My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 161 (Berbaikan)


__ADS_3

Dengan telaten Ayumi merapikan isi kulkas. Bahkan perempuan itu mengeluarkan semua isinya untuk dibersihkan terlebih dahulu, sebelum menyusun setiap makanan dengan jenisnya masing-masing.


Dini ikut membantu, dia menyusun belanjaan lain setelah Randy dan Ayumi pulang dengan membawa beberapa kantong plastik berukuran besar. Kakinya melangkah kesana dan kemari, menyimpan berbagai macam makanan ringan, dan setelahnya dia beranjak pergi ke ruang cuci, untuk menyimpan berbagai macam sabun disana.


Sementara Randy duduk di kursi meja makan memperhatikan istrinya yang tampak begitu serius.


"Butuh bantuan? Sepertinya kau mulai kelelahan sekarang?" Tukas Randy ketika pria itu beberapa kali melihat Ayumi mengusap keningnya yang berkeringat.


Terlebih dulu pria itu menyesap minuman kaleng yang dia ambil dari lemari pendingin berukuran kecil khusus minuman yang mengandung alkohol miliknya. Lalu berdiri dan berjalan mendekati Ayumi yang mulai menata setiap sayur juga bahan-bahan lainnya.


Ayumi menoleh.


"Boleh bantu susun minumannya disana?" Perempuan itu menunjuk sisi lain lemari pendingin. "Sudah aku lap sampai bersi, jadi tinggal di tata rapih." Katanya lagi.


"Baiklah Mommy!"


Randy membawa kantong berisikan minuman kemasan yang tadi Ayumi pilih. Dia membawanya mendekati chiller, kemudian menyusunnya disana. Jus kemasan kotak, susu dengan macam-macam rasa, dan masih banyak lagi minuman kaleng sari buah-buahan.


"Aku tidak ingat memasukan coklat sebanyak itu!" Kata Ayumi ketika dia menatap suaminya.


Randy melirik, kemudian tersenyum.


"Memang, … aku yang menambahkan!" Tukas Randy.


"Kenapa? Itu terlalu banyak, nanti aku makan coklat terus bagaimana?"


Ayumi memasukan stok daging terakhir kedalam freezer, kemudian segera menutupnya dan membasuh tangan memakai sabun.


"Kata orang coklat bisa membuat mood menjadi bagus. Jadi aku sediakan yang banyak, … tapi makannya juga harus tahu aturan, atau gigi kamu akan terasa sakit dan bolong perlahan-lahan." Jelas Randy.


Dia pun melakukan hal yang sama, menutup kulkas dan segera membasuh tangannya.


Mereka saling menatap, kemudian berbalas senyum satu sama lain. Randy mendekat, mengulurkan tangan sampai dia dapat meraih pinggang ramping istrinya, menarik Ayumi sampai mereka saling menempel dan tidak berjarak sedikit pun.


Wajah sembab, kelopak mata yang sedikit membengkak, juga hidung merah bekas tangisan Ayumi di taman tadi. Randy benar-benar membiarkan istrinya menangis dan menumpahkan isi hatinya tanpa menyuruh Ayumi untuk berhenti.


Lagi-lagi Randy tersenyum, karena dalam keadaan seperti itupun Ayumi masih terlihat sangatlah cantik.


Ayumi melihat ke arah lain, kemudian mendorong dada suaminya berniat untuk melepaskan diri.


"Abang ada Bi Dini! Tidak boleh seperti ini, … malu!" Cicit Ayumi dengan raut wajah yang terlihat mulai panik.


Randy tak bersuara, pria itu hanya tersenyum menyeringai, dan mulai membawa Ayumi masuk kedalam kamar.


Klek!


Satu tangan Randy menutup pintu kamarnya, tak lupa menggeser kunci. Sementara tangan satunya lagi terus memeluk pinggang Ayumi sampai perempuan itu tidak bisa pergi untuk menjauh.

__ADS_1


"Kamu mau apa?" Tanya Ayumi seraya menatap sorot mata Randy yang kini sudah berbeda.


Randy masih tidak menjawab, dia mendorong Ayumi sampai perempuan itu terjerembab ke atas tempat tidur. Berbaring terlentang menatap Randy yang kini begitu serius.


"Abang?!"


Randy membungkuk, mengungkung tubuh Ayumi dan berusaha mendekati bibir Ayumi yang tampak sangat menggoda.


Mata Ayumi terpejam kala hembusan nafas hangat Randy menyapu wajahnya. Sementara pria itu hanya tersenyum, dan segera meraup bibir sang istri untuk dia rasakan.


"Masih sore!" Ayumi menghentikan cumbuan suaminya, dan menatap Randy penuh permohonan.


"Tadi kamu tanya aku mau apa?" Randy berbisik tepat di daun telinga Ayumi.


Tubuh Ayumi menegang, jemarinya meremat pundak Randy, dengan mata yang kembali terpejam dan hembusan nafas yang terdengar semakin memburu.


"Aku mau kamu, … apa boleh?" Katanya, lalu menggigit daun telinga Ayumi sedikit kencang.


"Mmmhhhh!"


Sekuat tenaga Ayumi menahan suaranya. Mengingat jika ada orang lain di dalam rumah mereka, dan sangat tidak ramah jika Dini harus mendengar suara-suara menyeramkan bahkan saat masih sore hari seperti ini.


Randy menyeringai. Dia mulai melancarkan aksinya, memulai dengan mengusap perut, menelusupkan tangan kedalam pakaian yang istrinya kenakan, terus bergerak ke atas, dan berhenti ketika menemukan sesuatu yang masih dilindungi oleh penghalan.


"Masih sore!" Rintih Ayumi, suaranya terdengar memohon.


Randy berhenti. Menatap wajah Ayumi dari jarak yang sangat dekat, memperhatikannya dengan perasaan berdebar-debar, entah kenapa tapi itulah yang selalu Randy rasakan ketika menyentuh tubuh istrinya lebih dan lebih lagi.


"Masih sore, ada banyak hal yang bisa kita lakukan." Ayumi mengusap rahang tegas suaminya.


Randy tersenyum.


"Tidak boleh terlalu sering, Baby Tomato masih kecil, belum terbiasa jika harus menerima guncangan hebat terlalu sering." Ayumi mencoba memberi pengertian.


Namun tangan Randy di dalam sana tak berhenti, dia terus bermain-main disana setelah berhasil menyingkap pelingdung berenda yang Ayumi kenakan.


"Kemarin libur." Ucap Randy.


"Nghhhh, … ya tapi kemarin nya lagi kita sudah melakukan itu!" Tubuh Ayumi menggeliat.


"Oh ya? Aku tidak ingat." Suaranya terus terdengar semakin rendah, begitupun dengan tatapan mata tajamnya yang sudah terkadang kabut gairah.


Membuat Ayumi harus mempunyai ide lebih agar dapat melepaskan diri dari suaminya. Tentu saja dia takut terjadi sesuatu, karena memang Dokter menyarankan agar tidak terlalu sering berhubungan intim yang selalu suami istri lakukan.


Randy hendak kembali meraih bibir Ayumi, namun dia segera menoleh dan menghindarinya.


"Daddy! Nanti Baby nya sakit, bagaimana?"

__ADS_1


"Memangnya sangat berbahaya?"


Ayumi mengangguk.


"Perut aku kram setiap kali sudah melakukannya, dan aku takut itu akan lebih parah jika kamu terus melakukan itu."


"Tapi semalam kita tidak melakukan apapun."


"Tentu saja. Kita bertengkar waktu itu, … jadi sekarang istirahat saja yah!"


Randy memejamkan mata, kemudian menghela nafasnya perlahan.


"Nanti kalau Baby nya sudah besar, Daddy boleh melakukan setiap malam agar dapat membantu jalan lahir."


Ayumi menyentuh dada Randy, dan mengusapnya dengan sangat lembut, sembari memberikan senyuman yang begitu manis.


"Setiap malam?" Randy mengulangi ucapan istrinya dengan raut berbinar, namun sangat menggoda.


Ayumi mengangguk, lalu beralih menyentuh pipi suaminya.


"Jadi sekarang bersabarlah dulu, aku takut kegiatan kita akan mengganggu Baby di dalam sana."


"Baiklah-baiklah."


Randy segera menyingkir dari atas tubuh Ayumi, kemudian berbaring di sampingnya dan memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat, seolah takut jika Ayumi akan kembali pergi.


"Tidurlah, kita kurang tidur kemarin malam. Kepalaku bahkan terasa pusing dan berputar-putar." Gumam Randy.


Pria itu berbicara tepat di belakang tengkuk Ayumi.


"Baiklah, selamat tidur." Ayumi mengusap-usap punggung tangan Randy yang saat ini melilit di pinggangnya.


Cup!


"Aku mencintaimu, … aku mencintai kalian." Setelah mencium kepala Ayumi, dan mengucapkan kata-kata demikian, mata Randy mulai terpejam.


"Kita juga mencintaimu." Dia berbalik badan, membenamkan kepala di dada bidang Randy.


"Selamat tidur sayang." Ucap Ayumi seraya memejamkan mata.


Randy tidak menjawab lagi, sepertinya pria itu sudah mulai terlelap, terbukti dari hembusan nafasnya yang terdengar mulai teratur.


Matahari sudah benar-benar terbenam sempurna. Membuat suasana langit menjadi gelap, tergantikan dengan cahaya bulan yang sedikit redup. Kedua pasangan yang baru saja berbaikan itu terlelap saling berpelukan, di bawah langit-langit kamar yang temaram.


***


Saking maunya sampe lupa nyalain lampu :^)

__ADS_1


__ADS_2