
Randy berbaring miring di atas tempat tidur, berbalut selimut tebal yang akan melindunginya dari hawa sejuk pendingin ruangan. Matanya terpejam erat, dengan hembusan nafas yang terdengar teratur.
“Huwek, … oh astaga!”
Rintihan Ayumi terdengar begitu jelas.
Mata Randy langsung terbuka, saat mendengar suara yang cukup kencang berasal dari dalam kamar mandi. Dia segera mengubah posisi tidurnya untuk mencari keberadaan sang istri, dan ya. Pria itu tidak mendapati Ayumi bersamanya, padahal sekitar satu jam lalu ia masih mendapati perempuan itu terlelap di ruang kosong tidak jauh darinya.
“Uhuk, … uhuk, … uhuk!!”
Randy menyingkar selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Melompat dari atas tempat tidur, dan berlari mendekati pintu kamar mandi yang tampak sedikit terbuka dengan perasaan panik.
“Sayang?” Randy menerobos masuk.
Dengan keadaan bertelanjang dada dia mendekati Ayumi yang sedang membungkuk di hadapan wastafel, dimana perempuan itu berusaha memuntahkan isi perutnya.
“Ada apa? Kamu mengalami mual?” Dia memijat tengkuk sang istri.
Lalu menatap lurus ke arah cermin, sehingga pandangan mereka kembali beradu. Dan Randy cukup terkejut, saat melihat wajah Ayumi yang sangat pucat, dengan mata dan hidung yang sangat merah.
“Ah! padahal aku sudah senang, … aku kira tidak akan mengalami mual di pagi hari lagi!” Ayumi mengeluh.
Dia membuka kran air di hadapannya, mencuci tangan, berkumur, lalu membasuh wajah, yang langsung dia keringkan menggunakan tisu yang tersedia.
“Hhheuh aku capek! Padahal lagi enak-enak tidur. Tapi kenapa harus pusing sama mual sih.” Katanya lagi.
Ayumi memutar tubuh, lalu memeluk suaminya dengan sangat erat, sehingga wajahnya menempel langsung pada dada Randy tanpa penghalang apapun. Aroma khas yang tersisa dari minyak wanginya tercium, dan itu cukup menenangkan, bahkan rasanya sangat nyaman sampai Ayumi memejamkan matanya.
“Kamu mau sesuatu? Buah atau apapun yang akan membuat rasa mualnya hilang?” Tanya Randy, sambil mengusap-usap punggung istrinya.
Ayumi menggelengkan kepala.
“Baik, kita kembali kedalam. Masih sangat pagi, kamu bisa tidur kembali sebelum pagi nanti di ganggu si sulung.”
Randy sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian mengangkat tubuh Ayumi tanpa merasa kesulitan sedikit pun.
Ruangan temaram, tidak ada satu lampu pun yang menyala. Hanya sedikit cahaya yang menyorot dari arah luar, masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka.
“Aku ambilkan air hangat, oke?”
Randy membaringkan Ayumi di atas tempat tidur dengan hati-hati. Lalu kemudian menarik selimut, sampai menutupi hampir seluruh tubuh mungil milik istrinya.
“Tapi aku mau air dingin, … yang di botol!”
“Dingin?”
Ayumi mengangguk.
“Baru jam empat pagi, apa tidak akan menjadi hal serius? Maksud aku apa tidak akan membuat perut kamu sakit?”
“Tidak akan.”
“Yakin?”
“Hanya air dingin, Dad. Tidak akan membuat aku diare atau mengalami penyakit serius lainnya!” Ayumi tertawa cukup kencang.
Kala menatap raut wajah khawatir suaminya di bawah keremangan cahaya kamar.
“Lambung kamu sedikit bermasalah, Sayang. Aku tidak mau mengambil resiko yang cukup serius hanya karena sebotol air dingin.” Suaranya terdegar cukup serius.
Namun, itu tidak membuat Ayumi takut. Karena apa yang Randy perlihatkan, adalah sebuah bentuk rasa cintanya.
“Aku janji tidak akan terjadi apapun.” Ayumi sedikit memohon.
__ADS_1
Randy menatapnya lekat-lekat, sebelum akhirnya mengangguk tanda setuju.
“Tunggu sebentar.” Katanya, lalu beranjak pergi.
***
“Hari ini Daddy kerja?” Raizel memulai obrolan.
Mobil yang dikendarai Randy melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota pada hampir pukul 08.00 pagi.
Randy menoleh, menatap putrinya yang duduk di kursi samping kemudi, dengan sabuk pengaman yang melilit erat, melindungi tubuh kecilnya.
“Hanya menemani dan membantu Papi nya Bara untuk menemui beberapa orang.” Jelas Randy.
Kemudian dia kembali menatap jalanan di hadapannya, yang terlihat sedikit lebih pada dari pada hari-hari biasa.
“Papi nya Abang Bara sehat?”
“Sehat.”
Randy menurunkan kecepatan mobilnya, dan benar-benar berhenti tepat di perempatan jalan, kala lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
Lalu menatap Raizel, yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi wajah datar, namun terlihat begitu menggemaskan.
“Memangnya kenapa? Sampai tanya-tanya? Mau main kerumah Abang Bara, hum?”
Randy mengusap pipi Raizel dengan punggung tangannya.
Mata bulat, bibir keriting berwarna merah, dengan rambut panjang berponi yang dibiarkan terurai. Belum lagi seragam sekolah, membuat Raizel benar-benar tampak sangat menggemaskan.
Bahkan tak jarang, sebuah pertanyaan muncul secara tiba-tiba. Apakah benar gadis kecil itu putrinya? janin yang ia titipkan pada Ayumi selama sembilan bulan.
Lalu pikirannya kini tertuju kepada Ayumi, yang kembali mengandung buah hati kedua mereka.
“Papi nya Abang nggak sakit, tapi Daddy temenin? Kenapa Mommy malah di biarin di rumah sendirian?”
Randy tidak langsung menjawab. Dirinya hanya menatap mata bulat itu dengan rasa tidak percaya, karena kecerdasan Raizel membuat gadis kecil itu mempunyai banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terduga.
Belum sempat menjawab, lampu lalu lintas yang awalnya merah, berubah menjadi kuning, lalu hijau. Sehingga membuat klakson dari antrian kendaraan mulai terdengar. Dan Randy segera melakukan kendaraan roda empat miliknya.
“Yang butuh bantuan itu Mommy, Dad! Bukan Papi nya Abang.”
“Tapi Mommy tidak sendiri seperti yang El katakan tadi. Ada Oma!”
“Tapi itu tidak sama, … Mommy butuh Daddy, tapi kenapa Daddy terus bekerja dan membantu Papi nya Abang Bara? Ini aneh Dad!”
Raizel bereaksi, dia mengungkapkan apa yang ada dalam isi kepalanya.
“Daddy kerja, sayang.”
“I know.”
“Hemm, jadi apa yang Daddy lakukan sekarang adalah sebuah bentuk tanggung jawab untuk pekerjaan Daddy.”
Randy menjelaskan, sebisa mungkin dirinya akan membuat Raizel mengerti, sampai tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang sama.
Raizel membuka mulutnya untuk kembali berbicara, namun ucapan Randy jelas membuat gadis itu terdiam seketika.
“El tidak akan mengerti, El masih kecil. Jadi biarkan Daddy kerja, dan urusan Mommy, … Daddy sudah memantaunya melalui Bibi dan Oma. Kamu mengerti?”
Raizel mengangguk.
“So don't worry about that, okay?”
__ADS_1
“Okay, i'm sorry.”
Dan setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya mereka sampai. Randy menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang, dimana terlihat sudah ada seorang wanita yang ditugaskan untuk melakukan penyambutan seperti biasa.
“Okay, Baby! Come on, Daddy antar.”
Dia membuka sabuk pengaman yang melingkar di tubuh Raizel, lalu dirinya. Setelah itu turun lebih dulu, seraya berlari memutari mobil hanya untuk membukakan pintu untuk putri kecilnya.
“Thank you, Dad.”
“It's my pleasure, darling.”
Raizel berjalan sedikit menjauh, menunggu sambil menatap tubuh kokoh sang ayah, yang sedang mengambilkan tas ransel miliknya.
“Baiklah, belajar yang pintar. Dan jadilah juara di setiap pelajaran, … Daddy mencintaimu.”
Randy membantu mengaitkan tas pada pundak Raizel, lalu menuntun gadis kecil itu untuk mendekati salah seorang petugas wanita, yang sudah siap untuk menyambut.
“Hallo? Morning Raizel?”
“Morning miss.”
“Say good bye sama Daddy nya.” Katanya, lalu meraih tangan kecil Raizel, dengan senyuman yang terus diperlukan.
Raizel menurut, dia berbalik badan. Lalu melambaikan tangan pada ayahnya, dengan seulas senyuman manis yang dia perlihatkan.
“Love you, El.”
Raizel mengangguk.
“Me too, Dad!”
“Kalau begitu Daddy boleh pergi?” Randy meminta izin.
Hanya untuk memastikan, dan Raizel tidak akan menangis.
“Ya.” Raizel menjawab singkat.
Randy memutar badan, berjalan perlahan mendekati mobil miliknya. Namun, tiba-tiba saja Raizel terdengar berteriak, sehingga membuat dirinya memutar tubuh dengan segera.
“Daddy?”
“Iya, El?”
“Give me a kiss.” Katanya, lalu dia berlari mendekati Randy dengan cepat.
Senyuman Randy terlihat, dia berjongkok, kemudian merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Raizel.
“I love you so much, Dad.” Dia memeluk pundak ayahnya, lalu memberikan satu kecupan di pipi.
Randy terkekeh, dan segera membalas kecupan dari sang putri.
“Baiklah, nanti kamu telat. Cepat masuk!”
Raizel mengangguk.
Dia melepaskan lilitan tangan di pundak sang ayah, berjalan mundur sambil terus melambaikan tangan.
“Come, teman-teman sudah menunggu di dalam.”
Raizel menerima uluran tangan dari wali kelasnya yang datang, kemudian beranjak masuk. Sementara Randy terdiam, menatap punggung Raizel yang perlahan mulai menjauh.
“Ah dia manis sekali seperti ibunya.” Ucap Randy setengah berbisik.
__ADS_1
Lalu, setelah memastikan jika Raizel masuk kelas. Randy pun memutar tubuh, berjalan mendekati mobil, masuk, dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.