My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 149 (Firs meet)


__ADS_3

Tepat pukul 20:00 malam.


Deburan ombak terdengar begitu jelas, diiringi suara daun-daun pohon kelapa yang saling bergesekan, ketika angin kencang mulai menerjang. Dan disanalah keluarga Randy juga Ayumi berada. Satu bangunan berukuran besar yang Randy sewa khusus untuk Ali, Tutih, Maria juga Sumi.


Suasana begitu cerah, bahkan langit malam terlihat begitu biru, dengan bintang-bintang yang tampak memenuhi langit luas pada malam hari ini.


Mereka berkumpul di teras depan villa. Menikmati hidangan makan malam dengan suasana yang begitu indah.


"Sebenarnya kalau hanya makan malam tidak perlu mengajak kesini. Cukup bilang nanti Ibu sediakan di rumah." Tutih berujar, dia mulai menggeser piring makannya yang sudah kosong.


"Kalian memang membuat terkejut." Maria ikut berbicara. "Malam-malam telpon, suruh datang kesini secara dadakan, kirain ada apa!" Sambungnya.


"Sebenarnya, … saya yang mengajak Ayumi kesini. Seseorang datang dan Ayumi meminta untuk bertemu, kebetulan dia menginap di hotel sini juga." Sumi menatap Maria, Ali juga Tutih bergantian.


Dan di timpali Ayumi dengan anggukan. Dia menatap kedua orang tua juga ibu mertuanya sedikit ragu, entah bagaimana perempuan itu menjelaskan ceritanya.


"Ada apa, Bu? Ada sesuatu?" Tanya Maria.


Sumi mengulum senyum, lalu menggelengkan kepalanya.


"Saya mohon maaf sebelumnya kepada Pak Ali juga Bu Tutih, saya sedikit lancang karena membawa Ayumi menemui ayah kandungnya yang saat ini kebetulan datang ke Indonesia." Sumi terlihat sedikit ragu, namun dia tidak memiliki pilihan lain, selain mengatakannya kepada orang tua asuh putrinya.


Seketika keadaan menjadi hening. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, terutama Maria yang terlihat begitu terkejut. Walaupun hanya sedikit, setidaknya Maria mengetahui masa lalu Sumi. Sosok gadis yang begitu dikenal, karena mempunyai prestasi yang begitu luar biasa ketika dia muda. Bahkan dulu membuat beberapa orang bangga, karena di usianya yang terbilang belia dia sudah mampu menjadi tour guide, hingga mampu membantu perekonomian keluarganya.


"Dari Jerman?" Cicit Maria.


Sumi mengangguk.


"Sebenarnya dia datang untuk memberi kabar. Jika ka Susi sudah meninggal!"


"Meninggal!?" Ucap Tutih juga Maria bersamaan.


Dua wanita sebaya itu sama terkejutnya dengan penuturan Sumi.


"Siapa yang meninggal?" Tutih menatap Sumi lekat-lekat.


"Kakak saya, Bu. Dia sudah lama tinggal di Jerman, dan meninggal beberapa bulan lalu karena mengidap kanker serviks."


Mata Tutih membulat, raut wajahnya terlihat begitu terkejut. Hal yang sama Maria perlihatkan, dan tiba-tiba Susana terasa semakin haru, apalagi saat Sumi tersenyum, namun matanya tampak berkaca-kaca.


"Kalau begitu, … ayo kita ke sana!" Randy menunjuk salah satu bangunan menjulang tinggi, yang terletak tidak jauh dari villanya.


Sumi dan Ayumi mengangguk.


"Tidak apa-apa kamu tinggal dulu?" Pamit Sumi.

__ADS_1


"Apa Ayumi akan baik-baik saja setelah menemui ayah kandungnya?" Tutih khawatir.


Sumi tidak menjawab, tapi dia menoleh. Seperti sedang menyerahkan jawaban kepada putrinya.


"Ayumi yang meminta kepada Mama, Bu. Jadi Ibu tenang saja, aku akan baik-baik saja apalagi ada Abang juga yang mau nemenin aku."


Akhirnya Tutih mengangguk, dan merelakan Ayumi segera pergi bersama ibu kandung juga suaminya. Wanita itu hanya terdiam menatap punggung Ayumi yang terlihat semakin menjauh.


"Biarkan Ayumi berbahagia. Dia juga ingin tahu dari mana dia berasal. Dia tidak akan melupakan kita, Ayumi hanya sedang mencari siapa diri dia sebenarnya." Ali mengusap punggung istrinya.


"Benar, Bu. Sepertinya Ayumi hanya ingin tahu siapa masalalu ibunya." Maria ikut berbicara.


"Iya, saya hanya takut Bu. Dan sedikit bingung, kenapa ayah kandung Ayumi memberi kabar jika kakak nya Bu Sumi meninggal? Mereka tinggal disana? Lalu kenapa Bu Sumi justru tinggal disini sendirian?" Katanya.


"Takut itu hal yang wajar, tapi kita tidak bisa menahan anak kita, apalagi saat dia akan mendekati kebahagiaannya. Bu Tutih tetap Ibunya walaupun dia sudah menemukan Bu Sumi, Pak Ali pun sama, anda tetap ayahnya meskipun sekarang dia akan menemui ayah kandungnya. Dan untuk pertanyaan terakhir Bu Tutih, saya pun tidak terlalu paham." Maria mencoba membuat Tutih mengerti dengan sedikit penjelasan yang dia katakan.


***


"Ah, Mama lupa. Tidak ada apapun untuk di hubungi, lalu bagaimana cara memberitahunya jika kita datang!" Wanita itu menatap anak menantunya bergantian.


Ayumi beralih menatap suaminya, dia pun ikut bingung. Sebelum akhirnya Randy meminta keduanya untuk menunggu, dan berjalan ke arah meja resepsionis, berbekal sebuah nama lengkap yang Randy ketahui.


Pria itu tampak berbicara serius dengan seorang perempuan yang bertugas di sana, dan tidak lama perempuan itu meraih telepon, menempelkan di daun telinga, sementara Randy kembali berjalan menghampiri Sumi juga Ayumi.


"Kita tunggu disana, resepsionis sedang berusaha memanggil, mungkin sebentar lagi akan datang."


Sumi menengadahkan pandangan, menatap betapa mewahnya ruangan luas dimana dirinya berada saat ini. Lampu-lampu berbentuk kristal berukuran besar, menggatung di tengah-tengah ruangan dengan cahaya kuning keemasan yang terpancar, juga ornamen kayu yang mendominasi ruangan itu, membuat Sumi benar-benar terpukau.


Sudah sangat lama dia tidak melihat tempat-tempat semewah itu. Setelah dia melahirkan, dan kehilangan segalanya, Sumi benar-benar menjauh dari hingar bingar beberapa tempat yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Tentu saja, saat dia bekerja menjadi tour guide pribadi, hotel mewah bukan lagi hal aneh, termasuk ketika dia dan Valter masih menjadi kekasih, pria itu selalu mengajaknya berkencan mengunjungi tempat yang dia datangi dulunya belum semegah sekarang.


"Excuse me?" Seorang pria datang mendekati meja resepsionis, ketika dia mendapati telepon beberapa menit lalu.


"Mister Valter?"


Pria itu mengangguk.


"Ada yang mencari saya?" Valter berbicara dengan bahasa Indonesia yang masih terdengar kaku.


"Betul, mereka menunggu disana." Wanita itu menunjuk tiga orang yang duduk di beberapa sofa yang memang disediakan di ruangan itu.


Valter mematung ketika pandangannya menatap Sumi. Namun, yang paling membuatnya lebih terkejut adalah sosok gadis cantik yang duduk tepat di sampingnya. Mereka bahkan tampak tersenyum-senyum, di sela obrolan yang entah apa, karena Valter tak dapat mendengarnya karena jarak yang cukup jauh.


"Mau saya antar, Pak?" Petugas resepsionis itu menawarkan diri.


"Boleh, boleh." Valter mengangguk-anggukan kepala.

__ADS_1


Wanita berpenampilan rapih itu tersenyum, berjalan memutari meja kerjanya, kemudian melangkah lebih dulu ke arah Sumi, Randy dan Ayumi, diikuti Valter di belakangnya dengan perasaan berdebar dan bertanya-tanya.


"Permisi, Pak. Tadi anda meminta saya menghubungi Mr. Valter Albert Baldomero?"


"Ya." Randy segera berdiri untuk menyambut. Bahkan pria itu tersenyum seraya mengulurkan tangan.


Valter membalas senyuman Randy tak kalah ramahnya, kemudian meraih tangan Randy sampai keduanya berjabat tangan untuk beberapa detik.


Sementara Ayumi dan ibunya hanya terdiam.


Sumi yang merasa sedikit gugup, karena hubungan terakhir mereka yang tidak baik-baik saja, bahkan bisa dibilang sangat buruk. Begitupun dengan Ayumi, dia menatap pria yang kini dia yakini ayahnya dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.


"Benarkah? Dia ayahku?" Batin Ayumi berbicara.


"What's your name?" Valter menatap Randy.


"Randy."


Valter mengangguk.


"How are you?"


"I'm good. How about you?"


"Saya baik juga." Jawabnya menggunakan bahasa Indonesia.


Setelah itu Valter beralih kepada Ayumi, dia kembali tersenyum dengan rasa penasaran yang semakin tinggi. Tapi tentu saja dia tidak mau terlalu berharap.


"Halo?" Valter menyapa Ayumi, dia ikut mengulurkan tangan. "Apa kabar?" Senyumnya terus tersungging.


Namun Ayumi hanya diam menengadahkan pandangan, menatap pria tinggi yang terus berdiri. Sesekali dia menatap telapak tangannya, tapi selalu kembali ke arah wajah pria itu.


Hatinya berdebar-debar. Perasaannya tak menentu, entah bagaimana Ayumi harus menyebutnya karena dia pun tidak tahu.


Sesuatu di dalam dirinya mendorong agar dia segera berdiri, kemudian memeluk Valter dengan sangat erat.


Tapi Ayumi mencoba menekankan perasaan itu.


"Kenapa? Apa saya terlihat menakutkan?" Valter berbicara.


"Nggg, … she is …"


Belum selesai Sumi berbicara. Ayumi benar-benar bangkit, dan menghambur memeluk pria itu, lalu menangis lirih. Akhirnya pertahanan Ayumi runtuh, perasaannya terhadap Valter begitu besar, sampai tidak mampu menahannya lebih lama lagi.


"Padahal mereka baru saja bertemu. Tapi lihatlah betapa kuat ikatan batin seorang ayah dan anak." Hati Sumi berbicara dengan perasaan haru.

__ADS_1


Valter mematung, membiarkan Ayumi memeluknya, dengan tatapan yang tertuju kepada Sumi, seolah mencari sebuah jawaban meski hatinya mengatakan jika gadis itu sosok yang memiliki bagian dari dirinya.


__ADS_2