggil Ayumi.
Dia menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, memeriksakan sambungan telefon yang mungkin saja terputus, tapi nyatanya sambungan teleponnya masih tersambung, dan Tutih dan terus terdiam ketika Ayumi kembali memanggilnya.
"Bu?"
"Duh, Ay! Sepertinya sinyal disana jelek, suara kamu putus-putus, apa kamu dengar suara Ibu, Nak?" Tutih berteriak.
"Hah? Apa suara aku jelas, Bu?"
"Halo? Ha-halo Ay? Kamu masih disana? Halo?"
"Bu?" Panggil Ayumi.
Tutt tutt tutt!!
Sambungan telepon tampaknya terputus, Ayumi menjatuhkan handphonenya, menatap sinyal yang sepertinya tidak terlihat masalah apapun.
"Ibu salah, sepertinya sinyal hape Ibu yang jelek. Orang sinyal hape aku kenceng begini!" Gumam Ayumi semabri mengutak-atik layar handphonenya.
Lalu mengirimkan pesan kepada Tutih.
Klek!!
Randy mendorong pintu kamar, menyembulkan kepala sampai pandangan keduanya beradu, masuk kemudian berjalan mendekati sofa dimana Ayumi duduk saat ini.
__ADS_1
"Sudah selesai menghubungi Bu Balqis nya?" Tanya Ayumi.
Randy menganggukan kepala.
"Mungkin lusa mereka datang kesini untuk melihat-lihat." Randy duduk tepat di samping Ayumi, kemudian mengusap perut bulat menggemaskan milik istrinya.
"Bagaimana Amar? Dia sudah baikan? Terus apa mereka membutuhkan sesuatu?" Tanya pria itu sambil terus mengusap-usap perut Ayumi.
Sampai bayi di dalamnya langsung merespon, dan menendang dengan sangat kencang, hingga membuat perempuan itu meringis dibuatnya.
"Kenapa sekarang kalau dia bergerak rasanya sedikit sakit di perut bagian bawah. Nggak jarang juga langsung kebelet pipis." Perempuan itu terus mengusap-usap perutnya.
Randy tersenyum, dia membungkuk, lalu mencium perut Ayumi beberapa kali.
"Hey, sayang. Jangan membuat Mommy sakit oke? Lihat wajahnya, dia sampai terus meringis seperti itu!"
"Daddy tidak melarang kamu untuk terus bergerak, boleh tapi mungkin tendangannya sedikit di Pelankan. Ah atau kamu mau menjadi pemain bola yah!"
Randy terus berbicara dengan putrinya yang masih berada di dalam perut sang istri. Dan bayi di dalamnya selalu merespon dengan baik saat Randy mengajaknya berinteraksi.
"Soal Bang Amar. Dia sudah baik, sedang dalam masa pemulihan. Apa menurut Abang kita harus kesana? Untuk menengok?" Ayumi mengusap kepala suaminya, bermain dengan rambut memanjang milik Randy yang sedikit bergelombang.
Randy segera mengubah posisinya. Duduk bersandar, dengan Ayumi yang langsung mendekat, dan menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.
"Kamu mau kesana?"
"Hitung saja berapa kali kita berhenti saat mau ke puncak!" Ayumi mencoba mengingatkan.
Jarinya bermain-main di atas dada sana, bergerak naik turun, lalu menusuk-nusuk sampai Randy menangkap tangan istrinya, menghentikan apa yang Ayumi lakukan karena merasa geli.
"Lalu setelah berpikir itu, … apa list untuk pergi ke Jerman masih ada dalam keinginanmu?" Randy mengusap rambut Ayumi yang sudah sangat panjang.
"Bukannya aku tidak mau. Tapi sebaiknya kita pergi kesana jika anak kita sudah lahir, atau mungkin berumur sekitar 2-3 tahun."
"Itu terlalu lama, Daddy!"
Pria itu terkekeh.
"Aku harus menabung dulu. Kamu tahu? Aku tidak sekaya Pak Raga, tabunganku saat ini memang ada, tapi itu untuk kita sehari-hari, dan kebutuhan anak-anak juga orang tua kita kedepannya. Dan untuk tiket pergi ke Jerman, itu sedikit mahal, … kita butuh uang yang banyak untuk pergi kesana. Tidak mungkin kita pergi tanpa membuat bekal! Kamu pasti mau beli sesuatu, mau beli oleh-oleh juga buat Aira dan Una." Jelas Randy.
"Astaga aku sampai lupa memberikan coklat mereka." Cicit Ayumi.
"Minta mereka datang ke rumah, jangan kamu yang pergi." Titah Randy.
Ayumi sedikit menggeser tubuhnya, mengangkat pandangan, sampai bisa melihat wajah Randy dari jarak yang sangat dekat.
"Uang kamu mulai habis?" Cicit Ayumi dengan ekspresi wajah tak biasa.
__ADS_1
Randy tertawa, seraya menggelengkan kepalanya.
"Uang kita masih ada. Cukuplah sampai anak-anak kita lulus kuliah nanti, … bahkan kamu sangat irit, tidak pernah berbelanja, padahal sudah aku transfer setiap bulannya dengan jumlah yang sama." Kata Randy.
"Aku bingung. Masa beli baju terus!"
"Mungkin mau beli yang lain. Seperti perhiasan, atau alat make-up dan skincare."
Ayumi diam, menatap wajah tampan suaminya dengan perasaan berdebar. Sudah 8 bulan mereka menikah, dan menghabiskan waktu bersama, namun rasanya masih sama, pria itu mampu membuatnya salah tingkah. Apalagi ketika mata tajam berbulu mata lentik itu terus menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Skincare, kamu yang beli. Malahan di stok banyak! Body Care, … itu kamu juga yang beli! Perhiasan? Kamu sudah memberikannya setiap tanggal pernikahan kita, … setiap bulan kamu mengirimkan uang dengan nominal yang cukup besar ke dalam rekening aku, tapi semua kebutuhan aku sudah kamu penuhin, … terus gimana aku mau menggunakan uangnya?"
Bibir Randy tersenyum samar, matanya terus tertuju kepada Ayumi, hal yang sama perempuan itu lakukan, menatap sang suami sampai keduanya saling beradu pandang satu sama lain.
"Satu hal yang harus kau tahu. Aku sangat mencintaimu, Ayumi Kirana!" Randy membingkai wajah istrinya.
"Memangnya aku tidak? Jelas cinta aku sepertinya lebih besar. Karena apa? Karena kamu memberikan cinta yang luar biasa, memberikan apapun yang aku mau, lalu memenuhi semua kebutuhan aku, … juga Bapak dan Ibu. Terimakasih karena sudah hadir, dan memilihku untuk menjadi istrimu."
Tangan kanan Ayumi bergerak menyentuh rahang tegas suaminya, kemudian mengusap-usap dengan lembut.
"Setelah kamu hamil. Rasanya perasaan ini begitu rapuh, kamu mengatakan itu saja aku sudah mau menangis." Randy terkekeh.
"Memang. Aku merasa kamu aneh semenjak aku hamil, … masa setiap aku selesai mandi harus kamu yang mengeringkan rambutnya!"
"Entahlah. Aku merasa bahagia saat menata rambutmu sampai rapih. Mengeringkan, mengoleskan vitamin, menyisir rambut, lalu menempelkan jepitan rambut."
Ayumi tersenyum merekah.
"Apa kamu tidak mau memanfaatkan hari liburku? Ini baru jam empat sore, … apa tidak mau memintaku mengantar kamu kemana gitu?"
"Memangnya kamu tidak capek? Aku pikir kamu di rumah untuk beristirahat dari segala rutinitas yang padat."
"Tidak. Jadi ayo pergi! Cuacanya masih sangat bagus, langitnya cerah, berwarna oranye dan suasananya terasa sedikit lebih sejuk daripada biasanya."
Ayumi mengurai pelukannya, duduk tegap, menatap Randy dengan wajah berbinar.
"Beneran?"
Randy mengangguk.
"Mau ke mall boleh? Sedikit pilih-pilih baju yang warna pink. Atau membeli tas untuk pergi ke rumah sakit!" Pinta Ayumi.
"Baiklah. Cepat ganti pakaianmu! Tidak mungkin pergi ke mall dengan dress rumahan seperti ini." Randy menatap Ayumi, yang saat ini mengenakan daster batik tanpa lengan.
Ibu hamil tua itu segera bangkit, lalu dia menghambur masuk kedalam kamar mandi. Sementara Randy menggelengkan kepala dengan senyum khasnya.
"Cantiknya Ibu dari anakku!" Randy berujar.
__ADS_1