My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 127 (Daddy)


__ADS_3

"Janinnya sehat, tumbuh kembangnya bagus. Sekarang usianya memasuki delapan Minggu, bagaimana? Ada keluhan selain muntah-muntah di pagi hari? Dan … tidak bisa jauh dari Pak Randy?" Dokter yang akrab disapa Renata itu menjelaskan.


Dia tersenyum penuh arti kepada Ayumi.


Ayumi yang saat ini sedang berbaring hanya menganggukan kepala dan tersipu malu. Sementara Randy menatap layar monitor tanpa berkedip, dengan raut bahagia yang terpancar.


Satu titik berwarna hitam yang terlihat lebih besar dari ukuran pertama kali dia melihatnya. Dan itu membuat perasaannya begitu bahagia, karena anak yang ada di dalam rahim istrinya bertumbuh dengan baik.


"Hasil USG nya mau di print?"


"Boleh Dok." Randy tersenyum.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, juga membersihkan sisa gel di atas perut Ayumi. Akhirnya perempuan itu bangkit, turun dan kembali merapikan pakaiannya.


"Vitaminnya masih ada?" Tanya Dokter Renata sembari berjalan ke arah mejanya.


"Sudah habis, Dok. Tapi aku nggak bisa habisin susunya, aku nggak suka." Ayumi ikut duduk.


Disusul Randy, sampai mereka duduk saling berhadapan, dengan hanya satu meja yang menjadi sebuah pemisah.


"Kenapa? Susu itu sangat bagus, banyak mengandung asam folat." Dia tersenyum.


Semenatara Ayumi hanya terdiam, dia tidak menjelaskan kenapa dia tidak menyukai susu yang memang dikhususkan untuk ibu hamil muda.


"Sebenarnya susu itu sangat bagus. Jika tidak suka varian yang sedang di minum, coba varian lain. Setidaknya satu gelas sehari, … jangan sampai tidak!"


"Dengar!" Randy melihat ke arah istrinya.


"Tapi aku mual kalau minum susu." Rengek dia kepada suaminya.


"Dicoba dulu varian lain, oke? Jika masih tidak bisa nanti saya kasih vitamin dan asam folat sedikit lebih banyak."


"Baik, Dok."


Dokter Renta mengulum senyum, memasukan satu kertas ke dalam amplop kecil berwarna putih, lalu memberikan kenapa Randy.


"Ini hasil USG nya, ini buku catatan pemeriksaannya, … dan ini resep untuk vitamin, di tebus di tempat biasa."


"Terimakasih Bu Dokter." Ucap Ayumi.


"Sama-sama, semoga sehat selalu, lancar sampai lahiran nanti."


"Baik, terimakasih. Kalau begitu kami pamit, Dokter."


Mereka berdua segera berjalan ke arah pintu, menekan handle, lalu keluar dari ruangan itu bersama-sama.


***


"Yakin mau pulang? Di rumah tidak ada siapa-siapa." Tanya Randy.


Dia menoleh, saat mobilnya berhenti, dan lampu jalanan tampak terlihat berwarna merah, hingga menimbulkan antrian kendaraan yang cukup panjang.


"Ada Bi Dini."


"Ya, … maksud aku sudah tidak Ibu, Mama dan Bapak."


"Tidak apa-apa. Memangnya mau bagaimana lagi? Ikut ke kantor? Kayaknya nggak mungkin, aku nggak mau ketemu Dokter Aleesa." Celetuk Ayumi.

__ADS_1


Entah kenapa kali ini setiap kali Randy membahas pekerjaan, yang melintas di pikirannya adalah pertemuan antara suaminya dengan wanita yang dulu sempat berjuang mati-matian agar mendapatkan cinta pria tampan yang saat ini sudah berstatus menjadi suaminya.


"Dokter Aleesa tidak setiap hari ke kantor. Dia juga mempunyai kesibukan sendiri, Ay! Kewajiban dia hanya tugas lapangan saat ada pertandingan, akalu hari-hari biasa ya tidak ada, dia juga mempunyai pasien lain, selain Egy, Evan, Bagas dan kawan-kawan nya." Jelas Randy.


Ayumi bungkam, menatap lurus kedepan dengan tangan yang tak hentikan memainkan kain hitam yang kini selalu Ayumi bawa kemanapun dia pergi.


"Mau pulang atau ikut ke kantor? Satu jam lagi ada rapat dengan sponsor."


"Pulang sajalah, aku nggak mau ke kantor kamu. Nanti jadi bahan obrolan, aku tahu nggak semua karyawan Pak Raga juga baik … gimana kalo ada yang kaya Bu Tara dulu? Aku nggak suka cara mereka melihat aku nantinya."


Randy mulai melajukan mobilnya, setelah lampu berubah menjadi berwarna hijau, dan antrian kendaraan di depan melaju dengan sangat perlahan.


"Kamu masih takut bertemu orang baru?"


Ayumi mengangguk.


"Padahal bawahanku ramah-tamah dan baik-baik lho, tadinya aku mau memperkenalkan kamu kepada mereka. Tapi kalau kamu tidak mau ya sudah kita pulang saja, minum vitamin, lalu istirahat yah!"


"Abang pulang jam berapa?" Ayumi mengubah posisinya sedikit menjadi miring, hingga mampu menatap suaminya dengan leluasa.


"Kalau tidak terlalu banyak kerjaan seperti biasa. Jam lima sudah pulang, tapi kalau ada kerjaan lain yang Pak Raga berikan, ya telat lagi kaya kemarin aku sampai pulang jam sembilan malam.


Ayumi menghela nafasnya, dia tampak sedikit kecewa sampai mengerucutkan bibir.


"Kamu sibuk banget ya setelah masuk kerja lagi."


"Dulu juga sibuk, hanya saja kita belum menikah, dan kamu tidak tahu." Randy menoleh sekilas, dan tersenyum.


"Ah rasanya berat kamu sibuk begini. Aku kesepian!"


"Sabtu-Minggu aku libur! Kita juga sering jalan ke taman, jajan takoyaki sama seblak, telur gulung juga, dan masih banyak jajanan yang kamu jajal."


Dia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi mobil, lalu menghembuskan nafasnya lagi, kali ini lebih kencang, dan itu membuat Randy kembali menoleh.


"Ya sudah sekarang ikut ke kantor saja."


"Eh!" Ayumi tersentak. "Nggak mau, aku mau pulang saja."


"Kamu selalu membuat aku pusing, di bawa nggak mau, aku tinggal juga tidak mau … jadi mau bagaimana?"


"Mmmm, … Minggu nanti antar aku ke rumah Mama boleh? Atau ke rumah Ibu dulu, nanti aku yang ke rumah Mama sendiri."


"Tidak mungkin, kamu mau meninggalkan aku sendirian?"


"Tidak dong! Ada Bi Dini di rumah."


"Kalau mau telepon saja, minta mereka datang. Aku tidak mau kamu pergi terlalu jauh, nanti aku bagaimana?"


Ayumi menatap raut wajah suaminya yang tiba-tiba berubah masam. Namun, itu terlihat begitu menggemaskan, apalagi saat tatapan matanya semakin tajam, membuat bulu mata lentik pria itu terlihat semakin jelas.


"Dih, Papa kamu ngambek Dek!" Ayumi terkekeh.


"Bisa-bisanya kamu berpikir ingin pergi meninggalkan aku jauh seperti itu! Kamu bisa karena ada kaos aku, lalu aku bagaimana? Tidur nggak ada yang meluk, dan aku pasti tidak bisa tidur nyenyak."


Ayumi tertawa lagi, ocehan Randy membuat moodnya tiba-tiba membaik.


"Baiklah. Antar aku pulang dulu, ke rumah Mama nya kita pikirkan nanti saja."

__ADS_1


Randy tidak menjawab, dia fokus pada jalanan di depannya, dengan kedua tangan yang kembali mencengkram stir mobil.


Dan setelah berkendara sekitar 30 menit lamanya. Akhirnya Ayumi sampai di rumah besar yang sudah menjadi tempat tinggal tetap saat ini, bersama seorang pria yang sangat dia cintai.


Mereka berjalan beriringan memasuki rumah, di sambut sang asisten rumah dengan senyuman hangat seperti biasa.


"Mau saya siapkan makan sekarang?"


"Tidak usah, nanti saja. Kalau mau aku panggil ya, Bi!"


Dini mengangguk, dan dia kembali ke arah belakang, meninggalkan Randy dan Ayumi begitu saja.


"Aku tidak bisa lama-lama, ada miting sebentar lagi."


Randy menekan handle pintu kamar, membukanya perlahan, dan membiarkan Ayumi masuk terlebih dahulu.


Klek!


Pintu kamarnya tertutup. Randy segera berjalan mendekati Ayumi, lalu memeluknya dari belakang, dan menenggelamkan wajah di ceruk leher sang istri untuk menghirup aroma Ayumi yang sangat dia sukai.


"Papa!" Ayumi memekik kencang, bahunya sedikit mengendik saat merasa geli ketika hembusan nafas suaminya menyapu tengkuk bagian samping.


"Astaga! Sekarang malah aku yang malas untuk kembali, rasanya ingin terus bersama kamu disini."


"Tapi tidak boleh, nanti Pak Raga marah."


Raga melepaskan Ayumi.


"Kamu benar, aku harus segera kembali."


Ayumi berbalik badan, dia mengangguk sambil tersenyum.


"Cepatlah, agar pekerjaannya segera selesai."


Randy mengulum bibirnya, maju satu langkah, memiringkan kepala dan mencium bibir Ayumi.


"Baiklah Mommy, Daddy berangkat dulu. Jangan lupa diminum vitamin nya yah! Kalau ada yang mau aku belikan, segera kirim pesan."


Ayumi mengangguk, lalu membalas kecupan suaminya beberapa kali.


"Hemmm, … Daddy! Aku seperti sedang memanggil Om-om kaya raya, yang selalu …"


"Anggap saja begitu." Randy gemas.


"Aku harus berangkat sekarang, jangan memperpanjang pembicaraan, nanti aku benar-benar tidak mau pergi."


"Iya iya." Ayumi tertawa.


"Aku pergi ya, baik-baik di rumah."


"Iya Papa."


"No!" Randy menggelengkan kepala. "Daddy. Bukan Papa!"


"Iya Daddy, hati-hati."


Ayumi melambaikan tangan saat Randy mulai beranjak pergi. Berjalan mendekati pintu, keluar dan tubuh tinggi kekar itu benar-benar menghilang setelah pintu kembali tertutup.

__ADS_1


__ADS_2