My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 96 (Makan malam mewah)


__ADS_3

Satu Minggu berlalu.


Segala persiapan resepsi pernikahan sudah rampung. Dari catering, gedung, gaun, bahkan undangan online sudah Randy sebarkan kepada beberapa orang yang memang benar-benar dekat dengan dirinya.


Hingga sampailah pada malam berbahagia itu. Malam dimana acara makan malam mewah di adakan.


Tamu-tamu undangan mulai berdatangan, tepat pada pukul tujuh malam, seperti yang sudah tertera di kartu undangan. Suasana Ballroom Hotel terasa begitu ramai, ketika beberapa orang berbincang-bincang, saling bertegur sapa satu sama lain.


Kebaya brokat berwarna maroon, dihiasi dengan permata-permata kecil, di padukan dengan kain batik berwarna coklat tua, tak lupa dengan sanggul rambut, juga makeup yang membuat Maria dan Tutih sedikit berbeda pada malam hari ini.


Mereka terlihat menyambut kedatangan para tamu undangan, bersama Ali yang malam ini terlihat begitu berbeda, pria paruh baya itu dengan gagahnya memakai setelan tuxedo berwarna krem, dia berdiri di samping Tutih istrinya.


Sementara itu di dalam sebuah kamar. Ayumi tampak berdiri, menatap pantulan kaca dengan takjub saat mendapati dirinya yang begitu berbeda. Polesan makeup yang sesuai dengan porsinya, tidak terlalu tipis, juga terlalu tebal.


Lukisan alis yang begitu indah, bulu mata, soflen berwarna abu-abu, juga lipstik ombre yang membuat Ayumi terkesan manis. Jangan lupakan gaun berwarna putih, mahkota kecil yang ada di atas kepala, dengan rambut terurai yang ditata sedemikian rupa, membuat perempuan itu terlihat sangat cantik dan memukau.


"Bagaimana? Kaka nya suka?" Seorang MUA bertanya, seraya menatap dirinya dari pantulan cermin yang sama pula.


Ayumi menoleh, dia tersenyum lagi menganggukan kepala.


"Aku suka, make-upnya tidak terlalu tebal. Dan satu lagi!" Dia menunjuk bibirnya. "Aku suka dengan warna ombre lipstik ini, bagus banget." Puji Ayumi hingga membuat pria itu tersenyum lebar.


"Selesai, anda sudah siap sekarang." Seseorang berbicara di sudut lain ruangan yang terlihat begitu besar itu.


Randy mengangguk, dan setelah itu dia berjalan ke arah Ayumi berada.


Pria itu mematung, menatap Ayumi yang saat ini sedang tersenyum, menatap pantulan dirinya dari arah kaca besar yang memang sengaja disediakan.


Tok tok tok!


Suara ketukan pintu itu membuat semuanya menoleh.


Klek!


"Sudah selesai?"


"Sudah." Mereka semua menjawab dengan bersamaan.


Pria dengan setelan jas berwarna abu-abu itu mengangguk.


"Baik, ayo kita siap-siap. Para tamu undangan sudah memenuhi Ballroom, … kita sudah harus memulai acaranya."


Randy mengangguk, yang kemudian segera berjalan ke arah Ayumi sambil mengulurkan tangan. Perempuan itu menatap suaminya, lalu meraih tangan itu sampai mereka saling menggenggam satu sama lain, lalu berjalan bersamaan keluar dari kamar hotel sana.


***


Alunan saksofon mulai terdengar mengalun memenuhi Ballroom Hotel yang sudah terlihat di penuhi para tamu undangan. Pembawa acara mulai berbicara, mengatakan kata-kata sambutan, sementara hampir seluruh orang yang ada di sana mulai mengangkat ponsel, dan mengarahkan kamera ke arah satu pintu besar yang masih tertutup.


"Kita sambut, … inilah dia! Raja dan Ratu malam hari ini!" Pembawa acara itu terlihat begitu semangat.


Pintu itu perlahan mulai terbuka.


Dan disanalah Randy juga Ayumi, berdiri dengan senyum menawan yang keduanya perlihatkan. Randy mulai melangkah, diikuti sang istri di sampingnya.

__ADS_1


Ayumi mencengkram tangan suaminya semakin kuat, tiba-tiba saja dia merasa tidak nyaman saat melihat sekeliling yang tampak sangat ramai.


Suara orang-orang berteriak, memuji dan mengucapkan kata-kata takjub, bersahutan dengan suara pembawa acara juga alunan musik saksofon, membuat Ayumi sedikit tidak nyaman.


Namun setelah itu Randy segera menoleh, meremat tangan istrinya sedikit kencang, berusaha meyakinkan jika Ayumi akan baik-baik saja saat bersama dirinya.


"Cie kawin!" Teman Randy berteriak begitu kencang.


Randy hanya tersenyum, menunjukan nya lalu menggeleng-gelengkan kepala.


"Nggak jomblo lagi, pantesan mukanya selalu berseri-seri, orang tiap malem tidur di temenin cewek cantik!" Teman lainnya menimpali.


Sementara yang lain hanya berteriak mengucapkan kata selamat, sebelum sang pemilik acara itu turun, dan menerima setiap jabatan tangan juga kata terimakasih dan doa.


"Anak kita, Bu! Lihat, mereka sangat bahagia." Maria memeluk besannya dengan begitu erat.


"Iya, Ayumi terlihat sangat bahagia sekarang. Apalagi setelah bersama Randy." Ucap Tutih dengan rasa haru yang begitu besar.


Berbeda dengan Tutih dan Maria yang terlihat berkaca-kaca. Ali justru terus tersenyum, perasaannya begitu bahagia, saat melihat kehidupan putrinya yang kini terlihat semakin membaik.


Tentu saja, dia tidak usah bersusah payah menghidupi dirinya sendiri, karena sudah ada Randy yang memenuhi semua kebutuhannya.


"Bapak!" Ayumi datang mendekat, lalu memeluk tubuh Ayahnya dengan sangat erat.


"Kamu cantik sekali." Ali mengusap punggung Ayumi.


"Abang yang bikin aku cantik." Dia mengurai pelukannya, lalu berbalik badan menatap Randy.


Pria yang di maksud tersenyum, lalu mendekat dan memeluk Ali.


"Hanya hal kecil." Balas Randy.


Setelah itu Ayumi dan Randy beralih mendekati dua wanita yang sedang berusaha mati-matian menahan tangis, lalu memeluknya secara bergantian.


"Terimakasih." Kata Tutih kepada Randy.


"Ibu mau cucu!" Sementara Maria berbisik kepada Ayumi seperti itu, membuat dia terkekeh pelan.


"Baiklah, nanti Ayumi buatkan." Ayumi menjawab dengan ucapan sedikit konyol.


***


"Om baru datang juga?" Sapa Balqis kepada Alvaro yang terlihat baru tiba, dan hendak memasuki tempat acara sama seperti dirinya.


Alvaro tersenyum.


"Bara tidak ikut, Ka?" Sisil bertanya.


"Nggak Tante, … ada di rumah bersama Ncus dan Kakanya Sara. Kebetulan malam ini dia menginap di rumah kami."


"Hey! Makin cantik saja kamu!" Dia mengusap pindah Naura.


Gadis itu mengulum senyum, dia terlihat malu-malu seperti biasa.

__ADS_1


"Ayo masuk, beberapa orang sudah pulang. Sementara kita malah baru datang." Kata Alvaro yang langsung di angguki anak istrinya, juga Raga dan Balqis.


Mereka memasuki sebuah Ballroom Hotel yang terlihat begitu ramai. Suasana terasa begitu syahdu, apalagi saat alunan saksofon terus mengalun.


Sisil menengadahkan kepala, menatap kristal-kristal yang bergantung begitu indah, dengan warna biru muda yang mendominasi ruangan itu. Meja-meja yang tertata dengan rapi, di hiasi bunga-bunga, sampai tak hentinya membuat Sisil berdecak kagum.


"Randy sangat luar biasa. Dia bilang acara makan malam keluarga dan orang-orang terdekat, tapi apa ini? Acaranya sudah seperti pesta besar-besaran, hanya saja mereka membatasi orang yang hadir." Kata Sisil.


Alvaro hanya tersenyum.


"Eca dan Nior tidak datang?" Kini Balqis menyadari sosok adiknya yang belum terlihat keberadaannya.


"Tadi sedang dalam perjalanan." Sahut Alvaro.


"Akhirnya Bapak datang, saya kira tidak akan karena malam sudah beranjak semakin larut." Randy menyambut.


"Tunggu suasana agak sepi dulu! Karena kalau datang lebih awal, pasti banyak sekali teman-temanmu!" Raga terkekeh.


Randy mengangguk.


"Selamat yah! Kamu sudah menikah, sekarang tanggung jawab kamu tidak hanya soal pekerjaan, atau mengurus anak-anak sepak bola, tapi ada Ayumi yang harus kamu pentingkan." Ucap Balqis saat berjabat tangan.


"Saya tahu."


"Ish, singkat sekali jawabanmu!" Balqis mendelik.


Randy tak menjawab lagi, dia beralih kepada Alvaro, memeluk pria itu, lalu saling berjabat tangan dengan Sisil juga Naura setelahnya.


"Ayumi dimana? Apa dia terkena serangan panik lagi?" Sisil terlihat sedikit khawatir.


"Tidak. Dia di sana bersama teman-temannya, saya biarkan begitu, karena dia tidak nyaman jika harus berbicara dengan banyak orang baru." Jelas Randy.


"Syukurlah, kalau dia baik-baik saja."


"Kalau begitu ayo, nikmati hidangan malamnya." Ajak Randy.


Lalu mereka berjalan masuk kedalam. Berbarengan dengan Junior dan Bianca yang berjalan memasuki Ballroom Hotel tersebut.


"Itu, Papa sama Mama!" Bianca menunjuk Alvaro dan Sisil yang baru saja duduk.


"Ayo kesana."


Junior meraih tangan Bianca, lalu membawa istrinya yang tengah hamil besar itu mendekat ke arah sana.


"Abang sama Ka Eca datang Mam." Kata Naura.


Sontak Sisil menoleh, dan menatap putra juga menantunya yang sedang datang menghampiri.


"Ya ampun, perasaan seminggu lalu kita bertemu, tapi perut Eca sudah semakin besar." Sisil menyambut menantunya.


"Aku minum susu dan vitamin, Ma."


"Itu bagus, kemarilah. Duduk!" Alvaro menggeser kursi di sampingnya.

__ADS_1


Bianca segera duduk, sementara Junior mendekati Randy yang sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya.


__ADS_2