My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 130 (Sate Padang)


__ADS_3

Tangan Ayumi bertumpu pada dada bidang milik suaminya, mencoba menahan sesuatu yang berusaha menerobos masuk, sampai membuat mulutnya terbuka dan menjengit sampai kedua alisnya hampir beradu.


"Hhhhheuh!"


Randy tersenyum menatap wajah cantik perempuan yang saat ini duduk mengangkang di atas tubuhnya. Dia terdiam, berusaha menyesuaikan diri setelah miliknya terbenam dengan sempurna.


"You can do this, Babe!"


Randy menatap Ayumi yang masih terdiam dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu menggoda. Satu tangannya terulur, menyentuh rambut panjang yang terurai.


"Aku …"


"Kamu bisa." Randy tersenyum.


"Tapi …"


Randy meraih punggung Ayumi, mengangkatnya perlahan, membuat Ayumi mulai bergerak naik turun dengan sangat perlahan.


Mata Ayumi terpejam, merasakan hal yang begitu luar biasa. Ada sedikit rasa kurang nyaman, tapi itu berangsur menghilang setelah dia mulai intens bergerak.


Kepala Randy mendongak, merasakan hal yang sangat luar biasa saat Ayumi mulai berpacu, walaupun pergerakannya terbilang kaku, tapi benar-benar membuat Randy tak bisa berkata apa-apa, selain merasakan hal yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.


Ayumi mulai men***ah kencang, perempuan itu tak mampu lagi mengendalikan dirinya sendiri ketika tangan Randy mulai bergelayar tak tentu arah, mengusap dan menyentuh setiap inci tubuh Ayumi yang polos tanpa sehelai benang pun.


"Mmmmmhhh, … sayang!"


Ayumi semakin mempercepat pergerakannya, saat sesuatu terasa mendorong dan hampir meledak. Namun Randy segera mengangkat pinggul sang istri, membuat posisinya menjadi berbalik, dan mulai berpacu dengan hentakan yang sangat cepat.


Randy membungkuk, membungkam mulut Ayumi agar tak terlalu mengeluarkan suara yang sangat kencang. Yang mungkin saja akan membuat keduanya malu saat Dini mendengar aktivitas keduanya.


Jemari Ayumi mencengkram kuat, kukunya bahkan menancap di lengan penuh otot suaminya sampai meninggalkan bekas kemerahan.


Randy melepaskan pautan bibir keduanya. Berganti membengkak mulut Ayumi dengan telapak tangannya, dengan aktivitas yang terus meningkat.


Tubuh Ayumi melengkung, kepalanya mendongak, cengkramannya bahkan semakin kencang, membuat Randy meringis, di sela geramannya saat hendak menyambut pelepasan yang sudah mulai terasa.


"Argghhh! Nyonya Danendra. Kau membuatku gila." Dia menenggelamkan wajah di ceruk leher istrinya, menahan gerakan kencang yang keluarga dari mulutnya.


***


Randy meletakan laptopnya begitu saja, dia biarkan menyala, bahkan beberapa file yang Raga kirimkan belum dia lihat, hanya karena merasa khawatir kepada Ayumi yang terus terlelap di bawah gulungan selimut tebal, menyembunyikan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun.


Pria itu naik ke atas tempat tidur, mencondongkan tubuh untuk melihat Ayumi yang saat ini sedang berbaring miring.


"Kamu tidak mau bangun? Sudah jam sepuluh bahkan kamu belum makan, dan minum vitamin nya!" Randy berbisik tepat di daun telinga Ayumi.


Tubuh Ayumi mulai merespon, dia bergerak-gerak, namun bukannya bangun, tapi justru dia mencari posisi yang lebih nyaman lagi sampai dia terlelap semakin dalam.


Cup!


Randy mencium telinga bagian belakang istrinya.


"Ish, jangan ganggu! Aku ngantuk Abang." Suara Ayumi terdengar begitu parau.


"Bangunlah, anak kita pasti sangat lapar di dalam sini!" Satu tangan Randy masuk, lalu mengusap perut Ayumi yang tak berpenghalang apapun.


Ayumi diam lagi.


"Sayang? Bangunlah kita makan dulu, setelah itu kamu boleh tidur lagi!"


Randy terus memberikan kecupan pada seluruh wajah Ayumi, sampai membuat perempuan itu mulai terjaga dan menarik kesadarannya.


"Abang!" Ayumi berusaha menjauhkan Randy darinya.


"Kenapa? Aku hanya ingin menciummu. Tidak boleh ya?"


"Geli." Rengek Ayumi.


"Cepat bangun, Mommy! Baby nya mau makan, dan minum vitamin juga susunya."


Ayumi benar-benar membuka matanya, menatap Randy yang tampak tersenyum dengan posisi sangat dekat.

__ADS_1


"Abang?"


"Ya?" Randy mengusap pipi istrinya.


"Mau beli makan di luar boleh?" Tiba-tiba saja Ayumi bertanya seperti itu.


"Mau makan apa? Ini sudah jam sepuluh malam, terlalu larut, angin malam tidak baik untuk kamu, untuk kita."


Ayumi mengubah posisinya menjadi duduk, merapatkan selimut, lalu mengikat rambutnya yang masih terurai.


"Mau sate Padang."


"Apa masih ada yang buka?"


Ayumi menggelengkan kepalanya, jelas dia pun tidak tahu. Tiba-tiba saja lezatnya makanan itu terbayang-bayang, bahkan sudah terasa ada di dalam mulut, sampai air liurnya terus berkumpul dan hampir terjatuh.


"Aih, aku beneran mau sate Padang."


"Tidak mau rujak tomat? Padahal aku sengaja stok banyak tomat di kulkas, takutnya kamu mau pada tengah malam seperti hari-hari sebelumnya."


"Iya, nanti sudah beli bikinin rujak tomatnya."


Randy terdiam, menatap wajah istrinya lekat-lekat, kemudian tersenyum.


"Baik, ayo berbilas dulu agar lebih segar." Titah Randy yang langsung Ayumi turuti.


Dia melepaskan selimutnya begitu saja, dan berlari melewati pintu kamar mandi. Sementara Randy tertegun menatap tubuh mungil yang kini terlihat sedikit lebih berisi itu.


"Dia itu kenapa suka sekali menggodaku!" Gumam Randy dengan perasaan gemas.


Dan setelah Ayumi selesai membersihkan diri, lalu bersiap-siaplah, akhirnya mereka langsung keluar rumah, berjalan ke arah garasi mobil untuk segera pergi mencari apa yang Ayumi inginkan.


Sate jeroan sapi, dengan bumbu kuning bercita rasa khas, dilengkapi lontong juga taburan bawang di atasnya, terus terbayang-bayang, sampai membuat Ayumi mengecap dan menelan ludahnya terus menerus.


"Beli yang banyak yah! Satu porsi nggak akan cukup."


Randy yang hampir masuk kedalam mobil pun berhenti, dia menatap Ayumi yang sedang tersenyum menunjukan deretan gigi rapinya juga gummy smile yang tampak begitu manis.


Randy menghela nafas.


"Baiklah, apapun untukmu."


Setelah itu Randy masuk, duduk di kursi kemudi. Disusul Ayumi setelahnya dengan wajah yang terlihat semakin cantik, bahkan hanya karena wanita itu menahan senyuman manisnya.


Randy mulai menghidupkan mesin mobilnya, setelah itu mundur perlahan, berbelok dan melaju dengan kecepatan sedang setelah memasuki jalanan komplek perumahan.


Pandangan Ayumi menatap ke arah luar. Melihat area cluster yang terasa sangat sunyi, dan hanya terlihat beberapa orang yang berjaga di pos security.


"Mau beli yang dimana? Kalau tidak tanya dulu aku takut salah!" Kata Randy seraya membelokan mobilnya memasuki jalanan utama.


"Dimana saja, yang penting sate Padang. Makannya di rumah saja, terus nanti buatkan rujak tomat yah!" Ayumi melirik Randy yang sedang fokus pada jalanan di depan.


Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, melewati tiang-tiang lampu jalanan yang menyala. Kemudian berhenti saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah.


"Mereka ini akan pergi kemana? Sudah malam begini masih berkendara memakaikan motor, mana pakaiannya terbuka pula, bagaimana orang tua mereka, apa tahu anaknya sedang berkeluyuran selarut ini!?"


Randy sedikit menggerutu saat melihat pengendara motor di sampingnya. Sepasang muda-mudi, tampak saling berbincang-bincang, juga tertawa pelan.


"Mungkin mereka sudah menikah, makanya di bebasin sama orang tuanya. Ah … bukannya kita juga begitu yah? Sebelum menikah kita sudah tidur di satu ranjang yang sama." Ayumi terkekeh ketika ingatan hari liburan mereka melintas.


Randy menoleh.


"Itu beda, Ay! Aku tidak pernah membiarkanmu berpakaian terbuka seperti itu." Randy tak mau kala.


Dia mulai menginjak pedal gasnya, membuat kendaraan roda empatnya kembali melaju, saat mobil juga motor di hadapannya mulai bergerak.


"Sama saja, justru Abang lebih parah, ajak anak orang bobo bareng. Ish ish ish!"


Randy berdecak sebal, juga memutar kedua bola matanya sambil menghela nafas kasar. Tidak ada lagi kata-kata untuk menyangkal apa yang baru saja Ayumi katakan, karena memang kenyataannya seperti itu, sedikit banyak dia juga keterlaluan karena tidur di atas ranjang yang sama dengan anak gadis orang secara sengaja, bahkan mungkin saja Tutih dan Ali akan marah waktu itu jika mereka tahu.


Dan setelah berkendara hampir tiga puluh menit lamanya. Mereka berhenti tepat di depan salah satu gerobak penjual sate Padang yang Ayumi inginkan. Suasana disana terlihat ramai, bahkan tak hentinya sang penjual melayani setiap orang-orang yang datang memesan.

__ADS_1


"Kan! Masih rame." Kata Ayumi, kemudian dia turun terlebih dulu, meninggalkan Randy begitu saja.


"Uda, mau lima porsi yah." Ayumi memesan.


"Siap."


Setelah memesan Ayumi kembali mengalihkan pandangan ke arah sang suami yang sedang berjalan ke arahnya.


"Aku pesan lima, boleh?"


Randy mengangguk.


"Pesan saja, tapi harus habis."


"Iya." Ayumi mengangguk dengan raut wajah sumringah.


"Uda. Tiga pakai lontong, dua sate nya saja."


"Bungkus? Atau makan disini?" Pria penjual sate itu bertanya.


"Bungkus semua."


Ayumi menarik Randy, membawa pria itu untuk duduk di kursi plastik yang tersedia.


"Mau beli yang lain?" Randy bertanya, ketika melihat beberapa gerobak pedagang yang masih berada di area sana.


Ada Bubur kacang hijau, wedang ronde, sekoteng dan beberapa gerai penjual nasi goreng juga pecel lele.


"Nggak ah, aku mau rujak tomat bikinan Abang saja. Kayaknya seger deh."


"Tidak mau yang hangat-hangat manis?"


Ayumi menggelengkan kepala.


"Baiklah, jangan minta keluar lagi kalau sudah sampai rumah yah!"


"Iya."


Ayumi terus tersenyum, memperhatikan Bakaran yang mengepulkan asap banyak, dan menimbulkan aroma lezat. Kemudian dia menoleh ke arah samping, dan Randy sedang menatapnya dalam diam.


"Jangan melamun!" Ayumi mengibaskan tangan di hadapan suaminya.


"Siapa? Aku? Yang benar saja, aku sedang mengagumi kecantikan istriku tahu, … ah kamu merusak suasana." Ucap Randy.


Ayumi terkekeh.


"Memangnya aku secantik itu yah!?"


"Kamu tidak sadar? Lalu apa gunanya beberapa cermin di kamar kita kalau kamu masih bertanya."


"Tidak. Aku yakin semua mantan kekasihmu cantik-cantik, hanya saja aku belum pernah bertemu dengan mereka, … kecuali Dokter Aleesa, itu pun hanya beberapa kali dan tidak sengaja."


"Hey!"


Randy memperingati.


"Aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Aleesa, Ay!"


Ayumi tersenyum mengejek, dia bahkan menunjuk wajah suaminya yang terlihat sedikit merenggut.


"Kamu selalu membahas itu, dan akan berujung dengan sedikit pertengkaran nantinya. Dan aku harus berjuang agar kamu tidak terus merasa kesal."


"Aku tidak kesal, Daddy!" Ayumi terus menggoda.


"Oh ya? Kalau begitu bagus. Jangan bahas lagi, yang penting sekarang kita sudah menikah, kita akan punya anak, dan kamu tahu yang lebih penting dari yang terpenting?"


Ayumi menggelengkan kepala.


"Kamu tidak jadi menikah dengan Junior, dan kecantikan Ayumi Kirana hanya milikku seorang. Aku tidak peduli semanis apa perlakuan dia dulu, tapi aku akan berusaha berbuat lebih manis daripada apa yang sudah Junior lakukan kepadamu."


Haih, dia meminta berhenti, tapi dia malah mulai membahas orang lain.

__ADS_1


Ayumi tertawa di dalam hatinya.


__ADS_2