
Ayumi kembali menemui kedua sahabatnya, setelah masuk kedalam kamar dan berusaha membujuk pria itu meski belum berhasil, dan saat ini Randy masih asik mendiamkannya, dan meninggalkan Ayumi untuk membersihkan diri.
"Ay, maafkan gara-gara obrolan kita Pak Randy jadi marah." Kata Aira, dia terlihat takut dan sedikit tidak enak hati.
"Nggak. Ini gara-gara gue, maafin gue ya Ay! Maaf banget, nggak maksud kok, serius deh." Sambung Una, kemudian dia menoleh, hingga pandangannya dengan Aira saling beradu.
Ayumi hanya tersenyum.
"Itu mah biasa, memang dia agak ngambekan orangnya, jangan heran kan memang begitu waktu suka ketemu di kantor juga, hal sepele bakalan jadi hal serius kalo sama dia." Jelas Ayumi.
Perempuan itu terlihat begitu santai.
Aira segera berdiri, begitupun dengan Una. Mereka merapikan barang bawaan, memasukan ponsel dan menyampirkan tas selempang mereka pada tubuh masing-masing.
"Kita pulang ya, Ay. Sekali lagi maaf, duh jadi nggak enak sama Pak Randy, nanti kita nggak bisa kesini lagi deh, malu banget soalnya sampe bikin dia kesel begitu." Una cemberut.
"Nggak apa-apa, nanti juga biasa lagi. Biasalah, kalo cemburu memang begitu … emang rada susah kalo mau di bujuk, tapi nanti juga reda kok, tenang saja." Ayumi berusaha membuat kedua sahabatnya tenang.
"Maaf ya Ay!" Ucap Aira lagi.
Ayumi mengulum senyum, kemudian mengangguk.
"Mau pulang sekarang?"
Aira dan Una mengangguk bersamaan.
"Baik, ayo gue anter sampe depan."
Ayumi mengiring kedua sahabatnya, berjalan melewati ruang tengah yang terasa begitu hening. Lampu-lampu sudah dinyalakan, karena memang jam sudah menunjukan pukul tujuh malam.
Langit di luar sudah terlihat sudah redup, bahkan cenderung berwarna hitam pekat, saat cahaya matahari benar-benar sudah menghilang, digantikan cahaya bulan yang tak kalah begitu indah.
Mereka keluar dari dalam rumah, berjalan melewati garasi luas rumah yang kini Ayumi tempati.
"Sampe sini aja, Ay. Nanti kita pesen taksi online disini!" Aira berbalik badan, menatap Ayumi yang berjalan tepat di belakangnya.
"Ya sudah, hati-hati yah! Jangan kapok." Dia tersenyum.
"Aku juga pamit pulang ya, jaga Dedek Bayi baik-baik, sehat-sehat sampai brojol nanti." Una berjalan mendekat, lalu memeluk tubuh sahabatnya erat.
Begitupun dengan Aira, dia ikut mendekat dan memeluk tubuh Una juga Ayumi, sampai mereka saling merangkul, dan menjadi perhatian beberapa orang, termasuk pria yang sedang mengintip di balik gorden tipis kamarnya.
"Hati-hati yah, aku harus masuk sekarang. Kalau ada apa-apa boleh telepon gue aja, nggak usah sungkan. Kita susah sama-sama, jadi kalau kalian butuh bantuan bisa bilang sama gue, oke?" Ayumi menepuk-nepuk kedua bahu sahabatnya.
"Lo bikin gue terharu, Ay!" Kata Una.
"Doain kita juga yah, semoga di kehidupan jauh di depan nanti, kita sama-sama menemukan orang yang bakalan bahagiain kita." Balas Aira.
Ayumi mengangguk, lalu melepaskan rangkulannya, melepaskan Aira dan Una bersamaan, dan dua gadis itu mulai beranjak pergi, menyusuri jalanan komplek perumahan yang terlihat sedikit ramai, terdapat beberapa kendaraan berlalu lalang.
"Gue masuk yah!" Ayumi berteriak.
Una dan Aira menoleh, dia melambaikan tangan dengan senyum yang mereka perlihatkan sebagai tanda perpisahan pada pertemuan hari ini.
"Dahh, sampai bertemu di lain hari." Una berteriak.
"Papayo!" Ayumi ikut melambaikan tangan.
__ADS_1
"Papayo Ayumi Danendra." Mereka berteriak.
Setelah itu Ayumi segera kembali masuk kedalam rumah, tak lupa menutup pintu utama dengan sangat rapat, berjalan menuju kamar, hendak masuk namun panggilan Dini membuat Ayumi berhenti dan berbalik badan.
"Mau Bibi siapkan makan malam sekarang?"
"Nggg, … nanti kalau mau aku yang siapkan saja Bi. Bibi boleh istirahat, sepertinya Abang belum mau makan malam, masih ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda." Kata Ayumi berbohong.
"Ya sudah, Bibi di kamar Non. Kalau ada apa-apa panggil saja."
Ayumi tersenyum, dia meletakkan tangan kanannya di atas handle pintu kamar.
"Iya, Bi. Terimakasih."
Dini membalas senyumannya, kemudian dia kembali ke arah belakang dimana kamarnya berada.
Klek!
Ayumi menekan handle pintu itu, mendorongnya perlahan hingga terbuka lebar, setelahnya dia masuk, menutup pintu kamar kembali.
Dia melihat keberadaan Randy yang saat ini duduk di sofa kamar, melihat ke arah luar tanpa memperdulikan keberadaannya.
"Abang?" Panggil Ayumi, kakinya melangkah maju, mendekati suaminya yang baru saja selesai mandi.
Terlihat dari handuk yang masih tergeletak di atas sofa, juga dia yang belum berpakaian lengkap, dia hanya memakai jogger tanpa mengenakan baju, sampai tubuh bagian atasnya terekspos dengan sangat baik.
"Daddy? Masih kesal?" Ayumi bersimpuh di hadapan suaminya.
Namun Randy seolah tidak peduli, dia tetap melihat ke arah luar. Entah apa yang suaminya lihat, lampu taman, lampu jalanan, atau menghitung beberapa mobil yang melintas di depan rumah mereka.
Ayumi terus menatap wajah Randy. Ekspresi wajahnya datar, sampai hawa dingin tiba-tiba terasa, ketika Randy tak mau membuka suara sedikitpun, hanya karena membahas sesuatu yang memang tidak sengaja dia juga kedua sahabatnya bicarakan.
Dan berhasil, cubitan itu membuat Randy menoleh, menatap ke arahnya seraya memekik pelan karena merasa kesakitan.
"Apa? Mau marah? Ayo marah, itu lebih baik daripada hanya terdiam seperti ini!" Kata Ayumi.
Randy bungkam, kini pandangannya menunduk, menatap Ayumi yang sedang bersimpuh di hadapannya
"Kamu kesal hanya karena Una membahas itu? Padahal dia tidak sengaja, kita hanya sedang bercanda gurau kamu tahu? Tapi kamu merajuk sampai seperti ini!" Mata Ayumi bergerak-gerak, menelisik sorot mata tajam dengan bulu mata yang begitu lentik.
Randy masih diam.
"Baiklah." Ayumi bangkit. "Mungkin kamu butuh waktu untuk sendiri, atau bahkan mau mendiamkan aku semalaman ini, … silahkan saja, aku tidak tahu harus bagaimana sekarang."
Ayumi beranjak pergi, berjalan mendekati ranjang tidur. Dia naik, menyibak selimut dan menenggelamkan tubuhnya disana, meninggalkan Randy yang masih terdiam, tapi kali ini mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Hanya begitu caramu membujuk suamimu yang sedang merasa kesal?" Randy berujar, dia benar-benar terlihat kesal.
Pria itu bangkit, mendekati Ayumi dan naik ke atas tempat tidur yang sama, lalu ikut merebahkan diri di samping Ayumi.
"Hey!" Randy bereaksi saat tak mendapatkan tanggapan dari istrinya.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku peluk kamu tidak mau, aku ajak ngomong tidak mau menjawab, aku cium menghindar!" Ucap Ayumi santai.
Randy diam lagi, menatap Ayumi dengan ekspresi yang masih datar.
"Atau kamu tidak suka aku membawa Una juga Aira? Sementara mereka adalah teman-teman yang selalu membantuku saat aku susah dulu?"
__ADS_1
"Bukan itu yang menjadi masalahnya."
"Ya. Karena bahasan tentang Bang Nior sama Ka Bianca? Lalu aku harus apa?"
"Tidak ada." Balas Randy.
"Terus kenapa masih kesal seperti ini?" Suara Ayumi terdengar begitu lembut.
Dia menggerakkan tubuh, bergeser lebih mendekatkan diri pada suaminya, kemudian tersenyum. Saat merasa pertahanan Randy mulai runtuh, moodnya memang terlihat sedang buruk, tapi dia tentu saja tidak bisa saat Ayumi ikut mendiamkannya, sampai Randy memilih mendekat saat Ayumi hendak menjauh.
"Mereka hanya menjelaskan hal-hal yang menurut mereka benar. Kami memang saat di jodohkan, aku juga sempat merasa nyaman, tapi tidak lebih dari itu, Bang Nior mempunyai wanita yang tidak bisa dia gantikan posisi di dalam hatinya. Lalu bagaimana dengan suamiku ini? Bahkan kamu melakukan hal lebih dengan para wanita di luar sana? Mereka bahkan memiliki tubuhmu lebih dulu dibandingkan aku! Apa kamu pikir aku tidak marah? Aku tidak kesal?." Ayumi menatap Randy yang terus diam mendengarkan.
"Aku marah, aku kesal. Apalagi saat membayangkan betapa bahagianya kamu dengan wanita itu …"
"Stop!" Randy membungkam dengan telapak tangannya. "Jangan katakan lagi, hatiku rasanya sangat sesak."
Ayumi menepis tangan suaminya, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ini kenapa? Mendengar Una mengatakan itu, hatimu sesak, mendengarkan aku membahas masa lalumu juga kamu bilang hal yang sama."
"Karena aku akan merasa sangat bersalah. Aku melakukan hal buruk sebelum menikahi kamu, tapi aku mendapatkan gadis versi terbaik di dalam hidupku."
Randy semakin mendekatkan diri, lalu memeluk pinggang istrinya erat, menempelkan pipi pada dada Ayumi. Mata Randy terpejam, merasakan debaran yang terdengar begitu teratur.
"Aku mencintaimu, kamu mencintai kalian. Hanya saja aku sedikit tidak rela jika kamu pernah dekat bersama pria lain." Ucap Randy.
"Aku pun sama. Aku mencintai Abang, aku juga nggak suka Dokter Aleesa terus menerus ada di dekat Abang, aku nggak tau apa yang akan dia lakukan setelah apa yang dia katakan beberapa waktu lalu … mungkin saja dia sedang merangkai sebuah rencana untuk kembali mendapatkan kamu. Karena menurutnya dia adalah wanita yang pantas dibandingkan …"
"Tidak. Aku hanya mencintaimu! Aku tidak mau perempuan lain." Randy menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ayumi tersenyum, tangannya bergerak menyentuh pipi suaminya, dan mengusap dengan sangat perlahan.
"Masih marah?" Tanya Ayumi sambil tersenyum.
Randy menggelengkan kepala.
"Masih kesal?"
Randy menggelengkan kepalanya lagi.
"Mau makan malam sekarang?"
Randy menarik diri, sedikit menjauhkan pandangannya agar dapat melihat wajah Ayumi dengan sangat jelas.
Perempuan itu tersenyum.
"Ayo kita makan."
Randy menyeringai.
"Aku lapar. Tapi sedang tidak ingin makan nasi sekarang." Suaranya terdengar begitu rendah.
"Maksudnya?" Kening Ayumi berkerut.
Randy melepaskan lilitan tangannya, bangkit dan segera mengungkung tubuh Ayumi.
"Aku ingin makan malam yang lain dulu, sebelum makan malam yang sesungguhnya.
__ADS_1
Randy segera membungkukan tubuh, mendekatkan wajah, dan meraih bibir istrinya, hingga saling terpaut dan merasai satu sama lain.