
"El, sepertinya Daddy belum datang untuk menjemput, mau kembali ke dalam untuk menunggu?"
Wanita dengan seragam yang tapi itu membungkuk, mensejajarkan diri dengan Raizel yang saat ini tampak terdiam sambil memandang ke arah gerbang pembatas, dimana biasanya terlihat mobil sang ayah terparkir di luar sana.
"Teman-teman yang lain sudah ada yang menjemput, jadi mungkin sebaiknya Raizel kembali ke dalam untuk menunggu. Mumpung masih ada Bryan, jadi ada teman!"
Namun, Raizel menggelengkan kepala. Dia menengadahkan pandangan, sehingga dua perempuan berbeda usia itu saling menatap.
"No, Miss. Aku tunggu disini saja, kan ada pak satpam!" Katanya sambil tersenyum.
"Tapi mungkin mereka akan menjemputnya sedikit lebih lama."
Raizel menggelengkan kepala.
"Dad nggak bilang kalau hari ini akan terlambat menjemput, jadi aku tunggu disini saja."
Gadis kecil itu berbalik badan, mendekati salah satu kursi tempat tunggu, kemudian mendudukan dirinya disana.
"Kalau ada apa-apa panggil pak satpam ya? Miss mau lihat murid yang lain dulu."
"Baik, Miss." Raizel mengangguk-anggukan kepalanya.
Wanita itu pun segera berlalu, berjalan masuk ke arah dalam, dimana area kelas berada. Dan sebuah mobil terlihat berhenti tepat di are parkir, lalu keluarlah seorang wanita di dalamnya.
Rambut bergelombang berwarna coklat dengan panjang sebahu, mengenakan pakaian yang sangat rapih, bahkan kacamata hitam bertengger di tulang hidungnya.
"El? Kenapa disini, dimana Daddy dan Mommy? Belum menjemput?" Perempuan itu melayangkan beberapa pertanyaan sekaligus.
Bianca menarik lepas kacamatanya, kemudian berjongkok tepat di hadapan Raizel sambil tersenyum manis.
"Belum datang Tante, mungkin Dad sedang di jalan!" Tutur Raizel.
Gadis kecil itu membalas senyuman Bianca, yang diketahui ibu dari temannya, yaitu Bryan. Temannya yang selalu bersikap menyebalkan, tapi juga manis di waktu-waktu tertentu.
Bianca mengulum senyum, yang seketika pandangannya teralihkan, saat seorang wali kelas menuntun anak laki-laki yang sangat tampan.
Berpostur tubuh tinggi, sedikit lebih berisi, berkulit putih, juga rambut ikal yang sedikit terlihat memanjang, sehingga saat anak itu berjalan rambutnya terus bergerak naik dan turun.
"Oh! Hay El, Hay Mam?" Bryan menyapa.
Anak laki-laki itu bahkan melambaikan kedua tangannya, dengan raut wajah gembira, dan senyuman yang sangat manis.
Raizel tidak menyahut, dia hanya menatap teman sekelasnya yang selalu berperilaku menyebalkan. Mungkin tidak hari ini, tapi di hari-hari sebelumnya seperti yang sering anak itu lakukan.
"El? mau ikut pulang?" Tawar Bianca.
"No, Tante. Thank you!"
"Kenapa? Mungkin Daddy mu sedang sibuk, dan mereka lupa memberi tahu, … jadi ayo Tante antar!"
Raizel menanggapi tawaran itu hanya dengan gelengan kepala.
"Come on, El. Kita pulang bersama-sama, mampir dulu ke rumahku kalau bisa, … aku punya Lego baru lho!"
Raizel kembali menggelengkan kepalanya.
"No thanks."
"Bryan nya suka usil ya?"
Bianca mengusap pipi chubby gadis itu, sementara Raizel hanya terdiam tanpa memperlihatkan reaksi apapun.
"Ayo Tante antar pulang, menunggu disini juga …"
"Daddy!!" Suara Raizel memekik kencang, ketika melihat mobil ayahnya juga tiba di area parkiran sekola.
Raut wajahnya seketika berubah menjadi ceria, turun dari atas tempat duduk, kemudian berlari ke arah gerbang pembatas yang sudah terbuka sejak jam pulang tiba.
"Pak satpam, El pulang yah? Daddy sudah datang."
__ADS_1
Pamit Raizel sambil terus berlari.
"Hati-hati, tidak boleh lari cantik!" Sang petugas keamanan keluar dari pos tunggunya.
Sementara Bianca hanya diam, menatap kepergian gadis kecil itu tanpa ekspresi apapun.
"Ish, menyebalkan. Dia selalu begitu!" Gumam Bryan.
Bianca menoleh, menatap wajah putranya yang terlihat masam.
"El begitu karena kamu juga menyebalkan, Bryan. Coba jangan usil terus agar semua orang mau berteman denganmu, termasuk El."
Bianca bangkit, meraih tangan putranya, dan segera membawa anak itu keluar dari area sana.
"Sudah menunggu lama?" Tanya Randy dengan suara lembut.
Pria itu berjongkok, menatap wajah putrinya dengan senyuman, seraya menyingkirkan helaian-helaian rambut yang terlihat mengganggu wajah cantiknya.
"Tidak terlalu."
"Daddy jemput Abang Bara dulu, … jadi sedikit memutar jalan. Maaf kalau membuat El menunggu Daddy."
Pandangan Raizel mendongak, menatap ke arah pintu bagian belakang.
"Abang Bara ikut?"
"Ya, kita harus antar dulu pulang ke rumahnya, bagaimana? Tidak apa-apa kan?"
Raizel mengangguk.
"Baiklah, ayo masuk dan kita pulang. Mungkin mommy mu sedang menunggu di rumah, … dia juga meminta Dad untuk membelikan soto Madura."
"Soto madura?"
Randu bangkit, lalu membuka salah satu pintu mobil bagian belakang.
Raizel pun menurut, dia menerima uluran tangan ayahnya, kemudian berjalan menaiki mobil dan duduk di kursi yang kosong. Dimana sudah berada Bara di dalam sana yang masih mengenakan seragam.
Anak itu duduk dengan tenang, menatap layar handphone di dalam genggamannya.
"Hai El? Apa kabar?" Anak kelas satu sekolah dasar itu menyapa.
"Hai Abang," Raizel menyahut.
"Duduk dan pasang sabuk pengamannya!"
Randy memberi perintah, lalu mendorong pintu di samping Raizel cukup kencang, sampai benar-benar tertutup dengan rapat.
"Tadi sempat saya tawarin pulang bareng, tapi Raizel tidak mau. Dia bersikukuh untuk tetap menunggu Daddy nya datang," ujar Bianca saat jarak mereka sudah cukup dekat.
Membuat Randy yang berjalan memutari mobil menghentikan langkahnya untuk beberapa saat.
"Oh, iya dia memang tidak gampang pulang bersama orang lain. Sesuai ajaran dari ibunya!"
"Begitu yah?"
Randy mengangguk.
"Kalau begitu saya duluan, mari."
Pamit Randy, kemudian dia membuka pintu mobilnya dan masuk.
Bianca mengulum senyum, perempuan itu hampir pergi, ketika dengan waktu yang bersamaan Bara membuka kaca mobil di sampingnya.
"Tante, Eca?"
"Lho? Kamu ikut pulang dengan Om Randy?" Bianca tampak bingung.
Bara tersenyum sambil mengangguk-angguk kepala.
__ADS_1
"Bye Tante, bye Bryan. Abang duluan yah!" Katanya, lalu membalikkan tangan.
Mobil yang Randy, Raizel dan Bara tumpangi mulai melaju dengan kecepatan rendah, memasuki antrian mobil yang juga sedang berusaha keluar dari sana.
"Abang Bara nyebelin!" Bryan tampak kesal.
"Apanya?"
Bianca menarik putranya ke dekat mobil mereka, membukakan pintu, dan membantu anak laki-laki itu untuk masuk.
"Abang selalu nyuri start."
Bryan bersedekap, melipat kedua tangannya di dada, dengan bibir mengerucut ke depan.
Bianca hanya tersenyum, tak lupa mencubit pipi anaknya pelan, hanya sekedar untuk menyalurkan rasa gemas.
"Mam!"
Bianca terkekeh.
"Jangan menjadikan saudara kamu sebagai saingan, Bryan. Berteman ya berteman saja, kamu boleh Abang Bara juga boleh."
"Tapi kenapa El selalu tidak mau?"
"Itu karena Bryan yang suka usil. Mungkin Abang Bara tidak pernah melakukan itu!"
"Tapi aku usil juga karena kesal sama El, Mam. El selalu bermain dengan Abang, El juga lebih suka main sama Abang, makanya Bryan usilin."
Bianca menghela nafas, seraya mengarahkan pandangan pada putra pertamanya, lalu tersenyum.
"Lain kali tidak boleh usil lagi, berjanjilah untuk bersikap baik kepada Raizel, … mungkin setelah itu El mau berteman lagi."
Bryan pun mengangguk, setelah mendapatkan sedikit nasehat dari ibunya.
"Nah, selesai. Ayo kita pulang!" Ujar Bianca setelah memasangkan sabuk pengaman untuk Bryan.
Dia mundur beberapa langkah, untuk kemudian menutup pintu mobil sampai benar-benar rapat.
***
"Hey, kalian baru pulang?" Ayumi menyambut kedatangan putri dan suami tercintanya yang baru saja tiba di kediaman mereka.
Raizel berjalan mendekat dengan tas ransel yang sudah terlepas dari pundaknya, mengangguk, kemudian memeluk pinggang sang ibu dan menempelkan pipi di perut sana.
"Bagaimana sekolahnya?" Ayumi mengusap puncak kepala Raizel.
Sedangkan pandangannya tertuju pada Randy, pria itu menjinjing kantong plastik bening, berisikan sesuatu berkuah kuning, dengan tas putrinya di kedua belah tangan.
Cup!!
Randy langsung mencium kening Ayumi.
"Hari ini aku belajar mewarnai, Mom. Dan aku dapat nilai sembilan, … aku keren kan?" Pandangannya menengadah, menatap wajah ibunya yang juga sedang menatapnya dengan senyuman yang selalu terlihat di antara kedua sudut bibir.
"Sebaiknya kita masuk dulu," kata Randy.
Raizel mengangguk, dia melepaskan lilitan tangan di pinggang ibunya, lalu berlari lebih dulu ke arah dalam, sambil memanggil-manggil Maria.
"Oma? Oma? El sudah pulang sekolah!" Teriakan itu terdengar nyaring.
"Sotonya ada?" Ayumi tersenyum kepada suaminya.
"Ada, sayang. Ayo masuk, kita makan siang bersama-sama, … karena setelah itu aku harus kembali ke kantor. Ada beberapa surat kontrak yang harus aku buat."
"Kamu sibuk?"
"Tidak hanya aku, Pak Raga juga." Randy menjawabnya.
Ayumi mengangguk, lalu dia menggandeng lengan kekar suaminya, dan berjalan masuk ke dalam rumah bersama-sama.
__ADS_1