My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 192 (Hadiah)


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Beneran yah! Hari ini aku boleh buka koper yang dari Mama." Ayumi menatap ibunya dengan seksama, menunjuk Sumi sambil tersenyum-senyum sendiri.


Sementara wanita yang di maksud hanya mengangguk-anggukan kepalanya, ketika Ayumi terlihat begitu antusias untuk membuka koper yang memang dia hadiahkan.


Hampir saja Ayumi melompat dari atas sofa, berniat untuk lari ke arah kamar. Namun, dengan segera Randy menahannya, memenangi baju yang istrinya pakaian sampai perempuan itu tidak dapat melakukan adegan berbahaya.


"Tunggu dan duduk. Abang yang ambil!" Randy segera berdiri, kemudian beranjak pergi memasuki sebuah pintu kamar yang tertutup dengan rapat.


Dengan tidak sabar Ayumi menunggu. Wajahnya terlihat begitu berbinar, merasa tidak sabar melihat hadiah apa yang ibunya bawakan dari Jerman sana, selain beberapa cemilan dan coklat yang tentunya sudah lebih dulu wanita itu perlihatkan.


Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah dapur kotor. Dan munculah Maria dengan sebuah nampan berisikan satu piring besar bolu panggang yang masih menimbulkan bau lezat.


"Sudah matang?" Wajah Ayumi terlihat semakin berbinar.


Maria mengangguk, lalu meletakan piring itu di atas meja. Setelahnya di susul Dini yang terlihat membawa nampan juga, namun sang asisten terlihat membawa teko dan beberapa cangkir.


"Terimakasih ya, Bi." Kata Maria.


Dini hanya mengangguk, lalu kembali ke arah dapur.


"Apa itu?" Langsung saja Maria menoleh ke arah suara terdengar. Dimana Randy terlihat menarik sebuah koper hitam berukuran sedang.


Randy tidak langsung menjawab. Dia hanya menyimpan benda itu tak jauh dari sofa.


"Buka sayang." Ayumi bertepuk tangan.


Tingkahnya memang terkadang selalu konyol, menyerupai anak kecil, namun itu sangat menggemakan.


"Minum teh nya dulu, Ay! Ibu sudah membuatkannya untuk kita, … bukannya bisa sebentar lagi." Sumi memperingati.


Ayumi tersenyum.


"Oke oke, … setelah minum teh dan makan kue nya kita buka bersama-sama." Ibu hamil besar itu terlihat tidak sabar.


Kening Maria mengkerut, wanita paruh baya itu terlihat sangat kebingungan.


"Kalian ini bicara apa? Siapa yang mau bepergian jauh?"


Maria menatap koper itu lekat-lekat, lalu duduk di sofa bersisian dengan Sumi.


"Itu hanya hadiah." Valter menjawab, kemudian dia meminum teh tawar yang panas, sesudah terlebih dulu pria itu meniup-niupnya.


"Hadiah?"


Valter, Sumi dan Ayumi mengangguk, tapi tidak dengan Randy, dia terlihat sedikit sibuk dengan layar ponselnya, memeriksakan beberapa file yang Raga kirimkan.


"Waktu itu kami memberikannya khusus untuk Ayumi. Tapi Laras meminta Ayumi membukanya jika sudah selesai Baby shower." Jelas Valter, yang langsung dijawab anggukan oleh Maria.


Seperti biasa. Keadaan rumah besar milik Randy terasa hangat. Kehadiran Maria, Tutih dan Valter membuat suasana tidak se hening biasanya, para orang tua itu selalu berkumpul di setiap waktu, entah itu acara minum teh, atau hanya berbincang-bincang santai di sofa ruang tengah, dan tidak jarang mereka berbicara di taman belakang hingga sangat larut.


Termasuk Randy. Jika pria itu mempunyai waktu luang, dia akan berbicara banyak hal dengan Valter, membahas setiap ide bisnis yang mungkin melintas di dalam isi kepala masing-masing.


Hanya satu yang masih Ayumi tunggu sampai saat ini. Yaitu kehadiran Tutih dan Ali, mereka masih disibukkan mengurus Amar yang memang baru saja selesai melakukan operasi usus buntu hampir satu Minggu ini.


"Bagaimana, Ay? Kue buatan Ibu enak?" Sang ibu mertua tidak tahan untuk tidak bertanya.


Pasalnya Ayumi dia seraya membolak-balik kue bolu yang masih hangat itu, dengan pulut penuh dan terus mengunyah.


"Enak, Bu. Mana ada kue bikinan Ibu yang gagal!" Katanya yang seketika membuat Maria tersenyum bahagia.


"Ibu dia mau bertanya padaku? Sudah lama Ibu tidak bertanya soal makanan. Ah, … aku lupa bahkan dari dulu Ibu tidak pernah bertanya!"


Semua orang tersenyum.


"Lihat, Ma? Pa? Kalian tidak usah khawatir. Bahkan Ibu mertuanya saja lebih memperhatikan menantunya daripada saya yang anak kandungnya sendiri."


Dan itu berhasil membuat seisi rumah tertawa kencang.


"Anakmu sudah mau lahir, masih saja cemburuan seperti itu." Celetuk Maria kepada putranya.


Sementara Randy tampak mendelik.


***


Dan setelah selesai dengan acara minum teh bersama. Akhirnya Randy membawa sebuah koper berukuran sedang itu mendekati Ayumi, dan membiarkan perempuan itu membukanya sendiri.


Dengan antusias Ayumi membuka resleting kotak tempat menyimpan segala sesuatu itu, lalu membukanya dengan sangat perlahan.

__ADS_1


Matanya membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar namun segera dia tutupi dengan telapak tangan, dan menatap setiap orang bergantian.


"Serius?" Katanya tidak percaya.


"Apa isinya, Ay? Coba kasih tunjuk." Kata Maria.


Ayumi yang saat ini duduk bersila di atas karpet mengangguk, lalu mengangkat satu barang yang dia ambil dari dalam koper itu.


Sebuah Jumper bayi yang terlihat begitu menggemaskan, berwarna abu-abu dengan ukuran yang sangat kecil.


"Apa dia sebesar ini, Ma? Dia kecil sekali!" Kata Ayumi sambil tertawa bahagia.


Sumi mengangguk.


"Papamu yang memberi ide Mama agar membelikan pakaian bayi dari Jerman. Mungkin disini banyak, tapi model disana memang lucu-lucu." Jelas Sumi.


"Sepertinya dari bahan juga ini lebih bagus." Tukas Ayumi.


Setelah berdiri cukup lama memperhatikan Ayumi akhirnya Randy ikut duduk, dan melihat-lihat isi di dalam koper sana, yang terdapat banyaknya pakaian bayi dengan berbagai macam model, dan warna yang bervariasi. Namun tidak terdapat warna pink atau biru disana, karena memang Sumi membelinya dengan warna-warna netral. Seperti Hijau tua, abu-abu, coklat dan hitam.


"Aaaa ini lucu sekali!" Ayumi memeluk salah satu pakaian bayi itu.


"Kalian bercanda yah! Jika bajunya sudah sebanyak ini, tidak mungkin kami akan membelinya lagi bukan?" Randy menatap kedua mertuanya bergantian.


"Kalian boleh membeli tempat tidur, stroller, atau apapun kebutuhan dia nantinya. Kalau untuk pakaian sepertinya cukup." Kata Maria.


"Mungkin ada beberapa yang belum ada. Jadi kalian bisa menulis barang-barang yang belum ada. Jadi nanti ketika belanja tidak kalap, dan membeli apa yang sudah di beli." Jelas Sumi.


"Semoga kalian suka." Valter berujar.


Ayumi meletakan pakaian berukuran mungil itu. Bangkit, dan menghambur ke dalam pelukan ayahnya.


"Danke schön (Terima Kasih)." Kata Ayumi kepada Ayahnya.


Valter menoleh, lalu tersenyum kepada putrinya.


"Dari mana kamu belajar itu?" Valter terkekeh.


"Banyak. Ada google, sama aplikasi translate lainnya!" Jelas Ayumi.


"Bagus. Jika sudah hafal sedikit-sedikit, nanti minta kepada suamimu untuk berlibur ke Jerman. Ada seseorang yang harus tahu keberadaanmu." Valter mengecup puncak kepala Ayumi.


"Oh ya?"


"Bibi?"


Valter dan Sumi mengangguk.


"Mama sudah bertemu?"


"Sudah. Berkunjung ke makam Kakek, Nenek kamu juga sudah. Tinggal kamu, Ay!" Kata Sumi.


Ayumi beralih menatap Randy.


"Apa?"


"Sayang?" Ayumi bangkit, dia beralih memeluk suaminya, dan bergelayut manja kepada pria itu. "Ayo kita berlibur ke Jerman sebelum aku melahirkan, seperti babymoon yang selalu artis-artis lakukan!" Pinta Ayumi.


"Tapi kita bukan artis."


Ayumi menggelengkan kepalanya.


"Beberapa kali kamu disorot kamera saat berada di tribun. Jadi kamu adalah artis!" Katanya.


Maria tertawa mendengar itu.


"Turuti saja, Ran. Jika mau ke Jerman Ibu mau ikut juga."


Ayumi semakin terlihat bahagia.


"Kita ke Jerman bersama-sama, Bu!"


"Haih, para wanita ini!" Gumam Randy sambil menggelengkan kepalanya.


***


Klek!!


Randy membuka salah satu pintu ruangan yang dijadikan kamar tamu. Lalu dia masuk, di susul Ayumi dan Maria di belakangnya.

__ADS_1


"Sepertinya kamar ini harus kita ubah menjadi kamar bayi." Randy memberi usul.


Namun respon yang berbeda Ayumi lakukan, dia menggelengkan kepalanya, pertanda tidak setuju dengan usulan yang Randy rencanakan.


"Tidak mungkin aku membiarkan dia tidur sendirian!" Kata Ayumi dengan raut wajah cemas.


"Tidak sendirian saya, dia akan tidur dengan suster." Kata Randy, sembari meneliti setiap sudut kamar.


Seolah sedang membayangkan dekorasi apa yang pas untuk kamar putrinya nanti, agar terlihat menyenangkan dan membuat putri kecilnya itu merasa betah.


"Iya. Tidak mungkin nanti susternya ikut tidur di kamar kalian." Maria menimpali.


"Memangnya harus pakai suster? Tapi aku mau mengurusnya sendiri, membesarkan dia dengan tanganku sendiri, dan memberinya cinta dan perhatian yang cukup." Ayumi berujar.


"Aku tidak melarang apapun. Tapi apa kamu yakin? Kamu tidak akan kelelahan? Setidaknya suster akan membantu kamu agar bisa beristirahat saat malam hari. Tahu sendiri bayi bagaimana kalau baru lahir, mereka akan menghabiskan waktu di malam hari hanya untuk menangis."


Ayumi tidak menjawab. Tapi dia menoleh ke arah ibu mertuanya.


"Itu bagus. Kamu tidak akan kelelahan!" Kata Maria.


"Tapi masa anak aku tidur sama susternya! Nanti panggil aku sama Abang Om dan Tante dong."


Mendengar itu Randy tersenyum, pun dengan Maria yang langsung tertawa pelan saat merasa ucapan Ayumi terdengar seperti sebuah lelucon.


"Kamu ini berpikirnya terlalu jauh. Ya maksud aku mungkin sesekali dia tidur dengan suster jika kamu lelah, ya kalau bisa kamu bisa tidur setiap malam dengan putri kita, … tapi jangan lupakan jika kamu juga manusia biasa, pasti akan merasa lelah di waktu-waktu tertentu."


"Jadi, … tetep mau diubah jadi kamar bayi?"


Randy mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Sepertinya kita akan memakai jasa Balqis. Biarkan dia yang mendekorasi kamar putriku. Aku yakin dia mempunyai banyak desain yang bagus, atau menyesuaikannya dengan ukuran ruangan ini."


Ayumi akhirnya menganggukan kepala. Namun dia masih terlihat bingung.


"Lalu barang-barang yang ini? Sofa, ranjang dan lemari?"


"Itu gampang. Bisa aku berikan kepada kedua orang tuamu jika mau, tapi jika tidak ya Ibu yang bawa, simpan di kost-kostan."


"Kamar kost?" Ayumi menatap ibu mertuanya dengan raut penuh tanya.


Maria tersenyum.


"Ibu punya kost?" Ayumi bertanya lagi, dan langsung dijawab dengan anggukan.


"Ih masa? Aku kok baru tahu! Aku kira cuma Ibu toko kue, eh ternyata Ibu Kost juga!"


"Ibu tidak suka pamer, Ay! Cukup Randy dan orang kampung saja yang tahu." Maria terus tersenyum.


Ayumi beralih kepada suaminya yang saat ini duduk di tepi ranjang, mendongakkan pandangan menatap langit-langit kamar tamu itu.


"Kira-kira cocoknya warna apa?" Randy menatap istrinya.


"Terserah, bagusnya warna apa." Jawab Ayumi. "Lagian nanti Bu Balqis pasti ada bayangan, Desain apa yang cocok buat bayi, dan perpaduan warna yang bagus buat ruangan ini."


"Bukannya kalaupun kita pakai jasa desain interior, harus punya bayangan dulu yah? Misalnya kita mau pakai karakter siapa, setelah itu baru mereka bisa menentukan."


Ayumi menggelengkan kepala.


"Bisa juga kita serahin sama Bu Balqis nya nanti. Kalau mau pakai jasa mereka biasanya Bang Nior survei dulu, nanti Abang yang ngobrol mau bagaimana, terus kalau sudah deal Bu Balqis turun tangan, … biasanya ikut terjun juga."


"Kamu tahu sekali." Kata Randy.


"Bang Nior sempat cerita."


Mata Randy memicing, menatap Ayumi dengan tatapan tajam.


"Ish, … anak Ibu cemburuannya kebangetan deh!" Cicit Ayumi, dia mengadu kepada Maria yang saat ini masih berada di ruangan sana.


Maria menatap Randy, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Setidaknya aku tahu dulu kalian hampir saja berjodoh." Ucap Randy ketus.


Ayumi memutar bola matanya, dia bangkit kemudian beranjak pergi.


Plak!!


Maria memukul lengan putra semata wayangnya.


"Kebiasaan." Pekik Maria dengan mata yang melotot.

__ADS_1


Wanita itu ikut bangkit, lalu berjalan keluar berniat untuk menyusul Ayumi, meninggal Randy yang masih duduk di tepi ranjang begitu saja.


"Sebenarnya siapa yang anak Ibu? Kenapa aku benar-benar merasa tersisihkan!" Gumam Randy.


__ADS_2