My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 87 (Permen rasa Anggur)


__ADS_3

Ayumi meletakan sendok dan garpu, menggeser piring kotornya sedikit menjauh, mengambil tissue untuk membersihkan setiap sudut bibirnya, lalu berdiri dan berjalan ke arah dispenser untuk mengisi air di gelasnya yang sudah kosong.


"Satu jam lagi kita pergi!" Kata Randy kepada istrinya.


Ayumi meneguk habis air putih hangatnya, lalu meletakkan di atas dispenser sana, lalu kembali duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Randy.


"Hari ini kamu tidak kerja?"


"Hari ini aku mulai meminta cuti. Kita harus fitting baju, lihat hotel, sama bertemu orang-orang dekorasi." Jelas Randy.


"Kenapa kamu buru-buru sekali, santai sedikit kenapa?"


"Tidak bisa, orang-orang harus tahu kalau kita sudah menikah."


Kening Ayumi mengkerut.


"Bukannya sudah tahu?"


"Belum semua, ada beberapa orang yang masih menyangka aku masih lajang, begitu pun kepadamu, orang-orang pasti belum tahu kamu menikah, termasuk tetangga kost mu itu, … siapa yah namanya."


"Bang Gani!"


"Astaga, di sebut-sebut lagi!"


"Dih, bukannya tadi nanya namanya siapa."


"Ah aku hanya berbasa-basi, tapi kamu tetap menyebut nama pria lain di hadapanku!"


Ayumi menatap suaminya tidak percaya, menggelengkan kepalanya, dengan mata mendelik.


"Tidak usah memutar bola seperti itu, aku tidak takut."


"Dih!" 


"Kamu pagi-pagi ngajak berantem, yah!" Randy berujar.


Membuat mata Ayumi membelalak.


"Aku cuma jawab lho, kamunya aja yang aneh."


"Iya tapi seharusnya kamu mengerti, kalau aku tidak suka sama pria yang suka ngintip itu."


Ayumi menghela nafasnya kencang.


"Kenapa?" Randy tak mengalihkan pandangannya sama sekali.


Ayumi tidak menjawab.


"Bi! Ini meja makannya tolong di bersin yah." Panggil Ayumi dengan suara sedikit berteriak.


"Iya, Non." Sahuta itu terdengar begitu jelas.


Ayumi mendorong kursi meja makannya mundur, berdiri dan hendak pergi meninggalkan suaminya.


"Aku belum selesai berbicara."


"Nanti kita berantem."


"Mau kemana kamu?" Teriak Randy.


Dia menatap punggung Ayumi yang semakin jalan menjauh.


"Mau duduk di taman belakang, sambil mikirin Abang Gani!"


"Apa kamu bilang!" 


Randy langsung berdiri, berjalan ke arah wastafel, kemudian membersihkan tangannya dengan sabun dan air mengalir.


Di saat yang bersamaan Sumi muncul dari arah belakang, mendekati meja makan dan segera merapikan bekas sarapan pagi Ayumi juga Randy.


"Bu, nanti siang Ibu saya dan kedua orang tua Ayumi akan datang."


Sumi mengalihkan pandangan, menatap Randy dan menghentikan aktivitasnya.


"Tidak apa-apa, … mereka belum tahu."


"Apa ada sesuatu? Ayumi baik-baik saja kan?"


Randy menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya mengulas senyum tipis.


"Tidak ada apa-apa, mereka datang karena memang harus. Acara resepsi pernikahan kami sudah mendekati hari H. Jadi banyak yang harus dipersiapkan."


Sumi mengangguk.


"Kalau begitu saya izin pulang saja."


Kening Randy berkerut, dia terlihat kebingungan dengan raut wajah wanita di hadapannya.


"Pulang? Tidak mau menyaksikan anak Ibu berbahagia?" Randy berbisik.


"Saya takut terbawa suasana, melakukan hal-hal tidak terduga, dan Pak Al akan marah."


"Asal Bu Sumi mematuhi semua aturannya, maka tidak akan. Karena memang Ayumi yang meminta saat pertama kali dia tahu kebenarannya, … Ayumi hanya ingin tetap seperti dulu, dia tidak ingin bertemu dengan sosok yang pernah membuangnya."


Sumi menunduk.


"Terlebih keadaan mental Ayumi yang sedang tidak baik-baik saja. Tapi keadaannya kini sudah membaik, hanya saja itu bisa kambuh kapan saja." 


Randy terus berbicara pelan, berusaha agar istrinya tidak mendengar.

__ADS_1


Sumi mengangguk paham.


"Percayalah, pejuang Anxiety itu tidak mudah. Mereka tidak takut kepada siapapun, tapi mereka takut kepada pikirannya sendiri. Kami melakukan ini hanya menjaga agar Ayumi tak memikirkan apapun yang membuatnya kembali down, setelah dia memikirkan kenapa dia dibuang orang tuanya, … keadaan dia memburuk, dan saat ini kita hanya perlu menjaga, ada waktu dimana semua kebenaran akan dia ketahui, tapi bukan sekarang."


Sumi mengangguk lagi, sekilas dia mengangkat pandangan ke arah Randy, lalu mengusap kedua sudut matanya.


"Setidaknya dengan seperti ini Ayumi tidak menolak bukan? Bahkan dia sangat dekat sekarang?" Randy merasa sedikit tidak tega.


"Ah, … kamu benar, mungkin Ayumi tidak akan sedekat ini jika tahu saya Ibunya."


Randy mengangguk setuju.


"Ibu hanya perlu menjaga kepercayaan Om Al, agar semuanya berjalan seperti yang Bu Sumi inginkan."


"Iya."


"Baik kalau begitu saya siap-siap dulu, hari ini saya dan Ayumi harus menemui beberapa orang di luar."


Sumi mengangguk.


"Makan siang di luar?"


"Iya, … tapi Bu Sumi masak saja, siapa tau nanti mereka sampai dalam keadaan lapar."


Dan setelah mengatakan itu Randy berjalan ke arah pintu taman belakang yang terbuka. Tampaklah Ayumi sedang duduk santai di sofa teras, membaca sebuah buku yang hampir setiap saat ada di genggamannya.


"Buku apa sih? Sampe tiap jam kamu baca."


Ayumi menoleh.


" Aku pinjem buku Bi Sumi, ternyata dia suka baca juga kaya aku, … bukunya bagus!"


Ayumi tersenyum, lalu kembali menatap buku bacaan di hadapannya.


"Ayo ganti baju, kita harus berangkat sekarang!"


"Ganti baju?"


"Iya, tidak mungkin kamu pergi dengan pakaian seperti ini! Dress rumahan tanpa lengan, hanya sebuah tali kecil seperti ini? Membuat hampir semua tubuhmu terlihat."


Ayumi menundukan pandangan, melihat dirinya sendiri.


"Aku tidak mau semua orang melihat ini! Aku tidak suka." Randy berbisik, dia mendekat, lalu menarik tali kecil yang menempel di bahunya.


Ayumi menutup buku tersebut, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kecil yang tersedia.


"Ini Abang yang beli, baju aku belum masih di kost, mau aku ambil katanya nggak boleh, padahal aku mau pamitan sama …"


"Abang … Gani!" Sergah Randy, memotong ucapan istrinya dengan raut wajah tak suka.


"Dih, sama Bu Amel dong, … tapi sama yang lain juga harus pamit sih, sama Bang Gani juga, dia yang sering bantuin aku dulu, sebelum deket sama Abang."


"Kapan tamu bulanan mu berakhir?" Kemudian Randy berbisik.


"Sekarang sudah selesai, makanya tadi aku mandi pagi, … memangnya kenapa? Kok jadi bahas datang bulan!"


"Hemm, … nanti malam kamu aku hukum!" Katanya lagi dengan suara yang terdengar semakin pelan.


Namun mampu membuat tubuh Ayumi merinding.


"Emmm, …"


"Cepat ganti pakaiannya! Atau aku berubah pikiran."


"Ini masih siang, kenapa bahasannya, udah dua satu plus yah?"


Ayumi meraih buku yang Sumi pinjamkan, lalu berdiri dan lari ke arah dalam dengan sangat cepat.


Randy menggigit bibirnya, menahan senyum dengan perasaan yang terus berdebar-debar, kemudian bangkit, berjalan santai sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.


"Hanya sebuah kata 'Selesai' tapi sudah membuat jantungku berdebar, bahkan rasanya sudah mau meledak." Gumam Randy.


"Ternyata godaan sesudah menikah jutrus semakin sulit ditolak." Katanya lagi, lalu menekan handle pintu kamar, dan masuk.


Klek!


Trek!


Ayumi yang sedang memilah pakaian pun menoleh, saat mendengar Randy mengunci pintu kamar.


"Kok di kunci?" Ayumi gugup.


Kakinya perlahan mundur, saat Randy terus berjalan mendekat, dengan ekspresi wajah datar, namun terasa sangat menakutkan.


Mata tajam, berbulu mata lentik, dan bibir yang … astaga pikiranku!


Batin Ayumi berbicara.


"A-abang?" Ayumi memaksakan senyumnya. "Kenapa di kunci? Kita berangkat sekarang kan? K-kalau tidak nanti terlambat!" 


Nafas Ayumi memburu, dadanya naik turun dengan sangat cepat, saat punggungnya membentur dinding kamar, dan kedua tangan kekar itu mengurungnya.


Semakin mendekatkan wajah, lalu berbisik.


"Sepertinya kita harus melakukan sedikit pemanasan." 


Mereka memang sudah sangat sering melakukannya, tapi hal itu selalu membuat perasaan Ayumi berdebar-debar, juga merasakan hal lainnya, yang baru dia alami setelah menikah dengan pria di hadapannya.


Satu tangan Randy mulai meraih pinggang Ayumi, memeluknya erat sementara satu tangan lainnya tetap bertumpu pada dinding, menjaga agar wanita itu tak lagi dapat menghindar.

__ADS_1


Wajah Randy maju semakin dekat, membuat tangan Ayumi menahan dada kekar itu dengan sekuat tenang, meski susah tapi dia tetap berusaha, sampai akhirnya dia memilih untuk memejamkan mata, dan menoleh sampai Randy mencium pipinya.


"Oh, mau aku paksa yah!?" Bisik Randy tepat di daun telinga istrinya.


Ayumi tidak menjawab, dia hanya terus memejamkan mata.


Perempuan itu memekik kencang, saat tubuhnya tiba-tiba melayang di udara dengan gerakan cepat, membuat Ayumi secara refleks memeluk pundak Randy sangat erat.


"Abangh … jangan!" Dia menjerit, mencoba menghentikan Randy yang hendak melemparnya.


Terlambat, Ayumi kembali merasakan tubuhnya melayang, dan terjatuh diatas tempat tidur yang begitu empuk.


Brughh!!


Randy menyeringai, lalu merayap naik. Membuat Ayumi tertawa pelan karena merasa ketakutan. Perempuan itu bangkit, bergerak mundur kebelakang, sementara Randy langsung meraih pergelangan kakinya, dan menarik sampai tubuh Ayumi bergerak mendekat.


"Ini masih pagi, aku baru selesai mandi, … jangan buat aku mandi lagi nanti demam." Ayumi merengek.


Namun bagi Randy, itu tidak terdengar seperti sebuah permohonan, melainkan godaan yang semakin menjadi-jadi.


Randy menarik lepas kaos rumahan yang dikenakan nya, melemparkan begitu saja, lalu membungkuk untuk menempelkan kening mereka.


"Jangan!" Ayumi merengek lagi.


Seolah tuli, Randy tetap tidak berhenti, justru dia memulai pemanasan ya, dengan mengecup bibir ranum milik Ayumi beberapa kali.


Ayumi menggigit bibirnya kencang, berusaha menahan suara yang sebentar lagi mungkin akan terdengar, saat sentuhan Randy semakin liar dan menjadi-jadi.


"Mmmhhhh!"


Randy menegakkan tubuhnya, menyingkap dress itu, meraih ujung celana da**m, dan menariknya sampai terlepas.


Mata Ayumi semakin membulat.


"Abang jangan!"


Randy menggelengkan kepala, dia tak berhenti begitu saja, setelah melepaskan kain segitiga itu, dia beralih pada yang lainnya, sampai kini mereka berdua sama-sama polos.


Randy turun, membuka laci nakas, dan terlihat membawa sesuatu, sebelum dia kembali naik, dan memposisikan diri sebagaimana mestinya.


"Bukannya kamu mau ini? Aku belikan yang banyak, ada berbagai varian rasa, tapi hari ini aku memilih rasa yang kamu tunjuk pertama kali!" Randy memperlihatkan kotak berukuran kecil itu kepada istrinya.


"Anggur?"


Randy mengangguk.


"Di makan?"


Randy tidak menjawab, dia kembali membungku, dan memulai semua yang sempat terjeda.


Tangan Ayumi mulai bergerak nakal, mengusap setiap lekuk tubuh pria di atasnya. Sementara Randy tetap fokus pada apa yang dia sukai.


Dua bulatan kembar yang sangat indah.


Leguhan, geraman, bahkan tak jarang de***an kecil terdengar.


"Kamu sudah siap?" Randy berbisik, menatap Ayumi yang tampak memejamkan mata.


Randy membuka bungkusan kotak itu, mengeluarkan satu, dan memakainya dengan benar.


"Benar-benar wangi Anggur!" Kata Randy.


Sementara Ayumi memperhatikan dalam diam, dengan raut wajah yang terlihat bingung.


Randy mulai membuka paha Ayumi, menekuknya perlahan, dan memposisikan alat tempurnya dengan benar.


"Mmmhh!" Tubuh Ayumi membusung ke belakang, saat sesuatu miliknya terasa begitu penuh.


Randy tersenyum menyeringai, lalu menggerakan tubuhnya dengan perasaan gemas dan tidak sabar saat melihat ekspresi wanita di bawahnya.


Suara-suara erotis kegiatan keduanya mulai terdengar pelan, memenuhi ruangan itu pada hampir siang hari ini.


Tangan Ayumi bergerak-gerak, menggapai tubuh pria di atasnya, dengan wajah memerah dan ekspresi yang begitu menggoda.


Randy mengeratkan rahangnya, mencengkram kain sprei, sambil terus menggeram.


Tubuh Ayumi melengkung, meliuk-liuk tak tahu arah, dengan rintihan dan racauan yang terus terdengar.


"Sakit!"


Randy tidak menjawab, dia terus berpacu saat sesuatu di dalam tubuhnya hampir saja meledak.


"Abanghhh, … sakit!"


Tangannya menahan perut suaminya, namun dengan segera Randy tepis.


"Sebentar lagi!"


"Tapi sakit." Perempuan itu meringis, dan merintih.


Sementara Randy terus berpacu. Dia terlihat memejamkan mata, dengan kening yang berkerut kencang, saat pelepasan itu sudah benar-benar dia rasakan.


"Abanghhh!!" Ayumi menjerit kencang.


"Argghhh!" Randy melenguh, lalu ambruk di atas tubuh istrinya.


"Permennya bikin sakit." Suaranya mulai melemah.


Dan setelah itu hening, tidak ada suara selain nafas yang memburu, dan tersengal-sengal. 

__ADS_1


__ADS_2