
Mereka bertiga diam, suasana terasa sedikit canggung setelah Ayumi menjawab rentetan pertanyaan kedua sahabatnya dengan gamblang dan sangat jelas.
Awalnya dia tidak mau menjawab, selain itu sangat sensitif dan pribadi, tentu saja Ayumi merasa malu. Namun apa boleh buat, Una tak hentinya bertanya saat Ayumi tidak menjawab pertanyaan yang dia lontarkan.
"Terus, … entar kalo, kamu hamil gimana, Ay?" Sepertinya Una masih penasaran, sampai dia kembali bertanya.
Ayumi menatapnya tidak percaya, begitu pula dengan Aira yang langsung mengusap wajahnya kasar. Kelakuan Una memang membuatnya geleng-geleng kepala.
"Astaga, Runa! Lo bener-bener, yah!" Aira mulai emosi.
"Ya gue cuma tanya, kalo Ayumi hamil gimana?"
"Ya, nggak gimana-gimana, kan ada Pak Randy!" Cicit Aira penuh penekanan.
Una diam, dia segera berlatih menatap Ayumi.
"Emang nggak apa-apa, Ay?" Dia mulai membayangkan sesuatu. Tidak tahu apa, yang jelas hanya Una yang tahu, sampai dia menahan senyumannya.
Ayumi meletakan sumpitnya di atas meja, menghembuskan nafas kencang, lalu menghempaskan diri ke arah belakang sampai punggungnya membentur sandaran kursi.
"Sumpah, diantara kita bertiga nih! Yang normal cuma gue, … fiks!" Kata Aira.
"Menurut lo, gue nggak normal gitu?" Ayumi kembali menegakan duduknya.
"Nggak." Aira menjawab singkat. "Kalian berdua tuh kelewat polos tau nggak sih? Jadi ada bego-bego nya dikit gitu lho!"
Mata Ayumi membelalak.
"Wah, parah!" Ayumi menunjuk wajah Aira.
Semenatara Aira hanya terkekeh pelan.
"Kalo gue sih, emang ngerasa nggak normal. Jadi ya udah." Una terlihat lebih pasrah.
"Aih." Ayumi gemas.
Plak!
Dia memukul tangan Una cukup kencang, sampai meninggalkan bekas kemerahan disana.
"Parah, ajig … parah!" Aira ikut tertawa.
***
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu bersama, mengeluarkan uang ratusan ribu untuk sebuah makanan yang di jual di kedai makanan Jepang kesukaan mereka. Akhirnya ke tiga perempuan itu berjalan menuju halte yang tadi Aira juga Una datangi.
"Mampir ke rumah, Abang yuk!" Ajak Ayumi.
"Abang!?" Aira membeo.
"Pak Randy maksudnya?" Una menatap Ayumi, meminta sebuah jawaban, yang langsung di jawabnya dengan sebuah anggukan kepala.
"Nggak mau ah, malu." Tolak Aira dan Una bersamaan.
"Kan sama aku!"
"Bedalah."
"Ah kalian nggak asik." Ayumi sedikit kecewa.
"Kapan-kapan deh, kalau sekarang aku belum berani." Kata Una.
Aira langsung duduk di bangku halte saat mereka sampai, di susul Una, kemudian Ayumi.
"Btw, lo masih masuk kerja nggak?" Tanya Aira kepada Ayumi.
Ayumi menggeleng-gelengkan kepala, dengan raut wajah bingung.
"Nggak tahu, aku takut."
"Gue denger, lu sampe konsultasi sama Psikiater yah?"
Ayumi mengangguk, dia melihat raut wajah kedua temannya penuh guratan kesedihan. Bagaimana tidak, mereka bekerja bersama, berjuang bersama, namun Ayumilah yang mendapatkan perlakuan lebih buruk, bahkan ini kali pertama terjadi di perusahaan tempat mereka bekerja.
__ADS_1
"Mending sembuhin dulu deh, psikis kamu lagi nggak baik-baik saja. Toh nggak kerja juga lo udah ada yang nafkahin, nggak usah capek-capek kerja lagi." Aira menepuk-nepuk punggung Ayumi.
"Maaf yah, kita nggak ada waktu itu. Jadi nggak bisa tolongin lo!" Kata Una.
"It's oke, nggak apa-apa. Sekarang aku udah baikan."
Aira tersenyum.
"Syukur kalo gitu, obatnya jangan di buang yah! Kali ini lo bener-bener harus minum rutin." Una berpesan, dia sedikit mengingat kebiasaan buruk sahabatnya.
Dimana dia selalu membuang obat-obatan, hanya dengan sebuah alasan dia tidak mampu menelannya.
"Iya, inget!" Tegas Aira.
"Iya iya, kenapa kalian jadi gini sih? Gue nggak mau kalian lihat gue kaya gitu, seolah-olah gue orang yang paling sengsara di dunia ini!"
Sedang asik bercakap-cakap, akhirnya bis berukuran sedang tampak menepi, dan berhenti di halte sana, membuat Aira dan Una segera bangkit.
"Kita sekarang nggak searah, Ay!" Kata Una. "Kita duluan pulang yah! Makasih makanannya hari ini." Sambungnya lagi.
Ayumi hanya tersenyum, lalu mengacungkan jempol.
"Makasih ya, Ay. Semoga lo bahagia, sama rezekinya berkah selalu." Aira melambaikan tangan.
"Pulang yah!" Mereka berdua mulai beranjak pergi, kemudian masuk saat pintu bis itu terbuka.
"Dadah!" Ayumi melambaikan tangan.
Dan bis itu kembali melaju dengan kecepatan rendah, lalu melesat setelah berjalan di jalur yang seharusnya.
Ayumi menatap kepergian dua sahabatnya dengan senyuman hangat.
"Ahh, … sepi lagi!" Kata Ayumi pelan.
Dia segera berdiri, berjalan menuju taksi yang sedang terparkir tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Pak? Perumahan Golden star, cluster Sakura village." Kata Ayumi kepada seorang supir.
Ayumi segera masuk, duduk dengan nyaman di kursi penumpang, menutup pintu, dan tak lupa dia mengenakan sabuk pengaman.
Perlahan mobil yang Ayumi tumpangi mulai melaju, meninggalkan tempat itu dengan kecepatan sedang.
Dia membuka tas kecil miliknya, meraih ponsel dan membawa benda itu keluar untuk segera mengirimkan pesan kepada suaminya.
"Aku sudah di jalan pulang, Abang sudah selesai meeting?"
Pesan itu segera terkirim, tapi hanya terlihat ceklis satu, sepertinya pria itu belum menyelesaikan pekerjaannya.
Ayumi kembali memasukan benda pipih tersebut, dan menatap lurus kedepan, menikmati perjalanan pulang pada siang hari ini.
***
"Baiklah kalau begitu, senang bekerjasama dengan anda, Pak." Randy menjabat tangan pria sebayanya.
"Terimakasih kembali, jadi setelah ini akan ada peluncuran Jersey baru? Dengan beberapa logo iklan juga?" Dia bertanya.
Randy mengangguk, dan kembali menarik tangannya.
"Seperti yang anda tahu, sponsor semakin banyak. Dan sepertinya kita harus rilis Jersey baru."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi, senang bertemu anda hari ini … dan maaf sudah mengganggu hari Sabtu anda, karena beberapa hari kedepan saya tidak ada waktu luang, jadi meminta Pak Raga untuk bertemu hari ini dengan anda."
"Tidak apa-apa." Randy tersenyum.
Pria tersebut segera melangkahkan kaki keluar, sementara Randy kembali duduk di sofa ruangannya, membawa ponsel yang dia matikan, lalu menghidupkan kembali.
Dia tersenyum saat mendapati pesan dari Ayumi masuk sekitar satu jam yang lalu.
Randy segera mengubungi istrinya, mendekatkan benda pipih itu ke arah daun telinga.
Tuuutttt!
Sambungan telepon terdengar nyaring, dan tidak lama setelah itu suara Ayumi terdengar menyapa.
__ADS_1
"Halo?"
Lagi-lagi Randy tak bisa membuat bibirnya berhenti tersenyum.
"Kamu sudah pulang?"
"Sudah, ini lagi mau masak. Tapi bahan-bahan di kulkas udah pada nggak ada, aku nggak tau harus masak apa."
Suara Ayumi terdengar begitu jelas.
"Tidak usah masak. Kita belum belanja, aku belum membeli apapun, aku sibuk akhir-akhir ini. Nanti malam kita makan di luar." Jelas Randy.
"Abang pulang sekarang?"
"Tidak. Harus mampir ke beberapa tempat, kenapa?"
"Ish, … ini hari Sabtu!"
"Iya, tapi aku harus mempersiapkan semuanya. Waktu kita tidak banyak, Ay! Kenapa? Sudah rindu yah?"
Randy tersenyum, dan mulai menggoda istrinya.
"Nah itu tahu, kenapa malah sibuk sendiri di akhir pekan."
Randy terkekeh.
"Mungkin jam tiga pulang." Ucapnya seraya menatap arloji yang melingkar di tangan kiri.
Helaan nafas Ayumi terdengar, mungkin gadis itu mulai merasa bosan saat Randy tinggalkan seorang diri di rumah besar miliknya.
"Aku nggak ada temen, bosen." Keluah Ayumi.
"Bukannya tadi sudah bertemu teman-temanmu?"
"Itu beda."
"Lalu?"
Ayumi terdengar menghembuskan nafasnya lagi.
"Di rumah aku kesepian, sendirian, tidak ada siapa-siapa."
Randy mengigit bibirnya kencang, entah kenapa suara Ayumi pun benar-benar membuatnya merasa sangat gemas.
"Mau ada teman?"
"Siapa? Mau nyuruh Ibu datang? Nggak usah."
"Bukan!" Sergah Randy.
"Siapa? Egy? Evan? Bagas? Atau …"
"Ngaco kamu! Nggak mungkin aku meminta mereka datang kesana. Apalagi saat aku tidak ada dirumah!" Sentak Randy.
Mendengar suaminya kesala Ayumi pun tertawa kencang.
"Terus siapa?" Ayumi bertanya lagi.
"Dede bayi!" Katanya.
"Dede bayi? Maksudnya bayi punya siapa?"
"Kita."
"Ah, Abang mulai ngaco. Sudahlah, sana kerja lagi, aku mau tidur aja."
"Ya, tidur yang cukup, mungkin nanti malam kita tidak akan tidur."
"Aih, dia mulai lagi!" Suara perempuan itu terdengar menggerutu, dan tanpa ucapan apapun Ayumi menyudahi obrolan itu.
Dia memutusakan sambungan telefon.
Tidak ada perasaan kesal saat Ayumi memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, tapi justru membuat dia tertawa geli ketika berhasil membuat istrinya kesal.
__ADS_1