My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 156 (Bertengkar)


__ADS_3

Ayumi berjalan keluar kamar dengan handuk yang masih melingkar di kepalanya, membungkus rambut basah setelah mandi beberapa menit lalu, tak lama setelah dirinya juga sang suami sampai. Ruang tengah terlihat kosong juga sepi, dan tujuannya saat ini adalah taman belakang rumah, karena biasanya Randy selalu menghabiskan waktu disana sambil menghisap benda yang mengandung nikotin.


Dan benar saja, pria itu duduk di salah satu kursi kayu, memainkan ponsel dengan rokok yang tampak mengepulkan asap.


Pria itu tampak sedang berbalas pesan.


"Jangan dulu mendekat, diam disana!" Kata Randy saat menyadari keberadaan Ayumi, dan perempuan itu hampir melangkahkan kaki untuk mendekat.


Dia memadamkan rokok di dalam asbak, lalu mengibas-ngibaskan tangan di udara berusaha menghilangkan asap yang masih berterbangan disana.


"Memangnya kenapa kalau aku mendekat?"


Ayumi kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Bahaya untuk ibu hamil. Tidak baik untuk janin!" Katanya.


"Lalu kenapa masih merokok?" Ayumi duduk tepat di hadapan Randy.


Menatap pria itu dengan tatapan tajam, sampai membuatnya terlihat gugup dan kehilangan kata-kata.


"Aneh bukan? Kamu tidak mau anak istrimu terluka atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sementara kamu masih terus merokok seperti ini, lalu apa bedanya? Kamu pernah dengar jika asap yang menempel di baju juga sama bahayanya?!" Perempuan itu berceramah.


Randy bungkam, dia tidak bisa menjawab.


"Kemarin-kemarin sudah bagus menurut, tidak pernah merokok lagi. Lah sekarang malah mulai!"


"Aku hanya bosan, Ay!"


"Kalau bosan panggilan teman-temanmu, ajak dia kesini main PS seperti biasanya." Ayumi memberi usulan.


"Iya iya. Kamu nyebelin kalau ngomel-ngomel begini!" Tukas Randy, seolah memohon agar Ayumi berhenti berbicara.


"Lalu apa gunanya aku disini? Masih tetap bosan kan? Nanti-nanti tinggalin aku di rumah Bapak Ibu, atau sama Mama aja, kamu bisa keluar semau kamu, atau mengajak teman-teman kamu agar tidak bisa." Ayumi semakin meradang.


Mata Randy terbelalak, ucapan itu tentu saja terdengar sangat menakutkan, karena Ayumi terlihat sangat bersungguh-sungguh kali ini. Bahkan sorot matanya sudah menjelaskan jika perempuan itu sedang marah karena ucapannya.


"Maksud aku tidak begitu. Aku hanya merasa bosan karena tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan."


"Ya kenapa kita nggak pulang malam saja, kamu kan bisa langsung tidur. Pulang masih pagi, sampai rumah malah ngeluh!"


"Ay …"

__ADS_1


"Dah ah, aku bete sama kamu sekarang. Bisa-bisanya bilang kalau bosan, lalu apa kabar dengan aku!" Ayumi segera bangkit, dan beranjak pergi masuk kedalam rumah, meninggalkan Randy begitu saja.


Randy tertegun.


"Sayang? Maksud aku tidak begitu, aku bukan bosan kepada dirimu!"


Randy segera bangkit, dan mengejar istrinya yang sedang merajuk karena kata-katanya.


"Ay?"


Panggil Randy lagi, satu tangannya dia jadikan untuk menahan pintu kamar yang hampir Ayumi tutup.


"Pergi sana!" Ayumi berusaha terus menutup pintu.


Sementara Randy berusaha mempertahankannya agar tetap terbuka, sampai terjadilah dorong mendorong.


"Ay aku sedang lelah, jangan membuat aku marah."


Namun Ayumi tak mendengarkan, dia terus mendorong pintu kamarnya sampai Randy mengalah dan membiarkan pintu kamarnya tertutup. Ego nya yang tinggi, sedikit tidak bisa mengontrol emosi, membuat Randy menjadi pria yang selalu emosional dalam segala hal.


"Terserah." Randy berteriak. "Terserah kau saja, jika kau ingin aku pergi, maka aku akan pergi, … jangan salahkan aku jika aku pulang larut atau bahkan tidak pulang sama sekali!" Suaranya semakin meninggi.


Membuat Dini begitu terkejut, dan berlari ke arah ruang tengah dimana terdapat Randy disana.


"Den?" Meski ragu Dini tetap mendekat.


Pria yang dia maksud menoleh, dan menatap tidak suka ke arahnya.


"Urus dia, sediakan apapun. Tapi jangan biarkan dia keluar rumah!" Ucap Randy penuh penekanan.


Dini mengangguk, hatinya berdebar-debar dengan rasa takut yang begitu mendominasi.


Setelah itu Randy segera bergegas mendekati laci dimana kunci mobilnya terletak di dalam sana. Dia keluar, dan berlari ke arah garasi rumah.


Suara mesin mobil Civic tipe R berwarna hitam mulai menyala, terdengar meraung-raung dan setelah itu suaranya terdengar mulai samar menandakan Randy benar-benar pergi dari rumah dengan amarahnya yang memuncak.


***


"Tumben kesini? Padahal setelah menikah jarang banget datang cuma buat lihat kita latihan!" Bagas datang menghampiri.


Dia meletakan air minum kemasan di atas meja, kemudian duduk tepat di samping Randy yang terlihat berantakan.

__ADS_1


"Ada masalah?" Tanya Bagas lagi saat menyadari pria itu menjadi sedikit lebih pendiam.


"Tidak ada, sejauh ini pekerjaan semua aman." Randy menjawab.


"Mungkin masalah lain, selain pekerjaan. Rumah tangga misalnya!"


Namun bukannya menjawab, Randy justru menghela nafasnya dengan kencang.


"Begitulah wanita, membuat kita pusing. Terkadang dia mengatakan tidak apa-apa, tapi jauh di dalam hatinya dia mengatakan iya. Rumusnya benar-benar rumit, terkadang apa yang dia bicarakan, berbeda dengan keadaan hatinya. Misal, mereka mengatakan pergi! Tapi jangan salah, mereka sebenarnya tidak benar-benar mengusir kita, mereka hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri." Jelas Bagas panjang lebar.


Randy menoleh. Menatap salah satu temannya itu lekat-lekat.


"Kau sok tahu! Bahkan menikah saja belum, sudah berani mengatakan banyak hal!" Ujar Randy sembari mencebikan bibir.


"Memang. Tapi aku memiliki Kakak perempuan, dia sering menangis jika suaminya pergi, padahal dia yang memintanya. Lalu setelah itu aku bertanya, … kenapa dia menangis padahal suaminya sudah menuruti keinginan dia. Bro? Kau tahu apa yang Kakak ku jelaskan?"


Randy menggelengkan kepala.


"Dia tidak benar-benar ingin suaminya pergi. Dan mungkin itu yang membuat kamu kesini sekarang. Kita berteman sudah cukup lama Ran, sedikit banyak aku tahu ketika kamu datang dengan atau tanpa masalah."


Randy mengalihkan pandangan dari sahabatnya. Dia menatap langit luas yang mulai meredup, cahaya matahari memantul dan menimbulkan siluet keemasan dengan angin yang berhembus pelan.


Lalu pandangannya beralih kepada teman-teman lain yang masih berlatih, kemudian menatap Aleesa yang juga tengah berada disana, duduk sendiri menatap langit-langit dengan begitu tenang setelah mengerjakan banyak hal.


Tiba-tiba saja dia teringat dengan Ayumi. Perempuan itu begitu menyukai suasana seperti ini. Dimana matahari akan terbit atau terbenam.


Dia sangat ingin pulang dan menemuinya dengan segera. Namun egonya sebagai laki-laki mengatakan tidak, kata-kata yang dirinya lontarkan kepada Ayumi sebelum pergi, membuat Randy berpikir ulang.


"Jadi benar apa yang aku lakukan? Kamu sedang ada masalah?"


"Katakan saja begitu." Jawab Randy singkat.


"Maka pulanglah, aku yakin Ayumi sedang menangis, kasihan. Mana dia sedang hamil lagi, anggap saja moodnya sangat buruk sampai membuat kalian bertengkar."


"Tapi aku sudah memohon tadi, dan dia tetap memintaku pergi."


"Sudah aku katakan, wanita itu aneh."


"Yah, kau benar sekali."


Bagas kembali bangkit setelah menghabiskan air minumnya.

__ADS_1


"Pulanglah sobat!" Bagas menepuk-nepuk pundak Randy, dan kembali ke tengah lapangan untuk berlatih.


"Ah nanti sajalah, aku gengsi." Randy bergumam.


__ADS_2