
Empat tahun kemudian …
Ayumi mendorong gorden tebal kamarnya ke arah sudut, sampai cahaya temaram yang begitu indah terlihat begitu jelas. Langit kehijauan dengan semburat kekuningan terpampang dengan nyata, membuat seorang gadis kecil yang masih terlelap di atas tempat tidur mulai bergerak-gerak, dan mengerjapkan mata kala cahaya redup dari arah luar terasa mengganggunya.
"Mommy?" Suara menggemaskan itu terdengar memanggil.
Ayumi menoleh, lalu segera berjalan mendekati ranjang tidur, dan naik kesana dengan senyuman yang terus Ayumi berikan kepada Raizel.
"Selamat pagi sayang!" Ayumi mengusap wajah putrinya, menyingkirkan rambut-rambut panjang yang memang dibiarkan terurai. "Bangunlah, hari ini kita harus ambil formulir pendaftaran ke sekolahan." Perempuan itu berbicara dengan suara yang terdengar begitu lembut.
Dia merenggangkan tubuh kecilnya, lalu mengubah posisi berbaring menjadi setengah duduk seperti ibunya.
"Diantar Daddy?"
Wajah sembab khas bangun tidur itu menatap Ayumi dengan ekspresi yang begitu menggemaskan.
"Hemmm, … makanya kita harus cepat! Kita berangkat bareng Daddy!"
Tangannya bergerak, kemudian menyentuh pipi Raizel dengan kulit yang terasa begitu lembut.
"Daddy?" Raizel berteriak memanggil ayahnya.
"Daddy sedang di ruang Gym, kalau mau kita bisa mandi lebih dulu." Ayumi bangkit, menurunkan kedua kakinya, lalu merentangkan kedua tangan.
"Mau Daddy!" Pintanya.
"Baiklah, hanya sebentar, oke?" Gadis itu mengangguk.
Raizel tersenyum riang kemudian segera mendekat, dan menghambur ke dalam gendongan sang ibu. Keduanya mendekati pintu kamar yang memang terbuka lebar, dengan gadis kecil itu yang bergelayut seperti seekor koala yang sedang memeluk dahan pohon.
Klek!!
Ayumi menekan handle pintu salah satu ruangan. Dan terdengarlah suara-suara pukulan, dengan musik yang mengalun pelan. Pria yang sedang bertelanjang dada itu segera menoleh, menghentikan kegiatannya lalu tersenyum hangat, menyambut kedatangan istri dan putri kecilnya.
Rambut sedikit ikalnya terlihat basah, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh, mengalir di setiap celah otot yang kini terlihat semakin terbentuk.
"Morning sayang." Sapa Randy dengan suara tersengal-sengal.
"Morning, Daddy." Balas Ayumi.
"Dad!" Raizel segera turun dari gendongan Ayumi, lalu beralih mendekati Randy.
"No, sayang! Daddy sedang berkeringat. Tidak boleh mendekat oke?" Pria itu memperingati.
Gadis dengan piyama tidur dan rambut panjang pirang itu hanya tersenyum, terus mendekat dan tanpa aba-aba memeluk pinggang ayahnya dengan sangat erat.
Randy menghela nafasnya, sementara Ayumi tersenyum melihat sifat iseng yang memang Raizel miliki. Terutama kepada Randy, selain manja dia pun selalu melakukan hal-hal yang membuat ayahnya geleng-geleng kepala.
"Mommy bilang aku mau ambil formulir pendaftaran." Gadis itu berujar, dengan logat bicara yang belum terlalu fasih.
"Hemmm, … lalu kenapa kesini? Seharusnya mandi. Agar Daddy selesai nanti langsung berangkat."
Randy berusaha melepaskan lilitan tangan kecil milik Raizel, sembari terus berjalan mendekati Ayumi yang hanya duduk memperhatikan di sudut ruangan itu.
"Mommy! Ini padahal hari Sabtu, tapi Daddy tetap bekerja." Raut wajah gadis itu terlihat kesal.
Matanya memicing tajam, alisnya hampir saling menyentuh satu sama lain, dengan bibir yang dia buat mengerucut.
__ADS_1
"Hanya sebentar, setelah itu jemput lagi." Randy berusaha membujuk.
"No! Aku nggak mau Daddy kerja. Ini hari Sabtu, harusnya Daddy anterin aku sama Mommy ke salon." Celetuk Raizel sampai membuat tawa Ayumi pecah.
Randy menatap wajah istrinya.
Dia melihat begitu banyak kebahagiaan disana, apalagi setelah kehadiran Raizel di dalam rumah itu, semuanya terasa lebih hangat dan tentu saja membuat kehidupannya berubah drastis.
"Baiklah, ayo kita mandi." Ayumi meraih tangan Raizel.
Gadis cantik itu menurut, dia segera mengikuti kemana Ayumi membawanya.
"Mom, aku mau ke salon di anterin Daddy!" Dia merengek.
"Iya, kamu harus mandi dulu, ambil formulir, … setelah itu baru kita berangkat. Tenang saja, Daddy pasti mengantar kita."
"Kenapa Daddy harus kerja?"
"Ke salon kan harus pakai uang, beli mainan, baju sama bando juga pakai uang. Kalau Daddy tidak bekerja, terus bayarnya pakai apa"
"Pakai uang Mommy."
Suara itu masih terdengar, dan membuat Randy menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Percakapan keduanya terdengar semakin samar, lalu benar-benar hilang.
***
"El?" Seseorang terdengar memanggil, membuat Ayumi dan Raizel segera menoleh ke arah belakang.
Bianca tersenyum, perempuan itu segera mendekat dengan sebuah map yang sama di dalam dekapannya . Menggenggam pergelangan anak laki-laki yang terlihat begitu tampan.
"Lama tahun udah pas, kalau tiga atau empat tahun kasian kelamaan di sekolah juga membuat anak-anak jadi jenuh nantinya." Jelas Bianca.
Dia membungkuk, lalu menyentuh pipi Raizel dengan senyuman hangat.
"El, kenapa sekarang tidak suka main ke rumah?" Bryan menatap ibunya sendiri, lalu beralih kepada Raizel dan Ayumi.
Gadis kecil itu hanya tersenyum, dan menggelengkan kepalanya.
"Daddy-nya sedang sibuk, jadi tidak sempat membawa El untuk berkunjung ke rumah Bryan. Mungkin Minggu depan." Kata Ayumi.
Dia menjelaskan dengan sangat hati-hati kepada sosok anak pria yang sudah menjadi teman putrinya sejak usia Raizel baru menginjak 2 tahun.
"Mau langsung pulang?" Bianca menatap Ayumi.
Ayumi tersenyum.
"Sepertinya tidak, Daddy-nya Raizel sebentar lagi sampai, … biasalah anak-anak perempuan akan sangat manja kepada ayahnya."
Bianca membalas senyuman Ayumi.
"Tadinya aku mau aja kalian pulang bersama-sama."
"Mungkin lain kali, hari ini Raizel sedang ingin mengunjungi tempat lain."
"Baiklah kalau begitu kami pamit, Ay." Ucap Bianca.
Dia menundukan pandangan, menatap Bryan yang masih diam memperhatikan teman bermainnya.
__ADS_1
"Aku mau main ke rumah Abang Bara lho, … kamu nggak mau ikut?" Bryan membujuk.
Namun lagi-lagi Raizel hanya menggelengkan kepala.
"Lain kali oke? Sekarang El mau pergi dulu bersama Daddynya!" Bianca berusaha memberi pengertian.
Akhirnya Bryan menurut, dia segera mengikuti kemana Bianca menariknya.
Dan setelah sekitar 20 menit menunggu. Akhirnya sebuah mobil hitam keluaran terbaru milik Randy datang. Membuat Ayumi dan Raizel yang sedang menunggu segera berdiri, bahkan gadis kecil itu tersenyum riang, sambil berjingkrak-jingkrak ketika melihat Randy datang.
"Daddy!" Raizel berlari kencang.
"El!?" Ayumi berteriak, dia berusaha meraih putrinya, namun terlambat.
Raizel sudah lebih dulu berlari, menghampiri ayahnya yang baru saja tiba. Randy berjongkok, merentangkan tangan untuk menyambut putrinya.
Bugh!!
Hantaman tubuh Raizel begitu kencang.
"Tidak boleh berlari. Nanti kamu jatuh, sayang!" Randy balas memeluk putrinya, dan menepuk-nepuk punggung gadis kecil itu dengan sangat perlahan.
"Ke salon."
"Astaga, masih ingat saja!" Randy tertawa.
Pandangan Randy mengikuti kemana Ayumi berjalan, lalu tersenyum ketika keduanya sudah sama-sama dekat. Lalu pandangannya beralih pada sesuatu yang Ayumi bawa.
"Bagaimana? Bisa?"
"Untungnya bisa, jika terlambat satu atau dua hari mungkin pendaftaran akan segera ditutup karena memang muridnya sudah full." Perempuan itu menjelaskan.
"Kamu mau ke salon?" Tanya Randy kepada istrinya.
"Tidak."
Ayumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lalu dari mana keinginan Raizel itu berasal." Randy tersenyum-senyum sendiri.
"Bukan Mommy, … tapi Omay yang dulu ajak aku ke salon pas lagi di Jerman." Katanya. "Enak, kepala aku di pijat, dan setelah itu rambut aku jadi beautiful, … like princess Tangled!" Sambungnya lagi dengan suara yang terdengar begitu menggemaskan.
Randy dan Ayumi hanya diam dan saling beradu pandang.
"Daddy, cepat!" Pinta Raizel.
"Baiklah Nona, kita pergi ke salon sekarang. Apa ada tempat yang mau kalian datangi setelah dari salon nanti?"
Randy mulai kembali mendekati mobilnya, membuka pintu mobil bagian belakang sebelah kanan, mendudukan Raizel dan membantu memasangkan seatbelt di tubuh kecil gadis itu.
"Oke, let's go!" Randy tersenyum, mengusap rambut pirang milik putrinya, membungkuk dan mencium pipi Raizel dengan perasaan gemas.
"Let's go, Daddy."
"Baiklah, ayo kita berangkat Dad! Mommy ingin makan Sushi rasanya, … seharian berbasa-basi membuat energi aku habis." Kata wanita yang sudah duduk di samping kemudi.
Randy menutup pintu di samping Raizel, kemudian segera menyusul dua perempuan yang sangat dia cintai, yang sudah duduk manis di kursi masing-masing, dengan seat belt melingkar di tubuh mereka berdua.
__ADS_1