My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 72 (my naughty wife)


__ADS_3

Ting tung!!


Suara bell rumah terdengar, membuat Randy yang sedari tadi berbaring menemani Ayumi tertidur sedikit tersentak.


Dia menarik perlahan tangan kirinya yang tertindih tubuh Ayumi, segera turun dari atas tempat tidur, kemudian beranjak pergi, menghambur keluar kamar untuk membukakan pintu.


Ting tung!!


Bell rumahnya kembali terdengar.


"Iya." Randy menyahut, suaranya sedikit berteriak.


Klek!


Dia menarik pintu rumahnya sampai terbuka dengan sangat lebar.


"Ibu? Kenapa tidak telpon? Kan aku bisa jemput di halte!" Randy menatap Maria yang tersenyum.


Kemudian dia beralih pada perempuan sebagai ibunya, berdiri menenteng sebuah tas berukuran besar.


"Ibu naik taksi saja, tidak mau mengganggu waktu kamu dengan Ayumi." Katanya seraya melangkah masuk.


Maria menoleh ke belakang, menatap wanita yang hendak bekerja menjadi asisten di rumah anak semata wayangnya.


"Bu, Sumi? Silahkan masuk, ini rumah Randy anak saya." Maria mempersilahkan.


Sementara wanita yang dimaksud hanya tersenyum samar, lalu mengangguk dan mengikuti langkah Maria juga Randy ke arah dalam.


Maria meletakan freezer box berukuran kecil diatas meja dapur bersih.


"Silahkan duduk, Bu." Maria menunjuk sofa besar yang terletak di ruang tengah.


Sumi mengangguk, kemudian duduk di sofa yang sudah Maria duduki, di susul Randy setelahnya.


"Ayumi kemana?"


"Sedang tidur." Randy menjawab dengan santai, namun ucapan itu membuat tatapan Maria menjadi tajam penuh selidik.


Mereka terdiam beberapa menit, Randy yang bingung karena di tatap ibunya dengan sedemikian rupa, Maria yang curiga saat Ayumi tertidur pada sore hari, lalu Sumi yang kebingungan dengan situasi seperti itu.


"Padahal masih sore, lho!"


Randy mengerutkan dahinya, sampai alis tebal pria tampak itu hampir bertautan.


"Ran jangan macem-macem, anak orang di gempur terus sampai kelelahan, kalau sampai nggak bisa jalan bagaimana?" Katanya lagi.


Mendengar itu seketika Randy menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, kemudian menghirup udara dan menghembuskannya perlahan.


"Kamu keterlaluan, Randy!" Cicit Maria.


"Astaga Tuhan. Kenapa otak Ibu isinya hanya tentang itu? Ayumi benar-benar tertidur karena sudah meminum obatnya." Dia berbohong.


"Ibu pernah memergoki kamu yang mau masuk kamar Ayumi diam-diam!" Maria memicingkan mata.


"Nggak percaya? Sana lihat ke kamar."


"Ah, sudahlah. Ibu kenalkan Bu Sumi dulu!" Maria tersenyum. "Bu Sumi masih satu kampung sama kita, hanya saja rumahnya sedikit jauh, beliau yang datang ke rumah dan meminta pekerjaan ini, setelah mendengar kabar dari mulut ke mulut bahwa Ibu membutuhkan seorang pekerja rumahan."


Randy mengangguk, dia menatap perempuan yang duduk di hadapannya. Bisa dibilang Sumi terlihat lebih muda daripada Ibunya, hanya saja keterbatasan ekonomi membuat penampilan dua perempuan berbeda usia itu sangat jauh.


"Bu, Sumi? Ini anak saya, Ibu akan bekerja disini, membantu menantu atau anak saya jika mereka membutuhkan sesuatu."


"Iya, Bu." Sumi mengangguk paham.

__ADS_1


"Untuk gaji, nanti bisa bicarakan dengan Randy, karena soal itu memang saya tidak tahu menahu."


"Iya Bu."


Maria tersenyum kepadanya, mengangguk kemudian segera berdiri.


"Mari saya antar ke kamar, sekarang istirahat dulu. Nanti malam baru bantu saya untuk memasak seafood kesukaan Ayumi, … menantu saya sangat menyukai masakan laut, bahkan hanya dengan cumi bakar dan sambal, tapi dia bisa nambah porsi makan kalau sudah makan-makan itu."


Maria menjelaskan, wanita itu seolah ingin memberi tahu. Jika dirinya sudah mempunyai seorang menantu, dan Maria sangat menyayangi nya.


"Den, mari." Pamit Sumi kepada Randy, yang langsung dijawab anggukan olehnya.


Randy pun berdiri, kemudian berjalan ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat, membukanya perlahan, kemudian masuk. Dia tersenyum samar saat mendapati Ayumi masih terlelap, wajah polosnya saat tertidur membuat istrinya itu terlihat begitu cantik, begitu menggemaskan.


Kakinya terus melangkah, menuju sofa kamar, duduk disana, dan membuka laci untuk membawa satu bungkus rokok beserta koreknya.


Randy termenung cukup lama, menatap benda yang mengandung nikotin itu lekat-lekat, dengan perasaan sedikit ragu. Seketika kepalanya bergerak, beralih menatap Ayumi yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini.


Beberapa ingatan kembali berputar, saat Ayumi memintanya berhenti, wanita itu benar-benar tidak menyukai bau yang ditimbulkan oleh asap rokok, bahkan setelah mereka menikah,sedikit demi sedikit Randy mulai melupakannya, dia mulai mengurangi itu, meski rasanya sulit, namun dia berusaha.


"Hanya satu." Dia memasukkannya kedalam saku celana, berniat kembali keluar dari dalam ruangan sana.


"Abang?"


Tiba-tiba suara Ayumi memanggil terdengar, Randy yang hampir menekan jendela pintu kamarnya pun menoleh, menatap Ayumi yang sudah merubah posisinya menjadi duduk.


Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan, matanya sayu, dengan wajah sembab khas bangun tidur. Ayumi merentangkan kedua tangannya, seolah meminta Randy untuk segera mendekat.


"Abang? Ih sini!" Dia merengek manja, hal yang sangat Randy sukai dari perempuan itu.


Dia tersenyum, kemudian melangkahkan kaki ke arah ranjang tidur berukuran besar.


"Padahal hanya merengek, tapi kenapa rasanya sangat menggemaskan yah!?" Randy berujar sambil naik keatas tempat tidur, lalu meraih tubuh istrinya.


Mereka berpelukan.


"Kita cuma pelukan, kok nggak bisa menahan diri!" Jawab Ayumi sedikit bergumam.


"Kamu tidak akan mengerti, rasanya sangat pegal jika dia berdiri, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa."


Randy mengusap kepala istrinya, agar rambut Ayumi sedikit rapi, tidak kusut seperti pertama dia bangun tidur tadi.


"Kalau pegal ya tinggal di pijat." Dengan santainya Ayumi menjawab seperti itu.


Randy menahan senyum, dia mulai tidak tahan.


"Mau menemui Ibu? Sepertinya memang harus, karena berlama-lama seperti ini akan sangat berbahaya, sedangkan aku tidak bisa melakukan apapun, kamu sedang sakit."


Ayumi melonggarkan lilitan tangannya, lalu menengadahkan pandangan, sampai mata keduanya saling menatap, dengan perasaan lain.


Hatinya berdebar, sesuatu terasa berdesir, mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Ayumi menyentuh tulang rahang yang tegas, mengusapnya perlahan, dengan manik bening milik Ayumi yang terus bergerak-gerak, mengagumi pria tampan dihadapannya.


"Jangan menatapku seperti itu, … bahaya!" Randy berbisik dengan jarak yang sangat dekat.


Pria itu semakin mendekatkan wajahnya, menempelkan nening, sampai hembusan nafas hangat Randy menyapu halus wajah Ayumi, membuat perempuan itu memejamkan mata, dengan jemari yang juga ikut mencengkram kaos yang suaminya kenakan.


Cup!


Randy mencium bibir Ayumi singkat. Terdiam beberapa detik, dan dia melakukannya bertubi-tubi saat istrinya dapat menerima itu dengan sangat baik.


"Mmmm, … baiklah. Kita harus keluar sebelum terjadi sesuatu yang lebih jauh." Kata Randy.

__ADS_1


Dia hampir saja menjauh, sebelum kedua tangan Ayumi melingkar di lehernya dengan begitu erat, sampai membuat tubuh Randy sedikit membungkuk, saat Ayumi terjatuh di atas tumpukan bantal di belakangnya.


"Apa kamarnya kedap suara? Maksudku, apa kamu melengkapi kamar ini dengan peredam?" Ayumi bertanya, suaranya terdengar pelan, bahkan hampir berbisik.


Randy mematung, dia terdiam seperti orang linglung saat mendapati perubahan sikap Ayumi. Gadis yang selalu menolak karena malu, kini seperti menantangnya dan meminta hal itu lebih dulu.


"Ay? Jangan mulai." Ucapnya dengan susah payah, saat debaran di dada terus meningkat.


"Apa jika kita melakukannya, … harus Abang yang memulai? Aku tidak boleh?"


Randy diam.


"Aku mau." Kata Ayumi.


Randy masih diam.


"Nggak mau yah!?" Dia terlihat sedikit kecewa, perlahan mendorong dada penuh otot itu, namun tiba-tiba saja tangan Randy mencekal pergelangan tangannya.


"Kamu nakal." Randy berbisik, kemudian menyeringai.


"Abang yang bikin aku jadi begini." Balas Ayumi yang semakin membuat Randy merasa gemas dan tidak sabar.


Pria itu menegakkan tubuh, lalu menarik kaos yang sedari tadi melekat di tubuhnya sampai benar-benar terlepas, dan hanya menyisakan otot dada dan perut yang terlihat begitu menggoda, dan mempesona untuk siapapun yang melihatnya.


Tanpa banyak bicara dia segera menarik jeans yang Ayumi kenakan, melemparnya ke sembarang arah, lalu menarik blazer, dan crop top sampai hanya menyisakan pakaian dengan motif renda berwarna hitam.


Ayumi berbaring terlentang, menatap pria diatasnya yang mulai melepaskan sisa kain yang masih menempel.


Randy menaikan satu alisnya.


Ah, dia sangat tampan.


Hatinya berdebar-debar.


Randy mulai membungkuk, raih bibir ranuh Ayumi, bermain-main disana, merasai satu sama lain sampai suara-suara aneh mulai terdengar.


Matanya terpejam, tangannya memeluk erat punggung Randy, kepalanya mendongak ke arah belakang, saat pria itu mulai turun, menyusuri leher jenjang istrinya.


"Ohh!!"


Randy menjeda, saat suara Ayumi keluar begitu kencang.


"Bisa pelankan suaramu? Kamar ini tidak memiliki peredam suara, kamu bisa berteriak jika kita hanya berdua saja."


"Hemmm?" Ayumi menatap suaminya bingung.


Randy tersenyum, menarik kain terakhir yang tersisa, dan segera melakukannya dengan sangat perlahan agar perempuan itu bisa mengendalikan dirinya.


"Ohhhh, …. ****!" Randy menggeram, saat melihat ekspresi wajah perempuan di bawah Kungkungan tubuhnya.


Wajah memerah, mata terpejam, kening berkerut kencang, dengan mulut yang sedikit terbuka.


Ayumi berusaha menahan suaranya sebisa mungkin. Walaupun Randy mulai berpacu, dan hampir tak terkendali.


Suara-suara indah percintaan terdengar begitu pelan, keduanya saling menahan, meski keadaan terus menanjak semakin memanas.


Tak hentinya Randy menyusuri setiap lekuk tubuh Ayumi, dia tak melewatkan sedikitpun walau hanya satu titik, tangannya tak berhenti, terus menggerayang nakal sambil terus berpacu.


Sampai sesuatu dibawah sana mulai berkedut, mencengkram dengan sangat erat, belum lagi Ayumi yang mulai menggigit lengannya, membuat dia semakin mempercepat hentakannya.


Leguhan tertahan keduanya terdengar, saat semuanya terlepas begitu saja, menyisakan nafas memburu yang tersengal-sengal, juga dada yang naik turun dengan sangat cepat.


Cup!

__ADS_1


Randy memberi kecupan singkat, dia tersenyum dengan raut wajah bahagia.


"Istri nakalku!" Randy terkekeh.


__ADS_2