My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 172 (Badai)


__ADS_3

"Aku mohon jangan terlalu berlebihan seperti ini, Valter!" Sumi menatap suaminya yang berdiri di ambang pintu masuk, lalu beralih melihat beberapa barang yang kembali berada di dalam kamar hotel mereka.


"Apanya yang berlebihan?" Valter tampak begitu santai. Dia membuka sepatunya kemudian beranjak pergi memasuki kamar mandi, untuk membasuh tangan dan kaki terlebih dahulu.


Sementara Sumi mematung, melihat beberapa pasang pakaian juga sepatu. Dan jangan lupakan dua pouch berisikan satu paket skincare, dan berbagai macam alat makeup.


Sumi menghela nafas, entah kenapa rasanya begitu berat.


"Aku melihat ukuran sandalmu. Jadi aku beli satu nomor di atasnya untuk flat shoes itu!" Valter kembali, dan segera mendekati Sumi yang masih berdiri mematung, memperhatikan semua barang baru dengan merk yang dia ketahui cukup terkenal di salah satu mall.


Sumi menoleh, dia menatap Valter yang mulai merebahkan diri di atas ranjang tidur sana.


"Jangan mubazir uang. Pakaianku masih layak pakai, begitupun dengan sandal dan sepatu milikku."


"Kamu menolak lagi?"


"Bukan menolak, kamu hanya berlebihan. Dan jujur saja aku tidak suka!" Ucap Sumi dengan raut wajah sendu.


Tak peduli apa reaksi Valter setelah ini. Yang terpenting dirinya bisa berhenti berpikir bagaimana cara membalas setiap kebaikan seseorang, karena pada kenyataannya dia tidak akan mampu membalas setiap kebaikan itu, sampai dia selalu menyerahkan kepada Tuhan agar dia yang membalas dengan segala keadilannya.


Valter diam menatap wajah Sumi lekat-lekat.


"Kamu tidak suka?" Valter balik bertanya.


Sumi bungkam.


"Baiklah. Sepertinya percuma saja aku memberikan segalanya! Karena kamu tidak akan pernah mau menerima apapun yang aku berikan, meski itu aku lakukan atas dasar rasa cinta dan kasihku kepada dirimu." Valter menurunkan kedua kakinya.


Kemudian meraih barang-barang tersebut.


"Mau dibawa kemana?" Sumi menahan lengan Valter.


"Ke lobby."


"Lobby!?" Sumi meracau.


"Ya, disana ada beberapa pegawai perempuan. Mungkin mereka mau menerimanya daripada harus aku buang."


"Ih, … kok dibuang!" Sumi merebutnya dari tangan Valter, lalu dia letakan di atas sebuah koper besar milik suaminya.


"Simpan saja disini." Kata Sumi.


"Bukannya kamu tidak suka? Keberatan? Tidak mau? Tidak suka?"


"Ya tapi kamu terlanjur membelinya, jadi biarkan saja simpan, nanti aku pakai. Mungkin salah satunya saat kita berangkat nanti."


Sumi menyusun semuanya dengan rapih, lalu pergi meninggalkan Valter begitu saja kedalam kamar mandi, untuk membasuh wajah dan membersihkan dari sisa makeup yang seharian ini dia pakai.


"Ternyata kau memang Laras yang dulu." Pria itu tersenyum.


Apalagi saat ingatan tiba-tiba jauh tertarik ke belakang. Dimana mereka sedang berkencan disisi pantai, membeli banyak coklat, dan perempuan itu menggerutu. Namun ketika Valter akan memberikannya kepada orang lain, jelas Sumi melarang Valter melakukan itu.


Hal yang sama Sumi lakukan sekarang. Dia menggerutu, bahkan mengatakan jika dia tidak menyukainya, lalu saat Valter akan memberikan barang itu kepada orang lain, dia tidak mengizinkan.


Valter berjalan mendekati sebuah sofa besar yang terletak di dekat sebuah kaca besar, yang langsung menyuguhkan pemandangan pantai yang sangat luas.


Hembusan angin tampak begitu kencang, terlihat dari beberapa pohon di sekitar hotel tersiuk-siuk tak tentu arah. Bahkan beberapa orang mulai menepi, dan memasuki kawasan hotel saat cuaca tiba-tiba saja menjadi mendung.


Awan-awan berwarna hitam pekat sudah jelas terlihat, dan itu menandakan sebentar lagi hujan badai akan segera turun.


Suasana di luar tiba-tiba menjadi sangat gelap, dan tanpa di duga hujan yang sangat deras turun, disertai angin yang berhembus kencang.


Kilat-likat mulai menyambar, hingga Valter memutuskan untuk menutup tirai tipis yang sejak dari tadi dia singkirkan. Valter berdiri, meraih ujung tirai itu, lalu menariknya sampai benar-benar menutup kaca besar kamar itu.


"Kenapa tiba-tiba badai?" Tanya Sumi, dia berdiri di ambang pintu dengan keadaan wajah yang tampak polos tanpa polesan make up seperti sebelumnya, dan menitikan beberapa tetes air.


"I don't know." Sahut Valter seraya mengendikan kedua bahunya.


Wanita itu berjalan mendekati nakas, dimana sebuah tempat tisu berada disana, membawa beberapa lembar dan mengusap wajah dan memberinya tepukan pelan.


Sumi menutup kedua telinga secara tiba-tiba, ketika cahaya kilat begitu terlihat jelas. Dan benar saja, suara yang dihasilkan setelah begitu besar, sampai membuat Sumi benar-benar merasa gelisah setelahnya.


"Ah untung ada kamu, jika sendiri aku bingung harus bagaimana."


Sumi segera naik ke atas tempat tidur, menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut sana.


"Kau masih takut petir?" Valter yang sedang duduk di sofa pun beralih mendekati ranjang tidur yang sudah Sumi tempat, naik dan ikut berbaring disana.


"Phobia itu sangat sulit dihilangkan tahu!" Cicit Sumi dengan suara pelan.

__ADS_1


Valter diam, melihat Sumi yang sedang menyembunyikan dirinya di balik selimut. Bahkan tubuh Sumi segera bereaksi, kala petir terus menyambar dengan sangat kencang.


"Hey!?" Valter menarik selimut itu, sampai dapat melihat Sumi yang saat ini terlihat memejamkan mata.


"Kemarilah!"


Valter menyingkap selimut, dan ikut bergabung di dalam sana.


"Laras, come! Setidaknya rasa cemasnya akan sedikit berkurang!" Dia meraih pergelangan tangan istrinya.


Sumi sempat mempertahankan diri, menolak permintaan Valter, namun itu tak berlangsung lama, suara Guntur yang terus bersahutan membuatnya benar-benar mendekat, memeluk Valter erat, dan membenamkan wajah di dada bidang milik suaminya.


Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat. Keduanya hanya diam dengan posisi saling memeluk satu sama lain.


"Coba alihkan pikiranmu dari rasa takut yang menguasai. Jangan memikirkan petirnya, biarkan suara petir itu terus terdengar, tapi bayangkan hal lain, yang menurutmu tidak menakutkan." Dia menyentuh rambut Sumi yang saat ini dibiarkan Terurai.


Sumi diam tidak menjawab. Matanya terpejam dengan tubuh yang terlihat sedikit menggigil karena rasa takutnya yang sedikit berlebihan.


"Bayangkan saat ini kamu sedang berada di satu tempat yang sangat luas. Disana dipenuhi bunga-bunga yang sangat bagus, dan kamu bahagia. Ya, kamu merasakan ketenangan di sana. Tidak ada angin, hujan, atau petir, hanya langit senja yang begitu indah." Valter mengusap punggung Sumi dengan sangat lembut.


"Tidak ada yang harus kamu takuti sekarang. Karena ada aku disini, bersamamu. Aku akan melindungimu dari segala macam bahaya yang mengancam, jadi tenanglah."


Suaranya terdengar semakin melembut. Valter semakin mengeratkan pelukannya, berusaha membuat agar Sumi merasa lebih baik daripada sebelumnya.


Suasana kembali hening. Hanya terdengar gemuruh suara hujan deras, yang diselingi suara petir yang terus menyambar.


Sumi mulai membuka mata, sedikit mengangkat pandangan, sampai dirinya dapat menatap wajah Valter dari jarang yang sangat dekat.


Alis tebal yang terlukis begitu indah, hidung mancung, rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu halus, bahkan beberapa kerutan sudah jelas terlihat.


Sumi tersenyum, bahkan tanpa dia sadari satu tangan bergetar sampai menyentuh wajah Valter, dan mengusap pipinya dengan sangat lembut.


"Aku melihat Ayumi di wajahmu!" Gumam Sumi.


Valter yang masih sadar sepenuhnya pun hanya membiarkan Sumi melakukan apapun yang dia mau.


"Terimakasih sudah kembali." Perempuan itu kembali berbicara.


Memang pelan, namun kesadaran Valter yang masih terjaga membuat pria itu dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


Valter membuka matanya secara tiba-tiba. Membuat Sumi tersentak kaget, dan menjauhkan tangannya dari wajah Valter.


Valter diam.


"Maaf. Kembalilah tidur, aku tidak akan mengganggumu lagi!" Kata Sumi.


Wanita itu hendak menjauh, namun Valter semakin mengeratkan lilitan tangan di pinggangnya.


"Valter, aku sudah meminta maaf." Sumi terkekeh pelan. Dia berusaha menutupi rasa gugupnya.


Apalagi saat pria itu terus diam, menatapnya begitu tajam, seperti sedang memindai sesuatu di wajahnya.


Pria itu semakin mendekatkan diri, sampai kening keduanya benar-benar menyatu. Hembusan nafas Valter menyapu wajah Sumi, membuat wanita itu segera memejamkan matanya.


"Laras?" Valter berbisik tepat di hadapan wajah Sumi.


"Hemmm?"


"Apa kau masih mencintaiku seperti dulu? Karena yang aku rasakan seperti itu, bahkan kamu tidak bisa aku gantikan oleh perempuan manapun, … apa kamu merasakan hal yang sama? Lalu bagaimana dengan hubungan kita sekarang? Apa kamu benar-benar mau menikah denganku? Atau hanya kerana permintaan Bu Nur, dan kau terpaksa melakukannya?" Tiba-tiba saja Valter menanyakan banyak hal.


Sumi menarik dirinya, sedikit menjauh sampai dapat kembali menatap wajah Valater dengan sangat jelas.


"Aku tidak terpaksa." Jawab Sumi.


"Benarkah? Tapi aku merasa sudah melakukan sebuah pemaksaan terhadap kamu. Raut wajahmu tidak sebahagia pengantin-pengantin baru pada umumnya, dan itu membuatku sedikit takut."


Sumi diam, dia menyelami iris coklat pria di hadapannya.


"Apa aku terlihat seperti itu? Apa aku bersikap berlebihan kepada?" Sumi merasa sedikit bersalah.


Wanita itu bergerak semakin mendekat, lalu kembali menyentuh pipi suaminya, dan mengusapnya dengan sangat lembut, dengan kedua mata yang terus beradu. Sementara tangan Valter semakin melingkar erat.


"Aku tidak tahu. Bagaimana menurutmu? Apa kamu bersikap berlebihan kepada diriku?" Valter balik bertanya.


Namun ungkapan itu membuat Sumi kembali terdiam.


"Lalu harus bagaimana aku bersikap? Aku tidak tahu, tentu saja aku tidak berpengalaman menjadi seorang istri." Wanita itu semakin melembut, begitupun dengan tatapan matanya yang kini terlihat lebih sejuk.


Dan Valter dapat melihat cinta di dalamnya, yang membuat perasaan pria itu sangat bahagia.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana? Jujur aku tidak tahu, ..." Kata Sumi lagi.


Tanpa aba-aba Valter bergerak semakin mendekat, dan meraup bibir Sumi sampai wanita itu berhenti berbicara.


Mata Sumi langsung terpejam. Dia membiarkan Valter melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Awalnya pria itu melakukannya dengan sangat lembut dan pelan. Namun semakin lama, ciumannya terasa semakin dalam, dan terasa lebih menuntut lagi.


Sumi yang sedari tadi diam pun mulai membalas, meskipun kaku, tapi setidaknya dia menerima apa yang sedang Valter lakukan.


"Aku tidak mau memaksa. Aku tidak mau melakukan hal yang dulu pernah aku lakukan, jika belum siap, maka aku akan menunggu sampai kamu …"


Belum selesai Valter berbicara, Sumi segera membekap mulut suaminya dengan telapak tangan, dimana sebuah liontin gelang yang Valter baru saja belikan tampak melambai-lambaikan indah disana.


"Maka lakukanlah, … sekarang aku milikmu. Tidak ada lagi alasan untuk aku menolak, karena kita menikah sah di mata hukum dan agama."


Valter membisu.


Kata-kata itu seperti udara yang sangat dingin, hingga mampu membuat aliran darahnya berhenti, sampai membuat sekujur tubuhnya membeku.


Sama halnya dengan Sumi. Dia bahkan terkejut dapat mengatakan itu. Bibir, hati dan otaknya tidak sejalan, sampai dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini, bibirnya ingin menolak dan berkata tidak, tetapi sinyal di dalam otak tentu saja mengikuti kemauan yang ada di dalam hatinya.


Suasana semakin hening. Dua manusia yang baru saja menikah itu sama-sama membeku.


"Jadi, …."


Sumi mengangguk, dia bahkan hafal gelagat Valter yang saat ini dia perlihatkan.


Pria itu tersenyum, dia menarik Sumi agar lebih mendekat, lalu meraih bibirnya seperti yang sempat dia lakukan beberapa waktu lalu.


Dengan perasaan menggebu-gebu Valter mencumbui setiap lekuk tubuh wanita yang berbaring tepat di sampingnya. Memberikan kecupan di kening, turun ke mata, pipi, dan berakhir di bibir.


Suara decapan mulai terdengar, bersahutan dengan Guntur yang terus bergemuruh di luar sana, namun kali ini Sumi tampak tak terganggu sama sekali, dia memilih memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Valter yang mulai bergerak tak tentu arah.


Nafas keduanya terdengar semakin memburu, ketika suasana terasa semakin panas. Bahkan tangan Valter terus bergerak, hingga kini Sumi sudah menanggalkan hampir seluruh pakaiannya, dan hanya menyisakan pakaian dalam.


Valter menegakkan tubuh, menarik lepas kaos yang masih dia pakai, lalu melemparkan ke sembarang arah. Hal yang sama dia lakukan, sampai dirinya benar-benar polos, dan membuat Sumi mengalihkan pandangan karena merasa malu.


Pria itu tersenyum. Dia benar-benar mengagumi perempuan yang saat ini sudah menjadi istrinya. Wanita dewasa, namun masih memiliki postur tubuh yang begitu indah.


Valter membungkuk, menelusupkan tangan ke belakang dan mencari sebuah pengait bra, sampai kain itu kini benar-benar terlepas.


Senyumnya semakin merekah.


Sumi mengatupkan bibir, memejamkan mata, kala tangan hangat suaminya mulai bermain-main disana, dan hal yang lebih mengejutkan terjadi, saat Valter menyesapnya dengan begitu semangat.


"Hhheuhh!" Kening Sumi mengkerut, dia berusaha menahan perasaan yang entah harus bagaimana dia menyebutnya.


Tangan Valter tak berhenti begitu saja, dia terus bergerak, Dan baru benar-benar berhenti ketika pria itu menyentuh ujung atas sisa kain yang Sumi kenakan.


Dia berhenti. Menegakan tubuh, kemudian menarik lepas kain segitiga tipis itu, dan melemparkan ke arah lantai.


Mereka diam dan kembali saling menatap.


"Kamu siap?"


"Astaga kenapa kamu bertanya? Kau justru membuat aku semakin gugup!" Wanita itu menggerutu.


Sumi hampir meraih selimut untuk menyembunyikan dirinya. Namun tentu saja Valter tahan.


Dia membuka kaki Sumi lebar-lebar, sedikit menekuknya, lalu membungkuk.


Cup!


Valter mencium bibir Sumi.


Satu tangannya bertumpu di atas tempat tidur, sementara satu tangannya lagi memegangi kaki Sumi.


Wanita itu terus menatapnya, dengan kulit kening yang sedikit demi sedikit mengekut, kala merasakan sesuatu berusaha menerobos inti tubuhnya dengan susah payah.


Valter membungkuk lagi, dia kembali meraih bibir istrinya, dan mencumbu agar membuat perempuan itu sedikit lebih rileks, sambil terus menekan pinggulnya.


Dan.


"Emmmmhhh!!"


Keduanya bereaksi. Saat Valter berhasil membenamkan seluruhnya.


Mereka sama-sama terdiam, lalu tersenyum dengan perasaan yang sangat bahagia

__ADS_1


Suara hujan di luar sana terdengar semakin deras. Angin semakin kencang, juga ledakan petir yang terus terdengar saling bersahutan. Menyamarkan suara-suara erotis di dalam kamar hotel sana, ketidak keduanya terus berpacu, mengejar sebuah pelepasan untuk pertama kalinya.


__ADS_2