
Suara bell rumah terdengar begitu nyaring, membuat Sumi segera berjalan ke arah pintu, dan membukanya lebar-lebar.
"Tante." Seorang pria menyapa dengan senyuman hangat terlebih dulu.
Junior berdiri tepat di hadapannya, dengan pakaian kerja yang begitu rapih, menenteng sebuah tas berukuran sedang, juga iPad di dalam genggaman tangannya.
"Nior? Cari Randy?" Sumi segera bertanya kepada putra pria yang sempat memisahkannya dengan sang putri.
Junior tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
"Sengaja kesini, mau lihat kamar yang mau di renovasi." Katanya.
Sumi mengangguk, kemudian dia mempersilahkan Junior untuk segera masuk. Pria itu mengedarkan pandangan, sembari terus berjalan ke arah sebuah pintu yang masih tertutup, bersama Sumi yang ikut mengantarkan.
"Eh, Bang Nior sudah datang." Ayumi muncul dari arah taman belakang.
Wanita dengan perut yang sudah sangat membesar itu berjalan ke arahnya, mengulurkan tangan sampai keduanya saling berjabat, dan tersenyum satu sama lain.
"Hey bagaimana kabarmu? Perutnya sudah semakin besar, … sebentar lagi Bryan akan mempunyai teman bermain." Junior terkekeh.
"Ya, maka dari itu Bapaknya mau langsung ngebut renovasi kamar ini, biar nanti anaknya lahir, udah selesai." Perempuan itu menjelaskan.
Ayumi ikut masuk kedalam ruangan itu. Dimana Junior langsung melihat-lihat, seperti sedang menghitung atau memperkirakan sesuatu.
"Ini mau pakai tema apa?" Junior berbalik badan, lalu menatap Ayumi.
Sementara perempuan itu langsung menggelengkan kepala.
"Kayanya harus tanya Abang, dia yang mau renovasi kan?" Ujar Ayumi dengan raut wajah bingung.
"Tadi Randy yang bilang, … kalau semuanya di serahkan sama kamu. Soal dekorasi, atau tema aku di suruh nanya-nanya ke kamu." Junior tertawa lagi.
Ayumi terlihat berpikir, entah tema apa yang cocok untuk putrinya. Tidak terlalu berlebihan, tapi harus memberi kesah lucu dan hangat.
Sumi duduk di tepi ranjang, menatap Ayumi dan Junior yang terlihat begitu akrab, bahkan keduanya beberapa kali melontarkan kata-kata candaan.
"Eh aku boleh ikut duduk, yah!" Junior dengan senyum malu-malu.
"Oh iya, duduk aja Bang! Mau minum? Apa? Kopi atau minuman dingin?" Tawar Ayumi.
Randy mendudukan diri di sofa kamar yang berada di sana, sambil menyalakan layar iPad yang sedari tadi berada di dalam genggamannya.
"Ih nggak usah repot-repot." Pria itu berseru.
"Tidak apa-apa, Desain kan enaknya sambil minum sama nyemil. Ibunya Abang suka bikinin kue buat aku, siapa tau Bang Nior mau coba."
Akhirnya Junior mengangguk.
"Kalau begitu boleh, air putih sajalah."
Ayumi hampir saja berjalan ke arah luar, tapi sang ibu segera memanggilnya sampai membuat langkah Ayumi berhenti ketika baru saja Ayumi melewati pintu.
"Mama saja." Kaya Sumi, wanita itu segera berjalan ke arah luar.
Ayumi mengangguk, dia segera kembali ke arah dalam, dan duduk tepat di samping Junior.
"Maaf, ya Ma!"
"Tidak apa, kamu duduk saja. Mama tahu kamu sudah lelah jalan kesana-kemari." Sumi menjawab sambil terus berjalan menjauh.
__ADS_1
"Ayo kita mulai. Biar aku catat dan Ka Balqis bisa dengan segera memulai pekerjaannya."
Ayumi menatap ruangan kamar itu kembali, sembari berpikir warna dan tema yang cocok.
"Aku sih kurang ngerti. Tapi aku mau konsepnya nggak terlalu lebay, tapi lucu aja buat bayi perempuan. Nggak feminim banget, nggak tomboy juga. Santai tapi menampilkan kesan manis." Jelas Ayumi kepada pria yang duduk di sampingnya.
Junior merapatkan tubuhnya ke arah belang, hingga punggungnya bersandar pada sandaran sofa, lalu mulai berpikir.
"Kira-kira kamu mau warna apa?" Junior menatap Ayumi.
"Aku suka warna ungu muda. Lebih ke ungu yang warna pastel, kalo Lilac ke mudaan."
Junior mengetuk-ngetuk Apple pencil pada keningnya, dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah lain.
Sementara Junior dan Ayumi berpikir. Langkah dari luar ruangan kembali terdengar, dan munculah Sumi membawa satu nampan, dengan dua botol kemasan air minum, dan setoples kue kering coklat almond, buatan Maria.
"Sambil minum dan ngemil, Nior. Agar bisa memikirkan desain yang Ayumi inginkan." Sumi tersenyum saya meletakan itu di atas meja.
"Terima Kasih Tante. Aku memang sedikit butuh sesuatu untuk merefresh otak, … keinginan Ayumi memang sedikit menguras pikiran dan imajinasi saya."
Junior tertawa.
"Nggak perlu ada lukisan atau setiker berlebihan." Kata Ayumi lagi.
Pria itu kembali menatap Ayumi setelah sekian lama berpikir, dan segera mendeskripsikan desain yang Ayumi mau.
"Bagaimana kalau aku kasih kamarnya cat warna ungu muda sama putih? Terus biar kelihatan nggak polos-polos amat, kita pakai wallpaper?"
"Maksudnya bagaimana?"
"Langit-langit kita pakai cat putih, dinding kita pakai warna ungu sama sedikit wallpaper, … sama furniture berwarna putih juga, nggak terlalu lebay, terkesan sangat santai, elegan tapi juga hangat." Pria itu berujar.
"Di sudut sana bakalan ada box bayi, kita pakai material kayu dengan warna putih, terus laci pakaian sebelah sini, … dan sofa untuk kamu duduk saat memberi ASI tetap di sana!" Junior menunjuk tempat dimana Ayumi duduk sekarang.
"Sepertinya bagus, Ay."
Sumi yang duduk di tepi ranjang mengamini.
Dan tentu saja itu membuat Ayumi langsung menyetujui apa yang Junior usulkan.
"Kira-kira pengerjaannya bisa di mulai kapan?" Tanya Ayumi.
Junior kembali berjalan mendekati sofa, lalu duduk dan mulai mengambil iPad untuk menggambar sketsa, yang nantinya dia harus berikan kepada Balqis, sebagai orang yang akan melakukan finishing.
"Besok atau dua harian lagi lah, … setelah aku ukur diameter ruangan, lalu memperkirakan setiap ukuran, nanti kita kasih ke orang mebel. Baru bisa langsung pengerjaannya." Jelas Junior.
Sementara Ayumi hanya mengangguk dan terus memperhatikan.
***
Randy menepikan mobilnya di garasi seperti biasa. Lalu dia segera turun, dan berlari memasuki rumah. Padahal jam 09.00 pagi Randy meninggalkan istrinya untuk bekerja, tapi saat ini saja sudah membuat dia merindukan Ayumi, dan sang jabang bayi yang sekarang tumbuh semakin besar di dalam rahimnya.
Klek!!
"Ay?"
Langsung saja dia memanggil-manggil istrinya.
"Sayang aku pulang?"
__ADS_1
Panggil Randy lagi, seraya melepaskan jas dan dasi yang dia kenakan hari ini.
"Ay …"
"Iya iya, … aku di kamar! Kenapa kamu terus berteriak bukannya masuk kamar langsung."
Ayumi muncul dari dalam kamarnya.
Randy langsung tersenyum, dia meletakan barang bawaannya begitu saja di atas sofa ruang tengah, memeluknya, dan tak lupa mengusap perut bulan Ayumi dengan perasaan gemas.
Cup!!
Dia mencium kening Ayumi, lalu membungkuk dan mencium perutnya.
"Hai sayang? Bagaimana? Sudah pilih tema untuk kamarmu bersama Mommy tadi?" Randy berbicara tepat di hadapan perut istrinya.
Ayumi tersenyum, dengan tangan yang mulai mengusap kepala suaminya.
"Sudah. Aku pilih tema yang simpel, tapi bakalan bikin gemesin, dan bikin anak kita betah bobo disana." Jelas Ayumi.
Randy kembali menegakkan tubuhnya, menatap sang istri lalu tersenyum.
"Oh ya? Tema apa yang kamu pilih? Barbie? Disney? Atau apa?"
"Nanti sajalah kamu lihat." Kata Ayumi, dia berjalan mendekati tas, dasi dan jas kerja Randy, kemudian membawa suaminya masuk kedalam kamar, untuk segera membersihkan diri.
"Kamu sudah diam di kamar? Masih sore!" Celetuk Randy sambil tersenyum menggoda.
"Aku cape tahu, pinggang aku juga sudah sakit."
Klek!!
Randy merapatkan pintu kamarnya. Mengikuti kemana Ayumi berjalan, dimana dia meletakan tas kerja, dan mengeluarkan isinya untuk Ayumi simpan dengan baik.
Dia tersenyum melihat itu, kakinya terus melangkah, kemudian berhenti ketika jarak mereka sudah semakin dekat.
Sepasang tangan kekar melingkar di pinggang Ayumi, dan sesuatu terasa bertumpu di pundaknya, lalu mencium ceruk leher beberapa kali.
"Jangan macam-macam, sebaiknya kamu mandi. Dan kita berkumpul di taman belakang, … lihat apa yang Ibu, Mama, Bi Dini dan Papa buat." Kaya Ayumi.
"Memangnya apa?"
"Rahasia, kamu harus lihat sendiri." Ayumi tersenyum, lalu menepuk-nepuk tangan suaminya.
"Pasti soal makanan!"
Ayumi hanya tertawa.
"Ah sudah aku duga. Tidak pernah libur semenjak kamu hamil, lalu ada orang tua kita, … pasti akan selalu ada makanan, karena kamu yang menginginkannya."
Randy melepaskan dekapannya, berbalik badan, kemudian pria itu masuk kedalam kamar mandi.
"Kali ini bakar-bakarannya beda sayang! Buka seafood, tapi Ibu beli daging sapi dan ayam tadi, terus Mama juga mau bikin sup kambing." Ayumi berteriak.
"Baiklah-baiklah, aku langsung lapar jadinya." Sahut dari dalam kamar mandi sana.
"Jangan lama-lama. Aku sama Baby sudah lapar juga! Eh atau aku keluar duluan saja? Nanti kamu menyusul?" Ayumi member usulan.
"Nggak boleh. Siapkan pakaian aku, lalu tunggu!" Tegas Randy dengan suara yang sangat kencang. "Aku tidak akan lama, karena benar-benar mandi, berbeda dari pada biasanya!" Sambung Randy lagi, sampai membuat wajah Ayumi memerah.
__ADS_1
"Kamu ngaco!" Balas Ayumi tak kalah kencangnya, seraya tertawa nyaring.