
Dunianya terasa berhenti berputar, darahnya berhenti mengalir, jantungnya terasa membeku, juga lidah yang tiba-tiba terasa kelu, seolah tak bisa lagi Sumi mengucapkan kalimat apapun setelah mendengar kabar jika kedua orang tuanya telah lama tiada. Belum lagi kabar Susi yang saat ini sedang berjuang, melawan ganasnya kanker serviks stadium lanjut, membuat Sumi tak mampu menggunakan pikirannya dengan benar.
Mata wanita itu mulai memerah, dan di detik berikutnya air mata Sumi terjatuh, membasahi pipinya dengan sangat deras.
"Dengan bahasa Indonesia yang tidak terlalu fasih, kami berusaha memahami setiap kata yang Valter ucapkan. Dia mencarimu, Susi meminta dia mencari saudara satu-satunya yang dia miliki, dia menyadari kesalahannya sudah sangat lama, tapi sifat angkuh manusia membuatnya bungkam, dan membuat hubungan kalian benar-benar hancur seperti sekarang." Wanita yang akrab di sapa Nur itu berbicara pelan, seraya mengusap punggung tangan Sumi yang saat ini berada di dalam genggamannya.
Bola mata Sumi bergerak, menatap wanita yang sudah banyak menolongnya lekat-lekat. Betapa banyak rasa sakit yang keluarnya torehkan, tapi ada satu keluarga yang sangat berbaik hati, mereka memang tidak mengulurkan tangan secara langsung, namun jika Sumi berada dalam kesulitan, maka merekalah yang memberikan segudang bantuan tanpa sebuah syarat.
"Apa ini adil, Bu? Mereka meninggalkan saya, membuang saya, membuang anak saya. Dan setelah seperti ini, dia meminta ku untuk menemuinya? Apa mereka mempunyai akal? Apa mereka tidak malu?"
Suara Sumi benar-benar bergetar, segumpal daging yang terkurung diantara tulang rusuknya terasa akan meledak bersama amarah yang sudah wanita itu simpan sangat lama.
"Dengar. Ibu tidak sedang membenarkan perbuatan mereka, tidak juga sedang mengajarimu. Hanya saja, akan lebih baik jika hatimu berdamai, memaafkan Susi juga mendiang kedua orang tua mu." Nur menatap Sumi lekat-lekat, seolah sedang berusaha meraih hati nurani wanita itu yang hampir tenggelam di dalam lautan amarah.
Namun Sumi segera menggelengkan kepalanya, dia menolak apa yang Nur sarankan.
"Ini tidak adil. Mereka berbuat sesuka hati, maka biarkan aku melakukan hal yang sama sekarang! Ibu tahu? Saya menemukan anak saya sudah dari 20 tahun yang lalu, tapi aku tidak bisa melakukan apapun, aku harus membiarkan anakku di besarkan oleh orang lain. Dan Ibu tahu penyebabnya apa? Mereka mengira aku yang sengaja membuangnya, dan kembali mencari hanya takut aku terjerat pidana, … jadi yang jahat sekarang siapa? Jika Susi menderita disana dan berjuang untuk kesembuhannya, maka aku sudah berjuang untuk hidupku sudah sejak lama."
"Mungkin Susi hanya ingin meminta maaf, sebelum ajal dia tiba." Tiba-tiba Nur berkata seperti itu.
Sumi menangis semakin kencang, perasaanya kini berada di sebuah persimpangan, hati kecilnya berteriak untuk mengalahkan segala ego, tapi amarahnya jelas berkobar seperti api yang terus di siram dengan bahan bakar, sampai Abi itu terus berkobar lebih besar berkali-kali lipat.
"Ibu tidak sedang mau memaksa. Tapi Ibu berjanji akan menyampaikan penjelasan Valter kepadamu. Mereka sebenarnya berusaha menemuimu setelah Susi memaksa pergi dan meninggalkanmu setelah membuang Bayi itu. Tapi ancaman Susi jelas membuat Valter juga Ayah Ibu mu tidak bisa berbuat apapun, sampai mereka sakit-sakitan, dan meninggal dunia dengan kurun waktu yang bisa di bilang dekat. Ibumu meninggal terlebih dulu, … tiga bulan setalahnya di susul Ayahmu. Valter datang untuk meminta maaf, tidak untuk membuat masalah baru, … ingat! Ibu tidak sedang membela mereka, tapu hanya sedang berusaha mengembalikan sosok Sumi Larasati yang dulu, gadis yang ceria, tidak pernah menutup diri dari dunia luar, apalagi menjadi seorang pendendam seperti sekarang."
Sumi tidak menjawab, ini cukup mengejutkan setelah lama dia tidak kembali ke desa yang menjadi tempat Sumi di lahirkan.
"Jangan terus seperti ini. Biarkan mereka mau berbicara apapun, … tapi jangan menjadi manusia yang sama, dengan jiwa yang berbeda. Ibu tahu Sumi itu siapa, warga kampung pun tahu gadis baik itu siapa, tapi hanya satu keburukan mereka menghakimi kamu, tapi tidak dengan kami. Ibu dan Bapak tidak peduli salah apa yang kamu lakukan, yang kami tahu kamu adalah manusia biasa, tempatnya salah. Mustahil jika manusia suci tanpa melakukan kesalahan apapun, kita semua pendosa, kembalilah menjadi Sumi yang kita kenal!"
"Dari dulu aku sudah harus mengalah untuk Ka Susi, bahkan sampai sekarang aku pun masih harus mengalah?"
"Bukan mengalah, hanya memaafkan mereka agar hidupmu merasa tenang. Jika mereka datang, maka temui dengan berani, jangan merasa takut karena kamu tidak mempunyai salah apapun kepada mereka."
Akhirnya Sumi mengangguk, ucapan Nur memang benar. Hidupnya tidak tenang, ada gambaran dimana dia harus menyusun sebuah rencana untuk membalas setiap kehidupan yang Sumi alami, tapi kembali lagi, ketenangan tidak datang setelah rasa sakit di balas lebih keji, namun rasa tenang itu akan datang jika hatinya benar-benar lapang, dan berusaha memaafkan semua kesalahan keluarganya.
"Minum dulu, lepaskan semua bebannya seperti air yang mengalir deras, biarkan kemarahan itu pergi bersama kenangan pahit yang sudah kamu alami."
Nur melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sumi, meraih gelas berisikan air teh hangat, dan memberikannya kepada Sumi.
Wanita itu menerimanya dengan segera, meminumnya perlahan-lahan, dengan perasaan yang mulai terasa tenang.
"Semoga kebenaran segera terbuka. Percayalah suatu saat nanti anak itu akan mencari keberadaan ibunya." Ucapnya kepada Sumi, dan kembali mengusap punggung wanita itu agar merasa semakin tenang.
***
Klek!!
Sumi menutup pintu rumahnya, menyandarkan punggung disana untuk beberapa saat, dengan mata terpejam dan debaran dada yang terus semakin meningkat.
__ADS_1
Dia menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali, dan setelah merasa sedikit lega, Sumi pun segera beranjak memasuki kamar setelah menekan beberapa stopkontak, sampai lampu-lampu di rumah kecilnya menyala.
Sumi duduk di tepi ranjang, meletakan tas di atas tempat tidur. Dia berusaha acuh dengan apa yang dia bawa sebelum benar-benar pulang, namun beberapa tulisan yang belum dia baca membuat rasa penasarannya terus meronta-ronta.
Akhirnya Sumi kalah dengan rasa penasarannya yang tinggi, wanita itu kembali menarik tasnya, dan membawa tiga surat yang belum sempat dia baca.
Satu surat Sumi buka. Dia terdiam dan membaca setiap tulisan tangan dalam bahasa Inggris.
Ungkapan setiap rasa penyesalan, penjelasan kenapa mereka pergi meninggalkannya begitu saja sendirian, juga kata maaf yang tak hentinya terbaca, bahkan sampai akhir kalimat.
"Aku memaafkan kalian! Tapi kumohon jangan pernah mengganggu lagi, aku sudah tenang bersama kasih sayang putriku yang kalian buang." Sumi menutup aurat tersebut.
Kemudian dia beralih pada surat lainnya.
Isinya hampir sama, hanya saja Valter lebih menjelaskan ke adaan Ayah dan Ibunya sebelum mereka meninggal. Juga Susi yang saat ini sedang berusaha sembuh dengan penyakit kanker yang terus menggerogoti tubuh.
"Es tut uns leid (maaf). Bahkan kata maaf lebih mendominasi surat yang kau tulis, Valter." Sumi terkekeh getir.
Bagaimana bisa, dengan gampangnya mereka memohon ampun, meminta maaf untuk kesalahan yang mereka lakukan. Tidak peduli mereka mengatakan jika mereka melakukan hanya karena permintaan Susi dan sebuah ancaman yang wanita itu lakukan, menurutnya Valter dan kedua orang tuanya sama saja. Sama-sama tidak mempunyai hati, begitu mudahnya mereka mempertimbangkan kehidupan dan rasa malu seseorang, lalu menyingkirkan Bayi nya yang tidak berdosa.
Sumi terkekeh lagi, namun dengan air mata yang kembali terjatuh hingga membasahi selembar kertas yang ada dalam genggamannya.
"Curang. Rasa sakit, hancur, cercaan dan makian orang lain, bahkan tak jarang sumpah serapah yang aku terima, lalu di balas maaf? itu sungguh curang, Valter! Seharusnya kalian lebih menderita dariku." Kata Sumi pelan.
Tiba-tiba saja ponselnya yang berada di dalam tas sana berdering kencang, menandakan seseorang tengah berusaha menghubunginya.
"Randy!" Kening Sumi berkerut.
Dia menggeser tombol hijau, dan segera mendekatkan benda pipih itu ke arah daun telinga.
"Iya, Den?" Sumi menyapa terlebih dulu, sambil mengusap sudut mata menggunakan punggung tangannya.
"Mama? Ini aku." Suara lembut itu terdengar.
Seketika hawa panas yang ada di dalam dadanya sirna, berubah menjadi rasa yang begitu sejuk.
"Mama?"
"Humm, … i-iya Nak? Ada apa?" Sumi menyunggingkan senyum, seolah Ayumi dapat melihatnya dari jarak yang cukup jauh.
Rasa kecewa, amarah yang tak berkesudahan, tiba-tiba hilang, dan penawarannya ternyata putrinya sendiri. Sosok yang dia inginkan sejak dari lama, dan Tuhan sudah sangat berbaik hati, mengembalikan apa yang seharunya menjadi milik wanita itu.
"Mama sehat? Sedang apa? Sudah makan, atau sudah mau tidur?" Ayumi mencerca Sumi dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
Sumi menghela nafasnya perlahan.
"Mama baru pulang dari rumah Bu Maria, ini baru mau mandi, mungkin nanti nunggu tukang nasi goreng lewat."
__ADS_1
"Mau aku orderkan disini?" Tanya Ayumi.
"Memangnya bisa?"
"Bisa, Mama mau apa?"
Sumi terdiam, dia terus tersenyum bahagia.
"Maa?"
"Apa saya, yang berkuah."
"Sup ig mau?"
"Boleh. Tapi, … apa tidak merepotkan?"
"Mama bercanda yah? Mana ada aku repot. Pakai nasi? Minumnya mau aku pesankan juga?"
"Tidak usah, nasi sama sup saja. Itu sudah sangat cukup."
"Baiklah, aku pesankan sekarang. Nggak tahu kenapa aku inget Mama, aku takut Mama tidak baik-baik saja disana." Ungkap Ayumi.
"Mama baik-baik saja, … oh ya, jangan lupa telepon Ibumu, dan berikan apa yang sudah kamu berikan kepada Mama, oke?"
Ayumi terdiam untuk beberapa saat, berusaha mencerna permintaan Sumi, saat dia sedikit tidak mengerti maksud dari wanita itu.
"Ay? Mama mau mandi dulu."
"Heummm, … baiklah! Besok aku mau kesana, aku rindu."
"Mama tunggu. Ingat! Jangan lupa telepon Ibumu, dan tawari juga sup iga."
"Iya, Ma."
"Baiklah, Mama putuskan sambungannya, ya?"
"Dah Mama …"
"Dah sayang, jangan lupa minum vitami dari Dokter yah, susu hamilnya juga, agar tidak mual dan muntah."
"Iya."
Dan setelah itu sambungan telepon terputus. Sumi meletakannya di atas tempat tidur, dengan senyum yang terus terlihat.
"Lihat! Dia mencintaiku Valter, … kau boleh pergi bersama istri dan keluarganya. Tapi jika nanti kamu kembali, dan meminta untuk menemui putriku, aku tidak akan mengizinkan, kalian tidak mempunyai hak apapun terhadapnya, dia Ayumi, dia hanya putriku."
Sumi merapihkan amplop-amplop tersebut kembali kedalam tas, bangkit dan segera beranjak pergi menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur bagian paling belakang rumahnya.
__ADS_1