
Jam baru saja menunjukan putul empat pagi. Namun deburan ombak sudah terdengar begitu kencang, sampai membuat Randy terbangun dari alam bawah sadarnya.
Beberapa kali matanya mengerjap, berusaha menyesuaikan diri saat lampu ruangan itu benar-benar masih menyala.
Dimana aku? Batin Randy berbicara, saat dirinya tidak biasa dengan ruangan terang benderang ketika ia tertidur.
Seketika pandangannya tertunduk, melihat sosok wanita yang sedang terlelap memeluk dirinya dengan sangat erat.
Randy masih terdiam, dia bingung juga berusaha mengingat sesuatu. Dan kedua sudut bibir itu tertarik, sampai membuat sebuah lengkungan tipis saat ingatan pria itu kini kembali.
Kekesalan Ayumi, yang membuat mereka tertidur diatas ranjang yang sama.
"Jadi begini rasanya, saat bangun tidur dan yang aku lihat pertama kali adalah orang yang sangat aku cintai saat ini." Randy bergumam.
Lagi-lagi dia tersenyum, menatap wajah polos yang saat ini menempel di dada bidangnya, dengan satu tangan yang memeluk pinggang begitu erat.
Cup!!
Satu kecupan singkat dia berikan diatas kening Ayumi.
"Oh aku sangat mencintai kamu." Dia terkekeh.
Ini memang gila, dia benar-benar tidur bersama kekasihnya malam ini, setelah berusaha meredam rasa cemburu Ayumi, tapi tidak berhasil sampai keduanya sama-sama terlelap dengan posisi Randy yang memeluk gadis itu dari belakang.
Lalu saling berpelukan, saat perempuan itu berbalik badan, dan tentunya tidak menyadari keberadaan Randy.
Suasana kamar itu sangat dingin memang, wajar saja jika keduanya mencari kehangatan satu sama lain dengan cara saling memeluk.
"Tentu saja, dalam pikiran mu saat ini. Aku adalah guling ternyaman yang kamu peluk bukan? sampai dengan sangat nyamannya pipi menggemaskan itu menempel pada ku." Lanjutnya lagi dengan suara pelan.
Tak lupa satu tangan terus mengusap kepala Ayumi, beralih pada kening, lalu pipi.
Gadis cantik itu menggeram, juga tubuh yang menggeliat perlahan.
Dan pelukan itu semakin serat saja.
Randy terkekeh.
"Bangunlah, ayok kita berburu matahari terbit." Randy berbisik tepat di daun telinga Ayumi, dan memberi kecupan disana.
Gadis itu menarik diri, menjauhkan wajah dari dada Randy, dan mengerjap pelahan.
Ayumi diam, menatap Randy dengan ekspresi wajah seperti orang linglung.
Keningnya menjengit.
"Morning." Sapa Randy dengan suara parau, juga senyum manis yang ia perlihatkan.
"Abang disini? ngapain?" Ayumi langsung bangkit.
Randy tidak langsung menjawab, dia hanya tersenyum.
"Aku tanya, kenapa malah senyum-senyum?" Tanya Ayumi dengan suara serak khas bangun tidur.
Randy masih belum menjawab, dia terus mengulum senyum, menarik pergelangan tangan Ayumi, sampai gadis itu kembali berada di dalam pelukannya.
"Abang kesini kapan?"
Cup!!
Dia kembali mencium kening Ayumi.
"Sudah siang yah!?" Ayumi langsung melihat kearah jam yang baru saja menunjukan pukul setenga lima pagi hari.
"Ini kenapa sih? kok jadi linglung gini!"
__ADS_1
"Kamu tidak ingat? semalam kamu marah, dan kita tertidur disini."
Ayumi diam, dia berusaha mengingat.
"Sudah ingat?" Pria itu menatap Ayumi yang saat ini menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Rambut kecoklatan yang sedikit panjang, juga wajah sembab tanpa make-up, membuat dia benar-benar terlihat sangat cantik.
"Kita tidur bersama?"
Randy mengangguk.
"Astaga!" Ayumi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa?" Randy semakin mendekatkan diri.
Dan kening keduanya saling menempel.
"Abang nggak ngaco, kan?"
Ayumi mulai panik, bahkan sampai menatap dirinya sendiri.
"Semalam tidak."
Pria itu kembali tersenyum. Tatapan matanya sudah terlihat berbeda, juga posisi dengan jarak sedekat ini, membuat keduanya merasakan sesuatu yang lebih dan lebih lagi.
Hembusan nafas sudah saling menyapu wajah satu sama lain, membuat Ayumi kembali memejamkan mata, dengan debaran yang terus meningkat.
"Ayok bangun, kita keluar sekarang. Sebelum kita berdua tidak bisa mengendalikan perasaan ini."
Oh astaga, kenapa suara rendahnya terdengar semakin tampan ... eh seksi.
Perlahan mata Ayumi kembali terbuka.
Ayumi mengangguk. Namun bukannya bangkit, dia justru meraih tangan kanan Randy, dan menatap tato bergambar ular itu lekat-lekat, lalu mengusapnya.
Setelah itu dia beralih menatap wajah tampan pria di hadapannya. Menyentuh manik dengan bulu mata yang lentik, juga bibir tebal yang memang selalu terlihat lebih menggoda.
"Kenapa harus ada tato di belakang telinga?" Gadis itu menyentuh tato kedua yang Randy buat.
Pria itu diam, dengan sorot mata tajam yang terus memperhatikan Ayumi.
Ayumi memang terlihat sedang mengujinya saat ini.
"Ayumi berhentilah!" Randy menggeram pelan.
Dia memberi peringatan.
"Kenapa?" Kening Ayumi menjengit. "Aku hanya bertanya." Jawabnya lagi dengan sikap lugunya.
Jemari lentik itu terus menyusuri bagian belakang telinga Randy, hingga membuat kesabaran Randy benar-benar habis.
Secepat kilat Randy mencengkram tangan Ayumi, bangkit dan mengubah posisi sampai saat ini gadis itu dibawah Kungkungan tubuh kekarnya.
Ayumi tersentak, dia bungkam dengan mata yang terus mengerjap.
"Nggg, ... A-aku ..." Ayumi gugup.
"Sudah ku peringatkan! tapi kenapa kamu tidak mau mendengar?"
Randy membungkuk, sampai keduanya tak berjarak sama sekali.
"Baiklah, ... Ba ..."
Ucapan Ayumi terhenti, saat tiba-tiba saja Randy menyerang, memangut bibir Ayumi dengan sangat menggebu-gebu.
__ADS_1
Tidak ada perlawanan. Otaknya terasa kosong, ketika pria itu menyerangnya tanpa dia sangka-sangka.
Angin sejuk dari pendingin ruangan terus berhembus, membuat suasana semakin terasa syahdu, dan itu membuat Ayumi benar-benar terbawa suasana.
Kedua tangan Ayumi meraih pundak kokoh itu, memeluknya dengan sangat erat. Begitu juga dengan Randy, dia memeluk pinggang ramping sang kekasih, sampai tubuh keduanya menempel satu sama lain.
Suara decapan mulai terdengar, saat Ayumi mulai membalas lebih semangat lagi.
Merasa ini semakin jauh. Randy segera menarik diri, menatap Ayumi yang terus memejamkan mata, dan kembali menyatukan kening keduanya.
"Apa kau akan terus menguji? kali ini sungguh aku tidak akan bisa menahannya. Jadi, ... mau tetap disini, atau mau keluar sekarang juga?" Nafas Randy tersenggal-senggal.
"Jika kita melakukannya? apa dosa? dan apa tanggapan orang tua kit ..."
"Astaga tuhan!"
Belum selesai Ayumi berbicara, Randy segera beranjak, berdiri di tepi ranjang dan menarik tangan Ayumi sampai gadis itu benar-benar bangun.
"Kita ngaco. Jadi ayok kita pergi keluar, sebelum setan benar-benar menguasai kita."
***
Dan disanalah mereka. Sepasang kekasih yang sedang di amuk badai cinta, duduk di kursi menatap sebuah deburan ombak kencang, dengan langit yang mulai terang, saat cahaya matahari perlahan muncul, dan posisi kedianya saling memeluk.
Tidak-tidak, lebih tepatnya Ayumi yang memeluk Randy, menyandarkan wajah pada dada itu yang kini sudah menjadi tempat ternyamannya.
"Ini indah." Gumam Ayumi.
Randy tersenyum, lalu mengangguk.
"Memang. Dan aku merasakan pemandangan ini hampir setiap kali kita bertemu."
Kepala Ayumi mendongak.
"Kenapa begitu?" Tanya Ayumi dengan pipi yang merona.
"Entahlah, tahi lalat di sebelah kiri bibir bagian bawah itu membuat senyum mu manis dan, ... astaga aku tidak bisa menyebutnya apa." Randy tertawa.
"Kamu gombal?" Dia menusuk-nusuk perut sixpack itu dengan jari telunjuknya.
"Itu bukan gombal!" Randy tertawa.
"Baiklah terserah Abang saja."
Randy mengangguk.
"Sunrise nya sudah selesai. Ayok mandi, kamu harus bertemu calon mertua, ingat?"
Ayumi segera bangkit, dan mengulurkan tangan untuk membawa Randy bersamanya.
"Apa ini sebuah ajakan untuk mandi bersama?" Randy berbisik.
"Oh, tidak mungkin." Ayumi menggelengkan kepala.
"Kenapa tidak mungkin? tidak akan ada yang tahu." Pria itu terus menggodanya.
"Tidak sekarang, mungkin nanti jika kita sudah menikah."
Astaga, jantung ini akan meledak sebentar lagi.
Randy mengusap dadanya, saat sesuatu terasa berterbangan di dalam sana.
Pria itu benar-benar sudah frustasi, dan mulai tak sabaran saat menghadapi gadis lugu kesayangannya.
"Baiklah, ... ayok kita menikah. Secepatnya!"
__ADS_1