
Randy segera bergegas, berjalan keluar dari dalam kamarnya saat mendengar bel rumah itu berbunyi beberapa kali, dengan tangan yang terus mengusak rambut sedikit basah, setelah beberapa menit lalu menyelesaikan mandi sorenya.
Klek!
Pria itu menarik pintu kayu rumahnya ke arah dalam, dan tampaklah seorang pria berdiri di hadapannya, dengan helm dan jaket berwarna oranye, dia tersenyum, lalu menyerahkan satu Tote bag berukuran besar, berisikan makanan yang Randy pesan via aplikasi online.
"Terimakasih." Randy tersenyum.
"Terimakasih kembali, Pak Randy. Jangan lupa rate bintang limanya untuk saya!" Ucap pria itu yang terlihat sudah sedikit akrab.
Randy mengangguk, dia merogoh saku celana jogernya, lalu memberikan uang pecahan lima puluh ribu kepada kurir yang hampir saja berbalik badan.
"Pak?" Kurir itu menatap Randy heran.
"Ambil, ini tips untuk kamu." Ucap Randy.
"Tapi Pak! Ini sudah sangat keseringan, setiap saya dapat orderan dari Bapak, Bapak selalu memberikan uang lebih dengan nominal yang sangat besar."
"Ini rezeki, … jangan ditolak!"
Kurir tersebut diam.
"Hey? Ambilah."
Dan dengan senyum cangkung dia pun meraih uang tersebut, kemudian sedikit membungkukkan badan.
"Terimakasih, Pak. Terimakasih banyak."
"Baiklah, kalau begitu saya masuk. Anda boleh mencari orderan lain, agar uang tipsnya semakin banyak." Kata Randy penuh candaan, dan setelah itu dia masuk, menutup pintu kayu rumahnya rapat-rapat.
Randy membawa Tote bag itu ke arah ruangan tengah, dan meletakkannya di atas meja kaca, untuk dia keluarkan makanannya dari dalam sana.
Ada beberapa puding dengan rasa yang berbeda, ayam kentaki pedas yang Ayumi sangat sukai, tak lupa cheese burger, sundae stroberi, kentang goreng, Apple pie, dan minuman soda.
Setelah itu Randy segera kembali, masuk kedalam kamar dengan pandangan yang tertuju pada Ayumi. Dia berbaring menelungkup, menenggelamkan wajah di balik bantal, dengan punggung putih mulus yang terlihat sangat jelas.
Perempuan itu memang langsung tertidur saat Randy benar-benar melepaskan, setelah dua kali Randy menghajarnya tanpa ampun.
Pria itu duduk di tepi ranjang, menatap punggung yang terlihat naik turun dengan pelan, dia bibirnya seketika tersenyum.
Cup!
Randy mencium pipi Ayumi.
"Sayang? Bangunlah. Makanannya sudah tiba." Randy berbisik tepat di daun telinga istrinya.
Ayumi bergeming, bahkan dengkuran halusnya semakin terdengar, menandakan jika dia sedang tenggelam di lautan mimpi yang sangat indah.
"Ay? Tidurmu sangat mengkhawatirkan!" Randy kembali memanggil, kali ini dengan tepukan pelan di punggungnya.
Perempuan itu masih tak terganggu, sementara Randy mulai merasa khawatir, mungkin kali ini dia sedikit keterlaluan, pikirnya.
"Yank?" Randy menepuk-nepuk pipinya. "Sayang?" Panggilnya lagi, tapi perempuan itu tak memperlihatkan tanda-tanda akan segera tersadar.
"Ayumi bangunlah!" Suaranya terdengar sedikit kencang.
Dia menggeram, bergerak membalikan badan, menggeliat kencang sampai selimutnya sedikit bergeser ke bawah, dan tentu saja kembali memperlihatkan si kembar yang begitu menggoda, apalagi dengan aksen polkadot hasil karyanya.
Senyumnya kembali merekah, juga pipi yang sedikit memerah dan menghadirkan rasa panas.
"Hhh! Ternyata godaan setelah menikah malah semakin susah ditahan." Randy bergumam, lalu menarik selimutnya agar kembali menutup tubuh bagian atas Ayumi.
Kepala Ayumi bergerak, sedikit menoleh saat menyadari ada seseorang yang duduk di belakangnya, dengan mata yang terus mengerjap, menyesuaikan cahaya yang sedikit mengganggu penglihatannya, juga mengusir rasa kantuk yang tak kunjung mereda.
Rasanya lelah, badannya sakit, bahkan tubuhnya lemas, terutama di bagian lutut.
"Bagun, sayang? Tidurmu membuat aku khawatir." Randy mendekatkan wajahnya pada Ayumi.
__ADS_1
Dan lagi, dia kembali mencium kening istrinya, hal baru yang sangat dia senangi.
"Jam berapa?" Tanya Ayumi, suaranya terdengar serak, juga mata yang terus tertutup.
Bagaimana suaranya tidak berubah menjadi parau, sedangkan dia terus berteriak saat Randy mengambil alih semua, dan berkuasa atas tubuhnya.
"Hampir jam sembilan. Ayo bangun dulu, … aku sudah membeli makanan."
Ayumi tidak menjawab lagi.
"Ay? Bangun dulu! Lambungmu harus diisi."
"Aku capek, mau tidur saja!" Kata Ayumi lesu.
"Ya, setelah makan kamu boleh tidur lagi. Tapi setidaknya bersihkan diri dulu, agar tidurnya nyenyak."
Ayumi kembali membuka matanya perlahan, menatap pria itu dengan pandangan sayu.
"Bukan tidak mandi yang membuat tidurku tidak nyenyak!" Dia bergumam.
"Apa?" Randy terlihat bingung.
"Kamu! Apalagi, cuma kamu yang ganggu aku. Tadi pagi aku mau tidur kamu ganggu, tadi setelah selesai ronde pertama aku mau tidur dulu, tapi kamu masih ganggu! Sampai aku kelelahan seperti sekarang." Ayumi menggerutu.
Sementara pria itu hanya tersenyum.
"Aneh ya?" Randy terkekeh.
"Hemmm, … padahal sebelum menikah kamu bisa menahan semuanya. Tapi setelah menikah! Kamu lepas kendali terus."
"Aku tidak tahu, jika godaan setelah menikah lebih sulit ditolak, apalagi dikendalikan. Tapi semua itu kulakukan hanya untuk kamu, … agar tidak kesepian saat nanti aku kerja."
Ayumi menatap wajah suaminya lekat-lekat, seolah mencari jawaban atas ucapan Randy yang terakhir.
"Ayo bangun, kita makan."
Pria itu terkekeh, dia segera berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Cepatlah, atau aku berubah pikiran. Bukannya makan cheese burger, tapi malah makan kamu lagi."
Mendengar itu Ayumi memutar kedua bola matanya.
"Aku bingung, kenapa Abang nggak keliatan cape, padahal kamu baru pulang kerja."
Ayumi merapatkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya, lalu meraih tangan Randy, kemudian bangkit saat pria itu menarik tangannya.
"Bisa jalan?"
Ayumi belum menjawab, dia menurunkan kedua kakinya, mencoba untuk berdiri, tapi lututnya benar-benar terasa lemas, sampai Ayumi kembali terduduk di tepi ranjang.
Dia menengadahkan pandangan, menatap suaminya yang juga tengah menatapnya.
"Ini gara-gara Abang!"
"Maaf!" Randy segera bersimpuh di hadapan Ayumi, seraya menggenggam kedua tangannya.
Ayumi menghela nafasnya kencang.
"Aku kira nikah itu nggak kaya gini!"
"Kamu menyesal?"
Ayumi menggelengkan kepalanya.
"Tidak menyesal. Aku hanya lelah, dan harus melakukan mandi beberapa kali dalam sehari, contohnya sekarang, baru selesai mandi, harus mandi lagi."
Randy menahan senyumnya.
__ADS_1
"Tidak usah mandi kalau kamu tidak mau, tidak usah pakai baju juga, … aku tidak keberatan." Kata Randy, sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya.
"Itu sih, maunya kamu!"
"Benar."
"Yaudah, sekarang antar aku ke kamar mandi."
"Baik, nyonya Danendra."
Randy segera mengangkat tubuh Ayumi, berjalan memasuki pintu kamar mandi yang terbuka lebar, dan mendudukkan Ayumi diatas kloset, sementara dirinya menyalakan air untuk memenuhi bathup.
Pria itu membawa satu botol berukuran kecil, lalu menuangkan sedikit isinya ke dalam bak mandi sana. Tak lupa dia juga menambahkan sabun cair aroma mint dan lemon, membuat baunya menjadi segar dan menenangkan.
Sementara Ayumi memperhatikannya sambil tersenyum.
Jelas rasa bahagia menyeruak di dalam dirinya, dia dicintai seseorang dengan sedemikian rupa, bahkan sebelumnya pria itu adalah orang yang tidak pernah mempercayai adanya cinta sejati, tapi kenapa kini dia melabuhkan cintanya kepada dirimu?
Gadis desa yang sedang mengadu nasib ke kota.
"Airnya sudah penuh, ayo!" Randy kembali mendekat, membuat dada Ayumi bergemuruh, seperti di penuhi kupu-kupu beterbangan.
Wajahnya memerah, dan tentu saja Randy menyadari itu.
"Kamu ini kenapa?" Randy terkekeh.
Ayumi menahan senyum, kemudian menundukan kepala.
"Hey, apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada." Ayumi menggelengkan kepala nya.
"Baik, ayo aku bantu."
Randy memegangi kedua tangan Ayumi, membantu wanita itu untuk berdiri, kemudian menuntunnya sampai berdiri di dekat bathup yang sudah di penuhi air juga busa yang menimbulkan bau wangi.
"Nggg, … selimutnya?"
"Buka saja." Kata Randy santai. "Masih ada yang baru, kita ganti nanti."
"Bukan, maksudnya Abang pergi dulu, aku malu buka selimutnya."
"Tidak apa-apa, buka saja. Aku sudah melihat itu sepuasnya tadi. Jadi sekarang aman."
Ayumi pun melepaskan selimutnya begitu saja, melangkah masuk, dan merebahkan diri, tanpa mengikat rambut panjangnya terlebih dulu.
"Kurang panas?"
"Tidak, ini pas. Rasanya sangat nyaman."
Randy mengangguk, di berjongkok di samping bathub, lalu memasukan tangannya kedalam sana, membuat Ayumi sedikit panik.
Dia mengusap perut Ayumi, lalu tersenyum.
"Aku sudah menitipkannya di dalam. Jika dia tumbuh, kamu harus berjanji menjaganya untukku."
"Hemmm?"
"Jika kamu telat, atau merasakan sedikit perubahan, entah itu merasa pusing atau mulai, katakan. Jangan sembarang minum obat yah!?"
Ayumi mengangguk.
"Mandilah!" Randy kembali berdiri. "Jika butuh bantuan panggil saja, pintu kamarnya tidak akan aku tutup."
"Iya." Ayumi tersenyum.
......................
__ADS_1