
Mata Ayumi mengerjap, kesadarannya tertarik sepenuhnya ketika mendengar dering notifikasi berbunyi. Dia meraih ponsel yang tergeletak tepat di bawah bantal, membawanya dan menggeser tombol berwarna hijau setelah tahu nomor Randy masuk menghubungi via sambungan telepon.
Ayumi berdeham.
"Morning Abang." Sapa Ayumi lebih dulu dengan suara serak khas bangun tidur.
"Baru bangun?" Tanya Randy.
"Hu'um. Disini dinginnya alami, jadi nyaman!" Ayumi menarik selimutnya sampai menutupi leher. "Abang sudah bangun dari kapan? Hari ini bekerja? Semalam pulang jam berapa?" Cerca Ayumi dengan beberapa pertanyaan.
"Ini baru selesai mandi. Mau siap-siap karena hari ini seperti hari-hari sebelumnya, aku sibuk dan sepertinya ide kamu ikut Mamamu ada benarnya karena pekerjaan aku akhir-akhir ini semakin banyak." Jawab Randy.
"Terus semalem ngapain aja? Pulang jam berapa?" Ayumi mengulangi pertanyaannya.
"Hanya jamuan makan malam biasa. Sambil membahas pertandingan yang akan segera berlangsung. Hanya begitu saja jadi pukul dua aku sudah ada di rumah."
"Baiklah."
"Sudah jam setengah enam. Cepat bangun, sarapan, minum susu, vitamin, dan obatnya oke?"
"Iya, ini aku bangun!"
Randy terkekeh mendengar itu.
"Ya sudah, nanti siang aku telpon lagi. Sekarang aku harus bersiap-siap dan sarapan, … setelah itu menyiapkan segala sesuatu untuk meeting pagi ini."
"Tidak mau Vidio call dulu?" Perempuan itu bertanya, dengan bibir yang tampak menahan senyum.
Rasa rindunya benar-benar tak bisa Ayumi sembunyikan lagi.
"Nanti saja, kalau sekarang nanti aku tidak mau berangkat kerja."
"Baiklah, tutup saja teleponnya." Kata Ayumi.
"Kalau soal ini aku serahkan kepadamu."
"Ya sudah, selamat bekerja Daddy."
Ayumi menjauhkan benda pipih itu dari daun telinganya, menatap layar, kemudian menggeser tombol berwarna merah. Setelah itu Ayumi meletakan ponselnya begitu saja, dia turun dari atas tempat tidur, lalu keluar dari dalam kamarnya.
Udara terasa begitu sejuk. Hampir setiap ventilasi usaha di rumah kecil itu terbuka, dari pintu dan beberapa jendela.
"Ma?" Ayumi menatap sekitar ruangan yang sudah sangat rapih.
Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara gesekan sapu lidi di tanah. Dan Ayumi yakin itu adalah ibunya yang sedang membersihkan halaman dari daun-daun kering yang selalu berguguran.
Perempuan itu berjalan keluar, dan benar saja. Sumi tengah sibuk mengumpulkan dedaunan kering, untuk kemudian Sumi bawa dan buang kepada tong sampah yang memang sudah disediakan hampir setiap rumah.
"Kamu sudah bangun?"
Sumi tersenyum ketika dia mendapati Ayumi duduk di kursi teras depan rumah.
Ayumi mengangguk. Wajahnya terlihat sembab, rambutnya sedikit acak-acakan, namun tak mengurangi kecantikan sedikit pun.
Sumi meletakan sapu lidinya, membasuh tangan di kran air yang tersedia, jendela mendekati Ayumi, tapi panggilan seseorang membuat dia berbalik badan seketika.
__ADS_1
"Anaknya datang lagi ya, Bu?"
Seorang wanita sebanyanya tiba-tiba berhenti di depan pekarangan rumah, kemudian bertanya.
"Iya, Bu." Sumi menjawab sambil tersenyum.
"Oh pantas, kemarin rumahnya sepi banget. Sekarang rame lagi." Katanya.
"Kebetulan sedang bermalam disini, Bu."
"Oh, kalau begitu mari!" Pamitnya kemudian pergia.
"Orang-orang mendadak suka basa-basi sekarang. Biasanya kalau lewat ya lewat aja, jangankan jauh begini, ketemu di jalan dengan jarak yang sangat dekat saja mereka hampir tidak pernah mau menyapa." Gumam Tutih pelan, kemudian duduk di kursi satunya lagi yang terletak tepat di samping Ayumi.
Ayumi menoleh, menatap wajah Ibunya yang terdapat di basahi keringat. Bahkan wajahnya memerah, karena rasa lelah yang terasa.
"Mau makan?"
"Aku mau bubur itu lagi sih, tapi Mama nya masih cape."
"Bubur ayam Raden?"
Ayumi mengangguk. Air liurnya tiba-tiba berkumpul, citarasa yang berbeda membuat Ayumi benar-benar menyukai bubur Ayam yang sempat Sumi perkenalkan.
"Nanti Mama telepon. Sama minta antar sekalian!" Kata Sumi.
"Memangnya bisa?"
"Bisa kalau belinya lebih dari satu."
"Mandilah dulu, … agar selesai mandi buburnya sudah sampai." Titah Sumi.
Ayumi menuruti perkataan ibunya. Perempuan itu segera berdiri, dan beranjak pergi memasuki rumah.
***
Sore harinya tepat pukul 16:00.
Ayumi terus bermalas-malasan, berbaring di atas ubin beralaskan tikar, dengan selimut tipis yang terus membungkus tubuhnya, menemani dia yang tengah asik menyaksikan tayangan komedi sore.
Sementara Sumi terlihat begitu sibuk, menyiapkan segala makanan untuk Ayumi. Karena tidak biasanya kini calon ibu muda itu terus menanyakan makanan.
Ayumi selalu mengeluh perutnya terasa keroncongan, jadi dengan siap siaga Sumi menyiapkan makanan buatkan, dan itu sangat menyenangkan dimana makanannya sangat diapresiasi.
"Nah, cepat makam mumpung sudah hangat." Sumi membawa mangkuk dari arah dapur sana, kemudian meletakan tepat di hadapan Ayumi.
Dia mengubah posisinya menjadi duduk, menatap mangkuk berisikan singkong sayur pesanannya tadi siang.
"Maaf ya aku ngerepotin Mama." Ayumi meraih mangkuknya, lalu memulai menyantap perlahan.
Singkong yang begitu lembut, gurih, dengan wangi daun bawang juga seledri, menjadi salah satu makanan favorit apalagi dimakan hangat-hangat seperti itu, membuatnya terasa begitu nikmat.
"Mama senang kamu makan terus."
"Asal jangan nasi aku bisa." Tukas Ayumi sambil terus menikmati singkong buatan ibunya.
__ADS_1
Sumi menatap Ayumi dengan kedua sudut bibir yang tertarik sampai membuat sebuah senyuman tipis.
"Mama mau?"
"Kalau mau tinggal ambil di belakang, itu memang sudah porsi buat kamu. Habiskan, jadi tidak apa-apa tidak makan nasi juga, sudah singkong yang menjadi penggantinya."
Ayumi mengangguk.
"Mama kembali ke dapur dulu."
"Iya Ma."
Namun tiba-tiba suara ketukan pintu rumahnya terdengar, membuat Ayumi menoleh dan menatap ke arah suara terdengar.
Tok tok tok!!
Senyum Ayumi terpancar, dia segera bangkit untuk membukakan pintu.
Tok tok tok!!
Ketukan itu kembali terdengar.
"Daddy kamu nggak sabaran." Gumam Ayumi dengan tangan yang mengusap perut, juga rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tok tok tok!!
"Iya, tunggu!" Kata Ayumi sedikit berteriak.
Klek!!
Ayumi menarik pintu kayu itu sampai benar-benar terbuka lebar. Namun senyumnya tiba-tiba surut, ketika Ayumi mendapati kenyataan yang mengetuk pintu rumah ibunya bukanlah Randy.
Melainkan sosok wanita paruh baya. Bahkan wanita itu terlihat sangat terkejut, tubuhnya tersentak ketika pandangan keduanya beradu untuk pertama kali.
"Maaf, Ibu cari siapa?" Ayumi tersenyum, dia mulai berbasa basi ketika rasa gugup mulai melanda.
Apalagi wanita itu terus menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa Ayumi artikan.
"Bu?" Ayumi melambaikan tangan di hadapannya, namun wanita itu terus diam.
"Siapa, Ay?" Sumi melihat ke arah pintu dimana putrinya berdiri di sana.
Ayumi menoleh.
"Sepertinya ada yang cari Mama."
Ayumi berbalik badan, kemudian pergi kembali ke arah dalam.
"Mama?" Nur bergumam lirih. Dia benar-benar tidak percaya.
Bagaimana bisa dia bisa mendapati sosok yang selalu Sumi ceritakan. Memang belum ada kabar perihal itu, hanya saja perpaduan wajah Valter dan Sumi di wajah perempuan itu benar-benar membuatnya yakin, apalagi saat dia memanggil Sumi dengan sebutan Mama.
"Ya ampun, Bu Nur. Silahkan masuk!" Sumi menyambut dengan senyum sumringah.
Sementara wanita itu masih berusaha menarik kesadarannya setelah menghilang karena rasa keterkejutannya ketika melihat wajah Ayumi untuk yang pertama kali.
__ADS_1