
"Mau tambah rujak tomatnya lagi?" Tutih bertanya kepada Ayumi.
Wanita itu tak hentinya memperhatikan sang putri yang tengah menyantap rujak tomat kesukaannya. Dengan sangat lahapnya Ayumi memakan potongan kecil buat tomat, yang di campurkan dengan gula, juga es batu sebagai pelengkap agar terasa semakin segar.
"Mau. Tomat sayur lebih enak ternyata, rasa asamnya lebih mendominasi." Jelas Ayumi dengan mulut penuh, sementara satu tangannya menyodorkan mangkuk berukuran kecil yang sudah kosong.
Amar menggelengkan kepala dengan mulut menganga. Dia tidak percaya bahwa kini Ayumi menyukai salah satu jenis sayuran yang dulu selalu dia hindari.
"Berapa kilo Ibu beli!?" Amar penasaran.
"Satu kilo, … belanjaan sayur Bu Ipah Ibu beli lagi. Tahu sendiri di warung-warung mana ada tomat segar dengan jumlah yang banyak, ini juga negosiasi nya lama." Jelas Tutih seraya mengisi mangkuk yang sedang Ayumi pegang.
"Ya iya, orang belanja buat isi warung sayurnya malah Ibu palak." Celetuk Amar.
"Nggak malak, Ibu ganti uang Mar!" Tutih tak mau kalah.
"Sama saja." Kata Amar lagi dengan pandangan yang tak teralihkan sama sekali. Menatap Ayumi dengan tatapan tidak percaya.
Apalagi saat Ayumi melahapnya dengan semangat, seolah takut jika akan ada yang akan merebut mangkuk berisi rujak tomat miliknya.
Seolah tidak peduli mendapatkan tatapan seperti itu dari kakak juga ibunya. Ayumi terus menyantap rujak tersebut, hingga tanpa dia sadari Ali datang, bersama Randy yang berjalan tepat di sampingnya.
Pria itu jalan dengan begitu gagah, memasukan kedua tangannya kedalam saku celana jeans yang dia kenakan saat ini, dengan tubuh berotot terpampang nyata saat kini pria itu hanya mengenakan kaos oblong dengan ukuran yang sangat pas.
Randy menatap Amar tajam, memperhatikan iparnya dengan ekspresi wajah tidak suka. Bayang-bayang ketika dia mencecar Ayumi dengan kata-kata kurang baik kembali terlintas, dan membuat Randy benar-benar kesal.
"Ay? Randy datang Nak!" Ali menginterupsi.
Perempuan itu menoleh. Ayumi tersenyum lebar, wajahnya sumringah, meletakan mangkuk yang sedari tadi berada di dalam genggamannya, lalu berlari kencang.
Sementara Randy tampak bersiap-siap, untuk menangkap tubuh istrinya seperti biasa.
Brugh!!
Dengan kencangnya tubuh mereka berbenturan, membuat Randy sedikit mundur kebelakang, berusaha menahan agar mereka tidak terjatuh.
"Sudah aku katakan! Jangan selalu seperti ini, … bahaya." Randy berbisik tepat di telinga istrinya.
Ayumi menggelengkan kepala, seraya mengeratkan pelukannya.
"Ahhhh, … Abang wangi sekali!" Kata Ayumi setelah mengendus tengkuk suaminya.
Randy tidak merespon, dia kembali berjalan ke arah dimana kedua mertuanya berada. Duduk di bawah saung rotan dengan atap ijuk, ditemani beberapa hidangan di sana.
Yang sudah pasti Tutih sediakan hanya untuk Ayumi, putri kesayangannya.
"Ibu kira tadi Ayumi datang sendiri." Tutih berbasa-basi.
Randy tersenyum, berusaha melepaskan diri dari Ayumi, namun itu tidak berhasil karena dia terus menempel tanpa memperlihatkan tanda-tanda akan menjauh dari dirinya.
__ADS_1
"Ay!" Cicit Randy ketika dia begitu kesusahan saat hendak mencium tangan Ali dan Tutih.
Ayumi terkekeh pelan, dia merasa sangat bahagia, tapi tidak tahu penyebabnya apa selain kedatang Randy setelah ditinggal beberapa jam hanya untuk membersihkan diri.
"Antar aku ke kamar, mau istirahat." Dia merengek.
Randy diam.
"Abang? Ayo!" Perempuan itu merengek lagi.
"Sudah Ran, turuti saja kemauan Ayumi. Tidak apa-apa, nanti kamu bisa kembali setelah Ayumi merasa cukup mengistirahatkan tubuhnya, mungkin dia kekenyangan setelah menghabiskan hampir setengah kilo rujak tomat buatan Ibu." Ujar Tutih sambil tertawa.
Randy tertegun mendengar itu.
"Ayoooo!" Rengek Ayumi. "Aku lelah, mata aku berat, tapi nggak mau tidur, cumah mau istirahat rebahan di kamar sama Abang." Katanya dengan suara yang terdengar begitu manja.
Setelah hamil bukankah dia selalu bersikap seperti itu, seolah ingin selalu diperhatikan, dan tentu saja Randy sangat menyukainya.
Randy menatap Ali, Tutih juga Amar bergantian.
"Kalau begitu Randy temani Ayumi dulu." Randy berpamitan.
Dan setelah itu dia beranjak pergi, kembali ke arah rumah setelah mendapat anggukan dari kedua mertuanya, juga Amar yang sepertinya ingin mulai mengakrabkan diri.
Setelah kejadian beberapa waktu lalu, yang mungkin saja membuat hubungan keduanya saling menjauh.
Tentu saja, perempuan itu kini berada di dalam gendongannya, persis seperti koala yang sedang tertidur memeluk pohon.
"Tidak akan, ada kamu yang akan menjaga kita." Kepala Ayumi menengadah, menatap Randy yang sedang tersenyum.
Klek!
Randy menekan handle pintu kamar Ayumi. Sebuah ruangan kecil yang menjadi saksi ketika dia mengambil sesuatu yang paling berharga milik perempuan yang sangat dia cintai.
"Ish, … senyum-senyum!" Ayumi menarik ujung hidung suaminya yang mancung.
"Abang lagi mikirin sesuatu yah!?" Tanya Ayumi.
Randy tertawa pelan, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia segera menurunkan Ayumi, dan membiarkan perempuan itu duduk di tepi ranjang.
Sementara dirinya bersimpuh, dan memeluk Ayumi untuk mendekatkan telinga pada perut istrinya. Dia berusaha mendengar pergerakan di dalam sana, terkadang juga memberikan beberapa kali ciuman, membuat perasaan Ayumi menghangat.
Bagus bukan? Hubungan kalian sudah terjalin sangat dekat, bahkan saat kamu masih di dalam perut Mommy.
Ucap Ayumi dalam hati.
"Kamu sedang tidur? Setelah mau menghabiskan setengah kilo rujak tomat buatan Nenek mu?" Randy berbicara pada janin di dalam perut Ayumi.
Ayumi menundukan pandangan, lalu mengusap kepala Randy dengan sangat perlahan.
__ADS_1
"Kamu sudah makan nasi?" Pandangan Randy terangkat, menatap paras cantik istrinya yang selalu dia puja.
Ayumi mengangguk.
"Kapan?" Randy memastikan, karena dia tahu benar. Jika Ayumi sudah menemukan tomat, maka dia tidak akan ingat dengan makanan lain.
Ya namanya juga orang Indonesia, tidak bisa disebut 'makan' kalau belum makan nasi bukan?
"Tadi pas kamu tidur, di rumah Mama aku makan nasi." Ayumi menatap suaminya.
"Itu tadi. Aku tanya sekarang!" Randy memicingkan mata.
Ayumi tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya dengan sedikit ragu-ragu.
"Belum bukan?"
"Tapi sudah tadi pagi, itungannya sudah dong Daddy!" Calon ibu muda itu bersikukuh.
"Dasar nakal!" Dia memberikan sentilan di daun telinga Ayumi.
Membuat perempuan itu memekik kencang, dan mengusap telinganya yang terlihat sedikit memerah.
"Abang!" Ayumi terkekeh.
"Kalau tidak makan nasi, … besok-besok tidak boleh makan rujak tomat lagi." Tegasnya.
Ayumi menggelengkan kepala, pertanda tidak setuju dengan ucapan Randy, suaminya.
"Jangan, nanti Baby tomato proses!" Ayumi merengek.
"Kalau begitu harus mau makan nasi dan minum susu, vitamin nya juga jangan lupa."
"Iya iya. Tapi nanti yah! Aku mau rebahan dulu, dari tadi duduk sampai pinggang aku pegel."
Randy bengakit, dia ikuta naik ke atas tempat tidur dan segera merebahkan diri.
"Kemarilah Mommy!"
Randy menepuk-nepuk bantal yang berada tepat di sampingnya.
Ayumi mengangguk, dia beringsut mendekat, dan langsung berbaring menempelkan wajah di dada bidang Randy.
Aroma maskulin kembali menyapu indra penciumannya.
"Hemmm, … kamu wangi sekali!" Ucap Ayumi gemas.
"Diam, jangan terus bergerak-gerak. Atau akan ada yang bangun setelah ini!"
Randy berbisik. Dia tersenyum kemudian mendekap tubuh kecil milik istrinya, dan mencoba memejamkan mata, mengikuti hal yang saat ini istrinya lakukan.
__ADS_1