My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 09 (Ungkapan)


__ADS_3

Setelah ciuman singkat itu, keadaan menjadi sangat hening. Ayumi sibuk dengan santapan di hadapannya, sementara pria itu menatap Ayumi dalam diam.


"Sudah, ini terlalu banyak! dan tidak akan muat di lambung ku." Ayumi menggeser bungkusan yang masih tersisa beberapa tusuk sate ayam.


Randy tidak menjawab, dia hanya diam dengan tatapan tajam yang terus ia tujukan kepada Ayumi.


"Minta air putih dingin boleh?" Katanya dengan sedikit ragu-ragu.


Sorot mata itu terasa semakin tajam. Dan jelas membuat Ayumi semakin gugup, juga sedikit merasa ketakutan.


"Ngg, ... aku pulang deh!" Gadis itu bangkit. "Terimakasih sate ayamnya, Pak. Aku pulang sendiri, pake angkot saja tidak usah di antar." Timpalnya lagi, kemudian segera memutar badan.


Randy menghela nafasnya kencang, hingga mampu membuat langkah Ayumi terhenti, lalu menoleh.


"Tunggu sebentar, saya akan membawanya dulu!" Ekspresi wajahnya datar.


Setelah itu Randy segera beranjak, berjalan cepat kearah dalam melewati tubuh Ayumi yang mematung begitu saja.


"Kenapa aku melakukannya tadi!" Pekik Ayumi dengan suara rendah.


Dan ingatan itu kembali melintas.


"Ah aku memang sudah gila ... rasa ini memang aneh!" Ayumi mengusak rambutnya kencang.


Derap suara langkah kaki kembali terdengar, perlahan suara itu semakin mendekat hingga mampu membuat Ayumi menoleh kearah suara berada.


"Satu botol cukup?" Randy menyodorkan satu botol air mineral berukuran sedang kepada gadis di hadapannya.


Ayumi mengangguk, kemudian meraih sebotol air minum pemberian Randy.


"Terimakasih." Senyumnya tersungging tipis.


"Baiklah, ... saya antar pulang kamu sekarang."


Setelah mengakatan itu Randy segera berbalik badan, berjalan terlebih dahulu tanpa mengajak Ayumi yang masih berdiri mematung.


"Pak!" Suara Ayumi sedikit berteriak.


Dengan segera Ayumi berlari, berusaha mengimbangi langkah cepat Randy yang saat ini masuk kedalam rumahnya menuju kearah pintu luar.


Ayumi tersenyum ramah, mengangguk dan sedikit membungkukan badan saat beberapa orang yang berada di dalam sana melihat kearahnya.


"Masuklah." Ucap Randy sembari berdiri di samping pintu yang sudah terbuka.


Ayumi tertegun.


"Cepat, atau kamu akan pulang sangat larut." Katanya lagi.


Ayumi mengangguk pelan, lalu dia berjalan mendekat, kemudian masuk dan segera duduk di kursi samping kemudi.


Mereka diam dengan posisi yang sangat dekat.


"Kenapa kamu jadi pendiam lagi? sementara tadi kamu sudah banyak bicara. Bahkan melakukan sesuatu tanpa izin dari saya!"


Pandangan Ayumi mendongak, menatap wajah tampan yang saat ini juga sedang menundukan pandangan untuk melihatnya.


"Bapak marah?"


Randy bungkam dengan pandangan yang tidak teralihkan.


"Aku kan udah bilang, ... aku nggak sengaja nyium bibir Bapak."


Randy masih belum menjawab, dia tetap berdiri di sana dengan ekspresi wajah datarnya.


"Yasudah, aku pulang naik taksi online saja. Sepertinya Bapak lelah, sampai bicara pun tidak sanggup!"


Ayumi menurunkan satu kakinya, hendak berdiri, tapi tangan Randy menahannya.


"Saya mau bicara." Akhirnya Randy bersuara, dia mendorong tubuh Ayumi hingga duduk kembali.


Lalu Randy berjongkok.


"Tingkah mu membuat saya bingung!" Randy berujar dengan pandangan menengadah.


"Bapak juga bikin aku bingung. Kadang kelihatan ramah, kadang juga kelihatan jutek, dingin dan sedikit menyebalkan." Ayumi tak mau kalah.


Randy berdecih, seraya terkekeh pelan dan mengalihkan pandangannya kearah lain saat mendengar penuturan Ayumi.


"Lalu kamu mau saya bangaimana?"


Randy kembali menatap Ayumi.


Bukannya menjawab, Ayumi justru melihat kearah rumah, dimana terlihat beberapa orang sedang mengintip di balik tirai tipis rumah itu.


"Bapak tidak malu?" Ayumi menahan senyumannya.


"Tidak malu apa?" Dahinya menjengit.


"Sepertinya para pemain bola itu sedang menonton kita."


"Apa?!" Randy memekik.


Pandangannya mengikuti kemana mata Ayu tertuju. Dan betapa terkejutnya Randy saat mendapati teman-teman mengintip dari arah dalam.


"Astaga!" Randy menghela nafasnya kasar, dia bangkit lalu meremat rambutnya dengan raut wajah frustasi.


"Kenapa mereka itu, ... padahal saya hanya ingin bicara."


"Bicaranya bisa sambil jalan, ini sudah terlalu larut." Tukas Ayumi yang langsung mendapat anggukan dari pria itu.


Dia segera mendorong pintu mobilnya sampai tertutup rapat. Dan tak lama setelah itu dia berjalan memutari mobil, lalu masuk menyusul Ayumi yang sudah duduk nyaman didalam sana.


Lampu mobil mulai menyala, di barengi suara derum mobil yang terdengar. Perlahan mobil Lexus berwarna abu-abu itu mundur, meninggalakan pekarangan rumahnya yang bisa di bilang cukup besar.


"Si dingin yang mulai mencair?"


Meraka saling menatap.


"Yeah, ... padahal dia selalu di dekati Dokter Aleesa, tapi yang membuatnya seperti itu bahkan gadis yang masih belia."


"Luar biasa, daun muda memang sangat menggoda yah!"


Dan mereka pun tertawa bersama-sama, hingga suara itu menggema memenuhi seluruh ruangan.

__ADS_1


***


Setelah perjalanan yang sedikit menyita waktu. Akhirnya Randy menepikan mobilnya di samping gerbang masuk, tempat dimana kost-kostan Ayumi berada.


"Disini masih ramai?"


Randy sedikit terheran-heran.


"Ya begitulah, disini sedikit bebas. Bu Amel memang Ibu kost yang baik, peduli, tapi dia tidak menerapkan aturan ketat sebagaimana mestinya, apalagi ini bukan tempat khusus perempuan, jadi siapa saja boleh masuk. Termasuk Bapak bukan?" Ayumi mengingatkan.


Randy mengangguk.


"Kalau begitu saja pamit masuk dulu, terimakasih sate ayamnya. Nanti kapan-kapan aku yang ajak bapak makan." Ayumi tersenyum.


Dia meraih handle pintu di sampingnya. Namun tanpa di duga, Randy menahan tangan Ayumi cukup kencang.


"Kenapa?" Ayumi menoleh, seraya menatap Randy penuh tanya.


"Kamu, ... tidak mau mengajak saya masuk?" Tanya Randy.


"Hah?"


"Emmm, maksud saya ... tidak usah menunggu nanti, sekarang saja kamu bisa membuatkan teh hangat. Itupun jika kamu mau berbalas budi."


"Di kamar saja tidak ada apa-apa." Sergah Ayumi.


Berfikir Randy!


Batin Randy bermonolog.


"Jadi tidak mau mengajak saya masuk?" Tanya Randy penuh harap.


Ayumi diam, menatap Randy sedikit tidak percaya.


Bagaimana bisa dia mau masuk kedalam sebuah ruangan kecil tak layak huni?


"Ayumi!?"


"Bapak mau ikut?"


"Jika boleh."


"Baik, tapi tempatnya tidak sebagus dan seluas rumah Bapak." Kata Ayumi.


Randy segera melepaskan tangan gadis di sampingnya, tersenyum tipis lalu keluar dari dalam mobilnya dengan perasaan riang.


Ayumi turun, menutup pintu mobilnya dan berjalan masuk kedalam sana, di ikuti Randy yang berjalan santai sembari memasukan kedua tangan kedalam saku celananya.


Beberapa orang tampak melihat kearah Randy yang berjalan di belakang Ayumi. Termasuk Gani, pria yang bisa dibilang cukup perhatian pada gadis yang menempati ruangan di samping kamarnya.


"Ayu bawa cowok ganteng, bermobil lagi!" Seorang perempuan berbisik pada temannya.


Ayumi merogoh kunci kamarnya, lalu semutarnya beberapa kali, dan terbukalah pintu ruangan kecil yang sudah berbulan-bulan dia tempati.


"Masuk! katanya tadi mau ikut, sudah sampai malah melamun." Kata Ayumi kepada Randy saat melihat pria itu menatap kamar kostnya dengan sedemikian rupa.


"Kamu tinggal disini sudah lama?" Randy membuka alas kakinya, lalu masuk.


"Lumayan."Kata Ayumi.


"Eh ..."


"Aku mau bicara. Kita harus bicara!" Jelas Randy.


"Tapi kenapa di tutup?"


Mereka berdua duduk, saling berhadapan.


"Ini, .... kita nggak apa-apa? bukannya berdua itu nggak boleh yah!?" Ucap Ayumi dengan polosnya.


"Saya tidak mau berbasa-basi lagi. Saya hanya ingin mendengar jawaban dari kamu, .... tentang apa yang saya ucapkan tadi."


"Apa?"


"Soal sikap saya terhadap kamu."


"Oh itu, memangnya Bapak mau jawaban seperti apa?"


Ayumi balik bertanya, dengan debaran di dada yang kembali meningkat.


"Kenapa kamu seberantakan tadi? kenapa kamu bisa seperti itu? apa itu karena kejadian tadi sore?" Tatapan Randy memincing, seolah berusaha mencari kebenaran di dalam mata Ayumi.


Ayumi mengangguk, tampaknya dia tidak mau menyangkal saat ini.


"Saya sedih. Bapak tiba-tiba menghilang, setelah itu Bapak selalu terlihat dengan perempuan lain! ah aku memang tidak tahu diri yah."


Rasa bahagia menyeruak di dalam hati Randy. Entah kenapa pengakuan Ayumi membuat perasaannya berbunga-bunga.


"Tapi kamu yang membuat saya seperti itu. Kamu mengabaikan saya, menghindar padahal hubungan kita sudah cukup dekat hanya sebuah kata suka yang pernah saya nyatakan."


Ayumi mengigit bibirnya kencang.


"Sikap kamu membuat saya pusing. Saya mendekat salah, menjauh dan berusaha mendekati perempuan lain juga salah, jadi mau kamu saya harus bagaimana? terus mengejar kamu begitu? memangnya kamu siapa sampai bisa membuat saya harus seperti itu?" Randy mengungkapkan semua isi hatinya.


"Aku bukan siapa-siapa, maka dari itu aku tahu diri. Aku hanya seorang Office girl, itupun jalur orang dalam."


"Lalu sekarang kamu mau saya bagaimana?"


Ayumi menggelengkan kepala.


"Sepertinya memang antara saya dan Bapak tidak ada apa-apa. Benar kata Bapak, saya ini siapa."


Randy menghembuskan nafasnya kasar, sembari memutar kedua bola matanya saat perasaan jengah juga gemas muncul terhadap gadis cantik itu.


"Setelah kamu mencium saya? dan kamu memilih jalan seperti itu?" Satu alisnya terangkat. "Kamu kira saya laki-laki macam apa? bisa di cium lalu di lepaskan begitu saja." Randy bersungut-sungut.


"Haih, ... bukan begitu! toh sekarang Bapak sudah ada Kaka itu. Dia satu kerjaan juga kan sama Bapak? dia petugas medis, dan Bapak Asisten pribadi Pak Raga. Kalian akan sangat cocok bukan?" Ayumi tertawa kencang, sampai kepalanya mendongak kebelakang.


Randy menatap Ayumi yang terus tertawa. Namun hal aneh mulai terlihat, gadis itu memang tertawa, tapi sudut matanya justru mengeluarkan air, sampai di beberapa detik berikutnya Ayumi mengusapnya dengan punggung tangan.


"Bapak pergilah, dan biarkan aku sendirian."


Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak.

__ADS_1


"Pergilah, Bapak sangat cocok dengan Dokter itu. Saya melihatnya beberapa kali di tv saat mengobati para pemain yang mengalami cedera, ... dan dia memang sangat cantik." Air mata itu terus mengalir deras.


Sementara Randy diam dan mendengarkan suara hati yang mungkin sudah gadia itu pendam sekian lamanya.


"Pulang saja. Aku malu sekarang malah menangis di hadapan Bapak."


"Kamu meminta saya pergi? sementara hati kamu meminta saya tetap berada di dekat mu?" Randy terkekeh. "Dasar anak kecil ... kamu labil sekali!"


Setelah mengatakan itu dia meraih tangan Ayumi, dan menggenggam nya erat.


Mereka saling menatap.


"Katakan jika kamu ingin saya tetap bersama mu." Tukas Randy dengan suara rendahnya.


"Tapi ...."


"Katakan jika kamu mau." Tegas Randy.


"Aku mau." Sahut Ayumi sambil menangis kencang.


Randy tersenyum, lalu menarik Ayumi kedalam pelukannya.


"Maaf aku terlambat menyadari perasaan ini. Maaf sudah membuat Bapak sakit hati dengan sikap aku." Dia menangis di dalam pelukan Randy.


"Apa sulitnya mengatakan itu dari kemarin? saya tahu kamu online, saya juga tahu kamu menunggu saya. Tapi saya juga menunggu pesan mu masuk kedalam ponsel saya." Kata Randy jujur.


"Karena aku malu. Terlebih aku lihat Bapak sering keluar bersama Dokter Al ... Al siapa itu!"


Randy mengusap kepala Ayumi, Hinggan turun mengusap punggung gadis belia yang sudah memporak-porandakan hatinya.


"Jadi bagaimana? apa kita sudah resmi berpacaran?"


Ayumi menarik diri, melepaskan dirinya dari pelukan Randy untuk kembali menatap wajah tampan pria di hadapannya.


Raut wajah itu kini terlihat lebih berseri-seri, dan lagi. Tidak ada ekspresi dingin, atau cuek seperti awal mereka kembali berbicara, kini Randy memperlihatkan sikap hangatnya.


"Bapak nembak saya?"


"Tidak, saya takut kamu mati jika saya melakukan itu."


"Nggak romantis sekali. Beberapa orang menyatakan cinta dengan sebuah bunga atau hadiah apapun, tapi Bapak malah seperti ini." Ayumi mengusap kedua pipinya yang basah.


"Ah tidak ada kata cinta juga." Sambung Ayumi.


"Saya memang tidak bisa romanti, tidak bisa merangkai kata-kata, juga sedang tidak membawa hadiah apapun. Tapi saya mencintai kamu Ayumi Kirana!"


Tangis Ayumi semakin kencang. Dia benar-benar tidak menyangka jika Randy akan mengatakan itu kepada dirinya, setelah berbulan-bulan mereka saling menjauh, namun kembali saat Ayumi menyadari perasaannya.


"Sudahlah, .... orang di luar akan curiga. Mereka pasti mengira saya sudah menyakiti kamu." Randy kembali menarik tangan Ayumi, dan langsung memeluknya denga erat, seolah takut gadis itu akan kembali pergi.


"Aku nggak nyangka aja. Aku kira Bapak akan terus menjauh, lalu pergi dan aku sendirian."


"Tidak akan." Randy menjawab.


Cukup lama Ayumi menangis di dalam pelukan hangat Randy. Akhirnya gadis itu berhenti, dan membiarkan Randy untuk segera pulang karena malam yang sudah semakin larut.


"Saya pulang dulu. Besok saya harus mengurus banyak hal." Pamit Randy.


Ayumi yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu mengangguk pelan.


"Jangan menangis lagi!" pria itu meminta.


"Nggak."


"Baiklah saya pulang. Masuk dan kunci pintunya, langsung tidur ini sudah lewat tengah malam."


"Iya."


Randy mengulum senyum. Sebelum dia pergi terlebih dulu mencium kening Ayumi dengan sangat lembut.


Cup!


"Bapak genit, nanti ada yang lihat." Ayumi merengek pelan.


"Kamu juga genit."


"Aku nggak sengaja!" Ayumi menyangkal.


Randy tersenyum.


"Sampai kapan mau memanggil saya dengan sebutan itu? saya merasa jadi Bapak mu." Tanyanya sambil terus tersenyum.


"Kenapa memang? aku udah biasa manggil Bapak seperti itu."


"Tidak ada, hanya aneh saja."


"Nanti aku pikirkan lagi. Sekarang Bapak pulang dulu, sudah malam nanti keburu ngantuk ... berkendara sambil ngantuk itu kan bahaya."


Aneh sekali, kenapa aku bisa jatuh cinta dengan gadis kecil seperti Ayumi.


"Antar?" Randy bertanya.


"Tidak usah, nanti aku mau ikut. Pikiran aku nggak sejalan sama hati kalau di dekat Bapak." Ayumi jujur.


"Yasudah ayok ikut. Ada banyak kamar kosong di rumah saya, ... atau kalau mau tidur di kamar saya juga boleh." Randy tertawa pelan.


"Bapak mulai ngaco." Cicit Ayumi yang mulai terlihat kesal saat Randy terus menggoda nya.


"Ya ya ya ... saya memang sudah ngaco. Baik pergi dulu kalau begitu, baik-baik disini, jangan macam-macam lagi atau nanti saya hukum."


"Nggak, cuma satu macam kok. Only Ayumi Kirana."


Randy memutar bola matanya. Dan setelah itu dia beranjak pergi dengan Ayumi yang terus berdiri di ambang pintu.


"Masuk." Randy berteriak.


"Hati-hati." Ayumi melambaikan tangan.


Randy tidak membalas, dia segera membuka pintu mobilnya, masuk dan mobil itu pergi, melaju dengan kecepan sedang.


......................


...Jangan lupa like, komen, hadiah, dan vote di setiap hari Senin. Jangan lupa klik favorit juga, agar notifikasi berbunyi saat eps baru gentayangan....

__ADS_1


Cuyung kalian dari Babang Danendra.



__ADS_2