
"Sudah!"
Ayumi menahan tangan suaminya, yang saat ini memegangi sendok berisikan bubur ayam yang rumah sakit berikan sebagai menu sarapan pada pagi hari ini.
"Tanggung, tinggal 3 suapan lagi." Randy kembali menyodorkan sendok itu hingga mendekati mulut Ayumi.
Perempuan itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat, seraya menggelengkan kepala untuk kembali menolak makanan yang akan segera masuk kedalam mulutnya.
"Aku mau ketemu Baby-nya!" Pinta Ayumi lagi.
Sejak bangun dia tak hentinya merengek untuk segera bertemu dengan bayi yang kemarin siang dia lahirkan, dan belum sampai dipertemukan karena kondisi Ayumi yang harus pulih terlebih dahulu, dari rasa lelah yang mungkin saja perempuan itu rasakan.
"Mungkin sebentar lagi, pagi-pagi seperti ini kan biasanya mereka dimandikan lebih dulu." Jelas Randy.
Akhirnya dia menyerah, lalu meletakan sendok kedalam mangkuk, dan menyimpannya di atas sebuah meja yang berada tepat di samping tempat tidur Ayumi.
"Mama sudah ada kabar?" Tanya Ayumi.
"Semalam baru sampai, sekarang ada di rumah. Berkumpul dengan anggota keluarga lainnya."
Randy menuangkan air mineral ke dalam sebuah gelas, lalu memberikannya kepada Ayumi, yang langsung perempuan itu teguk hingga tandas.
"Kapan mereka akan kesini?"
"Nanti kalau jam besuknya sudah di bukan. Sekarang baru jam delapan. Mungkin satu jam lagi orang-orang yang mau datang di perbolehkan masuk."
Randy menerima gelas dari Ayumi, dan meletakan benda itu di tempat semula.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, saling memindai satu sama lain. Dengan senyuman di bibir Randy yang kembali terlihat, bahkan raut bahagia terus dia perlihatkan, seolah ingin memberitahu jika pria itu kini sedang benar-benar merasa sesuatu yang luar biasa karena kelahiran putrinya.
"Kira-kira namanya siapa yah?" Randy menyentuh tangan Ayumi, kemudian menggenggamnya.
"Bahkan selama sembilan bulan kita tidak pernah memikirkan ini." Ayumi terkekeh.
"Ya, kamu benar. Kira-kira apa yah!?" Randy tampak berpikir.
"Coba ambilkan ponsel aku. Biar aku search di internet, pasti banyak." Pinta Ayumi, dia menunjukkan benda pipi yang terletak tidak jauh dari beberapa tempat berisi sarapannya.
Namun Randy justru memberikan ponsel miliknya.
"Kenapa harus pakai ponselmu? Aku juga sedang pegang ponsel." Katanya.
"Ya siapa tahu kamu sedang mengerjakan sesuatu di disini." Balas Ayumi seraya meraih benda yang suaminya katakan.
"Tidak. Aku mengambil cuti selama satu Minggu, kira-kira sampai kamu pulang ke rumah baru aku akan kembali bekerja."
Ayumi mulai membuka salah satu situs internet, dan mencari nama-nama untuk bayi perempuan disana yang menurutnya cocok.
"Memangnya boleh libur selama itu?" Tanya Ayumi tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bisa dengan segala alasan yang aku berikan, akhirnya Pak Raga memberi izin."
Ayumi menjawab dengan anggukan.
"Coba kamu saja yang cari, aku malah pusing liat layar hapenya!" Keluh Ayumi, dia memberikan kembali benda itu.
Dengan senang hati Randy mulai mencari nama yang baik dan cantik untuk putrinya. Cukup lama dia mencari, bahkan Ayumi sampai memejamkan mata dengan posisi duduk bersandar, karena Randy belum kembali mengubah posisi tempat tidur Ayumi.
Tok tok tok!!
Pintu ruangannya di ketuk, kemudian munculah seorang perawat membawa sesuatu di tangannya.
"Permisi, waktunya saya suntikan obat yah!" Katanya, dia meletakan apa yang dia bawa tadi, kemudian membawa sebuah jarum suntik dengan obat yang sudah ada di dalamnya.
Mata Ayumi yang sempat terpejam, kini kembali terbuka, dan mengarahkannya ke arah tangan kiri dimana selang infusan berada di sana.
"Tidak usah takut." Randy mengusap lengan istrinya, ketika dia menyadari ketakutan yang Ayumi rasakan.
"Iya, hanya sedikit rasa tidak nyaman seperti biasa. Dan obatnya menimbulkan rasa kantuk, … setelah ini Bu Ayumi boleh istirahat lagi." Perawat itu berujar sambil tersenyum.
Dan mulai menyuntikan obatnya melalui selang infus.
"Kapan saya boleh bertemu dengan Bayi saya Sus?" Tanya Ayumi.
__ADS_1
Dia meringis.
"Jam sepuluhan kira-kira, sekarang Baby-nya sedang dimandikan. Biar nanti ketikan ada beberapa anggota keluarga yang menjenguk, dia sudah dalam keadaan cantik dan wangi." Katanya, dan perawat itu selesai.
Dia kembali membawa tempat yang terbuat dari aluminium berukuran kecil itu, dan segera berpamitan untuk pergi.
"Terimakasih, Sus." Ucap Randy.
"Sama-sama Bapak." Jawabnya, dan segera menutup pintu ruangan itu kembali sampai rapat.
"Kamu boleh istirahat, untuk masalah nama biarkan aku yang mencarinya." Jelas Randy.
Ayumi mengangguk, dia kembali memejamkan matanya. Entah kenapa berada di dalam sebuah kamar perawatan membuat Ayumi selalu mengantuk, bahkan ketika dia tidak diberikan obat apapun.
Randy sedikit bangkit, mencondongkan tubuhnya, lalu mencium kening Ayumi dan membenahi selimut di tubuh istrinya.
"Istirahatlah sayang, agar kamu lekas pulih."
***
"Ma, apa kabar?" Randy menyambut kedatangan ibu mertuanya dengan rangkulan. Sementara wanita itu menepuk-nepuk punggung Randy.
"Baik. Sejak kapan Ayumi tidur?" Mata Sumi berkaca-kaca.
Lima orang itu segera masuk, dan mendekati dimana Ayumi berbaring.
"Sudah satu jam, setelah Suster menyuntikan obatnya."
Sumi mengangguk, dia menatap wajah pucat putrinya.
"Bagaimana Bayi-nya?" Valter menatap Randy.
"Dia sehat. Sangat sehat, sekarang sedang ada di ruangan Bayi, belum diantar kesini karena Ayumi harus istirahat lebih dulu."
"Syukurlah." Valter berbicara.
"Kita bisa mendatangi ruangan Bayi. Melihat cucu kita di balik kaca, … dia sangat menggemaskan."
"Bu Maria sudah melihat?"
Mata Ayumi mulai mengerjap, ketika dia mendengar suara wanita yang sangat dia rindukan. Apalagi ketika Ayumi mengetahui melahirkan itu tidak semudah yang dibayangkan. Bersama Randy saja rasanya sudah sangat sulit, lalu bagaimana keadaan ibunya waktu itu yang hanya berjuang seorang diri, lalu harus menghadapi kenyataan bayinya hilang. Dibuang oleh anggota keluarganya sendiri.
"Mama?" Panggil Ayumi.
Wanita yang Ayumi panggil segera menoleh, lalu tersenyum dan beranjak semakin mendekat.
"Hai sayang, apa kabar? Selamat kamu sudah menjadi ibu sekarang." Sumi langsung memeluk Ayumi.
Dan seketika tangisan Ayumi pecah.
"Kenapa menangis?" Valter mendekat, lalu mengusap kepala putrinya yang masih dalam perawatan.
Pria itu menatap tangan kiri Ayumi, dimana selang infus masih melekat di sana. Sementara tangan kanannya hanya terlihat sisa infusan yang sudah dilepaskan.
Ayumi tidak menjawab, dia hanya terus menangis di dalam pelukan ibu kandungnya.
"Tidak apa-apa." Sumi mengusap punggung Ayumi. "Yang lalu biarlah berlalu, kita fokus saja untuk menata masa depan." Kata Sumi yang mengerti kesedihan putrinya.
Ayumi mengangguk, dia mengurai pelukannya. Dan di waktu yang bersamaan pintu ruangan itu diketuk beberapa kali, kemudian datanglah seseorang dengan pakaian serba putih mendorong sebuah box bayi, dengan kelambu yang menjuntai, menutupi bagian atasnya.
"Selamat siang." Dia tersenyum ramah kepada seluruh orang yang ada di ruangan sana.
"Ya ampun. Sudah boleh di bawa kesini Sus?" Maria bereaksi.
"Iya, Dedek bayinya sudah harus belajar meminum susu dari ibunya."
Wajah Ayumi berbinar, pandanganya bahkan terus tertuju ke arah box bayi dimana putri kecilnya terlelap di dalam sana.
"Nanti bisa dicoba setelah bayinya bangun."
Ayumi mengangguk.
"Boleh gendong Sus?"
__ADS_1
"Sudah bisa? Tidak sakit?"
Ayumi menggelengkan kepalanya, dia mengusap sisa air mata yang masih membasahi pelupuk mata, lalu merentangkan tangannya.
"Saya tidak merasakan apapun, Sus. Jalan saja sudah bisa, hanya sedikit lemas di bagian kaki saja, tenaganya sedikit berkurang." Kata Ayumi.
"Baiklah."
Lalu pegawai rumah sakit itu memangku bayinya dengan perlahan, dan memberikannya kepada Ayumi.
"Sudah nyaman?"
"Sudah." Ayumi menjawab, dengan pandangan yang terus dia tujukan kepada putri kecilnya.
Perempuan itu mendekapnya dengan sangat hati-hati, kemudian menyentuh pipi menggemaskan putrinya dengan sangat lembut.
"Kalau begitu saya permisi. Jika ada apa-apa seperti biasa tombolnya ditekan saja."
"Terimakasih, Suster." Kata Randy.
Semua orang langsung mendekat. Menatap bayi perempuan yang terus terlepas di dalam dekapan ibunya.
"Hai sayang, ini Mommy!" Ayumi tersenyum dengan pandangan terus menunduk.
"She's beautiful!" Valter menyentuh punggung Ayumi, lalu mengusapnya.
"Iya, cantik sekali. Perpaduan yang sempurna, dia tidak mendominasi wajah Mommy atau Daddy-nya." Kata Maria.
"Oh iya, soal nama, gimana? Sudah dapat?" Tutih bertanya.
Randy mengangguk. Dan dengan seketika pria itu menjadi pusat perhatian.
"Siapa?" Ayumi dengan raut wajah berbinar.
"Aku ambil dari bahasa Jerman." Pria itu terkekeh.
"Katakan, siapa namanya?" Valter tampak tidak sabar.
"Raizel!" Kata Randy.
"Bungan mawar?" Ujar Valter dengan logat yang tidak terlalu fasih seperti biasa, dan langsung mendapatkan anggukan dari Randy.
Semua orang diam mendengarkan.
"Bunga mawar melambangkan tentang cinta, keindahan dan keberanian. Jadi aku harap dia tumbuh menjadi putri yang pemberani seperti Mommynya."
"Nama yang indah."
Valter bereaksi, dia tersenyum kepada suami dari putrinya.
"Kepanjangannya siapa?" Ali tidak mau kalah.
"Putri Raizel Danendra. Bagaimana? Apa bagus?"
"Bagus sekali!" Maria dengan senyuman merekah.
Wanita itu terus mendekat, menggeser putranya hanya untuk menatap Raizel lebih dekat.
"Halo El? Ini Oma."
Maria, Tutih dan Sumi terus berdiri di dekat Ayumi. Sementara para laki-laki beralih duduk di sofa yang berada di sisi lain ruangan besar itu, dan berbincang-bincang di sana.
"Dia cantik sekali, Ay!" Tutih tersenyum.
"Kulitnya putih sekali yah." Sumi bereaksi.
"Lihat, bibirnya sangat merah, dan ini menggemaskan sekali." Maria dengan perasaan gemas.
Merasa terganggu dengan keriuhan yang terdengar, bayi mungil itu terlihat menggeliat, menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan, lalu menangis. Membuat semua wanita yang ada di sana terlihat heboh.
......................
...Omay nya pada berisik deh😌...
__ADS_1