My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 138 (Albert Baldomero)


__ADS_3

Trek!!


Ayumi menekan salah satu saklar lampu yang terletak di dinding luar teras belakang. Dan beberapa lampu bohlam yang bergantungan menghiasi taman menyala, membuat suasana itu menjadi lebih indah.


Langit biru dengan siluet oranye, di hiasi awan-awan berwarna putih kekuningan, menemani kebersamaan anak juga ibu yang sedari tadi asyik berbincang-bincang. Membahas segala hal, ditemani berbagai macam makanan ringan yang Ayumi bawa dari lemari stok.


"Dulu, pas Mama hamil aku gimana? Pusing mual muntah nggak? Atau … rindu bau Om Valter?" Tiba-tiba saya Ayumi bertanya demikian.


Entah kenapa dia merasa penasaran dengan keadaan Sumi saat wanita itu mengandung dirinya. Mempertahankan janin yang sempat berada dalam antacam keluarganya sendiri.


"Eh, … aku salah nanya yah!?" Ayumi duduk kembali di tempat semula.


Sumi memeluk dirinya sendiri, mengusap tangan ketika hembusan angin sore menyapu kulit tubuhnya.


"Hhhheuh!" Wanita itu menghela nafas, kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi kayu yang dia duduki. "Agak sulit jika Mama harus mengingat masa-masa itu …"


"Ya sudah, tidak usah dibahas. Kita ngobrolin yang lain saja." Ayumi memotong ucapan Sumi.


"Tapi sepertinya Mama harus menjawab apapun yang kamu tanyakan. Tentu saja kamu pasti penasaran dengan dia (Valter) kalian anak dan ayah, sedikit banyak batin kalian terikat, jika Valter merasa ingin mengetahui kabar keadaanmu saat ini, maka kamu pun seperti itu." Jelas Sumi.


Ayumi mengangguk.


"Tapi Om itu nggak tahu aku sudah sama Mama."


"Memang, mungkin dia berpikir bagaimana keadaanmu sekarang setelah dia meninggalkanmu begitu saja."


Ayumi menatap wajah ibunya dengan perasaan tak menentu. Dia bahagia tentu saja, tapi juga merasa sedih ketika melihat Sumi menahan kesedihan, dan menyembunyikan dibalik senyuman hangatnya.


"Apa bisa kita berbicara lebih dalam? Aku bertanya banyak hal tanpa membuat Mama merasa sedih? Aku ingin tahu apapun yang sudah Mama alami, tapi aku takut!"


Sumi meraih tangan Ayumi, menggenggamnya erat.


"Tidak apa-apa. Sepertinya kamu memang sudah waktunya mendengarkan apapun yang ingin kamu ketahui."


Ayumi tersenyum lagi.


"Aku mirip siapa?" Tanya Ayumi sambil terkekeh.


Konyol memang, namun saat ini dia seperti ingin benar-benar tahu.


Sumi mengulum senyum, menatapnya bahkan hampir tidak berkedip.


"Mirip Mama aku rasa. Senyuman kita sama, gummy smile nya juga sama!" Ujar Ayumi.


Sumi tertawa bahagia mendengar itu.


"Suka ataupun tidak. Tapi Mama rasa kamu lebih mirip dengan Valter."

__ADS_1


"Mama masih ingat wajahnya?"


Ayumi menggeser duduknya agar semakin mendekat. Kemudian memeluk lengan Sumi, dan menyandarkan kepada di bahunya.


Sumi tidak menjawab.


"Mama benci dia?"


"Benci? Mama rasa tidak. Mama hanya merasa kecewa dengan semua yang dia lakukan. Dia menikah dengan orang lain tanpa bertanya bagaimana perasaan Mama waktu itu, … padahal Mama hanya mencoba membuka diri setelah lama menunggu tanpa kepastian, tapi dia datang, dan menikahi perempuan lain tanpa sebuah pengecualian, dan yang paling berat perempuan itu orang yang paling dekat dengan Mama." Sumi tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


Ayumi menatap dalam diam. Begitu berat jalan hidup yang ibunya tempuh, tidak apa-apa nya ujian hidup dirinya saat ini jika dibandingkan dengan wanita yang sudah melahirkannya.


"Jangan menangis aku mohon." Ayumi mengusap kelopak mata ibunya.


"Tidak. Mama hanya sedang bercerita Ayumi!" Sumi terkekeh, dia berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Mama mau tahu keadaan mereka? Jaman sekarang sudah canggih, Mama tinggal sebutkan siapa nama mereka. Ayumi akan mencari di media sosial yang aku punya."


Wanita itu diam.


"Siapa? Aku akan cari agar Mama dapat mengetahui keadaan mereka dari jarak jauh!"


Ayumi meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja. Menatap Sumi, menunggu sebuah jawaban yang sempat Ayumi tanyakan. Namun wanita itu menggelengkan kepala, menolak tawaran Ayumi dengan senyuman yang tak hentinya tersungging.


"Tidak usah. Mama tidak mau tahu keadaan mereka, biarkan saja mereka hidup bersama tanpa bayang-bayang siapapun. Mama rasa juga tidak baik untuk kamu, kamu akan semakin benci dengan mereka, dan itu hal yang Mama hindari karena Mama tidak akan mengajarkan kamu membenci mereka, masalah mereka hanya dengan Mama. Tapi jika mereka ingin melihatmu, bertemu secara langsung, Mama tidak mengizinkan."


"Itu bagus, … kamu harus tetap mempunyai hati yang lapang, menerima semua jalan yang sudah Tuhan gariskan."


Ayumi mengangguk.


"Masuklah, orang yang sedang hamil tidak baik berada di luar pada hampir petang seperti ini." Sumi menepuk-nepuk punggung telapak tangan Ayumi.


Kemudian berdiri, hendak membawa Ayumi pergi. Tapi perempuan itu menahannya, dia menatap Sumi penuh permohonan, dan berusaha menariknya agar kembali duduk.


"Ayo masuk kedalam."


"Tidak. Aku ingin tahu wajah Om Valter dulu!" Pinta Ayumi.


"Mama tidak punya fotonya. Yang pasti dia mirip sekali denganmu, kulit putih bersih, dengan bola mata berwarna coklat gelap."


Ayumi menggelengkan kepalanya.


"Siapa nama lengkapnya? Ayo kita cari tahu di Instagram, kita bisa menemukan siapapun, kalau beruntung."


Sumi diam.


"Mah! Sekali saja, aku janji setelah ini aku tidak akan membicarakan mereka lagi."

__ADS_1


"Tidak Ayumi. Sebaiknya ayo kita masuk kedalam, tidak usah mencari tahu mereka lebih dalam."


"Tapi Ma?"


"Tidak sayang, ayo masuk. Kita siapkan makan malam untuk suamimu oke?"


"Aku hanya ingin tahu. Aku bahagia sudah menemukan Mama, melihat wujud asli wanita yang melahirkan aku, melindungi aku bahkan di saat orang-orang ingin menyingkirkan aku."


Sumi mengangguk.


"Karena ini alasannya. Mereka membuangmu, mereka memisahkan kita, jadi tidak ada gunanya melihat mereka meski dalam sosial media sekalipun."


"Tapi kita nggak tahu. Apakah Om Valter melakukannya dengan keinginannya, atau karena keterpaksaan. Kita nggak tahu sesulit apa dia saat itu!"


Lagi-lagi Sumi menggelengkan kepala. Dia segera bangkit dan menarik Ayumi agar memasuki rumah.


"Mama?"


"Jika sudah waktunya dia akan datang, dan menemuimu langsung, tidak perlu mencarinya di sosial media milikmu." Ucap Sumi sambil terus berjalan masuk kedalam rumah.


"Baiklah. Tapi siapa namanya?"


Sumi diam, dia terus berjalan masuk, membawa Ayumi ke arah ruang tengah.


"Ma?" Ayumi kembali merengek.


Sumi menghela nafas.


"Hanya nama?" Wanita itu balik bertanya.


Ayumi mengangguk.


"Aku hanya ingin tahu tidak lebih. Sudah bersama Mama sudah cukup, aku tidak akan meminta dia kembali hanya karena aku ingin benar-benar memiliki orang tua kandung yang utuh. Ibu dan Bapak juga sudah sangat melengkapi aku! Jadi, … saat ini aku hanya ingin tahu saja."


Sumi diam, menatap Ayumi dengan tatapan sendu.


"Siapa?"


"Valter, dia nama ayahmu!"


"Ya aku tahu, nama lengkapnya yang aku ingin tahu."


"Albert Baldomero. Usianya mungkin 45 tahun! Sudah cukup? Kalau begitu ayo duduk, Mama buatkan Susu dan harus kamu minum, Bi Dini bilang kamu selalu membuang susunya di bak cuci, jadi kali ini Mama pantau kamu sampai benar-benar menghabiskan susunya."


Sumi menekan kedua pundak Ayumi sampai perempuan itu duduk nyaman di atas sofa.


"Jawaban itu ternyata harus aku bayar sepadan yah!" Gumam Ayumi pelan, dia menatap punggung ibunya yang mulai berjalan ke arah meja dapur bersih, dimana satu kotak susu miliknya berada disana.

__ADS_1


"Selamat bermual-mual ria Ayumi Kirana. Lain kali jangan terlalu memaksa, karena akhirnya kamu tidak akan bisa menolak. Untuk saja Bi Dini bicara kepada Mama, bayangkan kalau dia berbicara kepada suamimu?" Dia kembali berbisik.


__ADS_2