
Randy kembali masuk kedalam kamarnya, setelah beberapa menit menghabiskan waktu di dalam kamar mandi hanya untuk membersihkan diri.
Walau pun pekerjaannya tidak membuat Randy berkeringat, tetap saja. Keadaannya harus bersih saat dia hendak beristirahat.
Kaos tanpa lengan, juga celana joger panjang berwarna abu-abu menjadi pilihan pria itu malam ini.
Randy duduk diatas sofa kamarnya, meraih ponsel dan langsung menghubungi seseorang, dengan raut wajah sumringah.
Tentu saja, suasana hatinya sedang bagus, karena ada Ayumi di dalamnya.
[Halo?]
Randy tersenyum, saat wanita paruh baya itu mengarahkan kamera kearah wajahnya.
"Aku kira tidak akan Ibu angkat."
Maria tersenyum.
[Ibu baru pulang dari toko, belum mandi juga, jadi belum bisa tidur.]
Dia menjelaskan.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Ibu."
Pria itu terus tersenyum-senyum.
[Ada sesuatu? wajah mu terlihat lebih cerah dan berseri-seri?]
Randy terkekeh pelan. Memang benar apa yang ibunya katakan, bukan hanya wajah yang berseri-seri, tapi hatinya juga tengah berbunga-bunga, saat hubungan dia dengan Ayumi memiliki kemajuan yang cukup pesat.
[Apa hati mu tidak kosong lagi? dan bagaimana dengan cinta? apa kamu sudah mempercayai adanya cinta?]
Randy mengulum senyum, tiba-tiba saja dia teringat akan kata-kata nya dulu, saat dia dengan tegasnya mengatakan tidak butuh seseorang untuk menemani hidupnya, dan tidak mempercayai adanya cinta sejati hanya karena dia lahir juga tumbuh tanpa seorang ayah, sosok yang harusnya mendukung Maria dalam segala hal.
[Dia cantik?]
Randy menjawab dengan anggukan pelan.
Senyum di bibir Maria pun terlihat mereka, rona bahagia juga terlihat saat mendengar kabar bahagia dari putra satu-satunya itu.
[Dia hebat, mampu merubah prinsip mu.]
"Dia sangat sederhana, tumbuh sebagai gadis hebat, mampu membantu keluarganya yang sedang kesulitan ekonomi."
[Benarkah?]
"Iya."
[Sepertinya selain baik, dan juga cantik pisiknya, dia juga cantik hatinya.]
"Cepatlah Ibu datang, nanti akan aku bawa dia menemui Ibu."
[Besok lusa mungkin, Ibu sedang banyak pesanan kue.]
"Jika akan datang kasih tahu, nanti aku jemput di halte seperti biasa."
Maria mengangguk.
[Oh iya, namanya siapa?]
"Ayumi. Dia Ayumi, gadis manis yang akan menjadi menantu kesayangan Ibu nanti."
Randy tertawa pelan setelah mengucapkan itu.
[Nama yang cantik. Kalau begitu Ibu harus mandi dulu, mau tidur! Ibu sudah mengantuk, kau juga tidurlah."
"Baiklah."
__ADS_1
[Matikan saja sambungannya yah.]
Randy mengangguk, lalu menekan tombol merah sampai sambungan telfon itu terputus.
Dia tak langsung meletakan ponselnya, terlebih dulu Randy mengirimkan sebuah pesan kepada Ayumi.
[Selamat tidur kekasih hati.]
Dan pesan itu pun terkirim, yang langsung memperlihatkan ceklis dua berwarna biru.
Ayumi membacanya.
[Abang juga.]
Balas Ayumi di sertai emot cium.
"Hah!" Randy menghembuskan nafas kencang, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan balas lagi, Randy. Atau malam ini kau akan nekad untuk menemui gadis itu." Sambung Randy dengan nada frustasi.
Setelah itu dia bangkit, bejalan kearah ranjang besar berlapis kain berwarna hitam, meletakan benda pipih itu diatas nakas, kemudian merebahkan tubuh untuk segera menembus alam mimpi.
***
Keesokan harinya, di gedung tempat Ayumi bekerja.
Gadis itu tampak disibukan merapihkan setiap meja kerja para keryawan. Dengan sangat teliti Ayumi membersihkan setiap sudutnya, sampai tidak tersisa debu sedikit pun.
Ting!!
Denting suara pintu lift terdengar, dan keluarlah seseorang dari dalam sana.
"Kamu sudah datang? sepagi ini?" Suara bariton itu membuat Ayumi menoleh.
Dan disanalah Junior, berjalan santai seraya menenteng iPad dengan stelan Jas berwarna navy.
Ayumi mengulum senyum, lalu menganggukan kepala.
Junior meletakan barang-barangnya diatas meja kerja, lalu duduk.
"Teh hangat deh, gulanya sedikit yah!"
"Baik."
Ayumi segera beranjak, sambil membawa alat-alat kebersihan bersamanya.
Tidak ada lagi rasa gugup, bahkan rasa untuk menghindar pun sudah pudar begitu saja. Keberadaan Randy di hati Ayumi jelas membuat gadis itu sembuh dari cinta di masa lalunya.
Walau sempat menolak, menepis perasaan itu terang-terangan, tapi hati gadis mana yang tidak tersentuh dengan sikap manis Junior yang selalu dia perlihatkan, bahkan sejak keduanya masih kecil.
"Teh nya, Pak." Ayumi meletakan cangkir berisikan teh hangat itu diatas meja kerja Junior, setelah beberapa menit dia membuatkannya.
Junior mengangguk.
"Terimakasih," Ucap Junior. "Oh ya, ... setelah kamu pulang, kamu sakit apa? kemarin tidak bekerja?"
"Hanya hari pertama haid, Pak."
"Kamu butuh sesuatu? jika butuh katakan saja, nanti saya akan sampaikan kepada Bu Balqis."
Ayumi menjawab pertanyaan Junior dengan gelengan kepala.
Yang benar saja, semua orang akan sangat membenci ku setelah ini, karena Bu Balqis terlalu baik kepada ku, hanya karena permintaan adik iparnya.
Ayumi membatin.
"Apa ada lagi? jika tidak saya akan kembali ke pantry."
Gadis itu sedikit bergerak-gerak, menahan rasa ngilu yang berasal dari kaki sebelah kirinya.
__ADS_1
Junior yang menyadari itu refleks melihat kebawah, dimana tangan Ayumi memegangi kakinya.
"Hemm, ... terimakasih. Istirahatlah, jangan sampai kaki mu sakit lagi, karena terlalu banyak berdiri, jangan terlalu keras pada diri mu juga, berhentilah jika merasa perlu." Tukas Junior panjang lebar.
Ayumi mengangguk lagi.
"Iya, Pak."
Randy mengangguk, dan setelah itu Ayumi segera pergi. Meninggalkan meja kerja Junior, teman masa kecil yang saat ini menjadi atasannya.
Tidak lama setelah Ayumi mengundurkan diri. Balqis datang, bersama Raga yang berjalan di belakangnya.
"Tumben, pagi sekali kamu datang." Sindir Raga kepada adik ipar istrinya.
"Keadaanya Bianca sedang baik pagi ini, jadi saya bisa berangkat lebih awal."
"Bagaimana dia? apa masih mual dan muntah?" Kini Balqis bertanya, dia berhenti tepat di depan meja kerjanya.
"Sudah mulai membaik, mual dan muntahnya tidak separah kemarin-kemarin."
Balqis mengangguk, dia menoleh kearah suaminya.
"Kamu tidak berangkat? aku sudah sampai!"
"Sebentar lagi, aku mau minum dulu." Raga berasalan.
Junior mengangkat satu alisnya.
Dasar budak cinta. Umpat Junior saat melihat gelagat aneh dari Raga.
"Aku masuk duluan, nanti tolong bawakan air putih yah."
Raga pergi terlebih dulu, masuk kedalam ruangan pribadi istrinya. Sementara Balqis, perempuan itu hanya menggeleng kan kepala tidak percaya, dengan sikap suaminya yang akhir-akhir ini sedikit berubah.
Menjadi lebih manja, dan posesif tentunya.
"Berapa usia kandungan Bianca sekarang?"
"Dua puluh satu Minggu."
Balqis mengulum senyum.
"Jika sudah agak baikan, Eca sudah bisa diajak keluar. Sebaiknya kita berkunjung ke rumah Papa dan Mama, ... sudah lama kita tidak kumpul, mereka pasti sangat kesepian."
"Baru saja Bianca mengatakan itu tadi pagi, dia meminta aku mengajak Kaka untuk berkunjung kerumah Papa."
Balqis tersenyum.
"Baiklah, selamat bekerja. Nanti sore kita kumpul di rumah Papa yah!"
"Hemm."
"Dan jangan lupa pikirkan untuk sekertaris mu. Kamu pasti membutuhkannya."
Setelah mengatakan itu Balqis beranjak, pergi dan segera masuk kedalam ruangannya.
"Eh aku lupa!" Balqis berhenti, dia kembali menyembulkan kepalanya. "Nior? tolong panggil Ayumi dan bawakan air putih hangat ke dalam yah."
"Baik."
Pintu ruangan segera tertutup. Begitupun Junior yang langsung memanggil Ayumi untuk membawakan air untuk suami dari Kaka iparnya.
......................
Bonus nic, visualnya Ayumi. Ini versi othor ya!!
__ADS_1