My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 17 (Jaminan pinjol)


__ADS_3

"Kenapa kesini?" Akhirnya Ayumi membuka suara, setelah sekian lama bungkam.


Seketika gadis itu melihat kearah Randy yang terus fokus mengendalikan setir mobil miliknya.


Randy menoleh sekilas, lalu pandangannya kembali fokus kearah depan, dimana mobilnya sudah melewati gerbang utama rumahnya.


"Ada banyak makanan di rumah, tidak usah beli." Jawab Randy singkat.


Mobil Randy berhenti tepat di samping teras depan rumah besar itu. Dia mematikan mesin mobil, membuka seatbelt dan langsung meraih handle pintu mobil di sampingnya.


"Ayok turun." Titah Randy saat dia mendapati Ayumi yang terus duduk di dalam mobil sana.


Ayumi bergeming, sepertinya kali ini gadis itu benar-benar marah.


"Ay? kumohon ayok turun. Bicarakan semuanya baik-baik, saya tahu saya salah, maka dari itu saya ingin menyelesaikannya malam ini juga." Randy memohon.


Mata Ayumi terpejam, seraya menarik nafas sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.


"Ayumi?" Panggil Randy lagi.


"Baiklah, baiklah!" Sahut Ayumi sedikit ketus.


Segera Ayumi melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya, meraih handle pintu, lalu keluar.


Randy tersenyum saat gadis itu lagi-lagi menuruti keinginannya.


Klek!


"Ayok."


Pandangan Ayumi menengadah, menatap pria tinggi yang saat ini berdiri di ambang pintu, dengan bibir tersenyum, juga raut wajah sumringahnya.


"Tidak ada siapa-siapa lag?" Ayumi berusaha santai, meski debaran di hatinya mulai meningkat.


"Ya, ... asisten rumah ternyata meminta berhenti. Jadi dia tidak pulang lagi, dan aku sedang mencari pengganti, jika ada tetangga mu yang ingin kerja, beritahu saja."


"Aku?" Ayumi membeo, dia tidak percaya kini Randy mengatakan itu untuk dirinya sendiri.


"Ya, kenapa? sepertinya kita harus mulai dari yang kecil, seperti panggilan ... misalnya!"


Ayumi mengendikan kedua bahunya.


"Baiklah, ayok masuk."


"Hemm, ... aku juga lelah terus berdiri seperti ini!" Ayumi berujar.


Setelah itu dia masuk, melewati Randy yang saat itu terus menahan pintu rumahnya agar terus terbuka.


Dan disanalah mereka, duduk di sebuah sofa ruang tivi saling berhadapan.


"Tidak mau makan dulu? bukannya kamu bilang lapar?" Untuk kesekian kalinya Randy bertanya.


"Nanti aku bisa beli sendiri, sekarang Bapak ingin bicarakan? jadi ayok bicara, setelah itu antar aku pulang."


Randy menghembuskan nafasnya pelan, lalu dia bangkit.


"Sepertinya kemarah mu sulit di redakan yah! kalau begitu tenangkan dulu dirimu, ambil makanan jika kamu lapar di dalam tekas sana!" Randy menunjuk kearah dapur bersih yang terletak tidak jauh dari ruang tengah.


Setelah itu dia pergi, berjalan kearah pintu taman belakang sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


"Ish, ... malah di tinggalin!" Bibir Ayumi mengerucut.


Dia ikut bangkit, dan berniat menyusul Randy.


Pria itu duduk di sofa teras belakang, meletakan satu batang rokok di bibirnya, lalu menyalakan korek api, sampai benda itu mulai mengepulkan asapnya sedikit demi sedikit.


"Bapak merokok?"

__ADS_1


Ayumi berdiri diambang pintu.


Randy menoleh, dia mengangguk dan meniupkan asap roko itu keudara.


"Sana masuk, habis ini saya masuk lagi."


Namun Ayumi tak mendengar, dia terus berjalan mendekat sampai duduk di samping Randy.


"Masuklah, nanti asap rokoknya kamu hirup. Dan itu tidak baik!" Tukas Randy sembari mengibas-ngibaskan tangan di udara, berusaha menyingkirkan asap rokok itu di dekat Ayumi.


"Katanya mau bicara, tapi Bapak malah ninggalin aku!"


"Setelah pikiran dan hati mu tenang."


"Memangnya kenapa kalau pikiran dan hati aku masih marah?"


"Kamu akan memutuskan sesuatu tanpa berfikir, seperti saya." Randy menjatuhkan puntung rokok itu keatas ubin, menginjaknya, lalu menghadap kearah samping dimana Ayumi duduk.


Mereka saling menatap dalam diam, menyelami manik masing-masing.


"Pikiran saya kacau, saya cemburu saat pria itu bertingkah seolah dia mengetahui semuanya tentang kamu." Randy meraih tangan Ayumi, kemudian menggengamnya erat.


"Pria mana? aku tidak dekat dengan pria mana pun."


"Pria yang mengisi kamar kost di sebelah kamar mu." Pria itu tersenyum tipis.


Ayumi diam, berusaha mencerna apa yang Randy katakan.


"Mas Gani?"


"Namanya Gani?"


"Hemm." Ayumi menjawab dengan sebuah anggukan.


"Beruntung sekali dia bisa tinggal di dekat mu. Melihat semua aktifitas yang kamu lakukan, ... juga melihat wajah cantik mu setiap hari." Suara Randy menjadi sangat rendah.


Dia terhenyak saat mendengar penuturan Randy. Sesuatu didalam tubuhnya terasa bangkit, seperti ribuan kupu-kupu terbang memenuhi dada.


"Aku mencintai mu. Aku bodoh saat aku cemburu. Jadi ... maaf sudah membuat mu sedih dengan kata-kata kemarin malam."


Randy mengubah posisinya, turun sampai bersimpuh di hadapan sang gadis pujaan.


"Aku menginginkan mu Ayumi. Tidak hanya sekedar kekasih, tapi hal yang lebih jauh ... menjadi istri ku misalnya."


"Aku atau saya?" Ayumi berusaha menutupi kegugupannya.


"Serius." Randy terkekeh.


Dan di beberapa detik berikutnya pria itu kembali diam, menatap Ayumi lekat-lekat.


"Mau kah?"


"Hemm, apanya?" Ayumi gugup.


"Menjadi istri ku?"


"Astaga, ... jangan seperti ini! atau jantungku akan meledak sebentar lagi." Ayumi hendak bangkit, tapi Randy menahan dan kembali membuat gadis itu duduk.


"Apa kamu memaafkan aku, Ayumi?" Suara itu terdengar semakin rendah, juga tatapan mata yang semakin tajam.


Ayumi mengigit bibirnya kencang. Isi kepalanya tiba-tiba saja terasa kosong, saat pria itu mengutarakan hal yang tidak dia sangka-sangka.


"Jangan menjauh lagi, aku mohon! Malam itu aku hanya rindu sekaligus cemburu, aku tidak berniat mengatakan itu ... jadi maafkan aku!"


"Aku sudah memaafkan Bapak. Tapi untuk hubungan yang lebih jauh, aku tidak yakin, pacaran kita belum ada sebulan. Dan tidak mungkin jika harus segera melangkah kesana, aku takut gagal, akan banyak kesalah pahaman jika kita tidak saling mengenal terlebih dulu." Jelas Ayumi.


"Oh yah?" Randy semakin mendekatkan diri.

__ADS_1


"Ng, ... i-iya tentu saja. Seminggu pacaran saja kita terus bertengkar, terus menerus berselisih paham. Jika menikah bagaimana? pasti ..."


Cup!


Randy mencium bibir Ayumi tiba-tiba.


"Dasar bawel dan sok tahu!" Katanya, dia tersenyum penuh arti.


"Berhentilah! atau jantung ku akan terlepas." Ayumi merengek pelan.


Mendengar itu Randy hanya tersenyum, kembali mendekat dan menyatukan keningnya dengan kening Ayumi.


"Apa kita sudah berbaikan?" Tanya Randy dari jarak yang sangat dekat.


Ayumi mengangguk, dia sudah tak mampu berkata-kata.


Hembusan nafas keduanya saling menyapu wajah satu sama lain. Membuat mata Ayumi perlahan terpejam, dan Randy semakin mendekatkan diri.


Bibir itu kembali saling menyentuh. Dan kali ini durasinya cukup lama, tidak sesingkat biasanya.


"Buka sedikit mulut mu." Bisik Randy.


"Hemm?"


"Buka sedikit saja!" Bisiknya lagi.


Ayumi menuruti, meski ragu tapi tetap dia lakukan.


Randy kembali meraih bibir milik Ayumi, kini memangutnya dengan sangat menuntut.


Suara decapan mulai terdengar pelan, di barengi Randy yang terus mendorong tubuh Ayumi, sampai dia benar-benar menempelkan punggungnya pada sandaran sofa di bawah Kungkungan tubuh kekar kekasihnya.


"Kamu bisa membalas? dari mana kamu belajar? atau jangan-jangan kamu sudah ahli?" Cecar Randy saat ciuman itu terhenti.


Pipi Ayumi tampak semakin memerah.


"Aku, ... suka menonton Drama korea!"


Bodoh! kenapa kau mengatakan itu. Batin Ayumi berbicara


"Drama romantis?"


"Ng ... i-iya!"


"Baiklah ..." Randy kembali mendekatkan diri pada Ayumi. Namun tangan Ayumi menahannya.


"Hanya sebuah ciuman, tidak lebih."


"Aku lapar, Bapak tidak ingat?!"


Pria itu diam dan berfikir untuk beberapa detik.


"Mau makan?"


"Hu'um."


Randy tersenyum, mencium bibir Ayumi singkat untuk yang terakhir kalinya, kemudian bangkit.


"Ayok kita cari makan." Tangan Randy terulur.


"Tapi jangan panggil Bapak lagi, atau kamu akan saya jadikan sebagai jaminan." Dia terdengar mengancam.


Ayumi meraih tangan kekasihnya, dan berdiri saat Randy menarik tangan itu.


"Jaminan apa?" Dia berjalan mengimbangi langkah Randy.


"Pinjol." Ucap Randy sembari tersenyum lebar, lalu dia kembali menggenggam tangan Ayumi, sampai mereka berjalan dengan tangan yang terus saling bertautan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2