
"Janinnya berkembang dengan sangat baik. Keadaan Ibunya juga sangat bagus, saya berikan asam folat dan beberapa vitamin penguat kandungan yah, jangan lupa diminum."
Ucapan itu terus terngiang-ngiang di dalam kepala Randy, sampai membuatnya tidak bisa terlelap, meski waktu sudah menunjukan lewat tengah malam. Perasaannya terus berdebar-debar, bibirnya sedikit membuat lengkungan saat menahan senyum, dengan satu tangan yang diletakkan diatas perut Ayumi.
Benarkah? Aku tidak percaya sudah menitipkan aset yang begitu berharga di dalam rahim istriku.
Batin Randy berbicara.
Randy menatap istrinya yang sudah terlelap, berbaring miring dan menyembunyikan kedua tangannya di bawah bantal dengan hembusan nafas yang terdengar begitu tenang.
Wajah cantik yang begitu tenang, dengan mata indah yang tertutup sempurna, sepertinya dia sedang mengarungi mimpi yang begitu indah.
Randy menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian bangkit dan mengubah posisi menjadi berbaring tepat di hadapan perut Ayumi, yang masih terlihat kecil karena memang janinnya masih berusia tiga Minggu.
"Hey? Bagaimana perasaanmu berada di dalam sana? Berada di dalam rahim wanita yang sangat manis? Apa kamu bisa mendengar suaraku?" Kata Randy sembari menatap perut Ayumi, dan mengusapnya dengan sangat pelan-pelan.
"Apa kamu seorang laki-laki? atau perempuan? Atau dua-duanya? Kalian kembar tapi Dokter belum tahu? Kalian tahu bukan? Manusia saja tempatnya keliru, apalagi hanya sebuah mesin."
Randy terus berbicara dengan janin yang berada si dalam perut istrinya, sampai perbincanangan itu membuat Ayumi sedikit terganggu, dan terjaga dengan seketika.
"Nanti kalau sudah lahir, jangan pernah mempunyai niat untuk menguasai ibumu sendirian, oke? Aku sangat mencintainya, aku tidak bisa jika perhatiannya tertuju hanya kepadamu!"
"Haih, belum apa-apa sudah Posesif, … sama anak sendiri padahal." Ujar Ayumi pelan.
Suara itu membuat Randy terdiam, lalu mengkit dan melihat ke arah Ayumi yang sudah membuka mata dengan sempurna, tapi sayu karena masih merasa ngantuk.
Radny tersenyum malu, dia kembali pada posisi awal, dan berbaring tepat di dekat Ayumi.
"Apa aku membangunkan mu?" Randy terkekeh.
"Ya, aku heran saja saat mendengar suara kamu berbicara, tapi aku tidak mendengar jawaban dari lawan bicaranya, … eh ternyata kamu sedang bernegosi dengan anakmu yah!" Kata Ayumi.
Perempuan itu mulai memejamkan matanya kembali, kemudian mendekat dan menenggelamkan wajahnya pada celah ketiak sang suami.
Hal baru yang sangat Ayumi sukai.
"Tisurlah lagi, masih terlalu larut untuk bangun." Randy mengusap kepala istrinya.
"Abang juga tidur, ini sudah laut tapi kenapa masih asik berbicara dengan perutku!"
"Karena aku masih belum percaya, ada janin miliku yang tumbuh di dalam rahim mu!" Ujar Randy, dia segera mendekatkan diri pada Ayumi, dan mencium kening istrinya cukup lama.
"Baiklah aku akan tidur. Selamat malam sayang, selamat malam Baby tomato!" Dia mengusap perut Ayumi, kemudian mulai memejamkan mata, berusaha menjemput rasa kantuk yang tak kunjung datang.
Lihat! Dia sangat mencintai mu, bahkan jauh sebelum dirimu lahir. Hanya sebuah foto hasil USG, membuat dia menangis penuh haru! Bayangkan jika kamu lahir nanti, mungkin dia akan menangis sangat kencang saking bahagianya.
Batin Ayumi berbicara, dengan bibir yang tersenyum, tapi matanya tetap tertutup dengan rapat.
***
"Emmmhhhh!"
Ayumi merenggangkan otot-otot tubuhnya, perlahan membuka mata, dan tiba-tiba saja rasa pusing itu kembali terasa.
"Abang?" Panggil Ayumi ketika dia tidak melihat pria itu di dalam ruangan sana.
"Abang?"
__ADS_1
Dia segera bangkit, menurunkan kedua kakinya untuk mencari Randy, namun sebelum dia bisa meraih handle pintu kamar, Ayumi merasakan mual yang luar biasa, sampai membuat perempuan itu berputar dan menghambur ke dalam kamar mandi.
Ayumi kembali memuntahkan isi perutnya tanpa henti, membuat perempuan itu terbatuk-batuk begitu kencang, seraya memegangi perut yang terasa sedikit kram.
Suara kran air yang terbuka, bersahutan dengan Ayumi yang terus terbatuk-batuk, membuat perhatian Randy yang baru saja masuk kedalam kamarnya tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka.
Randy langsung berlari melewati pintu kamar mandi yang terbuka. Dan disanalah Ayumi, membungkuk di depan wastafel sembari terus membasuh wajahnya yang terlihat semakin pucat.
"Ay!"
Randy berjalan mendekat, lalu memijat tengkuk Ayumi dengan lembut.
Perempuan yang di maksud pun menutup kran air, meraih tisu, lalu berbalik badan dan memeluk tubuh Randy setelah mengeringkannya dengan tisu yang sempat Ayumi ambil tadi.
"Abang kemana?"
Tanya Ayumi, dan tidak lama setelahnya terdengar isakan pelan.
Dia menangis.
"Sayang jangan menangis." Bisik Randy.
"Aku kesel, kenapa setiap kali Abang nggak ada rasanya mual sama pusing, … aku capek, rasanya nggak nyaman, tenggorokan aku panas, perut aku rasanya kram dan sangat kencang." Perempuan itu mengeluh, menumpahkan kekesalan hatinya pada sang suami.
Kini Randy hanya diam, membiarkan Ayumi menangis dan mengeluarkan isi hatinya.
"Jangan pergi kalau aku belum bangun!" Katanya sambil memukul dada suaminya yang saat ini tengah bertelanjang dada, juga menyisakan sedikit keringat.
"Cuma nge gym. Di ruangan sebelah, kamu bisa kesana kapan pun!" Dia mengusap pipi istrinya, berusaha memberikan sedikit rasa nyaman.
Ayumi merengek, juga terus memukul-mukul tubuh Randy, membuat pria di hadapannya terkekeh karena merasa gemas dengan reaksi berlebihan dari istrinya.
"Malah ketawa! Aku sumpahin mualnya nular ke kamu yah!" Ucap Ayumi kesal.
"Jangan, kalau aku yang mual bagaimana pekerjaan aku?"
"Biarin biar kamu rasain apa yang aku rasain."
Randy kembali tertawa, dan itu benar-benar membuatnya kesal.
"Aku belum mengerti, kenapa kalau ada aku tidak mual, sementara tidak ada aku kamu mual?"
"Mana aku tahu! Tanya sendirilah sama anak kamu." Balas Ayumi ketus.
Ayumi diam, dia mulai teringat kebiasaan barunya. Dan dia baru menyadari jika di dekat suaminya dia benar-benar tidak merasa mual, aroma tubuh Randy sepertinya benar-benar menjadi sebuah obat penawar bagi rasa mual dan pusingnya.
Dia mengurai pelukannya, mundur beberapa langkah untuk mendekati keranjang baju kotor, meraih kaos yang kemarin malam Randy kenakan, lalu mendekatkannya kepada hidung.
Kening Randy berkerut, memperhatikan Ayumi yang kini tengah menghirup baju bekas pakainya.
"Ay?"
"Yang ini tidak boleh dibawa ke laundry. Jimat aku kalau kamu nggak ada di rumah, … nggak selamanya kamu disini kan? Kamu seorang Randy Danendra, seorang yang paling sibuk nomor dua setelah Bapak Raga Biantara."
Senyum Ayumi kembali merekah, dia seolah melupakan rasa kesalnya yang sempat Ayumi utarakan, kemudian beranjak keluar meninggalkan Randy begitu saja dengan tatapan penuh tanya.
"Astaga! Apa semua ibu hamil seperti ini?" Gumam Randy seraya melangkahkan kaki ke arah luar, mengikuti Ayumi yang saat ini sudah kembali duduk nyaman di atas tempat tidur, memeluk kaos bekas pakai miliknya.
__ADS_1
Randy duduk di tepi ranjang, mengusap kepala Ayumi dan memperhatikan raut wajah perempuan itu yang saat ini terlihat berbinar.
"Yang ini nggak boleh dibawa ke laundry! Nggak boleh pokoknya titik, aku simpan disini nggak boleh ada yang pindahin!"
Randy bungkam.
"Ingat yah! Jangan di kemana-mana in." Ayumi kembali memperingati. "Abang denger nggak? Kok diem terus."
"Ya ya ya, aku dengar. Hanya saja kenapa aku merasa kamu sedang menyingkirkan aku yah, aku tidak rela kamu terus menciumi kain itu, … apa tidak sebaiknya kamu kembali mencium seluruh tubuhku?"
Ayumi tersenyum, dia melipat kain berwarna hitam itu, menaruhnya di atas bantal, lalu merentangkan kedua tangannya.
"Tentu saja! Itu hanya sebuah cadangan jika kamu tidak ada di rumah, saat kamu bekerja misalnya." Setelah itu dia memeluk tubuh suaminya.
"Kamu tidak merasa mual di dekatku? Atau merasa kalau bau tubuhku bau?"
"Nggak, kamu wangi."
Randy mengangguk.
"Memangnya kenapa? Sejak dulu aku memang suka bau parfum yang kamu pakai."
"Tidak. Aku hanya ingat kata Pak Raga, jika saat Balqis hamil dia tidak suka bau badan suaminya sendiri."
Ayumi mendorong tubuh suaminya, menengadahkan pandangan, lalu menatap Randy yang juga sedang menatapnya.
"Terdengar aneh." Ayumi terkekeh.
"Aku pun merasa kamu aneh, ya … aku tahu kamu menyukai parfum ku, tapi apa menurutmu wajar jika kamu menyukai bau kaos yang semalam aku pakai? Itu pasti kotor."
Ayumi hanya tersenyum, dia kembali memeluk tubuh Randy, menempelkan pipi di perut penuh otot milik suaminya.
"Aku hanya tidak percaya Bu Balqis pernah tidak suka dengan bau suaminya, sementara jika mereka ke kantor bersama, keduanya bak perangko yang tidak bisa dipisahkan." Jelas Ayumi.
"Huum, lalu?"
"Kalau aku kan memang sudah menempel sama Abang. Jauh sebelum kita menikah, … tidak ingat yah!?"
Randy menarik kedua tangan Ayumi yang melilit pinggangnya, kemudian dia berjongkok, menatap wajah sedikit pucat milik Ayumi.
"Jadi siapa yang cinta lebih dulu? Kamu atau aku?" Randy menatap Ayumi lekat-lekat.
Ayumi diam, dia terlihat menahan senyum.
"Jangan-jangan kamu yang suka lebih dulu, hanya saja kamu memendemanya sendirian, dan setelah aku mengutarakan rasa ketertarikan ku, kamu malam menolak karena merasa tidak pantas, lalu kembali mengejarku setelah kamu merasa cemburu kepada Aleesa?"
"Ah, … intinya kita saling mencintai. Tidak peduli siapa yang lebih dulu cinta." Tukas Ayumi, kemudian mencondongkan wajah, dan mencium bibir Randy singkat.
"Anak kita membuatmu semakin manja, dan aku menyukainya." Bisik Randy.
"Ayo kita mandi bersama." Ajak Ayumi.
"Hah?"
"Ayo mandi bersama-sama, setelah itu kita keluar cari jajan. Aku mau sate Maranggi."
Ayumi bangkit, dan segera menarik tangan suaminya, sampai mereka benar-benar masuk ke dalam sana, tak lupa menutup pintu kamar mandi itu rapat-rapat.
__ADS_1