My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 101 (Kecewa)


__ADS_3

"Uhuk, … uhuk … uhuk!" Ayumi terbatuk-batuk cukup kencang, membuat perempuan yang tengah tertidur pulas itu sedikit terganggu dengan rasa gatal di tenggorokannya.


Perlahan Ayumi membuka mata, menatap ruangan gelap, saat cahaya di luar rumah mulai meredup.


Hembusan angin dingin terus terasa menyapu kulit tangan juga wajahnya. Dia segera meraih remote yang terletak di atas nakas, menekan tombol 'off' kemudian mengubah posisinya menjadi duduk.


Ayumi menguap beberapa kali, mengucek kedua mata, yang kemudian segera turun dari atas tempat tidur sana, mendekati pintu untuk keluar dan menutupnya kembali.


Mata Ayumi memincing, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Dia berjalan mendekati dispenser, mengisi gelas dengan air hangat, saat tenggorokannya terasa begitu gatal dan sedikit menimbulkan rasa tidak nyaman. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sangat sensitif dengan hawa dingin, meskipun dia memakai selimut tebal sekalipun. Namun, itu tidak terjadi saat Randy terus mendekap tubuh mungilnya agar tetap hangat.


Samar-samar suara televisi menyala terdengar dari salah satu ruangan yang Maria jadikan sebagai kamar pribadinya.


Lalu Ayumi mengedarkan pandangan, mencari beberapa orang yang entah berada dimana, sampai suasana rumah itu terasa begitu hening.


"Sore-sore begini masih betah di luar!" Kata Ayumi sembari berjalan ke arah pintu taman belakang yang terlihat sedikit terbuka.


Suara Randy, Ali dan Tutih terdengar berbincang pelan.


Ayumi menarik pintu sampai benar-benar terbuka, menyembulkan kepala ke arah luar, menatap suami juga orang tuanya yang terlihat begitu serius.


Dia mulai menajamkan pendengaran.


"Kenapa kalian tidak memberitahu Ayumi? Sementara dia adalah orang yang paling berhak mengetahui ini, sebelum mengatakannya kepada kami!" Ucap Tutih dengan ekspresi wajah yang begitu serius.


"Mungkin Om Al mempunyai alasan tersendiri kenapa beliau belum mengatakannya. Terlebih aku pun masih bingung, bagaimana harus mengatakan soal tabrak lari yang pelakunya adalah aku sendiri. Randy takut Ayumi akan marah, Bu. Mungkin aku akan menyampaikannya satu-persatu." Randy menjelaskan ke khawatirannya.


"Ayumi akan memaafkan kamu, dia pasti mengerti jika kamu berkata jujur." Jelas Ali, lalu mengusap punggung menantunya agar merasa sedikit tenang.


Mereka berbicara dengan suara pelan, tapi Ayumi mampu mendengar itu dengan sangat jelas.


Ayumi merasakan dadanya bergemuruh. Matanya memanas, tubuh yang bergetar, bahkan dia hampir ambruk, namun sekuat tenaga Ayumi bertahan.


Berhak? Maksud mereka apa? Terus Abang pelaku tabrak lari? Apa mereka menyembunyikan segalanya? Pertama tentang keadaanku, lalu apa lagi sekarang.


Batin Ayumi berbicara.


Kemudian seseorang menepuk bahunya dari arah belakang, membuat dia membalikan badan untuk melihatnya.


"Lho! Kenapa Ayumi berdiri disini? Kenapa tidak bergabung dengan mereka?" Suara itu membuat Randy, Tutih dan Ali seketika menoleh.


Ayumi diam, dia menatap Maria lekat-lekat, dan setelah itu dia melihat kembali ke arah tiga manusia yang sudah berdiri dengan raut panik.


Bahkan wajah Randy terlihat merah padam, dia benar-benar terlihat begitu terkejut saat mendapati Ayumi berdiri di ambang pintu sana.


"Ay!?" Suara Randy memekik kencang.


Hatinya mencelos, dia segera berjalan cepat menghampiri Ayumi yang masih terdiam, berusaha mengerti setiap perkataan yang orang tua juga suaminya bicarakan.


"Kamu sudah bangun?" Dia tersenyum gugup.


Sementara Ayumi diam, menengadahkan pandangan untuk terus menatap wajah suaminya, menelisik netra indah, berusaha mencari suatu jawaban yang dia butuhkan.


"Emmm, … aku bisa jelaskan!" Randy memegangi pundak Ayumi.


"Berhak? Apa yang berhak aku dapatkan? Atau apa yang berhak aku ketahui? Sementara selama ini aku tidak pernah mengetahui apa-apa." Kata Ayumi kepada suaminya.


Randy mengulum senyum, dia meraih kedua tangan Ayumi lalu menggenggamnya.


"Kita bicara oke? Tapi usahakan dirimu tetap tenang."


Randy menatap wajah itu. Wajah memerah dengan sejuta tanda tanya dan kesedihan. Dia menatap manik Ayumi, menyelaminya dan dia kembali mendapatkan rasa kekecewaan.


Randy mulai takut.


"Rahasia kalian begitu banyak yah!?" Ujar Ayumi pelan.


Ali dan Tutih mulai mendekat, meski mereka pun terlihat sedikit ragu dan takut. Namun tidak ada pilihan lain untuk membantu menjelaskannya kepada Ayumi.


"Kita bicara dulu yah, ada alasan di setiap kenyataan yang kita tutupi dari kamu. Terlebih kondisi kamu yang baru saja pulih, dan membaik … kami tidak bisa sembarangan berbicara." Ali mendekati putrinya.


Ayumi hanya terdiam, dia seperti orang linglung yang hanya terus memandang lawan bicaranya dengan tatapan kosong.


"Mari kita bicarakan sekarang, semuanya. Sampai tidak ada lagi yang kami tutupi dari dirimu! Tapi berjanjilah untuk tetap tenang, dan mengendalikan semua yang ada di dalam pikiranmu."

__ADS_1


Randy segera menarik Ayumi ke arah sofa, diikuti kedua orang tua Ayumi, juga Maria yang terlihat sedikit was-was, saat mulai mengerti jika tanpa sengaja menantunya mendengar sesuatu yang masih berusaha ditutup-tutupi.


Pria itu membiarkan Ayumi duduk di atas sofa, sementara dirinya bersimpuh, tepat di hadapan sang istri.


"Ay?" Pandangannya menengadah, menatapnya raut wajah tanpa ekspresi itu dengan hatinya berdebar-debar.


Ayumi tidak menjawab, perempuan itu hanya diam dengan setetes air mata yang terjatuh.


"Maafkan aku, aku tidak berniat menyembunyikan ini. Aku hanya mencari waktu yang tepat, agar apapun yang aku katakan nantinya, tidak akan merubah hubungan kita." Randy memohon.


"Kalian menyembunyikan banyak hal dariku!" Ucap Ayumi pelan.


Randy menggelengkan kepala.


"Tidak, aku tidak bermaksud. Begitupun dengan Bapak Ibu, dan Om Al. Sudah aku jelaskan aku hanya mencari waktu yang tepat."


Pandangan Ayumi yang sedari tadi lurus kedepan, kini mulai menunduk, menatap wajah suaminya yang terus bersimpuh penuh permohonan.


"Om Al?"


Randy mengangguk lagi, kemudian mengalihkan pandangan kepada para orang tua yang terus berdiri memperhatikan.


"Biarkan kami menjelaskan satu-persatu." Ali membuka suara, dia duduk tepat di hadapan Ayumi, di ikuti Tutih juga Maria setelahnya.


Ayumi diam. Isi kepalanya terasa berputar-putar, mencoba mengerti dengan keadaannya saat ini.


Ali mulai menjelaskan. Bagaimana awalnya Randy bisa berkata jujur tentang peristiwa di masa lalu yang menyebabkan kaki kirinya patah. Kemudian setelah itu Ali mulai mengatakan tentang beberapa hari yang lalu, dimana Alvaro memberitahukan suatu rahasia yang lebih besar lagi.


"Kalian menyembunyikan semuanya dariku." Suara Ayumi terdengar lirih.


"Bukan begitu. Aku tidak bermaksud!" Randy segera meraih pinggang Ayumi, lalu memeluknya erat.


"Maafkan aku, … untuk kejadian yang kamu alami, dan tentang Bu Sumi yang masih kami sembunyikan, maafkan aku, kumohon jangan marah!"


"Masalahnya bukan itu. Tapi kenapa kalian tidak berusaha jujur dari awal, aku tidak akan marah, aku tidak akan mempermasalahkan ini karena memang keadaannya sudah berbeda … tapi kenapa kalian menyembunyikan ini bersama-sama? Kenapa Bapak dan Ibu tidak mencoba mengatakan ini pelan-pelan."


Ayumi merasa hatinya begitu sakit. Dia sangat kecewa, sedih dan ingin menangis. Namun dia tidak bisa, entah kenapa, tapi Ayumi benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.


"Kita hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Nak." Maria mendekat, beralih duduk tepat di samping Ayumi, lalu mengusap punggung menantunya pelan.


"Aku bingung. Kenapa Om Al justru mengetahui semuanya lebih awal, dia yang menyampaikan semuanya kepala kalian, tapi tidak mau memberikan ini kepada aku!"


"Karena kamu berkata tidak pernah mau mengetahui dari mana kamu berasal. Dan Om Al memilih untuk menutup mulutnya, dia hanya mengatakan ini kepada kami, agar kamu tidak terlalu terkejut dengan kehadiran Bu Sumi di rumah kita."


"Sebenarnya kamu ini siapa?" Ayumi menatap wajah suaminya lekat-lekat.


Kening Randy mengkerut, dia terlihat sedikit bingung dengan pertanyaan itu.


"Abang itu suami aku. Tapi bisa-bisanya Abang bersekongkol dan menutupi semuanya, mungkin kalau Abang langsung jujur, aku tidak akan merasa sekecewa ini … aku benar-benar merasa tidak berarti sekarang, yang aku dengar sekarang hanya sebagian, entah rahasia besar apa kedepannya yang akan kembali terbuka."


Mereka semua diam, membiarkan Ayumi mengungkapkan kekesalan di hatinya.


"Apa kamu mempunyai anak sebelum kita menikah?" Dan pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Ayumi.


Membuat Randy membelalakan mata.


"Ay …"


"Itu sudah bukan rahasia lagi. Kamu meniduri banyak perempuan, dan itu tidak menutup kemungkinan jika kalian pasti memiliki keturunan, mau sengaja ataupun tidak." Hatinya terasa semakin di remas, membuat dadanya terasa begitu sesak.


"Aku tidak berbuat sejauh itu." Randy mengelak.


"Tapi buktinya apa? Pikiranku sudah benar-benar rusak. Aku tidak bisa mempercayai siapapun sekarang, terlalu banyak kebohongan di keluarga kita."


"Ayumi. Tidak begitu maksud Ibu dan Bapak!" Tutih yang duduk di samping Ali mulai berderai air mata.


"Lalu apa? Ibu, Bapak, Abang, Om Al. Kalian semua …" Dia tidak melanjutkan kata-katanya, Ayumi benar-benar merasa kecewa.


Akhirnya Ayumi menangis. Betapa dunia mempercundanginya dengan sedemikian rupa. Dia merasa tidak pernah beruntung dalam hal apapun.


Serpihan ingatan di masa lalu kembali berputar di dalam otaknya. Bagaimana dia yang mengalami sebuah kecelakaan sampai membuat hidupnya sedikit kesusahan, omongan-omongan orang-orang terdekat, yang selalu merutukinya dengan sebutan anak pembawa sial, yang hanya mampu membuat hidup kedua orang tuanya dalam kesulitan, belum lagi Amar yang selalu meneriakinya sebagai seorang anak pungut dari kedua orang tuanya.


Awalnya Ayumi merasa setiap ucapan itu bohong, dan dia tidak mau peduli, walau tidak bisa di pungkiri rasa sakit hati itu benar adanya.

__ADS_1


Kemudian kejadian itu kembali membawanya pada ingatan, dimana dia membaca sebuah kisah yang begitu sama dengan kisah hidup Sumi. Awalnya Ayumi hanya mengira itu sebuah kebetulan dari beberapa persamaan.


Namun, setelah apa yang di dengarnya saat ini, dia mulai menghubungkan setiap ingatan yang dia miliki.


Dari Sumi yang hanya hidup sebatang kara, tidak pernah menikah, dan mempunyai saudara yang jauh di Jerman sana. Lalu dia mengingat sosok Laras, yang begitu memiliki kesamaan dengan Sumi.


"Jerman, tidak menikah, … dan aku …" Ayumi menatap mata berkaca-kaca milik suaminya.


"Aku memang anak pembawa sial!" Dia tertawa getir.


"Aku anak pembawa sial, makanya aku di buang." Ayumi terus tertawa, dengan air mata yang terus bercucuran.


"Ay!" Randy meraup wajah istrinya.


"Apa? Aku memang begitu. Aku dibuang karena aku anak hasil Zinah, Ibuku melakukannya dengan suami Kakanya sendiri."


Dia terus tertawa.


Ya Ayumi sedang menertawakan kisah hidupnya yang begitu rumit.


"Itu hanya kisah, jangan terlalu dipercaya."


"Maafkan Ibu sayang." Tutih bangkit, dia berniat mendekat.


Namun Ayumi mengacungkan satu jarinya, meminta Tutih berhenti.


"Jangan!" Ayumi berteriak.


Maria segera berlari mencari air minum. Keadaannya mulai tak terkendali, dan dia harus membantu menenangkan Ayumi.


"Ah seharusnya kamu juga segera membuangku! Atau hidup kamu juga akan sangat sial." Ayumi memukul-mukul dada Randy yang terus berusaha menenangkan.


"Nak!" Ali mendekat.


"Jangan!" Perempuan itu juga melarang ayahnya untuk mendekat.


"Berhentilah Ayumi. Kendalikan pikiranmu." Randy berusaha memeluk Ayumi.


"Jangan terlalu keras, biarkan Ayumi meluapkan rasa kecewanya." Maria datang, mendorong tubuh Randy lalu memberikan air minum kemasan kepada menantunya.


"Bapak dan Ibu sebaiknya tenangkan diri dulu, Ayumi biar saya yang tangani, setelah sama-sama tenang maka sebaiknya kita tidak membahas apapun lagi, kecuali Ayumi yang meminta." Jelas Maria kepada besannya.


"Minum dulu, jangan seperti ini oke?" Maria tersenyum.


"Ayo minum, sedikit saja tidak apa-apa." Ucap Maria lagi saat Ayumi tak merespon apapun selain menangis.


"Kalian jahat!"


"Ya, Ibu tahu Ibu jahat, … maaf yah!." Dia ikut menyalahkan dirinya sendiri.


Maria berusaha tenang, walaupun sebenarnya dia juga merasa takut akan ditolak, seperti Ayumi menolak Randy juga kedua orang tuanya.


Ayumi meraih botol air minum yang Maria berikan, meneguknya sedikit dan kembali menangis.


"Kita istirahat lagi yah, ayo Ibu akan menemanimu."


Ayumi mengangguk, dia segera bangkit, beranjak pergi memasuki kamar Maria, meninggalkan Randy yang saat ini terlihat sedikit berantakan.


Randy merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi seseorang.


"Om sedang sibuk? Sepertinya kita harus berbicara serius." Kata Randy, begitu sambungan teleponnya terhubung.


" …. "


"Tadi kami berbicara mengenai Om, yang mengatakan sesuatu saat acara makan malam itu kepada Bu Tutih dan Pak Ali."


" …. "


"Tanpa sengaja Ayumi mendengar, dia terlihat begitu kecewa sampai-sampai menolak kami bertiga, dan dia hanya mau menurut kepada Ibu saya saat ini.


" …. "


"Baiklah saya kesana sekarang!"

__ADS_1


Setelah itu Randy menjauhkan ponselnya dari daun telinga, menatap layar saat sambungan telepon sudah terputus, kemudian berlari menghambur ke arah luar, setelah membawa kunci mobil untuk menemui Alvaro yang saat ini ada di rumahnya.


__ADS_2