
Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Setelah berbicara karena kesalah pahaman, akhirnya mereka memilih satu kedai ramen yang cukup terkenal di wilayah sana.
Tidak, bukan keputusan mereka berdua untuk pergi kesana, melainkan sebuah rengekan Ayumi yang terus-menerus terdengar, sampai Randy pun mengalah dan menuruti keinginan kekasih hatinya itu.
"Sudah selesai?" Randy menatap Ayumi yang baru saja menggeser mangkuk kosong di hadapannya.
Gadis itu tersenyum, mengangguk lalu mengusap kedua sudut bibirnya menggunakan tissue.
"Ba ..."
"Jangan panggil dengan sebutan itu lagi!" Tegas Randy, hingga membuat Ayumi bungkam dan berhenti berbicara.
"Terus aku harus panggil apa? nama? itu nggak sopan tahu."
"Apa saja, asal jangan Bapak. Kita ini sepasang kekasih, bukan bawahan dan atasan, atau anak dan seorang ayah."
Ayumi mengangguk, dengan mata yang melihat kearah lain.
Gadis itu berfikir.
"Apa yah!" Gadis itu mengetuk-ngetuk pipi dengan jari telunjuknya.
"Mas mungkin, ... seperti kamu memanggil Pria itu. Siapa tadi namanya, lupa?"
"Mas Gani." Jawab Ayumi.
"Hemm, ... lihat saja! bahkan panggilan kamu kepada dia lebih romantis dari pada memanggil aku."
Randy meraih botol air mineral dingin miliknya, lalu menenguknya perlahan, saat tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering.
Ya, dia masih cemburu dengan teman pria Ayumi yang satu itu.
"Aku manggil dia mas, karena dia orang Jawa tahu!"
"Cih, dia membela diri." Cicit Randy pelan.
"Mau aku panggil Mas juga?" Mata Ayumi memincing, berusaha menggoda pria di hadapannya yang kembali terlihat kesal hanya karena dia menyebut Gani dengan sebutan 'Mas'.
"Tidak mau. Masa di sama-samakan! harus yang spesial dong."
Ayumi berfikir lagi.
Sementara pria itu diam memperhatikan.
Hoodie hitam kebesaran miliknya, yang pernah gadis itu pinjam sewaktu mereka masih berteman dekat, di padukan dengan celana lenging letak panjang sampai menutupi mata kaki.
Dia benar-benar terlihat cantik dengan kesederhanaan yang ia miliki.
"Astaga hanya sebuah panggilan saja sampai membuat aku pusing seperti ini!" Pekik Ayumi.
Dia menangkap basah Randy yang sedang menatapnya tanpa berkedip, juga kedua sudut bibir tertarik kebelakang membuat sebuah senyuman tipis.
"Jangan di liatin terus, nanti suka." Ayumi menjentikkan jari.
Randy mengerjapkan mata beberapa kali.
"Sudah dapat?" Randy berdeham, berusaha mengusir rasa gugup yang mulai menyerang.
Gadis itu mengangguk.
"Apa?" Randy antusias.
"Abang."
"Abang?" Randy mengulangi ucaoan Ayumi.
"Hu'um."
"Mirip tukang baso."
"Mana ada, aku manggil tukang baso itu Amang, bukan Abang!"
"Oh ya?"
"Iya, ... jadi sekarang aku manggilnya Abang ... Randy Danendra?" Ayumi tersenyum menahan malu.
__ADS_1
Entah kenapa panggilan itu bisa membuat hatinya berdebar-debar.
"Coba ulangi." Randy mulai gemas.
"Abang, ... ish aku malu tahu! aku belum biasa." Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Randy terkekeh kenceng, tangan kanannya terulur, lalu menarik tangan Ayumi sampai kembali memperlihatkan wajah memerahnya.
"Kau sangat menggemaskan, ini alasan aku ingin cepat-cepat menikahi mu. Aku takut tidak akan mampu menahan perasaan ini, Ayumi Kirana." Kata Randy dengan suara rendah, namun gadis itu masih bisa mendengarnya sangat jelas.
Meski jelas tempat itu sangat ramai oleh para pengunjung, yang juga sengaja menghabiskan waktu di kedai sana.
"Emmm, ... boleh aku tanya?"
Randy mengulum senyum.
"Tanyakan saja, aku akan menjawabnya jika mampu." Randy terus tersenyum.
Senyuman termanis yang pernah Ayumi lihat dari seorang Randy Danendra. Pria dewasa dengan kepribadian dinginnya jika dia belum mengenal dekat lawan bicaranya.
"Sejak kapan Bapak, ... eh maksudnya Abang membuat tato di tangan?"
"Dua tahun yang lalu, kenapa? kamu mau aku membuat tato wajah mu?"
Ayumi menggelengkan kepala.
"Tidak. Tapi kenapa harus gambar ular? kamu suka ular?"
"Ular melambangkan kekuatan, perlindungan juga kebijakan Sanaan. Tapi di luar itu aku memang suka tatonya, terlihat keren bukan?"
"Hemm, ... sangat keren, apalagi otot-otot tangannya, eh maksud aku ..."
"Ya ya ya, mengelak saja terus." Sergah Randy sambil tertawa.
"Nggak gitu!" Cicit Ayumi berusaha membela diri.
Randy meletakan jari telunjuknya di depan mulut, mengisyaratkan agar gadis itu berhenti berbicara.
"Baiklah, ayok kita pulang. Sebelum itu kita mampir ke minimarket dulu." Randy bangkit, lalu mengulurkan tangan kearah Ayumi.
"Kamu bisa ke minimarket setelah mengantar aku pulang. Ini sudah kemalaman, tidak enak sama Bu Amel."
"Kita kesana untuk membeli sesuatu. Untuk mu, stok cemilan di kamar kost sana. Jika lapar tidak usah keluar malam-malam, hanya jaga-jaga. Takutnya aku tidak bisa datang saat kamu ingin mencari makan."
"Eh, ... tidak usah repot-repot." Ayumi sedikit terkejut.
"Hanya bantuan kecil, kau tahu? aku tidak mau melihat kamu terus kesusahan seperti ini!" Randy menatap Ayumi lekat-lekat.
Pria itu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Ayumi.
"Tunggu di parkiran, aku akan membayar ramennya dulu."
"Hemm, baiklah."
"Good girl." Randy mengusak rambut kekasihnya.
"Ish, aku bukan anak kecil lagi. Nggak usah di acak-acakan juga rambut akunya." Rengek Ayumi.
Sementara pria itu hanya tersenyum, dia benar-benar takut tak bisa menahan perasaan yang terus bangkit saat melihat tingkah menggemaskan Ayumi.
***
Tiga puluh menit keduanya menempuh perjalanan. Akhirnya mereka sampai di depan pintu gerbang yang masih terbuka dengan sangat lebar.
Bahkan tempat itu masih terlihat ramai, saat beberapa orang masih berbincang di warung depan sang pemilik kost.
Ayumi turun, disusul Randy yang segera berjalan kearah begasi, untuk menurunkan beberapa kantung plastik berisikan roti, air putih, susu juga beberapa makanan ringan.
"Kamu berlebihan tahu!" Ucap Ayumi pelan.
"Hanya memastikan jika kamu akan baik-baik saja. Atau kamu mau tinggal di rumah? ada beberapa kamar kosong, kamu bisa mengisinya kalau mau."
Mereka segera berjalan masuk.
"Kamu ngaco lagi!" Cicit Ayumi seraya memukul bahu kekar pria itu. "Bagaimana dengan Ibu mu, dia akan marah jika anaknya membawa seorang gadis tinggal di rumah, hanya berdua." Ayumi berbisik.
__ADS_1
Beberapa orang melihat kearahnya.
"Tidak akan marah, syarat nya hanya satu."
"Apa?"
"Menjadi ibu dari calon cucunya nanti." Randy tersenyum simpul.
"Kita makin ngaco." Ayumi tergelak.
Langkah Randy terhenti, saat mereka sampai di depan pintu kamar kost yang Ayumi huni.
"Mau masuk dulu?" Kata Ayumi saat dia membuka kunci pintunya.
"Langsung pulang, aku belum mandi. Juga ada beberapa tugas dari Pak Raga yang sengaja aku bawa pulang."
Belum mandi? serius? tapi dia wangi sekali.
Ucap Ayumi dalam hati, seraya memperhatikan Randy yang masih terlihat rapi dengan kemeja hitam dan celana bahan berwarna senada.
"Nah!" Randy memberikan barang beberapa kantung plastik kepada Ayumi. "Ingat! jangan keluar malam tanpa aku, oke!?"
Ayumi meraih plastik berisikan belanjaan yang Randy belikan untuk dirinya.
"Haih kamu berlebihan tahu, aku jadi tidak enak."
"Ini tidak gratis, kamu harus membayarnya." Randy berbisik.
"Pake apa? pake cium?"
Randy menyeringai.
"Gadis pintar."
Ayumi mundur beberapa langkah, melambaikan tangan, meminta agar pria itu masuk.
"Astaga, sungguh ini akan sulit." Kata Randy sembari membuka alas kaki, masuk dan berjalan mendekat.
Dia berhenti saat jarak keduanya hanya tinggal satu langkah saja.
Satu tangan Randy meraih pintu, mendorongnya sampai sedikit tertutup.
Ayumi maju satu langkah, berjinjit lalu meraih bibir tebal kemerahan milik Randy, dan menciumnya beberapa kali.
"Terimakasih." Kata Ayumi.
Dia langsung memeluk Randy erat, menyurukan wajah di dada bidangnya, untuk ia hirup wangi maskulin yang tentu saja mulai dia sukai.
"Aku harus pulang." Suara itu terdengar pelan.
Ayumi mengangguk, melepaskan lilitan tangannya, lalu mundur.
"Jangan ngebut, hati-hati."
"Tidak akan."
Randy membungkuk, meraih mencium bibir Ayumi singkat.
Cup!
"Jaga diri mu, jangan lupa kunci ganda pintunya."
"Iya."
Ayumi mengikuti kemana Randy berjalan, dia berdiri diambang pintu, menatap punggung Kokoh itu dengan perasaan yang sedikit tidak rela.
"Masuklah." Randy berteriak.
"Ya."
Ayumi melambaikan tangan, yang langsung Randy balas dengan lambaian tangan juga.
Setelah itu Randy masuk, dan mobil itu meninggalkan kediamannya.
"Kenapa dia tampan sekali, astaga!" Gumam Ayumi.
__ADS_1
Dia segera masuk, dan menutup pintu kamar kostnya rapat-rapat.