My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 147 (Kedatangan Valter)


__ADS_3

Wanita itu berdiri di ambang pintu, menatap wajah pria yang sudah 20 tahun lebih meninggalkannya bersama istri juga kedua orang tuanya.


"Aku membawa satu kabar untukmu!" Valter berbicara dalam bahasa Inggris.


Tatapan matanya terlihat memohon, sementara Sumi hanya memasang wajah datar, meski sesungguhnya dia cemas dan merasa sedikit takut.


"Neng? Ayo bicara. Sepertinya sudah saatnya kita menyelesaikan masalah ini, masalah yang tidak pernah terselesaikan."


"Saya merasa setiap urusan sudah selesai, Pak. Lalu untuk apa dia datang lagi? Menurut saya hanya percuma, dia datang kesini hanya membuang-buang uang."


Sumi menarik nafas sebanyak mungkin, menghembuskannya perlahan, lalu berjalan ke arah kursi rotan dimana para tamunya duduk, termasuk Valter sosok yang dulu sangat dia kenali, namun kini terasa begitu asing.


Tentu saja, 20 tahun bukan waktu yang sebentar. Di tambah masalah yang memang menjadi satu-satunya kenangan perpisahan yang begitu buruk.


"Was brauchen Sie? (Ada perlu apa?)" Sumi tanpa berbasa-basi.


Dia bertanya dalam bahasa Jerman.


"Begitukah caramu menyambut tamu jauh?" Valter menatap Sumi.


"Memangnya aku harus bagaimana? Aku bukan wanita terpuji sampai harus melakukan banyak hal baik. Aku tidak butuh pengakuan siapapun jika aku ini wanita baik-baik, jadi terima saja bagaimana sikapku sekarang." Balas Sumi sedikit angkuh.


Valter bungkam.


Gadis yang begitu lembut dengan senyum manisnya, kini berubah menjadi wanita angkuh, sampai-sampai Valter tidak bisa mengenali gadis yang sangat dia cintai, bahkan sampai saat ini.


"Pergilah! Aku sudah memaafkan kalian, tapi aku tidak mempunyai tempat disini. Jadi silahkan, … jika bisa tidak usah kembali, seperti halnya dulu. Kalian berbondong-bondong membuang anakku, kemudian pergi tanpa sebuah kabar bahkan sampai Ayah dan Ibu meninggal pun aku tidak tahu."


"Neng? Sabar dulu!" Wanita itu berusaha menenangkan Sumi yang terlihat sudah menggebu-gebu.


Memang Nur tidak mengerti setiap kata yang Sumi lontarkan, namun sorot matanya cukup membuat yakin jika Sumi memang sedang meluapkan amarahnya saat ini.


"Tidak Bu. Saya sudah bukan Sumi yang dulu, tidak ada tutur kata lembut, senyum ramah. Tidak ada lagi, karena itu semua membuat semua orang merendahkan aku, termasuk Ka Susi."


"Ya Ibu tahu, tapi coba tenang dulu."


Sumi menggelengkan kepalanya.


"Excuse me, the door is over there!" Sumi menatap pria asing itu.


"Not. Let me talk for a minute."


"Baik, katakanlah." Tegas Sumi.

__ADS_1


"Susi …"


"Ya kenapa dia? Aku sudah katakan jika aku sudah memaafkan kalian semua, hanya saja tidak ada lagi tempat disini."


"Aku belum selesai bicara!"


"Maka cepatlah. Aku tidak mempunyai waktu banyak saat ini."


"Susi, … dia sudah pergi satu bulan yang lalu, dia menyerah dengan kanker serviks yang di deritanya. Dan dia memberiku amanah untuk menyampaikan surat ini kepada adiknya."


Valter segera meletakan benda tersebut di atas meja.


Sumi terdiam, menatap benda itu dengan hati yang bergemuruh. Sebuah kabar yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Kali ini Sumi sudah benar-benar hidup sendiri, tidak usah membayangkan semua keluarganya sudah mati hanya karena rasa marah yang tak kunjung mereda, karena pada kenyataannya selain meninggalkan Sumi jauh ke Jerman, kini mereka benar-benar pergi ketempat yang paling jauh, saking jauhnya dia tidak akan pernah bisa menyusul meski menggunakan kendaraan canggih sekalipun, hanya kematian yang akan membawanya bertemu dengan orang-orang yang dia lihat 20 tahun silam.


Matanya terasa begitu panas, pangkal hidungnya terasa sangat sakit, dan satu bulir air mengalir membasahi pipi, terjatuh begitu saja tanpa aba-aba meski sudah sebisa mungkin Sumi tahan.


Sedetik kemudian Sumi terkekeh.


"Ah aku sungguh tidak peduli. Aku tidak peduli, sungguh aku tidak peduli!"


"Neng!?"


"Aku tidak peduli, Bu! Masa bodoh mau bagaimana juga."


"Ada banyak hal yang harus aku ceritakan, bahkan mungkin beberapa kebenaran benar-benar Susi tutupi, sampai kamu membenci aku juga kedua orang tuamu seperti ini. Bagiku tidak masalah, aku memang sangat pengecut, aku terima kemarahanmu, tapi aku mohon jangan membenci kedua orang tuamu, sudah banyak usaha yang dia lakukan, tapi kami tetap tidak berhasil." Ujar Valter.


Mendengar itu Sumi hanya diam.


"Pak, sepertinya saya harus kembali ke hotel." Valter menatap pria yang mengantarkannya sampai rumah Sumi.


"Saya antar."


Dua pria itu bangkit, kemudian beranjak pergi setelah berpamitan terlebih dulu. Begitupun dengan Nur, setelah merasa Sumi cukup tenang dia segera pamit undur diri.


Tinggallah Sumi sendiri, berusaha mempertahankan kekuatannya, diambang kehancuran.


Dia memang membenci semuanya yang menyangkut masa lalu kelam yang dirinya rasakan. Namun tidak ada keluarga yang merasa baik-baik saja jika keluarga lainnya meninggal dunia.


Dan hal yang kini menyerang pikirannya adalah isi surat yang sempat dia baca kemarin-kemarin, dimana Susu meminta untuk bertemu, karena penyakitnya yang terus menggerogoti. Bahkan di surat itu tertulis jika Susi memintanya untuk bertemu untuk yang terakhir kalinya sebelum dia benar-benar pergi.


Tangis Sumi pecah seketika. Hatinya benar-benar hancur, namun entah bagaimana kini dia harus bertahan.


Klek!!

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dengan sangat kencang. Munculah Ayumi dengan raut wajah paniknya.


"Mama?" Dia berlari, lalu memeluk tubuh rengkuh ibunya.


"Mereka sudah benar-benar pergi, Ay! Mereka pergi untuk selama-lamanya. Dan yang paling menyedihkan adalah, … pertemuan terakhir kami 20 tahun silam."


Wanita yang selalu terlihat kuat, tangguh dalam menghadapi segala ombak dan badai. Kini dia benar-benar terlihat rapuh, bahkan menangis di dalam pelukan putrinya sendiri.


Ayumi diam, mengusap punggung ibunya dan membiarkan dia menangis.


Untuk hal-hal tertentu memang Sumi yang menguatkannya. Dan kini giliran Ayumi yang harus menguatkan ibunya.


Bukankah mereka ditakdirkan untuk saling menguatkan. Tidak ada kejadian tanpa sebuah tujuan, takdir Tuhan sudah sangat benar, karena jika salah satunya tiada sejak dari dulu, maka tidak ada satupun yang bisa saling menguatkan seperti sekarang.


"Mereka mengirim surat lagi?" Tanya Ayumi saat melihat amplop berwarna coklat tergeletak di atas meja.


Sumi menggelengkan kepala.


"Ayahmu yang mengantarkannya langsung."


Deg!!


Ucapan itu membuat Ayumi mematung, terkejut bukan main.


"Om Valter kesini?"


"Ya, dan dia mengantarkan surat itu. Amanah terakhir yang Tantemu berikan." Sumi terus menangis tersedu-sedu.


Meluapkan rasa kecewanya. Tidak kepada siapapun, tapi kepada dirinya sendiri karena dia menjadi manusia yang sangat pendendam.


"Ya Tuhan, … bayangkan jika dendam ini tidak lebih besar dari rasa kasihku, mungkin kami sudah bertemu sebelum dia benar-benar pergi."


"Ada aku, Ma." Ayumi semakin mengeratkan pelukannya.


Sumi mendorong kedua pundak Ayumi, membuat mereka sedikit berjarak dan mampu menatap satu sama lain.


"Kamu benar. Tidak ada lagi alasan Mama untuk terus terpuruk, ada kamu yang Tuhan gantikan. Ada kamu yang sekarang selalu menjadi penguat Mama, terimakasih." Sumi tersenyum.


Namun itu membuat hati Ayumi tersentuh. Perasaannya yang begitu sensitif tak lagi mampu menahan kesedihannya.


Ayumi kembali memeluk Sumi, dan kedua wanita berbeda usia itu sama-sama menangis.


"Terimakasih sudah menerima Mama tanpa sebuah pengecualian. Terimakasih sudah membawa Mama ke dalam hidup yang lebih baik."

__ADS_1


Ayumi mengangguk.


"Dan terimakasih untuk selalu mendoakan aku walaupun Mama berada jauh, tidak dapat bersamaku sampai aku sebesar sekarang. Namun doa Mama membuat aku menjadi gadis yang kuat, dan kehidupan aku yang sekarang, … aku yakin ini dia dari Mama juga, doa dari Ibu dan Bapak."


__ADS_2