
Ayumi berjalan gontai memasuki pintu rumahnya yang sudah Randy bukakan. Dia terus melenggang ke arah kamar dengan raut wajah sendu, melewati Sumi begitu saja yang terlihat baru saja selesai merapikan ruang tengah.
"Non Ayumi?" Sumi menatap Randy penuh tanya.
"Dia baik-baik saja, tadi baru selesai terapi, mungkin efeknya masih ada." Jelas Randy kepada Sumi.
"Mau saya ambilkan minum?"
Randy menggelengkan kepala.
"Tidak usah, Bu Sumi istirahat saja jika sudah selesai."
Setelah itu Randy segera beranjak menyusul Ayumi yang sudah masuk kedalam kamarnya terlebih dulu.
"Kamu mau sesuatu?" Tanya Randy lalu menutup pintu kamarnya.
Ayumi menggelengkan kepala, dia naik ke atas tempat tidur, berbaring dan menarik selimutnya sampai menutupi kepala. Disusul Randy, yang segera duduk di tepi ranjang, ikut berbaring, dan memeluk tubuh Ayumi dari arah belakang.
"Masih mau menangis?" Randy bertanya dengan suara yang terdengar begitu lembut.
Ayumi menggelengkan kepala.
"Jika memang mau, maka menangislah, jangan dipendam, tidak baik untuk dirimu sendiri. Ingat kata Dokter, kamu harus mulai terbiasa berbagi cerita, karena tidak semuanya bisa kamu pendam sendirian." Ucap Randy seraya merebahkan kepalanya di atas kepala Ayumi.
Perempuan itu menyingkap selimutnya, kembali memperlihatkan wajah yang sempat disembunyikan.
"Abang?" Perempuan itu memannggil.
"Iya?"
"Kok tiba-tiba aku kangen Bang Amar yah!" Suaranya terdengar pelan, namun Randy masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Telepon saja Ibu, tanyakan dia." Dia memberi saran.
Ayumi menjawab gelengan kepala.
"Kayaknya aku harus minta maaf, aku memang sudah merebut kasih sayang Bapak dan Ibu. Sampai mereka mengacuhkan Bang Amar." Pandangan Ayumi menatap lurus kedepan, dimana dinding kamar berwarna putih terbentang.
Randy mendengarkan.
"Dulu masih baik sama aku. Tapi setelah aku kecelakaan, kaki kiri aku patah, terus sesak nafas aku kambuh-kambuhan, terus Bapak, dan Ibu menumpahkan semua perhatiannya sama aku, … disana Bang Amara mulai nggak suka sama aku, dia pikir aku yang membuat Ibu dan Bapak menjadi pilih kasih." Jelas Ayumi.
Dahi Randy berkerut, dia bangkit untuk mengubah posisinya menjadi duduk, lalu menatap wajah istrinya lekat-lekat. Betapa terkejutnya dia saat mendengar penuturan terakhir Ayumi.
Apa aku lupa, atau memang Ayumi tidak memberitahu tentang hal ini?
__ADS_1
Batinnya bertanya-tanya.
"Kaki kirinya kenapa, tadi?" Randy menyingkap selimut, lalu menatap kaki sebelah kiri Ayumi.
"Tulangnya patah, … di bagian pergelangannya." Sahut Ayumi dengan ekspresi wajah biasa saja.
"Patah!?" Pria itu hampir berteriak, dengan mata membulat sempurna.
Ayumi ikut bangkit, dia duduk bersandar pada ranjang dibelakangnya, sembari menatap Randy bingung.
"Hu'um, memangnya aku belum bilang yah? Perasaan udah deh." Ayumi tampak berpikir.
"How?" Randy masih tidak percaya.
"Apaan sih? Kok kamu kaya kaget banget gitu!" Ayumi tertawa pelan.
Randy mengatupkan mulutnya, lagi-lagi dia melihat kaki Ayumi, bahkan dia merangsek lebih mendekat untuk memperjelas. Matanya dia buka selebar mungkin, membungkuk, dan melihat kaki kiri Ayumi dari jarak yang sangat dekat.
Tidak ada ciri-ciri yang aneh, bahkan bekas goresan saja tidak ada, kulitnya yang mulus seolah memperlihatkan jika Ayumi tidak pernah cedera separah itu.
"Abang, … ish!" Ayumi mendorong bahu suaminya agar menjauh dari kaki sebelah kiri sana.
"Kaki kamu baik-baik saja!"
"Iya sekarang sudah sembuh, hanya akan terasa ngilu jika aku jalan jauh, dan berdiri terlalu lama." Dia menjelaskan. "Ya tidak separah pas aku kecelakaanlah, kata Bapak kepala aku juga bocor, mengeluarkan banyak darah, belum lagi tangan lecet-lecet, sama lebam di perut samping kiri."
"T-tapi! Kenapa tidak bilang? Setidaknya aku bisa lebih hati-hati jika sedang, …"
Ayumi tersenyum, mencondongkan tubuh, lalu membekap mulut Randy menggunakan telapak tangannya.
Perempuan itu terkekeh.
"Stop! Kita sedang bahas Bang Amar sama kaki aku yang patah. Kenapa ujung-ujungnya kesana." Ayumi merasa malu.
Randy menepis pekan tangan Ayumi.
"Aku tidak bermaksud ke arah sana, … hanya saja aku takut menyakitimu. Karena jika kita sedang melakukannya, kita sama-sama tidak pernah menyadari perbuatan apa yang kita lakukan, dan akan tersadar jika kita sudah menuntaskannya."
Ayumi menghela nafas, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, dan setelah itu kembali berbaring, di ikuti Randy yang ikut bergabung masuk kedalam selimut yang istrinya pakai.
"Ay? Kapan kecelakaan itu terjadi? Apa kamu ingat?" Randy menyentuh perut Ayumi, menariknya sampai perempuan yang kini tengah membelakanginya menempel sempurna.
"Aku ngantuk." Jawabnya pelan dengan mata yang sudah terpejam.
"Ay? Jawab dulu." Randy terlihat sedikit mengingat sesuatu, dengan raut wajah yang terlihat gelisah.
__ADS_1
"Memangnya mau apa? Kamu mau hajar yang nabrak aku? Udah lewat sayang. Sudah sepuluh tahun yang lalu, … biarin ajalah, orang kata Bapak sama Ibu, pelaku tabrak larinya juga kabur setelah kejadian, kalau Abang mau cari sekarang, kaya percuma, toh akunya juga sudah sembuh."
Ayumi menjelaskan, membuat Randy terdiam seribu bahasa, seraya mengingat sesuatu, kejadian yang hampir saja dia lupakan, setelah hidup bersama Ayumi.
Apa kejadiannya saat hujan? Kamu mau menyebrang?
Batin Randy berbicara.
Ayumi bergerak, berbalik arah untuk memeluk tubuh suaminya.
"Waktu itu aku mau pulang, hujan rintik-rintik, pas mau nyebrang ada mobil ngebuttttt …. Banget! Aku nggak bisa menghindar, datangnya juga dari belokan, ya terjadi deh, mobil itu menabrak aku, akunya terbang tinggi jauh, udah itu lupa." Ayumi terus tersenyum.
Deg!!
Tubuh Randy seketika menegang, bak dihantam sesuatu yang sangat besar, sampai tidak bisa membuatnya bereaksi apapun.
Bagaimana bisa dia menjelaskan kecelakaan itu dengan sebuah senyuman menyejukan seperti ini? Apa dia berusaha membuatku tenang, saat melihat kini dia sudah baik-baik saja.
Ayumi menengadahkan pandangan, dia menatap Randy lalu tersenyum, sebelum perempuan itu menciumnya singkat.
"Pelakunya nggak usah dicari, nggak bakalan ketemu. Ya walaupun kelakuannya membuat Bapak dan Ibu susah karena harus meminjam banyak uang, belum lagi tali persaudaraan yang putus hanya karena masalah uang pinjaman yang tidak seberapa, … tapi aku ikhlas, jalan hidup kita sudah ada yang atur. Celaka, jodoh, rezeki, maut sudah Tuhan tentukan, toh hutang sama rentenir juga udah mulai lunas, jadi kita aman sekarang."
"Ay, … aku …"
"Sudah, ayo tidur."
"Tapi, …"
Cup!
Ayumi menciumnya lagi, sampai Randy benar-benar hanya diam menatap wajah cantik, dengan mata sayu dan bibir yang tersenyum tipis.
"Tidur sayang." Dia mengusap pipinya.
Setelah itu Ayumi kembali memeluk Randy, menempelkan wajah di dada bidang yang selalu membuatnya terasa nyaman.
Sementara Randy masih mematung, mendapati kenyataan jika dirinyalah pelaku tabrak lari itu, hal yang tidak bisa dia lupakan bahkan sampai saat ini.
Jiwa mudanya yang menggebu-gebu, membuat dia berkendara ugal-ugalan, memacu pedal gas sampai mobil baru pemberian ibunya melaju dengan kecepatan sangat tinggi.
Nahas, setelah melewati tikungan yang tajam, dia tak bisa menghindari seorang gadis kecil yang hendak menyeberangi jalan.
Gadis dengan kisaran umur 11 tahun dengan seragam sekolah itu tersentak, berusaha menghentikan dengan melambaikan tangan, tapi Randy benar-benar tak dapat mengendalikan laju mobilnya sampai hantaman itu tak dapat dihindari.
Suara teriakan orang-orang yang histeris jelas terdengar, apalagi saat tubuh anak itu yang lempar dengan sangat jauh.
__ADS_1
Randy hendak turun dan menolong untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun masa mulai berkerumun, dia ketakutan dan memilih untuk pergi, memacu mobilnya lagi, agar tidak ada yang dapat mengejarnya.