My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 151 (Anakku)


__ADS_3

"Ah kenapa kalian lama sekali. Membuat Ibu khawatir saja."


Tutih menyambut kedatangan Ayumi, lalu menatap anaknya dari atas hingga bawah. Sampai dia mengunci pandangan di wajah perempuan itu. Wajah sembab dengan hidung dan mata yang memerah.


Lalu dia beralih kepada Sumi, hal yang sama dia dapatkan.


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa kalian menangis?" Tanya Tutih.


"Tidak, kami hanya meluapkan rasa kecewa saja." Jelas Sumi.


"Baiklah, ayo masuk kamar dan segera istirahat." Tutih kepada Sumi, yang langsung wanita itu jawab dengan sebuah anggukan pelan.


Mereka berjalan masuk kedalam villa. Suasana sudah sepi, mungkin yang lain sudah mulai terlelap, sementara Tutih terus terjaga karena merasa sangat khawatir.


Tutih menutup pintu villanya rapat-rapat, tak lupa memutar kunci beberapa kali.


"Bu Tutih, saya masuk kamar dulu." Pamit Sumi.


"Baik, selamat malam."


"Selamat malam Ibu, selamat malam Mama. Ayumi sama Abang juga masuk kamar dulu yah!"


Ayumi dan Randy memasuki kamar utama yang terlihat begitu besar, Sumi masuk kedalam kamar yang Maria huni, begitu juga Tutih yang masuk kedalam kamar yang sudah berada Ali di dalamnya.


Trek!!


Randy memutar kunci pintu kamar. Setelah itu dia berjalan ke arah sofa, lalu duduk untuk membuka sepatunya.


Tanpa banyak berbicara dia menghambur ke dalam kamar mandi, membasuh wajah dan menggosok gigi, tak lupa mencuci kakinya sebelum dia benar-benar beristirahat.


Dia merasa begitu lelah. Seharian bekerja, kemudian langsung menyusul Ayumi setelah membersihkan diri di rumah. Dan akhirnya Randy benar-benar bisa beristirahat dari kesibukan yang tiada jeda.


Randy keluar setelah selesai membasuh wajah, tangan juga kedua kakinya. Mendapati Ayumi yang sedang menenggak air minum kemasan botol.


"Sudah minum obat dan Vitamin?" Tanya Randy.


Pria itu naik ke atas tempat tidur kemudian merebahkan diri.


"Sudah. Aku mau cuci muka dulu!"


Ayumi meletakan botol air minumnya kembali di atas nakas. Dia berdiri dan berjalan memasuki pintu kamar mandi.


Sementara Randy berniat menunggu dengan memainkan ponsel miliknya.

__ADS_1


Dan setelah beberapa menit, Ayumi keluar seraya mengusap wajah basahnya menggunakan handuk kecil.


"Kemarilah!" Randy menepuk bantal di sampingnya.


Setelah meletakan ponsel di atas nakas samping ranjang tidur.


Ayumi menyampirkan handuk di sandaran kursi meja rias, kemudian berjalan ke arah ranjang tidur, naik dan berbaring tepat di samping Randy.


Cup!


Randy mencium kening istrinya.


"Bagaimana? Sekarang kamu sudah bertemu Papa mu, tidak usah repot-repot mencari sosial medianya bukan?"


Pria itu tersenyum saat Ayumi mengangkat pandangan ke arahnya.


"Aku bahagia. Apa menurut kamu aku normal? Bukankah seharusnya aku marah, dan tidak mau bertemu beliau? Tapi justru aku merasakan hal berbeda, aku ingin mengetahui siapa ayahku, dan saat ini bahkan aku ingin menyatukan Mama dengan Om Valter, mungkin kedengaran aneh. Dulu mereka pacaran, terus Om Valter menikah dengan Tante Susi, dan setelah Tante Susi meninggal aku menginginkan mereka kembali."


Randy mengulum senyum.


"Kamu normal. Kamu tahu karena apa? Karena tidak semua orang memiliki hati yang lapang seperti kalian. Contohnya Ibuku, dia tidak cukup berbesar hati untuk menerima pria yang dulu sempat menyia-nyiakan dia juga anaknya." Jelas Randy.


Mata keduanya saling beradu, menatap satu sama lain dengan jarak yang cukup dekat.


"Sekarang, … bolehkan aku menemui anakku?" Randy semakin mendekatkan diri.


"Memangnya kamu saja yang ingin bertemu dengan Papa mu? Anakku juga ingin bertemu dengan Daddy nya." Suaranya terdengar semakin rendah.


Debaran di dada Ayumi kian meningkat, apalagi saat tangan Randy mulai menggerayangi kulit tubuhnya. Mata Ayumi terpejam, kali ini dia benar-benar pasrah, karena dia pun menginginkannya.


Randy kembali bangkit, menarik lepas kaos yang dia pakai, dan beralih pada pakaian yang lain sampai dia sudah benar-benar polos tanpa busana. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, mulai menyingkap dress yang Ayumi kenakan, kemudian melepaskannya dan melempar ke sembarang arah.


Satu alis Randy terangkat, saat mendapati kedua gundukan kembar yang sudah tak berpenghalang. Hanya menyisakan kain segitiga tipis.


Dia membungkuk, meraih bibir ranum milik Ayumi, dan bermain-main disana. Tangan Ayumi merayap perlahan, mengusap lengan, tengkuk, dan berakhir memeluknya dengan sangat erat.


Decapan mulai terdengar, keduanya saling bercumbu satu sama lain, membalas setiap kecupan sampai suasana semakin terasa memanas.


Tangan Randy mulai meremas kencang, memainkan puncak gunung kembar dengan perasaan gemas. Ciumannya turun menyusuri tengkuk, dan berakhir di area yang sangat Randy suka.


"Abangh!"


Ayumi meremat rambut suaminya, saat Randy menyesap dengan sangat kencang, seperti bayi yang sedang kehausan.

__ADS_1


Randy mengangkat wajahnya, dia tersenyum saat Ayumi menundukan kepala dan mata keduanya beradu. Dia kembali mencium bibir Ayumi, dan semakin memperdalam c*umannya.


Ayumi mulai m*ndesah, seiring cumbuan Randy yang semakin menggila. Bahkan Randy membuat beberapa tanda kepemilikan, membuat Ayumi benar-benar tak bisa mempertahankan kesadarannya.


Tangan Randy merayap, menyusuri perut, dan berakhir memegang ujung atas kain pelapis terakhir, segera menarik lepas ketika Ayumi mengangkat pinggulnya.


Randy mulai mempersiapkan diri, menekuk kedua kaki istrinya, dan hendak mengarahkan miliknya kesana.


Namun tangan Ayumi terulur, menahan perutnya dengan sangat kencang.


Randy menatap Ayumi.


"Kamarnya?"


"Kamarnya? Kenapa dengan kamarnya?" Randy balik bertanya.


"Apa …"


Kelapanya mendongak, dengan kedua bola mata yang terpejam saat Randy menerobos tanpa aba-aba.


"Ngghhhhh!"


Ayumi berusaha menahannya, dia takut jika orang-orang akan mendengar suara erotis yang begitu menyeramkan karena aktivitas malamnya bersama Randy.


Sementara pria itu hanya tersenyum saat melihat Ayumi memejamkan mata, dengan mulut yang terlihat sedikit menganga.


"Tidak apa-apa, kamarnya aman jika kamu ingin berteriak."


Mata Ayumi kembali terbuka.


Randy mulai bergerak maju-mundur dengan sangat perlahan, mengingat ada satu janin yang sedang tumbuh dan keadaannya masih sangatlah rawan.


Suara-suara erotis mulai memenuhi ruangan kamar berukuran besar yang Ayumi dan Randy tempati. Menemani keduanya yang sedang sama-sama di mabuk cinta.


Ayumi terus memeluk tubuh pria di atasnya dengan sangat erat, sementara Randy mulai tak bisa mengendalikan diri. Sesuatu di dalam sana terasa begitu mencengkram, berkedut terus menerus, membuat Randy semakin merasa tidak tahan.


Pria itu menggeram kencang, terus berpacu di atas tubuh Ayumi yang mulai basah dengan keringat. Sesekali perempuan itu merintih, memegangi perut bagian bawahnya yang sudah terasa keram.


Dan setelah sekian lama. Akhirnya Randy benar-benar menyerah. Dia semakin mempercepat hentakan, berusaha meraih pelepasan yang sudah sangat terasa.


Ayumi terus berteriak, memanggil nama suaminya dengan sangat kencang. Beruntung saja Randy meminta villa dengan fasilitas lebih, sampai teriakan Ayumi pun tidak akan ada yang mendengarnya.


"Abang, … aku …" Ayumi merasakan sesuatu akan meledak di dalam dirinya.

__ADS_1


Randy mendengus kencang, seraya menghujam miliknya ketika sesuatu pecah dan menghambur keluar memenuhi rahim istrinya.


"Argghhh!" Randy ambruk di atas tubuh Ayumi, dengan nafas memburu dan tersengal-sengal.


__ADS_2