My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 63 (Pulang)


__ADS_3

Ayumi hampir saja berteriak saat Randy semakin menggila dan tak terkendali. Namun dengan segera pria itu membungkamnya dengan c*uman yang sangat dalam, sampai suara Ayumi tertahan dan hanya lenguhan pelan yang hanya bisa didengar oleh pria itu.


"That's coming, babe!!" Randy menggeram pelan, wajahnya memerah saat sesuatu hampir terlepas, tapi dia berusaha menahannya.


Ayumi memejamkan mata, mencengkram kencang pergelangan tangan suaminya, merapatkan bibir dengan nafas yang semakin menderu-deru.


"Argghhh!" Suara mereka tertahan, saat sesuatu di dalam sana benar-benar meledak.


Dan setelah mengarungi hebatnya amukan badai g*irah. Akhirnya Randy dan Ayumi diam, memindai wajah satu sama lain dengan dada yang naik turun dengan cepat.


Rambut panjang terurai yang terlihat acak-acakan, bibir merah sedikit membengkak, dan jangan lupakan beberapa tanda merah keunguan yang Randy berikan khusus untuk sang istri, membuat kondisi perempuan itu sedikit memprihatinkan.


Namun dia menyukainya.


Randy tersenyum, kemudian membungkuk untuk kembali menyatukan kening keduanya, setelah menarik diri dan melepaskan tautan tubuh mereka.


Ayumi memejamkan mata, dia meringis saat hendak mengubah posisinya berbaring miring.


"Mau tidur?" Tanya Randy, saat dia ikut merebahkan diri.


Ayumi mengangguk.


"Tidak mau membersihkan diri sekarang? Kita harus pulang jam tujuh."


"Aku ngantuk, aku capek, … dan sepertinya aku sakit!" Ujar Ayumi pelan.


Randy memeluk Ayumi, lalu menghujani kening istrinya dengan beberapa kali kecupan hangat penuh cinta.


"Maaf, … dan terimakasih untuk hal yang sangat indah pagi hari ini."


"Kenapa setelahnya, malah semakin sakit?" Dia berbisik pelan.


Lagi-lagi Ayumi terlihat meringis.


"Benarkah?" Randy menatapnya penuh damba, yang langsung dijawab anggukan oleh Ayumi.


"Ohh sayang, maafkan aku." Randy semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak yakin setelah ini bisa duduk, sementara berbaring saja masih sangat sakit."


"Maafkan aku, Ay." Randy hanya mampu mengatakan itu, saat Ayumi terus mengeluh sakit, namun dia tidak tahu harus berbuat apa, karena yang istrinya rasakan adalah sebuah proses yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.


"Ya Sudah, tidur saja! Sementara aku mah mandi dulu." Ucap Randy.


Dia kembali mencium kening Ayumi, sebelum dia memunguti pakaian, mengenakannya, dan beranjak pergi untuk membersihkan diri.


***


Selesai membersihkan diri. Randy segera keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkapnya, sembari mengusak rambutnya yang masih basah dan menitikan air.


"Mau pulang hari ini?" Tanya Ali saat Randy melewati pria yang duduk di kursi ruang tengah.


Randy mengangguk, dia ikut bergabung dan duduk di hadapan sang ayah mertua.


"Tidak menginap semalam lagi?"


"Sayangnya tidak bisa, ada beberapa pekerjaan yang harus segera saya selesaikan. Sebelum resepsi nanti."


"Ah iya, Bapak lupa kalau kamu ini seorang Asisten yah. Jadwal mu pasti sama banyaknya dengan Kaka ipar Bianca."


"Begitulah." Randy mengangguk, lalu tersenyum.


Ali memicingkan mata, menatap wajah Randy yang terdapat satu goresan merah, dan luka itu sepertinya cukup dalam.


"Pipi kamu kenapa? Apa kalian bertengkar?"


Randy menyentuh pipinya yang memang terasa sedikit perih.


"Tidak. Kami bercanda, dan Ayumi tidak sengaja menggoreskan kukunya disini." Randy terkeh.


Dia mulai gugup.


"Ayumi masih tidur?"


"Iya, obat yang Dokter resepkan sepertinya mengandung obat tidur dengan dosis tinggi."


Ali menghembuskan nafasnya pelan.


"Keadaannya memang separah itu yah!"


"Hanya belum pulih, masih ada beberapa jadwal bertemu Dokter, juga terapi untuk Ayumi."


"Bapak titip Ayumi, yah? Dia agak ceroboh, jagalah Ayumi seperti kamu menjaga Ibumu, dan sayangi dia bagaimanapun keadaanya. Mungkin ada beberapa hal yang belum kamu tahu, tapi keadaan Ayumi tidak sebaik kelihatannya."


"Iya Pak."

__ADS_1


"Hati-hati dengan kaki sebelah kiri Ayumi."


Randy menatap Ali dalam-dalam. Sementara pria itu hanya tersenyum.


"Jam berapa kalian pulang?"


"Jam tujuh."


Tidak lama setelah itu, Tutih datang dari arah luar, membawa kantong berwarna putih, berisikan beberapa kotak plastik.


"Randy, bangunkan Ayumi. Kita sarapan dulu, Ibu beli Bubur ayam cakwe kesukaan Ayumi!" Wanita itu tersenyum.


Randy menjawab dengan anggukan, lalu bangkit dan menghambur ke dalam sebuah ruangan kecil dimana istrinya berada.


"Ay?" Dia masuk, dan mendekati perempuan yang masih betah bergulung selimut, menyembunyikan tubuhnya yang kini tak memakai busana sama sekali.


Randy duduk di tepi ranjang, kemudian menepuk-nepuk lengan istrinya beberapa kali.


Ayumi mengerang, menggeliat, kemudian mengerjapkan mata beberapa kali, saat sesuatu terasa terus menepuk dirinya.


"Bangun! Ibu sudah membeli Bubur ayam cakwe kesukaanmu." Ucap Randy dengan suara lembut.


Ayumi tidak menjawab, dia meringis mendekat, kemudian memeluk pinggang Randy, dan menyembunyikan wajahnya disana.


"Ayo pakai bajunya."


"Aku capek!"


Randy terkekeh, dengan tangan yang terus mengusap rambut Ayumi.


"Ya, aku tahu. Sekarang pakai bajunya, sarapan, mandi, dan kamu boleh istirahat di jalan pulang nanti!" Jelas Randy.


Perempuan itu tidak menyahut, dia hanya terus berbaring menelungkup, memeluk pinggang suaminya.


"Ay? Ayolah, jangan membuat orang tuamu khawatir, … atau mereka akan masuk dan mendapati keadaanmu seperti ini."


Mendengar itu Ayumi segara bangkit, dan merapatkan selimut untuk menutupi segala yang mungkin akan kembali membuat Randy hilang kendali.


Randy bangkit, memunguti pakaian milik Ayumi, dan memberikannya.


"Kamu keluar dulu yah!" Pinta Ayumi.


"Kenapa? Aku disini menunggu, ayo kita keluar bersama."


Randy tersenyum miring, seraya menatap Ayumi tajam.


"Abang!"


"Kenapa malu? Kita sudah melihat satu sama lain tadi."


Ayumi diam, pipinya kembali memerah saat bayangan itu kembali melintas. Dimana mereka sama-sama hilang kendali, bahkan tak mengenal waktu.


"Cepatlah!"


"Abangnya keluar dulu!" Ayumi merengek, dia kesal entah harus bagaimana caranya membuat pria dihadapannya segera pergi.


"Ay! Cepat."


"Ish, … kamu suka maksa sekarang. Awas saja kalau sampai tergoda lagi, bukan salah aku yah? Aku udah nyuruh keluar dari tadi." Dia menunjuk wajah suaminya, semantara Randy hanya tertawa pelan.


Dia benar-benar merasa gemas dengan istri cantiknya. Gadis yang sudah menyerahkan darah perawan hanya untuk dirinya.


***


Pasangan muda itu keluar dari dalam kamar, berjalan perlahan-lahan ke arah kursi ruang tengah rumahnya, dimana Ali dan Tutih berada, duduk menyantap bubur yang Tutih beli.


"Sarapan dulu, setelah sarapan kamu boleh tidur lagi jika benar-benar harus." Dia membuka penutup wadah bubur tersebut, lalu menggesernya.


Ayumi mengangguk, kemudian duduk di kursi kosong, bersebelahan dengan Randy.


"Duh!" Ayumi bergerak-gerak, sambil memegangi perut bagian bawah.


Gadis itu meringis, ketika rasa tak nyaman terasa diantara kedua pahanya.


"Kenapa?" Sempat-sempatnya Randy bertanya, meski sudah jelas itu akibat perbuatannya beberapa waktu lalu.


Ayumi menoleh, kemudian menggelengkan kepala, dan mulai menyantap buburnya.


"Kalian benar-benar mau kembali hari ini? Tidak tinggal selamat beberapa hari, atau satu Minggu?" Tutih menatap Ayumi juga Randy bergantian.


"Abang ada kerjaan, jadi kapan-kapan kita mampir lagi." Jelas Ayumi.


"Kamu mau kembali bekerja?" Kini Ali menatap Ayumi.


"Tidak tahu, lihat nanti."

__ADS_1


Perempuan itu terus bergerak-gerak, mencari posisi duduk yang nyaman, sambil terus menyantap bubur ayam miliknya.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Tutih khawatir.


Ayumi mengangguk.


"Perut bagian bawah aku nggak nyaman." Ayumi menjawab dengan sangat jujur, membuat pria di sampingnya membulatkan mata.


Bagaimana jika dia mengatakan itu? Kepolosannya membuat Ayumi kadang tidak bisa menyaring mana yang harus dikatakan, dan mana yang tidak, pikir Randy.


Pria itu mulai panik.


"Mau datang bulan? Biasanya perut kamu sakitkan di awal-awal haid?"


Namun gadis itu menggelengkan kepala.


"Bukan aku, …"


"Ay!?" Seketika Randy bangkit. "Kamu selesai? Kalau sudah ayo siap-siap, nanti aku terlambat." Randy gelisah.


Pandangan Ayumi menengadah.


"Bubur aku belum habis."


"Bawa saja, habiskan di mobil nanti. Sekarang bersiaplah, aku lupa kalau hari ini ada miting lebih awal." Dia beralasan.


"Hemm?" Ayumi terlihat bingung.


Begitupun dengan dua orang yang duduk menyimak di hadapannya, terdiam dengan sejuta pertanyaan di dalam isi kepala.


Gelagak pengantin baru itu terlihat aneh, pikir Tutih.


"Bu, Pak? Tidak apa-apa jika Ayumi ikut pulang sekarang?"


Ali mengangguk, dia tersenyum.


"Tentu saja, dia hakmu sekarang."


"Tapi kenapa sangat buru-buru, tunggu sore saja." Tutih berujar.


"Mungkin nanti setelah semua pekerjaan selesai, dan saya mengajukan cuti, kita akan berlibur disini."


Setelah mengatakan itu Randy kembali beralih kepada Ayumi.


"Ay? Cepat, bersiap. Atau aku akan habis di marahi Pak Raga jika terlambat."


Ayumi pun mengangguk, dia menutup tempat bubur itu, dan beranjak menuju kamar untuk membawa handuk, dan kembali menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur.


***


Ayumi memeluk tubuh Ibunya cukup lama, perpisahan kali ini terasa sedikit berat, entah kenapa tapi rasanya benar-benar ingin selalu berada di dekat mereka, orang tua angkat yang mencintainya melebihi siapapun.


Tutih mendorong kedua bahu Ayumi, menatap wajah pucat itu lekat-lekat dengan senyum samar yang sedikit dipaksakan. Rambut panjang kecoklatan yang dia ikat asal, juga jaket berwarna ungu kesayangannya yang saat ini perempuan itu kenakan, membuat Tutih semakin berpikir jika putrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu sakit, Ay?" Tutih menyentuh pipi, lalu keningnya.


"Hanya kelelahan!" Ayumi tersenyum. "Sepertinya ini hari haid pertama aku, jadi seprainya terkena darah tadi, … maaf Ibu jadi harus mencucinya." Dia berbohong.


Ayumi hanya malu, saat dia pergi dan meninggalkan kamar yang berantakan, dan terdapat sedikit noda darah diatas kain pelapis tempat tidur.


"Sudah, tidak apa-apa. Jangan lupa banyak minum air hangat, agar nyeri haidnya tidak terlalu parah."


Ayumi mengangguk.


Setelah itu Ayumi memeluk erat tubuh Ali, yang Ali balas tak kalah eratnya, bahkan pria itu mencium kening Ayumi beberapa kali.


Dan mereka pun segera beranjak pergi, setelah berpamitan kepada Tutih dan Ali yang mengantar keduanya sampai tempat dimana mobil Randy terparkir.


"Saya pamit, Pak, … Bu!"


Ali dan Tutih melambaikan tangan.


"Baik-baik disana yah!" Mata wanita itu berkaca-kaca.


"Iya, Ibu dan Bapak juga." Balas Ayumi.


Mobil pun mulai melaju perlahan, dan melesat dengan kecepatan tinggi setelah memasuki jalan utama.


Baru Lima belas menit berkendara, Ayumi sudah benar-benar terlelap, bahkan sampai mereka sampai di rumah besar milik Randy, gadis itu baru tersadar dari tidur panjangnya.


......................


Jangan lupa vote dan hadiah🏃‍♀️🏃‍♀️


__ADS_1


__ADS_2