
Lahan terbuka di dalam resort di sulap sedemikian rupa. Balon-balon berwarna Lilac dan putih memenuhi area sana, dilengkapi kain putih tipis yang memang sengaja digantung di beberapa tempat, membuat benda itu bergerak-gerak kala angin berhembus cukup kencang.
Puluhan kursi dan meja berjejer dengan rapi, sementara di area paling depan terdapat satu balon ungu berukuran besar, beserta tulisan (Boy or Girl).
Petugas catering mulai berdatangan, mempersiapkan berbagai macam hidangan ringan sampai berat, yang tentu saja Randy pesan sebelumnya. Jangan lupakan beberapa laki-laki yang sedang melakukan check sound, membuat suasana disana terasa benar-benar meriah.
Sementara itu di salah satu kamar Villa besar.
Dress berwarna biru tua menjadi pilihan Ayumi. Dengan model lengan panjang dan sedikit menggembung, tatanan rambut panjang yang juga saat ini terlihat di kepang rapih, tak lupa dilengkapi jepitan kecil berbentuk bunga-bunga, membuat calon ibu itu terlihat sangat luar biasa.
Begitu juga dengan Randy. Dia sudah siap dengan kemeja berwarna senada, dia padupadankan dengan celana bahan berwarna abu-abu, membuat pria itu terlihat sangat tampan dan berwibawa.
Tak hentinya Randy menatap Ayumi yang saat ini duduk di hadapan sebuah cermin dengan lampu-lampu yang menyala, sementara di sampingnya terdapat dua orang yang sedang mengaplikasikan makeup pada wajah istrinya. Lalu pandangan Randy tertuju sedikit kebawah, dimana sebuah bulatan besar terlihat jelas di balik dress mewah yang istrinya kenakan.
Tok tok tok!!
Seseorang di luar kamar terdengar mengetuk pintu ruangan itu. Membuat Randy segera berjalan ke arah suara terdengar, meraih handle pintu dan menekannya sampai pintu itu benar-benar terbuka.
"Ran! Ada beberapa tamu yang datang dari Jakarta, cepat di sambut dulu!" Maria berujar.
Randy mengangguk. Kemudian dia beranjak pergi keluar dari kamar yang semalam dia tempati, meninggalkan Ayumi yang belum selesai.
Pria itu memindai keadaan yang sudah cukup ramai. Dan disanalah Raga bersama istrinya, menuntun seorang anak laki-laki yang terlihat sangat tampan dengan balutan setelan jas berwarna hitam. Kemudian dia beralih ke sisi lain, dimana Junior datang bersama Bianca, tak lupa satu gadis remaja dan dua orang yang tidak lain adalah Alvaro dan Sisil.
Mereka tersenyum ketika melihat kedatangan Randy, dan berjalan mendekat untuk menyambutnya.
"Kalian sudah sampai? Berangkat jam berapa dari Jakarta?" Randy mendekat, kemudian menjabat tangan mereka bergantian.
"Sampai tadi malam jam 10. Menginap di hotel terdekat, jadi bisa pagi-pagi datang, bahkan acaranya belum dimulai." Sisil menjawab.
"Dimana Ayumi?" Alvaro langsung bertanya.
"Ada di dalam, mungkin sebentar lagi keluar." Jelas Randy. "Mari, silahkan duduk dulu!" Dia mempersilahkan.
Rombongan itu mengangguk, kemudian mengikuti kemana Randy membawanya.
"Wah, … putramu sudah besar!" Randy menepuk lengan Junior, saat melihat bayi kisaran umur 3 bulan tertidur di dalam pangkuan sang pengasuh, duduk tak jauh dari Bianca.
"Hemmmm, … dia akan menjadi teman anak kalian nanti." Kata Junior sambil tertawa.
Membuat Alvaro dan Sisil melakukan hal yang sama. Sementara Raga dan Balqis sibuk dengan Bara yang terlihat begitu antusias dengan balon-balon yang berada disana. Bahkan sang pengasuh terlihat kewalahan karena balita itu terlihat begitu aktif.
"Tambah satu lagi, Pak!" Kata Randy.
"Aku sih mau, … Balqis yang belum siap!" Raga menjawab.
"Kamu taunya masukin doang! Lah aku? Ngeluarinnya susah! Kamu nggak tahu yah." Balqis memutar bola matanya.
Sisil menggeleng-gelengkan kepala mendengar itu.
"Aku sudah tua ternyata." Dia berbisik.
"Tentu saja! Bahkan Junior sudah mempunyai Bayi. Lalu apa yang kamu harapkan? Tetap seperti dulu? Saat kamu mengasuh Balqis?"
Sisil menoleh, tersenyum kemudian menggelengkan kepala.
Hari beranjak semakin siang. Para tamu undangan sudah terlihat memenuhi setiap kursi yang tersedia. Beberapa kata sambutan Randy sampaikan, hingga setelah itu seorang host bercakap-cakap, dan mengarahkan untuk Ayumi dan Randy segera mendekati balon yang tersedia, dengan sebuah jarum yang sudah diberikan kepada masing-masing
Semua orang terlihat begitu antusias. Menatap ke arah Ayumi juga Randy, dengan perasaan harap-harap cemas. Termasuk, Valter, Sumi dan Maria yang begitu penasaran dengan jenis kelamin cucu pertama mereka.
"Baik, kita hitung sama-sama yah!" Seorang pembawa acara kembali berteriak
Seluruh tamu undangan bersorak gembira. Apalagi Una dan Aira, suara keduanya terdengar sangat mencolok dibandingkan tamu-tamu yang lain.
"Ah sayang aku takut!" Cicit Ayumi seraya menengadahkan pandangan ke arah suaminya.
"Hanya tusuk. Tidak akan sulit!"
"Sepertinya tusuk-menusuk itu keahlianmu! Aku nggak bisa." Celetuk Ayumi yang seketika membuat Randy bungkam.
Sementara perempuan itu tak merasa malu atau apapun. Dia hanya kembali melihat balon berwarna ungu muda yang terus bergerak-gerak tertiup angin.
"Saaatu, …. Duuuuaaa, … tii … gaaaaa!"
Sepasang calon orang tua itu mengarahkan tanganya ke arah balon. Awalnya terlihat susah karena balon yang terus bergerak, namun setelah usaha yang cukup keras. Akhirnya Randy dapat memecahkan balon berukuran besar tersebut.
Dan berjatuhanlah balon-balon berwarna merah muda, bercampur dengan warna magenta dan pink fanta, membuat semua orang berteriak.
"It's a girl!!!" Riuh teriakan itu terdengar.
Mulut Ayumi menganga, mata berbinar, dengan ekspresi wajah tidak percaya.
__ADS_1
"Dia perempuan sayang!" Ucap Randy tak kalah bahagiannya.
Bahkan dengan segera Randy memeluk tubuh Ayumi, dia mengatakan banyak hal, mengungkapkan rasa ketidak percayaannya karena terlalu bahagia.
Acara terus berlangsung sebagaimana mestinya. Para tamu undangan tampak tengah menikmati setiap hidangan yang disediakan. Randy bakhan terlihat berbaur dengan para kolega bisnis yang selalu dia temui bersama sang atasan, Raga Biantara.
Sementara para perempuan sudah berkumpul di dalam Villa besar, dan membiarkan orang tua menyambut para tamu yang masih berdatangan ketika Ayumi mengeluh lelah di bagian kakinya.
"Halo Bryan! Tante lihat kamu setelah beberapa hari lahir, beberapa bulan tidak bertemu sekarang sudah besar saja." Ayumi mengusap pipi gembut bayi berusia 3 bulan itu.
"Banyak roti sobeknya!" Kata Ayumi sembari memegangi beberapa lipatan tangan dan kakinya.
Sementara Bianca sang Ibu hanya tersenyum.
"Asi Kakak lancar?" Tanya Ayumi lagi.
"Sayangnya tidak terlalu."
"Oh ya? Lalu bagaimana?"
"Di bantu susu formula. Dan bagusnya cocok sama Bryan, jadi dia terlihat sebesar sekarang, padahal umurnya baru 3 bulan, …. Eh jalan 4 bulan deh!" Katanya sambil terkekeh.
Keduanya terus berbincang-bincang, berbagi pengalaman antara Bianca dan Ayumi. Bahkan Ayumi terlihat sangat antusias ketika Bianca menceritakan pengalaman bersalinnya dengan cara normal.
"Bagaimana? Sudah ada persiapan?". Kini Balqis bertanya.
"Belum, Bu. Baru ada satu koper pakaian dari Mama dan Papa, … tapi belum boleh di buka, di bukannya mungkin nanti pas pulang dari sini, katanya biar kejutan juga." Balas Ayumi.
Balqis mengangguk.
"Kamu terlihat lebih baik, … berbanding terbalik ketika kamu masih kerja di kantor." Balqis menatap keadaan Ayumi lekat-lekat.
Tubuh yang terlihat sedikit lebih berisi. Juga penampilan yang juga ikut berubah, wajahnya berseri-seri, kulit putih bersih terawat, dan jangan lupakan merk pakaian yang Ayumi kenakan saat ini tidak main-main harganya.
"Semua ini berkat dukungan dari semua orang. Bapak, Ibu, Mama, Papah, Bu Maria, Om sama Tante Sisil, Bu Balqis juga!" Ayumi tersenyum.
"Jadi bagaimana? Apa Anxiety Disorder mu sudah membaik?"
Ayumi mengangguk.
"Sudah sangat baik. Hanya sedikit rasa cemas yang selalu aku rasakan jika mendatangi tempat baru dan terdapat banyak manusia disana. Memang aneh tapi begitulah rasanya."
Tangan Balqis bergerak, kemudian menepuk-nepuk bahu Ayumi.
"Apa semua orang dengan gangguan mental akan merasa sangat nyaman dengan pasangannya? Karena aku juga merasakan itu, … kaya kita punya orang lain untuk bersandar selain teman berbagi cerita."
Balqis terlihat berpikir, namun pada akhirnya dia mengendikan kedua bahunya, pertanda tidak tahu jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Ayumi.
"Bisa iya, bisa juga tidak." Balqis terkekeh.
***
Acara benar-benar berakhir, ketika jam sudah menunjukan pukul 19.00 malam.
Suasana tiba-tiba mendadak menjadi sunyi dan sepi, hanya terdengar riuh bunyi dahan-dahan yang bergesekan, juga jangkrik yang sepertinya memnuhi area sana.
Randy duduk di sofa ruang tengah, bersama ibu juga kedua mertuanya, sementara Ayumi sudah memasuki kamar karena mengeluhkan kaki dan pinggang yang terasa pegal.
"Jadi kalian benar-benar akan segera pulang?" Akhirnya Randy kembali berbicara, setelah terdiam cukup lama karena mendengar kabar jika sang mertua akan segera kembali.
Sumi mengangguk, begipun dengan Valter.
"Aih kalian ini senang sekali membuat Ayumi sedih!" Celetuk Maria. "Sudah tahu bagaimana Ayumi kepada kalian seperti apa, ini malah sering di tinggalin sekarang." Sambung wanita itu lagi.
Sumi tersenyum.
"Selain ada usaha Valter yang harus tetap di jalankan. Terkadang saya berpikir, … mungkin keberadaan saya menjadi penghambat Bu Tutih untuk mendekati Ayumi. Saya tidak mau mereka berpikir begitu, apalagi sebelumnya mereka sangat dekat."
Maria menyandarkan punggung pada sandaran sofa, menatap Sumi dan Valter bergantian, lalu menghela nafas dengan perlahan.
"Kalau lihat sikap Bu Tutih, terkadang memang kita merasa tidak enak sendiri. Tapi kita mencoba berbaik sangka saja dulu, … toh tidak ada ibu yang rela anaknya memberikan cinta dan kasih sayang kepada orang lain, meskipun itu ibu kandungnya sendiri. Apalagi sempat ada kesalah pahaman, Bu Sumi begitu karena mendapatkan larangan dari Pak Alvaro, sementara Bu Tutih tidak akan melihat ke arah sana, dia tetap dengan pendiriannya, dia bertanya kenapa Bu Sumi datang ketika Ayumi sudah sangat besar." Jelas Maria panjang lebar, saat mengerti kegelisahan besannya.
"Walaupun Pak Al sudah menjelaskan kejadian itu secara terperinci?"
Marian mengangguk.
"Kita tidak bisa memaksakan orang, Bu. Yang penting saya, Randy dan Ayumi percaya keadaannya memang sangat sulit."
Sumi menoleh ke arah suaminya, pria yang saat ini duduk tepat di samping kanan, berusaha mengerti dengan apa yang orang-orang bicarakan.
"Apa pulangnya bisa di undur?" Tanya Sumi.
__ADS_1
"Di undur? Kenapa?"
"Mungkin sampai 2 bulan kedepan, sampai Ayumi lahiran!"
Valter tidak langsung menjawab. Dia terlihat berpikir keras. Di satu sisi dia tidak akan bisa jika kembali tanpa Sumi, tapi di sisi lain apa yang wanita itu ucapkan ada benarnya juga, terlebih Ayumi yang akan melalui masak melahirkan yang seharusnya mendapatkan banyak dukungan, mungkin salah satunya dari Sumi dan juga dirinya.
"Apa tidak sebaiknya nanti ketika dia sudah lahiran, baru kita kembali!" Valter mempunyai usul.
Tapi Sumi menggelengkan kepalanya.
"Boleh yah!?" Izin Sumi lagi.
"Maaf. Tapi aku tidak bisa lama-lama disini, usaha kita membutuhkan aku di sana. Jika di tinggal terlalu lama, aku takut semuanya tidak berjalan seperti yang aku mau! Kamu tahu? Aku belum mempercayai mereka, kamu percaya? dulu salah satu dari pegawaiku membawa uang hasil penjualan dengan nominal yang sangat besar."
"Usaha?"
Randy kini ikut bereaksi.
"Usaha apa? Tidak ada rencana buka disini? Kalau bisa nanti Randy bantu!" Dia menatap kedua mertuanya bergantian.
Valter dan Sumi saling melirik.
"Bagaimana?" Sumi terlihat sumringah.
Tentu saja. Jika Valter membuka usahanya di dalam negeri, ada kemungkinan mereka akan berlama-lama di tanah air tercinta ini.
"Apanya?" Kening Valterng mengkerut.
"Kamu membuka usaha disini!"
Valter segera menggelengkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan cafe ku di Jerman? Aku tidak bisa Laras!"
"Bukan!" Sumi tersenyum. "Aku tidak meminta usahamu di Jerman untuk di tutup, tapi membuka usaha juga disini, … entah itu cabang ataupun mau toko baru dengan nama yang baru juga." Sumi terlihat memohon.
Randy tersenyum melihatnya. Dia menginhat sesuatu, dimana Ayumi selalu merengek dan memohon seperti itu, hal yang saat ini sedang Sumi lakukan kepada suaminya.
"Ya? Papa ayolah!" Sumi mengguncang lengan Valter.
Maria menggelengkan kepala.
"Nggak habis-habis bahas soal usaha. Kalau begitu Ibu masuk kamar duluanlah, … kalian lanjutkan membahas tentang usaha, sepertinya kalian memang cocok, isi kepalanya sama seperti Randy, kalau tidak kerja, ya tentang uang."
Maria melenggang ke arah tangga, kemudian naik untuk segera memasuki kamar yang dia tempati di lantai dua.
"Hah obrolan bisni kamu membuat Bu Maria bosan!" Cicit Valter kepada istrinya.
Randy tergelak.
"Aku juga mau buat usaha. Atas nama Ayumi, kira-kira apa yah!?" Tiba-tiba sebuah ide melintas di dalam kepala pria itu.
"Nah, jika begitu sebaiknya kita join bisnis. Oh bukan, tapi saya tambahkan dananya, … Papa ingin memberikan sesuatu juga untuk Ayumi, yang mempunyai jangka waktu yang lama, dan bermanfaat sampai nanti anak-anaknya tumbuh besar." Jelas Valter.
"Kalo soal anak-anak, saya sudah siapkan dari sekarang. Sudah ada pembukuan soal itu, entah dari mulai dia masuk sekolah TK, SD, SMP, SMA, dan kulih!"
"Hemmm, … kau memang luar biasa. Papa bahagia ketika Ayumi jatuh ketangan pria yang tepat, kau mencintai Ayumi dengan sangat."
Randy menganggukan kepala.
"Terimakasih, Randy!"
"Itu sudah kewajiban ku bukan? Seorang suami memang harus melakukan apa saja untuk istrinya." Randy dengan bangganya.
"Tapi, … kapan kamu akan mengizinkan Ayumi ikut bersama kami? Jika kamu repot dengan pekerjaan. Biar Mama saja yang bawa Ayumi, … Mama janji jagain Ayumi sampai dia pulang lagi nantinya."
Randy menggelengkan kepala.
"Tidak boleh. Kalau mau harus bareng Randy, Ma!"
"Tapi kapan, Ran? Musim salju sebentar lagi berakhir."
Randy hanya tersenyum, dia segera bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah tangga.
"Aku masuk ya, Ma … Pah!" Pamit Randy sambil terus berjalan.
Sementara Sumi dan Valter hanya diam saling menatap satu sama lain.
"Putriku menikahi pria posesif!" Valter bergumam. "Dia tidak membiarkan istrinya pergi, walaupun dengan orang tuanya sendiri!" Ucap Valter lagi sambil terus menatap punggung Randy, yang segera menghilang ketika dia masuk dan menutup pintu kamar villa yang dia dan Ayumi tempati.
"Kamu juga pasti seperti itu!" Sumi menyindir.
__ADS_1
Dia bangkit, lalu beranjak menghambur kedalam kamar yang dia tempati, meninggalakn Valter begitu saja dengan ekspresi wajah bingung.
"Ah dia bisa saja memutarkan balikan ucapan!"