My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 80 (Terapi)


__ADS_3

Sekitar pukul 14:00 siang hari.


Randy kembali ke rumahnya untuk menjemput sang istri, dan menemaninya menemui Dokter Psikiater nya pada hari ini.


Dia masuk melalui pintu dapur yang terbuka sangat lebar, berpapasan dengan Sumi yang hendak membuang sampah pada tempat yang sudah di siapkan di halaman depan.


"Den? Kok lewat sini?" Sumi terheran-heran.


"Biar nggak usah muter, soalnya mobil saya di parkiran disana." Dia menunjuk mobil kerjanya, Lexus abu-abu yang terparkir tidak jauh dari tempat saatnya berdiri.


Sumi mengangguk.


"Bu Sumi mau kemana?" Randy berbasa-basi, meski sudah jelas Sumi menenteng kantong sampah di tangan kirinya.


"Sampah di dapur sudah penuh, Bibi mau membuangnya ke depan."


"Bibi?" Randy mengerutkan keningnya.


Wanita itu mengangguk.


"Den Randy mau kopi? Nanti Bibi buatkan setelah membuang sampah ke depan."


Pria itu pun hanya mengangguk, lalu beranjak masuk kedalam rumah, yang langsung mendapati Ayumi tengah duduk di sofa ruang tengah, dengan ekspresi serius menatap tayangan di hadapannya.


Randy tersenyum, dia tak berniat menyapa.


"Dasar gila!" Perempuan itu tampak kesal, lalu memaki seorang pemeran perempuan yang menjadi salah satu pemain di dalam serial sana.


"Diselingkuhin kok nangis, … Adu mekanik dong, ah! Jangan lemah." Katanya lagi, sampai membuat Randy tertawa.


Ayumi tersentak, dia terkejut bukan main saat mendengar suara tawa suaminya, juga mendapati Randy yang berdiri tidak jauh darinya saat ini.


"Abang?" Dia menatap suaminya lekat-lekat, dengan mata berbinar yang terlihat begitu cantik, begitu indah.


Randy berjalan mendekat, lalu duduk tepat di samping Ayumi.


"Kapan pulang? Kok aku nggak denger? Terus kenapa masuknya lewat belakang?" Cercar Ayumi dengan banyak pertanyaan.


Membuat senyum di bibir Randy terus merekah.


"Apa tidak bosan? Setiap hari nontonnya drama Korea terus. Sesekali tontonlah drama lain, entah itu India, Turki, atau film-film romantis lainnya." Randy mengusap pipi istrinya, lalu menyingkirkan beberapa helai anak rambut, dan menyelipkannya ke arah belakang.


"Abang, … aku nanya malah nanya balik." Dia menarik hidung mancung Randy dengan perasaan gemas. "Lagian aku juga suka nonton yang lain, tapi sekarang memang kebetulan saja nonton Drakor, banyak film baru dan seru-seru." Katanya.


"Oh yah? Semenjak kita menikah kamu nontonnya Drama Korea terus."


"Iya, soalnya kalau aku nonton Hardin Scott takut oleng!"


Mereka berdua menoleh saat suara langkah kaki sangat jelas terdengar, menatap kedatangan Sumi, membawa satu cangkir yang tampak mengepulkan asap, juga wangi kopi yang begitu pekat.


"Den, kopi nya." Sumi meletakan di atas meja.


"Terimakasih." Ucap Randy kepada wanita tersebut, lalu tersenyum.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk, dan beralih menatap Ayumi kemudian bertanya;


"Non Ayumi mau saya buatkan teh manis lagi?"


"Tidak usah, Bi. Aku sudah minum terus dari tadi."


"Kalau begitu Bibi ke belakang lagi, tolong dipanggil jika membutuhkan sesuatu."


"Iya, Bi." Jawab Ayumi.


Dan setelah itu Sumi pergi.


Randy meraih cangkir berisikan kopi hitamnya, menyesap perlahan, lalu melirik Ayumi yang tampak tengah memperhatikan, dengan raut wajah sedikit aneh, bahkan sampai menahan senyum.


"Jangan menatapku seperti itu, Ayumi! Kamu ini tidak paham-paham yah, habis karena aku serang baru tahu kamu!" Bisik Randy sambil meletakan cangkir kembali ke atas meja.


Wajah Ayumi bersemu merah.


"Kok kamu ganteng banget yah, ini aku beneran istri kamu apa bukan sih? Berasa mimpi punya suami seganteng Bapak Randy Danendra!"


"Ay? Berhenti menggodaku, aku sedang tidak bisa berbuat apa-apa, … lampu merahnya sedang menyala, dan tidak memperbolehkan aku maju sebelum lampu hijau itu benar-benar menyala."


"Aku tidak menggoda. Kamu beneran ganteng, apalagi kalau kemejanya digulung sampai tatonya kelihatan, dasinya di lepas, kancing kemejanya kamu buka beberapa, … kayanya Abang yang lagi godain aku!" Dia tertawa kencang, sampai kepalanya mendongak ke arah belakang.


Randy menggelengkan kepala, lalu tersenyum penuh arti.


"Ya, aku sudah tidak ada kerjaan lagi, ngapain juga terus pakai dasi, gerah." Katanya.


"Apa seperti ini? Maksudku reaksi lain dari datang bulan selain sakit pinggang dan nyeri di bagian perut?" Randy bingung, namun penasaran.


"Nggak tahu, aku juga bingung kenapa bisa jadi seperti ini." Ayumi menyapu wajahnya.


"Baiklah, cepat bersiap-siap. Kita harus bertemu Dokter agar keadaanmu segera membaik." Dia mengalihkan pikirannya, atau dia tidak akan bisa menahan sesuatu yang mulai terasa pegal di bawah sana.


"Iya." Ayumi bangkit dari duduknya.


"Abang tidak mau mandi dulu?"


"Nanti saja, kalau mandi dulu nanti telat." Randy menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Oke deh, tunggu sebentar yah!"


***


"Ini luar biasa." Dokter pria itu berbicara kepada Randy.


"Maksud Dokter? Saya tidak mengerti."


"Keadaannya sudah sangat membaik, dia mampu mengatasi traumanya sekarang. Bahkan terapi tadi berjalan sangat lancar, … ya walaupun dia harus menangis, tapi itu bagus, dia mulai terbuka dengan rasa sakit yang selalu Ayumi pendam."


Randy mengangguk, lalu menoleh ke arah dimana Ayumi duduk setengah berbaring, dengan wajah sembab karena menangis saat Dokter melakukan terapi.


Perempuan itu diam, berusaha menenangkan diri, setelah beberapa waktu lalu menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Syukurlah kalau dia berhasil."


"Dukungan orang-orang disekitarnya sangat baik, dan itu bagus untuk pikirannya. Apalagi anda tadi bilang kalian sudah menikah, mungkin itu yang membuat Ayumi kuat, karena dia merasa mempunyai suaminya untuk dia jadikan tempat berkeluh-kesah, dan merasa tidak sendiri lagi."


Mendengar itu Randy pun merasa lega.


"Dok, apa saya boleh bertanya?"


Dokter pria itu mengangguk, dengan kedua sudut bibir yang tertarik membuat sebuah lengkungan.


"Ya, silahkan."


"Apa boleh, istri saya hamil? Maksud saya dengan obat-obatan yang istri saya konsumsi setiap hari, apa tidak berbahaya, untuk calon anak kami nanti?"


"Soal itu. Keadaan istri anda kan sudah sangat membaik, tentunya dosis obat yang saya resepkan juga lebih rendah, … jadi saya rasa itu tidak akan mengganggu, silahkan saja. Tapi ada baiknya jika nanti janinnya sudah tumbuh, konsultasi lagi kepada saya, juga kepada Dokter spesialis kandungan, tentunya."


Randy menghirup nafasnya dalam-dalam melalui hidung, lalu menghembuskan melalui mulut, kemudian menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, dan tersenyum dengan raut wajah berbinar.


Akhirnya rasa khawatir itu meluap, hilang setelah penjelasan Dokter di dengarnya dengan sangat jelas, bahwa mereka bisa segera merencanakan soal anak, janinnya tidak akan terganggu, menski Ayumi mengonsumsi obat antidepresan.


"Whuuuw!" Randy mengusap dadanya. "Rasanya sangat lega, Dok." Randy tersenyum penuh arti.


"Baiklah, ini resep obat untuk sekarang. Sampai bertemu bulan depan di terapi selanjutnya."


Randy meraih kertas yang Dokter itu berikan, lalu bangkit dan mengulurkan tangan, yang langsung diterima sampai keduanya berjabat tangan.


"Terimakasih banyak Dok, terimakasih."


"Sama-sama Pak Randy, awalnya saya bingung dengan anda, karena yang mengantar Ayumi beberapa Minggu kemarin bukan anda." Dokter itu terkekeh.


"Ya, kami baru menikah setelah itu."


"Berarti secara langsung anda adalah obat alami bagi Ayumi."


Randy mengangguk, dia segera berjalan menghampiri Ayumi.


"Sayang? Pulang sekarang?"


"Hemmm?"


"Kita pulang sekarang, tidak mungkin kamu terus disini." Randy tersenyum.


"Ah rasanya ngantuk sekali, kursinya nyaman." Suara Ayumi terdengar mendengung.


Dan ucapan itu membuat dua pria itu tertawa pelan.


Ayumi meraih tangan Randy, lalu bangkit saat pria itu menariknya.


"Bulan depan kita harus terapi lagi, Ayumi."


"Baik Dok, terimakasih untuk hari ini."


Setelah itu mereka berjalan menuju pintu, membukanya lalu keluar, dan mempersilahkan pasien selanjutnya untuk masuk.

__ADS_1


__ADS_2