
"Hari ini mau ikut check villa, atau mau tunggu di rumah saja?"
Tanya Randy sambil mengaduk susu rasa strawberry untuk Ayumi. Dia mengetukan sendok pada pinggiran gelas, sampai dentingan terdengar, kemudian membawanya ke arah meja makan, dimana Ayumi sudah duduk disana, siap dengan sepiring serapannya.
"Terimakasih, Daddy." Ayumi segera meraihnya, lalu meminum dengan perlahan-lahan.
Pria dengan tampilan santainya menarik kursi meja makan tepat di hadapan Ayumi, duduk dan meraih sendoknya untuk segera memulai sarapan mereka pada akhir pekan ini.
"Jadinya Abang ambil villa? Tidak jadi gedung?" Tanya Ayumi dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Randy mengangguk.
"Bukannya kamu mau villa di resort? Dan acaranya diadakan di lahan terbuka? Aku menemukan villa yang bagus di puncak, tamannya juga cukup luas, bisa di pakai acara baby shower kamu." Jelas Randy.
Perempuan itu tersenyum, menatap suaminya dengan perasaan cinta yang semakin membesar. Entah harus bagaimana dia mengungkapkan rasa itu, sungguh banyak cinta kasih yang Randy berikan, sampai dia tidak dapat menolak setiap keinginan istrinya, dan itu membuat Ayumi merasa bingung dengan apa dia harus membalas kebaikan itu.
"Terimakasih, Daddy. Kita cuma bisa bilang begitu, tidak bisa balas dengan apapun selain cinta, kesetiaan dan kasih sayang."
Sorot mata Randy langsung tertuju kepada Ayumi. Dia menatapnya cukup lama, lalu tersenyum.
"Kamu berbicara seperti sedang berniat membalas Budi kepada suamimu sendiri." Randy tertawa kencang, seraya menyendok nasi plus lauk kembali ke dalam mulutnya.
Sementara Ayumi hanya diam dan tersenyum.
"Tidak perlu membalas apapun. Semua yang aku lakukan memang untuk kalian, jika mau membalas, cukup jaga diri baik-baik, minum obat dan vitamin nya dengan benar, … susu juga jangan lupa! Itu sudah lebih dari cukup untuk aku. Melihat kalian sehat, itu karunia yang sangat indah, lebih berharga daripada uang."
Mata Ayumi memicing, dengan senyum menggemaskan yang dia perlihatkan.
"Abang gombal."
"Mana ada gombal seperti itu!" Sergah Randy. "Cepat habiskan sarapanmu, sudah itu ganti pakaian, kita ke Bogor sekarang. Jangan lupa bawa obat dan vitamin, atau apapun yang akan kamu butuhkan nanti, seperti minyak telon misalnya."
"Iya Daddy!" Ayumi terkekeh.
"Kamu sudah mau punya Bayi, tapi masih belum bisa menghilangkan kebiasaan yang satu itu?"
"Nggak ada yang larang kalau orang gede nggak boleh pake minyak telon, selain hangat, … kan bisa bikin nyamuk menjauh, jadi aku tidurnya nyenyak."
Randy menggelengkan kepalanya dengan senyuman tertahan yang pria itu perlihatkan.
****
Ayumi membuka pintu lemari pakaian, meraih Hoodie berwarna ungu kesayangannya, dan meletakan di atas tempat tidur, bersama tas selempang berisikan segala keperluan yang akan Ayumi butuhkan. Kemudian dia berjalan mendekati meja rias, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh.
Rambut panjang yang di Cepol tinggi, sengaja menyisakan beberapa anak rambut di setiap sisi. Mengenakan kaos hitam kedodoran milik suaminya, dengan legging hitam berwarna senada, membuat ibu hamil itu terlihat begitu cantik meski dalam balutan busana sederhana.
Klek!!
Randy membuka pintu kamarnya.
"Sudah siap? Mana barang yang mau dibawa? Terus kenapa pakai kaos tangan pendek? Disana dingin meskipun siang hari." Dia menatap tampilan istrinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Rambut yang diikat sampai memperlihatkan leher jenjang dengan kulit putih bersinar. Selebihnya terlihat biasa saja karena memang pakaian seperti itu yang selalu Ayumi kenakan, namun yang membuat sedikit berbeda adalah bagian perut Ayumi yang semakin menonjol meski perempuan itu memakai kaos miliknya yang sudah pasti kebesarab jika Ayumi mengenakannya.
"Sayang? Bukannya mau bawa barang-barang aku?"
Ayumi membuyarkan lamunan Randy.
Pria itu mengangguk, mengulum senyum sambil terus berjalan semakin mendekat.
"Perut kamu semakin bulat, sekarang lebih maju dan sangat menggemaskan. Kamu terlihat lucu sayang." Puji Randy membuat pipi Ayumi merona.
Dia mengusap perut Ayumi beberapa saat, membungkuk untuk memberikan beberapa kali kecupan seperti biasa, setelah itu beranjak membawakan semua barang yang Ayumi siapkan, termasuk kaos hitamnya yang belum pernah di cuci, bahkan sampai usia kandung perempuan itu memasuki 7 bulan.
"Yakin ini mau dibawa?"
Randy memperlihatkan kaos kotor miliknya yang menjadi kesayangan Ayumi.
"Iya." Tangan Ayumi segera terlulur, kemudian meraih lengan kekar suaminya, dan bergelayut manja di sana.
"Ada aku, tapi masih harus bawa ini?" Cicit Randy yang merasa tidak terima.
"Itu kesayangan Baby Tomato sayang. Biarkan saja." Balas Ayumi dengan suara yang terdengar sangat lembut.
Mereka berdua berjalan keluar dari dalam kamar, menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, dan beranjak ke arah luar, dimana mobil di garasi sana sudah terdengar menyala.
"Non, … ini!" Dini memberikan sebuah Tote bag berukuran sedang, berisikan tiga tempat dengan ukuran yang sama.
"Sudah semuanya, Bi?" Ayumi meraih apa yang Dini berikan.
Dini mengangguk.
"Terimakasih. Kami berangkat yah, jaga rumah baik-baik, kalau ada apa-apa boleh telepon aku atau Abang." Pamit Ayumi, lalu dia berjalan memasuki mobil terlebih dahulu, sementara Randy merapikan beberapa barang bawaan di kursi bagian belakang, dan menyusul masuk setelah merasa semuanya selesai.
Dini berdiri di atas teras, mengantar kepergian Ayumi juga Randy, saat mobil Lexus abu-abu itu keluar dari garasi rumah, dan melaju di jalanan komplek dengan kecepatan rendah sampai berbelok dan benar-benar menghilang dari penglihatannya.
__ADS_1
Asisten rumah itu segera berbalik badan, kemudian masuk dan menutup pintu rumahnya rapat, tak lupa memutar kunci beberapa kali, untuk kemudian mengerjakan beberapa pekerjaan yang tersisa.
***
Randy mencengkram setir mobil dengan kedua tangannya. Mengendalikan mobil itu agar terus melaju di lajur yang seharusnya.
Alunan musik sudah terdengar cukup kencang, menemani perjalanan panjang keduanya pada siang hari ini.
Randy melirik sekilas, menatap Ayumi yang saat ini sedang asik mengusap-usap perutnya, bahkan kepalanya terus menunduk, seraya bergumam melontarkan sebuah kata-kata yang tidak terlalu Randy mengerti.
"Dia bergerak?"
Randy mengulurkan tangan kirinya, mengusap perut Ayumi tanpa mengalihkan fokusnya pada jalanan di depan yang terlihat sedikit padat.
"Iya. Sepertinya dia senang mau kamu ajak jalan-jalan, ini perjalanan jauh kedua kita selain pulang kampung, aku seneng deh, … nanti disana mau makan jagung bakar, sama makan mie sambil liat perkebunan teh yang luas." Dia terlihat sangat bahagia.
Randy menoleh, lalu tersenyum saat Ayumi juga mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Sebentar yah! Daddy harus nyetir mobil dulu. Nanti kita main lagi." Randy menarik tangannya, dan kembali memegangi stir mobil.
"Abang mau cemilan nggak?" Ayumi bertanya.
"Memangnya kamu bawa apa?"
Ayumi meraih tote bag yang Dini bekalkan tadi, mengeluarkan tiga tempat dengan isi yang berbeda-beda.
"Ada rujak tomat, ketiwaw goreng buatan Bibi, sama puding buatan aku tadi pagi."
"Boleh deh puding. Tolong suapin yah, aku tidak bisa kalau makan sekarang, … tidak fokus sedikit saja nanti bahaya." Jelas Randy yang langsung dijawab anggukan oleh istrinya.
Terlebih dulu Ayumi kembali memasukan beberapa kotak bekal kedalam Tote bag tadi, meletakkannya di bawah kaki, lalu membuka penutup tempat itu, yang seketika wangi strawberry mengudara di dalam mobil sana.
"Aku juga jadi suka pusing sekarang, setelah kamu sering buat, dan memakannya." Randy berujar.
Dia segera membuka mulutnya ketika sendok berisi potongan puding dengan fla Ayumi sodorkan ke arah bibirnya yang tertutup.
"Gimana? Enak? Tadi aku yang bikin pas kamu mandi." Kata Ayumi dengan ekspresi wajah berbinar.
Randy mengangguk.
"Buatanmu enak. Dan aku sangat menyesal jika tidak pernah memakannya."
"Memangnya kapan kamu tidak memakannya? Setiap aku bikin sesuatu kan kamu minta aku anterin ke kantor." Jelas Ayumi, kemudian menjejalkan pusing kedalam mulutnya.
"Waktu kita bertengkar. Kamu masak beef slice lada hitam, dan aku tidak memakannya. Aku selalu menyesal saat mengingat itu." Terangnya dengan hati ngilu.
"Jangan diingat-ingat ah! Aku sedih kalau ingat itu, dada aku rasanya sesak banget. Sedih soalnya kamu malah nggak pulang, padahal aku mau minta maaf." Kata Ayumi.
Tangan kiri Randy kembali bergerak ke arah samping, lalu meraih tangan Ayumi, sang menggenggamnya dengan sangat erat.
"Maaf yah!" Keduanya saling memandang, lalu tersenyum tipis.
"Aku maafkan." Perempuan itu terkikik geli.
***
Dan setelah menghabiskan 4 jam perjalanan karena macet. Akhirnya mobil Randy berbelok memasuki sebuah kawasan resort yang sangat luas. Suasana terlihat ramai, parkiran mobil bahkan tampak penuh, pun dengan kendaraan roda dua yang memenuhi parkiran itu di sisi lain resort sana.
Ayumi turun. Dan hal pertama yang dia rasakan adalah hawa sejuk yang begitu menusuk kulit meski jam baru saja menunjukan pukul 14.30 WIB.
"Disini dingin." Ayumi sambil tersenyum kepada Randy yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.
Dia berjalan mendekati Ayumi, membawa tas selempang istrinya, juga Hoody berwarna ungu untuk perempuan itu kenakan.
"Memang, makanya pakai baju hangatnya."
Randy hampir saja memakaikan Hoodie itu kepada Ayumi. Namun dengan cepat dia menggelengkan kepala.
"Ini sejuk, nggak apa-apa. Lagi pulang cuma hampir sore, belum benar-benar sore. Jadi anginnya belum sedingin malam." Ayumi tersenyum.
"Sungguh tidak mau pakai? Lumayan lho!" Randy menatap pepohonan di sekeliling, yang terus bergerak-gerak di terpa angin.
"Iya." Ayumi mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah ayo kita lihat tempat untuk acara kita nanti."
Pria itu merentangkan tangan, yang langsung Ayumi raih sampai keduanya kembali saling menggenggam satu sama lain. Randy berjalan di depan, menarik Ayumi memasuki sebuah bangunan bergaya klasik dengan ornamen kayu, membuat tempat itu terlihat hangat.
Randy mendekati meja informasi dimana terdapa seorang laki-laki dan perempuan. Randy langsung terlihat bercakap-cakap, dengan seseorang yang mungkin saja sempat dia hubungi melalui pesan singkat, telepon, atau media sosial.
Sementara Ayumi memilih duduk di salah satu sofa yang terletak di dekat sebuah jendela, yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah dari atas ketinggian.
"Resortnya di bawah." Ayumi bergumama, kala menatap tempat luas dengan rerumputan hijau yang mendominasi.
Bangunan-bangunan berbentuk mengerucut yang terbuat dari kayu. Terletak di tengah-tengah beberapa pohon besar, dan jangan lupakan sebuah kolam yang berukuran sedikit besar.
__ADS_1
"Sayang, kemarilah." Randy memanggil.
Ayumi segera bangkit, dia berjalan mendekat. Dan Randy kembali membawanya ke arah lain, keluar menuruni setiap tangga yang cukup panjang.
"Lagi ada acara ya, A?" Ayumi bertanya kepada seorang pria yang berjalan di depan dirinya dan sang suami.
"Iya, … lagi ada acara ulang tahun." Katanya.
Ayumi mengangkat pandangan, melihat Randy yang berjalan tepat di sampingnya, dengan jemari tangan yang kembali saling terpaut.
"Nanti orang-orang berangkat dari Jakarta langsung?"
"Untuk keluarga kita, tentu saja tidak. Kita menginap disini, … kecuali tamu undangan, mereka mau datang langsung dari sana, atau menginap disini." Jelas Randy.
Ayumi mengangguk-anggukan kepalanya.
Perempuan itu diam. Menikmati jalanan yang terasa semakin menurun, memijakkan kaki untuk melewati tangga satu-persatu, dengan pepohonan di sekelilingnya, sampai suasana terasa semakin sejuk. Bahkan angin berhembus cukup kencang, membuat Ayumi memicingkan mata karenanya.
"Mau pakai jaketnya?"
"Tapi enak gini." Kata Ayumi, seraya melihat baju hangat tadi yang tersampir di lengan suaminya.
"Dia kedinginan sayang." Randy menurunkan pandangan.
Perut buncit yang semakin terlihat jelas, ketika angin terus menerjang sampai membuat kaos Ayumi menjadi lebih menempel.
"Bagus yah!" Katanya sambil tersenyum sumringah.
Dan Randy hanya dapat tersenyum dan mengangguk, dengan perasaan gemas yang semakin meningkat, hanya karena Ayumi tersenyum dan mengusap-usap perutnya.
"Bapak mau lihat villa nya dulu? Atau langsung area outdoornya?" Salah satu pegawai yang mengantarkan keduanya berbalik badan.
"Coba lihat area outdoornya dulu." Pinta Randy.
Pria itu mengangguk.
Akhirnya, setelah berjalan kaki lima menit lamanya. Mereka sampai di salah satu area luas, dengan rumput hijau yang memenuhi area sana.
Seulas senyum di bibir Ayumi tersungging. Ketika tempat yang Randy pilihkan memang benar-benar sesuai ekspektasi.
Tanah luas di balut rumput, beberapa pohon berdiri disana dengan lampu-lampu kecil menggelantung, yang Kana sangat indah jika malam hari menyapa.
"Mungkin dua hari lagi orang dekorasinya datang, Mas. Untuk biaya-biaya tambahan boleh di total yah, saya lunasi sekarang termasuk kamar tambahan." Kata Randy.
"Siap, Pak." Orang yang Randu mekasu mengangguk.
"Sekarang Villa utamanya dimana?"
"Oh, … sebelah sini."
Lalu mereka beralih pada tempat lain, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari area luas tadi. Sebuah bangunan yang terlihat lebih besar dari bangunan-bangunan di sekelilingnya.
"Mau masuk, Pak?"
"Tidak usah. Disini saja!" Tolak Randy. "Ada berapa kamar?" Dia bertanya untuk meyakinkan.
"Empat kamar, dengan tiga kamar mandi. Satu kamar mandi di lantai atas, dan satu kamar mandi di lantai bawah. Sementara satunya lagi berada di kamar utama."
Randy mengangguk paham, lalu dia beralih kepada Ayumi, yang terus melihat bangunan-bangunan lain yang terlihat lebih kecil.
"Kalau yang itu, Mas?" Randy menunjuk salah satunya.
"Itu kamar Pak. Seperti kamar hotel pada umumnya, hanya saja ini terletak terpisah-pisah."
"Fasilitas?"
"Untuk tempat tidur kami ada dua pilihan. Single bed dan Deluxe, … kamar mandinya dilengkapi bathtub dan water heater, fasilitas lain ada tv, AC, kulkas kecil."
"Siapa yang akan menyalakan AC ditempat sedingin ini Mas!" Randy terkekeh.
"Ada beberapa orang Pak." Katanya.
"Baiklah, kalau begitu saya mau pesan kamar yang itu. Bagaimana? Apa harus ke atas lagi? Tadinya saya tidak berniat menginap, tapi karena istri saya suka, jadi saya booking satu kamar untuk satu malam."
Ayumi terkejut mendengar itu.
"Seperti biasa. Bapak harus melakukan administrasi di atas, Pak."
"Baiklah." Jawab Randy.
"Ay, kamu tidak apa-apa tunggu disini? Kalau kamu ikut nanti lelah."
"Iya, aku tunggu kamu di ayunan sana yah!"
"Oke aku hanya sebentar."
__ADS_1
Setelah itu Randy segera kembali ke atas, bersama satu pria yang terlihat lebih muda darinya. Mereka terdengar terus berbincang-bincang, sementara Ayumi berjalan ke arah sebuah ayunan kayu, yang menggantung di antara dua tali tambang berukuran besar.