My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 95 (Ibu kandung)


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang begitu memakan waktu. Akhirnya Sumi sampai, di salah satu hunian kecil yang sudah sejak lama dia tempati, setelah Sumi ditinggalkan keluarganya begitu saja, dan dia memilih pergi untuk mencari tempat baru.


Klek!


Dia menutup pintu rumahnya, tak lupa juga memutar kunci, kemudian berjalan memasuki kamar, dan duduk di tepi ranjang, setelah meletakan tas bawaannya.


Pandangannya mengedar, melihat ruangan yang sudah menjadi tempatnya berteduh, selama puluhan tahun lamanya, sendirian dengan kekosongan hati yang begitu mendalam.


"Hahhhh!" Wanita itu menghembuskan nafasnya perlahan, berusaha membuang rasa sesak yang terus memenuhi rongga dada.


Sumi menaikan seluruh tubuhnya ke atas tempat tidur, menatap beberapa bantal, lalu berbaring miring, dan mulai memejamkan matanya.


Ingatan itu kembali berputar. Dimana dia terus mencari Bayinya, bahkan hampir ke setiap desa terdekat.


"Bu, permisi saya mau numpang tanya! Apa disini pernah ada yang menemukan Bayi?" Sumi mendatangi beberapa wanita yang terlihat sedang berbincang-bincang satu sama lain.


"Bayi?"


"Iya, siapa tahu ada yang pernah menemukan Bayi, saya kehilangan anak saya, … dua bulan lalu."


Mereka terdiam.


"Jenis kelaminnya apa?"


Sumi menggelengkan kepalanya, tentu saja dia tidak tahu.


"Kalau tidak salah, saya pernah denger di RW sebelah, mereka menemukan Bayi perempuan, dengan plasenta yang masih menempel."


"Perempuan?"


Sumi merasa bahagia, juga sedih disaat bersamaan.


"Kalau boleh tahu, RW berapa?"


"RT 002/ RW 009."


"Terimakasih."


Sumi hendak beranjak pergi, namun panggilan salah seorang wanita disana membuatnya kembali berhenti.


"Neng? Bayinya diculik? Atau bagaimana?" Mereka terlihat heran, juga bingung.


"Ngg, … kejadian jelasnya saya tidak tahu, Bu! Setelah melahirkan saya tidak ingat apa-apa, tapi saat bangun bayi saya sudah tidak ada." Jelas Sumi.


"Oh, oknum Bidannya kali Neng."


"Saya tidak mau berburuk sangka, Bu. Saya tidak mau tahu siapa yang ambil Bayi saya, saya hanya mau anak saya kembali."


"Semoga segera di temukan, ya Neng."

__ADS_1


"Iya Bu, terimakasih."


Sumi segera berbalik bada, dan mulai melangkahkan kaki.


"Jangan percaya, Ceu! Bisa jadi itu hanya alibi, dia membuang Bayi dan kembali mencarinya saat takut dilaporkan sama polisi."


"Iya, biasa karena pergaulan bebas. Hamil di luar nikah!"


Ucapan itu samar terdengar oleh Sumi. Namun dia tak berniat membela diri, dia hanya terus berjalan dan berharap dapat menemukan Bayinya dengan segera.


"Apakah kamu benar perempuan? Atau bayi yang mereka maksud itu adalah Bayi orang lain. Mama hilang arah Nak, dua bulan sudah mencarimu, tapi sampai saat ini belum juga mendapatkan hasil, apa mereka membawamu juga? Tapi rasanya tidak mungkin, Ka Nurma memang baik, tapi niat dari awal dia sudah meminta Mama untuk membuangmu, … jadi tidak mungkin bukah!" Sumi mengingat beberapa memori yang begitu menyakitkan hati.


Dari ibunya yang meminta untuk aborsi, sejak kehamilannya diketahui, dan di tambah Nurma yang memintanya agar Bayinya segera diberikan kepada panti asuhan.


***


"Pak, punten saya mau tanya. RT 002/ RT 009 dimana yah?" Tanya Sumi.


"Eneng cari siapa?" Pria tua itu balik bertanya.


"Emmm, … saya denger pernah ada yang menemukan Bayi disana, Pak."


Pria itu mengangguk.


"Memang benar, sudah dua bulan yang lalu. Tapi saya dengar Bayinya sudah ada yang urus! Eneng mau ngurus Bayi itu juga? Padahal Eneng masih muda."


Sumi hanya tersenyum tipis.


"Oh, cari saja Pak Bayu, atau Bu Rida. Mereka RW sini, tapi kalau mau cari anaknya juga boleh, cari saja Alvaro, kebetulan dia yang menemukannya Bayi itu."


Sumi mengangguk, dia kembali melanjutkan perjalannya.


"Kenapa banyak sekali Bayu di dunia ini!" Gumam Sumi.


Dan setelah banyaknya rintangan, juga waktu yang terbuang dengan sia-sia. Akhirnya Sumi sampai di salah satu kediaman, setelah bertanya hampir ke seluruh orang yang Sumi temui di jalan.


Pertama-tama Sumi bertanya tentang penemuan Bayi di desa yang sedang dia datangi saat ini. Dan setelah itu barulah dia bercerita, bahwa kini dia mencari sosok Bayi yang hilang entah kemana.


Mereka menatap Sumi tajam, apalagi Alvaro yang berada di sana. Dia benar-benar membuat Sumi tidak merasa nyaman.


"Kamu yakin?" Tanya Alvaro dengan ekspresi wajah datarnya.


"I-iya Pak. Saya yakin, jika Bayi itu ditemukan dua bulan yang lalu, … maka itu sudah pasti Bayi saya."


"Yang bisa hamil di dunia ini tidak hanya kamu. Ada banyak wanita yang bisa melahirkan bayi disini, dan maaf kami tidak bisa mempercayaimu begitu saja."


"Ya, terlebih Bayinya sudah kami berikan kepada orang kepercayaan kami. Maaf karena kami tidak bisa memberikan Bayi itu begitu saja." Rida menimpali.


Sumi diam, dia menatap tiga orang yang sedang duduk di hadapannya bergantian.

__ADS_1


"Saya mohon Pak."


Alvaro menghela nafasnya.


"Saya curiga, kamu memang sengaja membuangnya yah waktu itu? Kamu masih sangat muda, ada banyak ketakutan saat Bayi itu kamu lahirkan, sampai kamu berniat membuangnya, lalu kamu cari lagi saat merasa takut dan menyesal?"


Sumi menggelengkan kepala, dia menyangkal setiap ucapan yang Alvaro lontarkan.


"Saya tidak begitu. Untuk apa saya mencari dengan susah payah, jika saya pernah membuangnya, Saya benar-benar tidak tahu harus menjelaskannya dengan cara seperti apa, tapi saya benar-benar tidak membuang anak saya."


Suara Sumi bergetar, dia menahan tangisnya. Rasa malu, sedih, juga takut kini sudah benar-benar menguasai dirinya, apalagi saat Alvaro menatap dengan tatapan tak suka.


"Jalan satu-satunya agar tahu itu Bayi kamu atau bukan, ya dengan cara tes DNA." Ujar Bayu kepada Sumi.


"Tapi saya tidak punya uang."


"Lalu bagaimana kita bisa yakin jika dia adalah anak kamu. Sementara kamu tidak bisa menjelaskan ciri-ciri anak kamu yang hilang?" Rida berusaha menjelaskan.


"Saya tidak tahu, setelah saya melahirkan keluarga saya membawanya pergi, saya tahu saya salah. Tapi saya tidak mau membuang nya, tapi mereka tetap melakukan itu karena merasa anak saya adalah aib keluarga."


"Baiklah, saya akan membantumu. Tapi kamu harus membayarnya, entah itu dengan cicilan uang, atau tenaga yang kamu punya."


"Baik." Sumi mengangguk, dia menyetujuinya.


***


Hampir satu bulan menunggu. Akhirnya Sumi mendapatkan kabar itu, kabar yang membuatnya merasa sedih.


Aneh bukan? Seharusnya kabar itu membuatnya bahagia, tapi kenyataan tidak seperti itu. Bayi itu di nyatakan memang putri Biologis nya, namun dengan lantang Alvaro meminta Sumi agar tetap diam.


Dia tidak boleh menemui putrinya, bahkan setelah hasil mengatakan dia adalah sosok yang begitu berhak.


"Jika memang harus. Maka biarkan anak itu yang mencarimu nanti. Jika tidak, jangan pernah untuk mendekat, jangan pernah menghancurkan keluarga baik yang sedang begitu bahagia saat ini!"


"Saya anggap uang untuk melakukan test itu lunas, tapi ingat, jangan membuat keluarga yang kini sedang mengurus anakmu menjadi sedih, karena keegoisan kamu yang ingin segera diakui, atau saya akan benar-benar menjauhkan dia dari jangkauan kamu, … selamanya!"


Dan setelah itu Sumi benar-benar tidak berani. Meski keinginannya begitu besar, ancaman dari Alvaro begitu membuatnya takut.


Awalnya dia merasa cukup, dengan setiap kabar yang Alvaro berikan. Namun semakin lama, rasa rindu itu tak dapat di tahan, sampai dia kembali menemui Alvaro dan memohon.


Beruntung, Alvaro mengizinkannya, walaupun dia hanya mampu menemui Ayumi sebagai seorang pembantu, bukan ibu kandung dari gadis itu. Setelah Alvaro meminta dia menemui Maria, wanita yang sedang mencari pekerja untuk putranya yang baru saja menikah.


Tentu saja itu Alvaro lakukan setelah mengatakan kepada Randy, dan pria itu menyetujuinya.


Lalu kini Sumi kembali memilih pergi, nyatanya bersama Ayumi lebih sulit. Terkadang dia ingin menjadi egois, dia ingin diakui, sementara dia tidak mempunyai izin dari pria yang mempunyai andil besar kepada putri kandungnya.


Ayumi yang terbuang, entah oleh Nurma, atau kedua orang tuanya. Atau bahkan mereka bekerja sama untuk melakukan itu.


"Aku tidak akan memaafkan kalian. Aku tidak ikhlas dengan hidup yang sudah aku alami karena keegoisan kalian." Sumi menangis, dengan posisi berbaring dan mata yang tertutup rapat.

__ADS_1


"Kuatlah Sumi. Setidaknya dia baik-baik saja, dia tumbuh besar dengan doamu. Dia dikelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya." Ucapnya lagi, dengan suara yang terdengar semakin lirih.


Dan setelah itu Sumi tertidur. Dengan kesedihan yang begitu mendalam.


__ADS_2