
Setelah menghabiskan waktu bersama orang tua Ayumi. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera kembali saat matahari sudah benar-benar terbenam.
"Rame banget?" Ayumi menatap Randy saat dia turun dari mobil kekasinya itu.
Randy tersenyum.
"Mungkin ada yang lagi karaoke. Mau ikutan? kamu bisa nyanyi?"
Pria itu berjalan memutari mobil, sambil mengulurkan tangan untuk meraih Ayumi yang juga berjalan kearahnya dengan langkah kecil.
Dan jemari keduanya kembali saling terpaut, menggengam satu sama lain, seolah takut terpisah.
"Astaga, mereka benar-benar menikmati liburannya." Randy terkekeh, saat melihat sekumpulan orang-orang yang dia kenal, tengah bernyanyi di salah satu cafe yang tersedia.
"Ya memang harus." Sahut Ayumi.
"Kamu mau nanyanyi juga?"
"Nggak terimakasih." Gadis itu langsung menolak.
"Sungguh?"
Ayumi mengangguk.
"Bukannya kamu bisa nyanyi yah?!"
"Semua orang bisa Bang, cuma balik lagi, suaranya bagus apa nggak? kalau aku sih, nggak sebagus itu."
Langkah Ayumi terhenti, saat Randy berusaha menariknya mendekat kearah teman-temannya yang sedang berkumpul.
"Kamu mau kesana?" Tanya Ayumi.
Randy tidak menjawab, dia hanya menatap wajah Ayumi dengan senyum tipisnya.
"Aku mau ke kamar saja!"
"Kenapa?"
"Nggak tahu, aku tidak terlalu suka dengan keramaian, ... apalagi banyak orang."
Ayumi melepaskan pautan tangan.
"Kenapa? ada aku."
"Aku nggak terbiasa, kamu boleh bergabung dengan teman-teman mu, aku ke kamar dulu, yah?"
Gadis itu berbalik arah, kemudian berjalan menuju kamarnya yang terletak cukup jauh.
"Kalau kamu butuh sesuatu, telfon saja. Nanti aku datang, oke?" Teriak Randy.
Ayumi menoleh, lalu mengacungkan kedua jempol tangannya.
***
Klek!!
Ayumi keluar dari dalam kamar mandi, setelah cukup lama berada di dalam sana, mengenakan handuk yang menutupi tubuh semampai itu dari dada hingga paha, juga rambut panjang yang masih tergulung handung kecil.
Kali ini keadaannya terlihat sangat segar.
Segera gadis itu mengenakan pakaiannya, dan setelah selesai, dia naik keatas tempat tidur, dengan keadaan rambut yang masih sedikit basah.
Ayumi merebahkan tubuhnya, menatap lurus kearah langit-langit kamar dengan pikiran yang mulai menerka-nerka.
"Kenapa Bapak meminta aku bertemu Om, Al?" Gumamnya saat pikiran itu terus mengganggu.
"Apa hubungannya? setahu aku, kita nggak ada tali persaudaraan kan? tapi ..."
Ayumi menggantuk kata-katanya, dengan segala pikiran yang terus menerka-nerka.
"Astaga isi kepala ku mulai berisik, hanya karena Om Al ikut andil dalam hubungan aku sama Abang!" Ayumi menggaruk kepalanya kencang, kemudian bangkit sampai kini dia benar-benar duduk tegak.
Klek!
Klek!
Handle pintu bergerak-gerak.
"Ay, kamu tidur?" Teriak Randy saat ia mendapati pintu yang terkunci dari dalam.
__ADS_1
Klek!
"Ayumi?" Dia terus berusaha masuk.
"Ya." Sahut Ayumi, saat gadis itu tersadar dari lamunannya.
Dia segera turun, lalu menghambur kearah pintu dan memutar kuncinya beberapa kali.
"Kenapa?"
Tanyanya saat pintu tersebut di buka sangat lebar. Namun Randy tidak menjawab, dia langsung masuk dengan beberapa kantung makanan yang dia bawa dan di letakan diatas meja yang berada di sudut ruangan.
"Aku bawain roti sama pisang bakar kesukaan kamu, ... terus ada Susu full cream kesukaan kamu juga." Dia tersenyum kepada Ayumi, seraya membuka dua bungkusan berisi roti juga pisang bakar.
Ayumi mengangguk, dan dengan raut wajah ceria duduk di sofa bersama kekasihnya.
"Tau aja aku lagi laper."
Randy melirik, lalu mendelik.
"Lalu kenapa tidak keluar lagi? padahal aku nungguin kamu dari tadi, berharap mau nongkrong sama anak-anak disana."
"Aku malu, nanti nggak tahu harus ngomong apa."
Ayumi meraih sendok kecil yang sudah tersedia, lalu mulai menyantap pisang bakar keju coklat kesukaannya.
Randy mengulum senyum, dia bersimpuh di hadapan Ayumi, sedikit mengangkat kepala, lalu membuka mulutnya.
"Roti atau Pisang?" Tanya Ayumi saat mengerti keinginan Randy.
"Apa saja, yang penting kamu suapin."
Wajah Ayumi seketika memerah, dia menatah senyum.
"Kok aku malu yah, ikut liburan tapi nggak mau bersosialisasi." Ucap Ayumi saat dia menjejalkan satu suapan pisang bakar kepada Randy.
Pria itu mengangguk, mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
"Bu Balqis seperinya mengerti, jadi membiarkan kalian tetap berada di dalam kamar." Kata Randy sambil terus mengunyah.
Kening Ayumi menjengit kencang.
"Kalian?"
"Kamu dan Santi. Kalian sama! sama-sama suka berdiam diri di dalam kamar, padahal banyak yang bisa dia lakukan, ... berkenalan dengan salah satu pemain bola misalnya, kalian aneh."
Seketika raut wajah Ayumi berbinar.
"Aku mau kenalan sama Egy boleh? dia salah satu pemain favorit aku, ... apa lagi mau masuk Timnas yah?"
"Oh, ... kalau kamu tidak boleh! nanti aku yang wakilkan saja yah! mau apa? tanda tangan? nanti aku yang mintakan untuk mu."
Gadis itu mematung, menatap kekasihnya dengan mata yang membulat sempurna.
"Hilih, ... dasar posesif!" Ayumi mendelik.
Sementara Randy tersenyum, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Nanti dia suka sama kamu, dan aku tidak mau memiliki saingan. Cukup Mas Gani itu yang terus saja mengilai mu, walau kita sudah terang-terangan seperti sekarang."
"Aduh, mulai cembuaran ya guys ya!" Sindir Ayumi.
Sementara pria itu terlihat sedikit kesal.
"Ayok habiskan, setelah ini kemasi barang-barang mu! malam ini kita tidur di rumah Ibu, ... dia tahu kita datang kesini, dan meminta aku untuk membawa calon menantunya ke rumah sekarang juga." Jelas Randy.
"Ke rumah Abang?"
Randy mengangguk.
"Sekarang?"
Randy mengangguk lagi.
"Sudah izin?"
"Sudah, dan banyak sekali pertanyaan setelah aku mengatakan hal ini."
Ayumi tergelak sampai tangannya menutupi mulut, takut sesuatu akan menyembur dari dalam mulutnya.
__ADS_1
"Hanya bertanya, tidak meledek seperti biasa bukan?" Ayumi terus tertawa.
"Mana ada, mereka tetap bersorak sambil mengatakan jika abege tua ini akan segera menikah. Lagi dia mengatakan jika aku cukup beruntung karena mendapatkan daun muda seperti mu." Dia terlihat kesal.
"Memangnya tidak yah?"
"Iya ... beruntung sih! memang benar yang mereka katakan, kamu muda, cantik, dan aku sangat beruntung." Kini pria itu tersenyum.
***
Maria segera berlari, saat sorot lampu mobil terlihat memasuki pekarangan rumahnya.
Raut wajah wanita paruh baya itu berbinar, bahkan bibirnya terus tersenyum saat rasa bahagia begitu terasa.
Tentu saja, calon menantu yang sangat di idamkan nya kini datang.
"Akhirnya kalian sampai, masakan Ibu sudah selesai sejak dari tadi." Maria berteriak, dia berdiri di ambang pintu, menyambut anak juga calon menantunya dengan perasaan yang sangat bahagia.
Mesin mobil itu mati, begitupun dengan sorot lampu, kemudian keluarlah Ayumi, di susul Randy dengan seulas senyum yang terlihat.
"Ibu!" Panggil Ayumi, dia berlari saat Maria terlihat merentangkan kedua tangannya.
Dan perempuan berbeda usia itu saling memeluk.
"Hey? anak Ibu itu aku!" Dia langsung menarik Ayumi secara paksa, lalu memeluk tubuh Maria erat, dan memberi beberapa kecupan penuh rindu di kening wanita tersebut.
Ayumi tertawa, begitupun dengan Maria.
Plak!
Maria memukul otot lengan putranya.
"Kamu ini! kok tega sekali sampai menarik menantu Ibu seperti itu." Ucap Maria sambil terus tertawa.
Randy hanya tersenyum.
"Kemarilah!" Randy menggerakan tangannya, meminta Ayumi untuk kembali mendekat. "Kalian ini dua wanita yang sangat aku cintai!" Ucap Randy saat Ayumi sudah berada di dalam pelukannya.
Ayumi memejamkan mata, entah harus bagaimana dia menyebut perasaannya saat ini. Dia tidak pernah merasa kurang kasih sayang, tapi kenapa ucapan itu memliki tempat tersendiri di dalam hatinya? apa karena dia tidak pernah mendapatkan itu dari Amar?
Entahlah hanya dia dan tuhan yang tahu.
"Sebaiknya kita masuk, makan malam sudah Ibu hidangkan." Maria menarik diri.
Dan pelukan itu saling terlepas, lalu mendorong Ayumi juga Randy hingga masuk kedalam rumah.
Keadaan rumah hening itu seketika berubah menjadi hangat. Obrolan santai, gelak tawa saat satu sama lain melontarkan candaan.
Dan malam pun merangkat semakin larut. Setalah makan bersama dan sedikit berbincang, akhirnya Ayumi mulai masuk kamar, saat dia mengadu telah merasa lelah kepada Maria, dan Wanita itu menunjukan salah satu kamar tamu untuk Ayumi tempati.
Begitu pun dengan putra semata wayangnya, dia segera memasuki kamar saat Ayumi tidak ada lagi di sampingnya.
Klek!!
Salah satu pintu kamar terbuka.
Randy menyembulkan kepala, menatap ruangan sekitar yang sudah gelap, juga terasa sunyi.
Maklum saja, jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Pria itu keluar, berjalan mengendap-endap seolah takut seseorang akan menyadarinya.
Dia terus berjalan kearah pintu kamar yang Ayumi tempati. mengulurkan tangan untuk meraih handle pintu tersebut.
Namun ...
"Astaga!" Pekik Randy saat ada yang menarik telinganya.
"Mau apa kamu!" Cicit Maria pelan.
"Hah!?" Dia sangat terkejut.
Kenapa tiba-tiba Ibu ada disini!
"Mau apa? ini sudah malam, jangan mengganggu Ayumi."
"Bukan mau ganggu, hanya mau memastika, dia tidak biasa sendirian di ruangan yang sangat luas."
"Alasan! cepat kembali masuk kedalam kamar mu. Dasar anak nakal!" Ucap Maria sembari menarik telinga Randy, membawa pria itu kembali masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
......................
Amsyong ini mah🤣