My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 11 (Peresmian)


__ADS_3

Hari beranjak semakin larut, hilir angin malam terasa berhembus begitu kencang. Namun suasana jalanan kota masih tampak begitu ramai, Menemani Ayumi yang saat ini menempuh perjalanan pulang pada hampir pukul sembilan malam.


Kaki Ayumi melangkah pelan, menikmati suasana malam yang indah saat lampu-lampu gedung pencakar langit itu menyala.


Sampai tanpa Ayumi sadari, sebuah mobil mulai menepi, melaju perlahan di belakangnya.


Pim pim!!


Ayumi berhenti, lalu dia menoleh saat mendengar klakson mobil cukup kencang.


Gadis itu diam, tapi di beberapa detik berikutnya seulas senyum tipis terbit, ketika seseorang keluar dari dalam sana dengan stelan kerja yang masih melekat di tubuh kekarnya.


Kemeja putih berlengan panjang, yang sudah di gulung sedemikian rupa hingga sikut tangan, kancing kerah yang juga sudah terbuka, juga celana bahan berwarna hitam, membuat Randy terlihat sangat tampan meski dengan keadaan tak serapih biasanya.


"Baru pulang?" Pria itu tersenyum.


Ayumi yang melihat Randy terus berjalan mendekat pun hanya menganggukan kepala, dengan debaran di dalam dada sana yang terus meningkat.


"Sendiri? dimana teman mu?" Randy berhenti saat jarak mereka hanya tersisa dua langkah saja.


"Tadi sore Una sudah pulang, ... Bapak baru pulang kerja juga? apa memang masih ada pekerjaan di daerah sini?"


"Kenapa teman mu sudah pulang, sementara kamu belum?" Dia menjawab pertanyaan Ayumi dengan sebuah pertanyaan.


Randy memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.


Memperhatikan gadis di hadapannya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh kata-kata.


"Bu Balqis lembur, ada Pak Raga juga. Nggak mungkin aku pulang duluan, sementara aku kerja di lantai paling atas bersama mereka." Jelas Ayu.


Kaki Randy maju satu langkah, meraih tangan Ayumi dan menggenggam tangan kekasihnya erat.


"Kamu sudah makan?"


"Hah? be-belum." Ayumi gelagapan.


Dia menatap tangan Randy yang sat ini menggenggam tangannya, lalu kembali menatap wajah tampan itu.


"Saya juga belum. Mau makan bersama? di rumah ada bahan-bahan makanan, kamu bisa memasak?"


"Bisa. Eh, ... tapi masak apa dulu? kalo yang aneh-aneh aku tidak bisa." Ayumi hendak menarik tangannya, tapi di tahan pria itu cukup kuat.


"Masakan rumah, kamu tahu? seperti tumis-tumisan. Biasanya Ibu datang, hanya saja saat ini tidak, ... Art di rumah juga sedang pulang. Jadi saya minta tolong kamu untuk masak di rumah boleh?" Tukas Randy panjang lebar.


Ayumi diam, dia terlihat berpikir.


"Kalau tidak bisa juga, tidak apa-apa."


"Aku bisa, tapi harus pulang dulu. Aku belum mandi." Sergah Ayumi.


Randy mengulum senyum.


"Itu gampang, yang penting kamu mau dulu." Senyum Randy semankin lebar.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Randy segera menarik tangan Ayumi, membawa kekasih hatinya kearah mobil, membukakan pintu, dan membiarkan Ayumi masuk lalu melepaskan tangannya.


"Pakai sabuknya bisa? atau mau saya pakaikan?" Godanya.


Pipi Ayumi semakin memerah, bahkan kini dia terlihat menahan senyumannya.


"Lihatlah, pipi mu sudah terlihat seperti kepiting rebus. Sangat merah, dan juga cantik."


Setelah mengucapkan itu Randy segera menutup pintu di samping Ayumi, berjalan cepat memutari mobil, lalu masuk tepat di kursi kemudi yang berdampingan dengan Ayumi.


"Sebentar lagi aku akan mati karena jantung ku meledak." Batin Ayumi berbicara.

__ADS_1


***


Handle pintu salah satu kamar bergerak, dan tidak lama setelah itu Ayumi keluar dengan kaos kedodoran juga celana training pendek yang Randy berikan kepadanya beberapa waktu lalu.


Gadis itu menatap Randy yang sedang duduk di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Bagaimana? apa cukup?" Dia bertanya dengan mata yang terus tertuju pada layar ponsel.


"Tentu saja cukup, ini terlalu besar tahu." Cicit Ayumi sembari menatap dirinya sendiri.


"Bukan kekecilan!" Ayumi melanjutkan ucapannya.


Randy mengangkat pandangan, meletakan ponsel di sofa kosong yang berada di sampingnya, lalu berdiri.


"Itu bagus." Katanya dengan senyuman yang kembali terlihat.


"Tahu begini aku pulang dulu!" Pandangan Ayu menengadah, menatap sosok tinggi yang saat ini mendekat, dan berdiri di hadapannya.


Lagi-lagi Randy hanya mengulum senyum, lalu meraih tangan Ayumi dan membawanya kearah dapur bersih yang terletak di tengah-tengah ruangan besar rumah itu.


"Bapak pegang-pegang terus." Celetuk Ayumi, sampai membuat Randy menoleh dan memberinya tatapan tajam.


Genggaman tangannya terlepas, kemudian pria itu melipat kedua tangannya diatas dada.


"Tidak boleh? apa kamu tidak suka?" Mata Randy memincing.


Ayumi diam, gadis itu menjawab dengan sebuah gelengan pelan.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? kamu menyesal ikut saya kesini?" Cecar Randy dengan beberapa pertanyaan.


"Ish, ... Bapak jangan galak-galak dong. Aku jadi gugup."


"Saya tidak galak. Saya memang seperti ini!" Pria tampan itu berkelekar.


Ayumi mengigit bibirnya kencang, berusaha menahan senyum. Selain tampan, Randy juga terlihat lucu saat memperlihatkan ekspresi wajah masamnya.


Randy berdecih.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Jika mau pulang ayok saya antar sekarang juga!"


"Dih, ... kesel ya karena omongan aku tadi?" Ayu menunjuk wajah Randy sembari tersenyum.


"Tidak." Jawabnya singkat.


"Iya Bapak lagi kesel sama aku. Yasudah ayok pegang lagi tangan aku nya." Ayu terus menggoda.


"Tidak mood."


"Ah yang bener?"


"Iya. Saya bisa pegang tangan gadis lain nanti ..."


Belum selesai Randy berbicara, Ayumi melangkahkan kakinya, mengikis jarak diantara keduanya, kemudian memeluk pinggang Randy erat, juga menempelkan pipinya di dada bidang itu sampai debaran di dalam sana terdengar sangat jelas.


"Pantas saja Bapak bisa meninggalkan saya begitu saja. Bapak cukup pendendam yah!" Ucap Ayumi sambil terkekeh pelan.


"Hey! kamu yang selalu mengabaikan saya. Saya pergi karena sudah merasa cukup berjuang tapi tidak kamu hargai." Randy menjawab, kejadian itu jelas masih membuat Randy menyimpan kekesalannya.


Ayumi kembali mengangkat pandangannya, melihat wajah masam Randy yang kini terlihat sedikit memerah.


"Masaknya jadi atau tidak? dari tadi kita hanya berdebat. Padahal kita baru saja berbaikan!"


Kepala Randy menunduk, melihat sorot mata sejuk gadis yang saat ini tengah memeluknya erat.


"Jangan ngambek terus, nanti gantengnya luntur lho!" Dia meraih wajah Randy, dan mengusap pipinya lembut.

__ADS_1


Randy tidak menjawab, dia justru meraih pinggang ramping Ayumi, dan menariknya sampai tubuh mereka kini saling bersentuhan.


"Sikap mu yang seperti itu, ... membuat saya kembali merasa di tolak." Suaranya terdengar sangat rendah.


"Aku tidak bermaksud, Bapak tahu? setiap kali kita berdua membuat jantung aku terasa mau meledak." Jelas Ayumi lagi.


Randy terdiam dengan mata yang terus bergerak-gerak, menyelami iris hitam kecoklatan milik Ayumi. Gadis yang sudah benar-benar masuk kedalam hati dan pikirannya.


Bahkan dia tidak bisa fokus bekerja, merasa ingin cepat pulang agar segera bisa menemui gadis yang saat ini sudah resmi menjadi kekasihnya.


"Kamu mencintai saya?" Suara pria itu terdengar semakin rendah.


Ayumi mengangguk.


"Saya sepuluh tahun lebih tua dari mu. Apa tidak malu? atau menyesal mungkin mempunyai pacar setua saya."


"Tua?" Kening Ayumi menjengit.


"Yah, saya sudah mau kepala tiga. Sementara kamu, ... dua puluh tahun saja belum!" Randy tersenyum saat melihat raut wajah Ayumi yang terlihat kebingungan.


"Tua dari mananya? Bapak tampan! Hidung mancung, bulu mata lentik, juga ... bibir yang seksi. Eh!" Seketika Ayumi mengatupkan kedua bibirnya hingga rapat.


Sementara pria itu tersenyum penuh arti.


"Ah baiklah, ayok kita masak." Ayumi gugup, dia menghindar saat Randy terus menatapnya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata.


Tubuh gadis itu bahkan bergerak-gerak, berusaha melepaskan lilitan tangan Randy di pinggangnya.


"Boleh kah?" Randy berbisik.


"Masak? ya boleh ... ayok dan lepaskan tangannya dulu!"


"Bukan itu."


"Bapak jangan mulai, jantung aku mau copot rasanya!"


Dan tanpa aba-aba Randy semakin mendekatkan wajah, lalu meraih bibir Ayumi untuk ia kecup singkat.


Cup!


Ayumi mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha meraih kesadaran yang hampir meluap.


"Anggap saja itu sebagai peresmian hubungan kita." Randy tersenyum.


"Peresmian?"


"Iya, karena kemarin malam kamu mencium saya sebelum kita resmi berpacaran."


"Hemmm, ... baiklah! kalau begitu ayok lepaskan sebelum semuanya semakin jauh dan tidak terkendali."


"Balas dulu." Pinta Randy.


"Apanya?"


"Ayoklah, saya tahu kamu mengerti."


Ayumi diam beberapa menit, dan setelah itu dia mengecup bibir Randy beberapa kali, sampai membuat pria itu semakin merasa gemas.


"Saya sudah gila karena membuat gadis polos seperti mu melakukan hal yang tak senonoh."


"Ya ... kita berdua memang sudah gila." Ayumi kembali mengecup bibir kekasihnya, lalu kembali memeluk Randy, menenggelamkan wajah di dalam dada kekar milik Randy.


......................


...Eh masaknya jadi nggak? kok malah ... ah syudahlah. Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote ya cuyung :)...

__ADS_1


...Klik favorit juga, agar notifikasi berbunyi saat eps baru gentayangan....


...Papayo cuyung ... ramein biar othor semangat updatenya!!!...


__ADS_2