
"Sekarang kamu yang memegang kendali!" Ucap Randy pelan, lalu menarik Ayumi sampai dia kini duduk di atas tubuhnya.
Perempuan itu tampak kebingungan, keningnya menjengit kencang, tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini, karena memang ini sangat awam bagi Ayumi.
"Ay? Come on." Pinta Randy dengan suara rendah.
Ayumi menggelengkan kepala.
"Aku nggak tahu." Dengan polos Ayumi menjawab.
Randy tersenyum mendengar itu, dia lupa jika perempuan yang dia nikahi adalah seorang gadis polos, belum terjamah oleh siapapun, begitupun pikiranya.
Randi menarik tangan Ayumi, membuat perempuan itu sedikit merebahkan tubuhnya, dan setelah mereka saling menempel, Randy mengangkat pinggul kemudian mengarahkan miliknya sampai benar-benar bisa terbenam sepenuhnya.
Ayumi merintih kencang.
Lagi-lagi Randy hanya tersenyum, melihat ekspresi wajah Ayumi. Mata sendu, wajah merah, juga mulut yang sedikit terbuka, berusaha menyesuaikan diri, dari sesuatu yang menghujam inti tubuhnya dari bawah.
Tangan Randy bergerak, terangkat mendekati wajah istrinya, lalu menyingkirkan beberapa helai rambut di wajah Ayumi yang masih menyisakan keringat hasil pergumulan pertamanya mereka.
"It's okay, … kamu bisa bergerak perlahan sekarang." Kata Randy dengan suara pelan.
"Hemmmm?" Keningnya semakin berkerut.
"Mulailah bergerak perlahan-lahan." Bisik Randy lagi.
Dia berusaha mengarahkan.
"Diam saja aku tidak nyaman, apalagi bergerak." Ayumi terlihat gelisah, perempuan itu menegakan tubuhnya.
Pria itu tidak menjawab, dia hanya terus tersenyum, dengan perasaan bahagia, saat Ayumi tak menolak apapun dia saat ini.
Kedua tangan Randy kembali menyentuh pinggul Ayumi, sedikit mengangkatnya dan mulai bergerak.
"Oh, sayang!" Dia mencengkram kuat lengan suaminya, dengan kepala mendongak ke belakang.
Untuk beberapa saat Randy yang mengambil alih. Sampai dia benar-benar berhenti, dan membiarkan Ayumi mulai mengambil alih.
Dengan gerakan kaku Ayumi segera mencoba, melakukannya dengan sangat perlahan, namun membuat Randy memejamkan mata.
"Ya, … begitu, … sayang!" Sekuat tenaga Randy menahan desahannya.
Suara keduanya kembali bersahutan, apalagi saat Ayumi mulai menguasai permainannya, dengan tangan Randy yang tak berhenti bergerayang nakal.
Hingga sesuatu mulai Ayumi rasakan, dia mempercepat gerakannya, berusaha mengejar sesuatu yang sepertinya akan kembali terlepas.
Perempuan itu hampir saya berteriak, tapi dengan segera Randy membekap mulutnya, mengangkat tubuh Ayumi sampai pautan tubuh mereka terlepas, lalu membalikan posisi hingga kini dia yang kembali berada di atas tubuh istrinya.
Satu tangan Randy membekap mulut Ayumi, sementara satu tangan lainnya dia jadikan tumpuan agar tubuhnya tetap seimbang.
Ayumi berusaha menyingkirkan tangan Randy yang sedang membungkamnya, menatap pria itu penuh permohonan.
"Aku selesai, tunggu sebentar." Randy menahan geramannya.
Randy terus menghentak, meraih sesuatu yang sudah terasa, apalagi saat miliknya terus terasa dicengkram begitu erat. Dan setelah itu suasana berubah menjadi hening, saat Randy kembali menuntaskan hasratnya.
***
Pagi harinya.
Maria dan Tutih tampak sibuk di depan meja kompor, berkutat dengan berbagai perkakas dapur, juga bahan-bahan masakan yang sudah mereka siapkan setelah berbelanja bersama, ke pasar terdekat.
"Ibu belanja?"
Kedua wanita itu menoleh, dan mendapati Randy berjalan mendekat dengan keadaan yang sudah terlihat begitu segar.
Kaos rumahan hitam polos yang begitu ketak di tubuhnya, dengan celana jogger berwarna senada, juga rambut sedikit basah yang terlihat acak-acakan, namun raut wajahnya terlihat sumringah.
Bibirnya terus tersenyum-senyum samar, kebahagiaan itu jelas bisa dirasakan Maria juga Tutih sang ibu mertua.
"Iya, tadi kami ke pasar." Maria menjawab.
"Bapak dimana?"
Randy menatap sekitar, mencari keberadaan ayah mertuanya.
"Tadi katanya mau jalan-jalan keliling komplek. Biasalah, Bapaknya Ayumi sering begitu kalau mengunjungi tempat-tempat baru." Jelas Tutih yang langsung mendapat anggukan dari Randy.
"Bu Sumi kemana? Dia sedang mengerjakan pekerjaan lain?" Tanya Randy yang merasa sedikit bingung, saat tak mendapati wanita itu di rumahnya.
__ADS_1
Maria menatap Randy.
"Dia pulang, tadi sebelum kami berangkat ke pasar." Tukas Maria, sembari menatap wajah anaknya.
"Pulang?" Dia mengulangi ucapan ibunya.
Maria menimpali dengan anggukan pelan.
"Kok pulang? Kenapa? Ada sesuatu yah?" Randy berjalan mendekati sebuah pintu kamar yang tertutup rapat.
Klek!
Dia mendorong pintu itu sampai benar-benar terbuka, menekan saklar lampu, dan kamar itu terlihat kosong melompong saat cahaya menerangi ruangan itu.
"Katanya dia sudah izin sama kamu." Maria berteriak dari arah dapur sana.
Randy tidak menjawab, dia hanya terus berjalan masuk, memeriksakan sesuatu yang mungkin saja tersisa. Namun tidak ada, bahkan lemari pakaian pun terlihat kosong.
"Apa yang terjadi?" Gumam Randy.
Dia terdiam untuk beberapa saat. Mencoba menerka-nerka alasan apa yang membuat Sumi pergi tanpa berpamitan kepada dirinya juga Ayumi.
Randy segera keluar dari dalam kamar berukuran sedang itu, yang dia sediakan khusus untuk pekerja rumahnya. Dan segera kembali berjalan memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa.
Tatapan matanya tertuju kepada Ayumi. Istrinya yang masih terlelap di bawah gulungan selimut tebal, menyembunyikan tubuh polosnya.
Dia meraih ponsel yang terletak di atas nakas, mencari nomor Alvaro, dan menghubunginya dengan segera.
"Ya?" Alvaro menyapa lebih dulu, saat sambungan telepon keduanya tersambung.
Randy berjalan ke arah sofa, lalu duduk disana.
"Ada sesuatu, Om?" Dia langsung bertanya.
"Sesuatu apa?"
Randy diam sebentar, memastikan jika Ayumi masih benar-benar tertidur pulas.
"Bu Sumi." Kata Randy.
"Ya, kenapa dia? Apa dia berbuat ulah?"
Pria di seberang sana terdengar menghela nafasnya kencang.
"Om memintanya pergi?" Tanya Randy pelan.
"Tidak. Saya memberi dia dua pilihan jika sudah melakukan kekeliruan. Pergi sendiri atau saya bertindak."
"Jadi Om tidak meminta Bu Sumi untuk pergi?"
"Tidak. Untuk apa? Sejauh ini dia tidak berbuat aneh-aneh."
Randy mengangguk.
"Baiklah, maaf sudah mengganggu waktu Om."
"Hemmm, … bagaimana Ayumi sekarang?"
"Sudah sangat membaik, Om."
"Ya Sudah, silahkan tutup teleponnya."
Randy mengangguk lagi. Dia menjauhkan benda pipih itu dari daun telinganya, lalu meletakkan di atas meja samping sofa kamar.
"Siapa yang pergi?" Suara parau itu membuat Randy terkejut bukan main.
Sosok perempuan itu kini duduk, melilitkan selimut sampai menutupinya dari bagian dada hingga kaki.
"Sejak kapan kamu bangun?"
Randy bangkit, lalu berjalan mendekati Ayumi yang masih terlihat mengerjapkan matanya terus menerus.
"Aku tanya, Abang malah tanya balik." Suaranya terdengar begitu berat.
"Siapa? Abang tidak bilang apa-apa. Kamu mengigau sepertinya." Randy berjongkok di hadapannya, menengadahkan pandangan, menatap wajah sembab khas bangun tidur dengan bibir yang terus tersenyum.
Mata itu kembali terbuka, menatap Randy yang saat ini bersimpuh di hadapannya, dengan keadaan rapi.
"Masa iya sih!?"
__ADS_1
"Iya, orang sekarang kamu saja masih mengantuk, mungkin kamu mengigau tadi!"
Ayumi tidak menjawab.
"Mau mandi sekarang?"
"Iya, aku malu kalau bangun terlalu siang."
Randy mengangguk.
"Baik, ayo aku antar sampai kamar mandi."
Pria itu berdiri, meraup tubuh kecil Ayumi untuk di gendongannya, lalu berjalan ke arah pintu kamar mandi sana.
***
Klek!
Ayumi keluar dari dalam kamarnya, dia tersenyum saat melihat Tutih yang sedang menatap beberapa piring di atas meja makan, lalu setelah itu Maria muncul, membawa satu mangkuk being berukuran besar.
"Sudah bangun?" Dua wanita itu menyapa Ayumi lebih dulu.
"Iya, maaf aku nggak bantuin." Katanya lalu duduk di kursi meja makan.
"Tidak apa-apa, lagi pula sarapan pagi ini dengan lauk sederhana saja." Jelas Maria.
"Sayur sop, tahu tempat, kerupuk, sambal dan ayam goreng." Sambung Maria lagi.
Ayumi mengangguk, dia tersenyum menatap berbagai macam hidangan diatas meja makan sana. Dia menoleh ke arah samping, dimana Randy duduk dengan pandangan yang tertuju kepada ponselnya.
"Hape terus!" Sindir sang istri.
"Hanya membalas pesan dari Pak Raga, terus dari orang dekor dan catering." Jawab Randy tanpa mengalihkan pandangan.
Setelah itu dia meletakan ponselnya, menyandarkan diri, menoleh dan tersenyum kepada istrinya.
"Suka banget kayanya natap aku kaya gitu."
"Dih ge'er."
Randy terkekeh. "Dari tadi kamu lihat aku terus."
Ayumi memutar bola matanya.
"Anak Ibu genit." Perempuan itu mengadukan kelakuan Randy pada mertuanya.
Maria tersenyum.
"Oh iya, … aku belum lihat Bi Sumi? Kemana dia yah? Keadaannya gimana? Aku nggak keluar kamar lagi semalam saat Bi Sumi menangis."
"Tadi izin pamit pulang." Jelas Tutih
"Pulang?"
Maria dan Tutih mengangguk bersamaan.
"Pagi-pagi sekali sebelum kami pergi ke pasar, dia sudah siap. Sepertinya semalaman dia merapikan barang bawaannya." Maria berujar.
"Duh, kenapa yah!" Ayumi menatap suaminya.
"Hanya pulang kampung, Ay. Nanti pulang lagi kesini, mungkin dia sedikit lelah mengurus rumah kita, … sepertinya harus menambah satu pekerja lagi."
"Begitu yah? Aku kasian pas semalem Bi Sumi nangis. Kayaknya dia rindu keluarganya deh, … eh tapi kan nggak ada yah!" Ayumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dia mulai mengingat setiap ucapan-ucapan Sumi. Dari dia yang tinggal sendirian karena orang tuanya sudah meninggal, lalu dia juga pernah bercerita hanya memiliki satu saudara di Jerman sana yang tak kunjung pulang.
"Sudah-sudah, bahas Bu Sumi nya nanti lagi! Sekarang kita sarapan dulu." Sergah Tutih. "Ibu cari Bapak dulu, dia masih belum kembali." Katanya lagi, kemudian Tutih segera beranjak pergi.
Ayumi hanya mengangguk, dengan pikiran yang terus memutar sebuah ingatan. Perempuan itu mulai membandingkan kisah Sumi, dan Laras yang menurutnya hampir sama.
Ah masa sih! Orang tua Bi Sumi kan meninggal, kalau orang tua Laras jelas pergi meninggalkan dia setelah dia melahirkan Bayinya.
Batin Ayumi terus berbicara.
"Makan dulu, Ay! Jangan melamun." Maria meletakan satu piring nasi di hadapannya.
"Oh, … i-iya Bu. Terimakasih Nasinya!"
Atau Bi Sumi itu Laras yah? Terus dia sedih lihat aku karena merasa rindu dengan anaknya?
__ADS_1
Dia kembali melamun. Ayumi baru benar-benar tersadar setelah Randy menyadarkannya, dan meminta dia untuk segera memulai sarapannya.