
Selesai dengan acara makan malam. Randy, Ayumi, Maria, Tutih dan Ali, kembali menghabiskan waktu bersama di taman belakang rumah, berbincang-bincang mengenai acara yang akan segera digelar, dengan berbagai macam jenis buah-buahan segar yang sudah dipotong untuk menemani obrolan malam hari ini.
Randy dan para orang tua terlihat sangat serius, mengatur acara sedemikian rupa agar dapat berjalan sesuai dengan keinginan Ayumi, sementara Ayumi. Perempuan itu hanya menyimak, seraya menyantap puding strawberry dengan fla Vanila kesukaannya.
"Bagaimana? Ayumi setuju tidak?" Maria menatap ke arah menantunya yang kini tengah asik menyantap puding strawberry.
Ayumi tak mendengar, dia justru sibuk menghabiskan sisa puding yang ada di dalam cup berukuran sedang itu, dengan ekspresi yang begitu lucu.
Randy menoleh, lalu menatap Ayumi, yang seketika membuat senyumnya tersungging.
"Begitulah jika dia dengan sibuk dengan makanannya." Ucap Randy sambil terkekeh.
Ali menggelengkan kepalanya.
"Ayu?" Panggil sang ayah.
Ayumi masih belum sadar.
"Ayumi!?"
"Hah, … iya … kenapa?" Dia langsung menatap Ali, lalu meletakan wadah kosong itu di atas meja.
Perempuan itu terlihat sedikit panik.
"Kamu tidak mendengarkan? Kita membahas banyak hal tadi! Tapi kamu sepertinya tidak menyimak apapun yang kita bicarakan sejak dari tadi." Ali tampak serius.
Keadaan tiba-tiba saja menjadi hening, saling melempar pandangan tanpa bersuara sedikitpun.
"Aku kan ikut aja, gimana Bapak, Ibu-ibu sama Abang!" Ayumi tersenyum canggung.
"Haduh!" Ali menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ayumi tersenyum, kemudian dia bangkit.
"Aku kedalam dulu deh, belum minum obat." Katanya lalu melenggang masuk kedalam.
Setelah itu Randy dan para orang tua kembali membahas acara yang tidak akan lama lagi diadakan, dengan sederhana sesuai permintaan Ayumi.
***
Ayumi meletakan gelas, setelah selesai menegak beberapa obat yang diresepkan oleh Dokter. Dan saat dia hendak berbalik arah, terdapat Sumi yang sudah berdiri di belakangnya.
"Non?" Dia tersenyum tipis. "Bukunya sudah? Bibi mau simpan lagi!" Katanya, dengan perasaan sedikit takut.
Terlihat dari raut wajah sendu juga muram yang terlihat begitu jelas, tapi Ayumi hanya tersenyum.
"Belum, ini mau lanjut baca. Nanti aku kembalikan, dengan keadaan baik tanpa lecet sedikitpun, Bi Sumi tenang saja." Kata Ayumi yang mendapati sinyal ketakutan itu.
Sumi bungkam.
"Besok aku balikin, malam ini aku maraton bacanya."
__ADS_1
"Tapi Non …"
"Janji besok aku balikin!" Ayumi tersenyum, kemudian menepuk-nepuk lengan wanita dihadapannya.
Sumi hendak kembali berbicara, tapi Ayumi segera beranjak pergi setelah itu, memasuki kamar miliknya dengan langkah cepat juga raut wajah riang.
Wanita itu menghela nafasnya kencang, menatap punggung kecil yang kini sudah menghilang di balik pintu kamar dengan perasaan berdebar-debar setelah kembali mendapat peringatan dari Alvaro, yang seolah tahu kegiatan yang dilakukan.
Bagaimana caranya? Entah Sumi pun tidak tahu, yang pasti kini dirinya benar-benar ada di dalam ancaman Alvaro karena menurutnya terus menunjukan sesuatu yang berlebihan.
"Baiklah Sumi. Apapun kejadiannya nanti, … setidaknya Ayumi tahu kebenaran lewat buku yang kamu tulis, sebenci-bencinya dia nanti, aku akan tetap menerima itu, dan kembali hidup sendiri di dunia yang begitu sunyi."
***
"Baiklah kalau begitu. Besok aku panggil orang butik untuk fitting baju untuk Bapak, dan Ibu." Pria itu menatap wajah orang tuannya bergantian.
"Bapak rasa ini bukan acara sederhana. Kamu menyiapkannya dengan sangat baik, kamu hanya membatasi tamu, Randy." Kata Ali kepada menantunya.
"Katakanlah begitu. Setidaknya aku bisa memberikan yang terbaik untuk Ayumi." Kata Randy kemudian.
Ali mengangguk, lalu mereka diam. Suasana kembali hening, sebelum Randy kembali memulai pembicaraan.
"Emmm, … aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian!" Randy menghirup nafas sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.
Jantungnya tiba-tiba berpacu sangat kencang, tenggokan juga terasa sangat kering sampai dia kesulitan menelan salivanya.
Randy berdehem.
Mereka mengangguk. Suasana tiba-tiba terasa begitu canggung.
Randy menghela nafasnya lagi.
"Ran? Ada apa?" Maria mulai menyadari sesuatu.
"Ibu ingat? Saat Ibu memberikan sebuah mobil untukku?"
Maria mengangguk.
"Bapak dan Ibu ingat? Ayumi kecelakaan umur berapa?"
Tutih dan Ali menoleh, saling menatap satu sama lain.
"Umur berapa yah?" Ali terlihat mengingat-ingat.
"Kalau umur kamu lupa, … tapi waktu itu dia kelas 5 SD." Tutih menjelaskan.
Randy mengangguk, menunduk, lalu memejamkan mata.
"Aku mau jujur, kalian boleh kecewa, … tapi aku mohon jangan marah dengan suara tinggi, jangan sampai Ayumi mendengar, biarkan aku yang mengatakannya secara langsung nanti!" Randy memelankan suaranya.
Melihat gelagat itu Maria menjadi sangat ketakutan. Takut jika sang anak melakukan kesalahan, karena dia tahu pasti Randy yang memiliki sifat ceroboh dari beberapa hal, termasuk mengenai wanita.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" Maria menatap mata Randy tajam.
"Dulu …"
"Dulu apa?" Maria semakin mendesak.
Sementara Ali dan Tutih diam dengan perasaan bingung.
"Aku baru tahu Ayumi mengalami patah tulang di kaki sebelah kirinya. Lalu dia bercerita sedikit kronologis yang dia ingat, dan itu membuat aku sadar."
Kening Tutih berkerut kencang, dia semakin tidak mengerti.
"Aku tidak tahu ini kebetulan atau memang sudah Tuhan rencanakan! Aku mau minta maaf kepada Bapak dan Ibu." Tatapan sendunya tertuju kepada Ali dan Tutih.
"Tunggu! Kamu membuat kami bingung, Nak." Ali terkekeh.
"Pak. Saya pelaku tabrak lari Ayumi." Ucapan itu lolos begitu saja.
Membuat Ali tersentak kaget, dengan mata yang membulat sempurna. Begitupun dengan Tutih, wanita itu sampai menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.
"Maksudnya?" Maria ikut bereaksi.
"Waktu pertama kali aku mengendarai mobil hasil pemberian Ibu, aku memakainya dengan penuh semangat. Hujan rintik-rintik membuat aku berpikir tidak akan ada orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan, hingga setelah melewati tikungan, aku mendapati seorang anak kecil yang tengah menyebrangi jalan, aku berusaha menghindar, tapi itu tetap terjadi."
"Ya ampun!" Tutih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Maafkan saya. Saya bukan tidak mau bertanggung jawab waktu itu, … hanya saja orang-orang langsung berkerumun, bahkan beberapa orang terlihat berlari mendekati mobil saya, dengan membawa batu besar di tangannya."
"Kamu gila!" Maria menggeram. "Bisa-bisanya kamu menyimpan rahasia kejahatan selama itu."
"Aku berusaha mencari, aku ingin tanggung jawab, tapi aku tidak pernah menemukan Ayumi. Aku juga tidak menyangka, bagaimana bisa itu terjadi kepada istriku."
Maria bangkit, berjalan mendekat lalu menampar Randy dengan sangat kencang.
"Siapa yang mendidik mu seperti itu? Ibu tidak mengajarkan kamu menjadi manusia yang tidak bertanggung jawab!" Maria berusaha meredam suaranya.
Dia merasa malu dengan kedua orang tua Ayumi yang saat ini terdiam penuh keterkejutan.
Maria kembali mengangkat tangannya, hendak kembali menampar Randy yang dini menundukan pandangan, namun dengan segera Ali menahan tangan Maria.
"Sudah Bu Maria. Biarkan Randy menjelaskan, setidaknya dia berusaha jujur atas apa yang sudah dia lakukan."
"Tapi dia menjadi pengecut."
"Maafkan aku, Bu."
Tutih ikut bangkit, lalu mendekati Maria.
"Iya Bu. Kami juga sama terkejut, tapi mari selesaikan masalah yang satu ini dengan kepala dingin, juga perasaan tenang." Kata Tutih kepada besannya, agar Maria merasa sedikit tenang
Lalu dia membawa wanita itu untuk kembali duduk, meraih air putih kemasan, dan memberikannya kepada Maria.
__ADS_1