
"Susunya aku pindahin ke tempat dulu, agar tidak tumpah."
Ayumi berjalan mendekati lemari penyimpanan.
"Sepertinya susu hamil kita beli saja di gerai minimarket depan gang. Agar tidak terlalu banyak barang bawaan."
"Memangnya tidak apa-apa beli disana?" Ayumi bertanya.
"Tidak apa-apa, sebelum naik ojeg kita mampir ke minimarket dulu, beli susu sama cemilan untuk kamu."
Sumi duduk di sofa sana, di susul Ayumi dengan segera, sampai keduanya duduk berdampingan dan saling menatap satu sama lain.
"Setelah ini janji, tinggal disini sama aku."
"Tidak disini juga, tidak enak dengan Bu Maria juga kedua orang tua kamu, Ay. Memang tidak salah, dan sepertinya mereka tidak pernah keberatan, hanya saja Mama harus tetap tahu batasan, jangan memanfaatkan keadaan, … cukup dulu cercaan selalu Mama terima, kali ini jangan, Mama hanya ingin bahagia menikmati masa tua bersama kamu dan cucu Mama nantinya."
"Jadi, … dulu Mama tour guide yah!?" Tanya Ayumi dengan raut wajah berbinar.
Sumi mengangguk.
"Bahasa apa saja yang Mama kuasai?" Ayumi tampak sangat antusias.
"Bahasa Indonesia, Sunda, Inggris, dan sedikit bahasa Jerman."
"Aku tahu kenapa Mama bisa bahasa Jerman." Ayumi tergelak kencang.
Sementara Sumi hanya tersenyum samar. Rasanya begitu menyenangkan bergurau dan bercanda tawa dengan putri kandungnya. Kini semua rasa benar-benar sudah terbebas, tidak ada lagi yang mengganjal, hingga dapat membuat dadanya terasa sesak.
"Ya, seperti yang kamu ketahui. Sepertinya Mama tidak usah menjelaskan banyak hal, karena kamu sudah pasti mengerti, kamu sudah dewasa sekarang! Bahkan sebentar lagi akan melahirkan bayi."
"Hu'um, … Om Valter pasti menjadi salah satu alasan kenapa Mama harus belajar bahasa Jerman."
"Recht." Jawab Sumi.
"Hah!?" Ayumi bingung.
"Artinya benar. Apa yang kamu katakan tadi benar adanya! Tapi alangkah lebih baik kita tidak usah membahas itu, … ada rasa tidak rela saat Mama mengingat hal yang pernah Mama alami."
"Mama tahu? Bagaimana caranya menghilangkan rasa itu? Caranya adalah dengan bercerita kepada orang lain, meluapkan segala rasa kesal dan kecewa agar tidak terus bersemayam di dalam hati."
Sumi menatap Ayumi lekat-lekat.
Janin yang dia kandung selama sembilan bulan, bayi kecil yang sempat tidak dapat dia jangkau, dan kali ini dia sudah bisa mengucapkan kata-kata yang menyentuh hati.
"Terkadang Mama tidak menyangka, sekarang sudah bersama kamu, menikmati kebersamaan yang sempat hilang." Sumi menyentuh rambut panjang Ayumi yang terurai, kemudian menyelipkannya di daun telinga.
Ayumi tersenyum.
"Hemmm, … terkadang aku melihat diriku sendiri di dalam diri Mama. Akupun sama tidak pernah menyangka kita akan segera menjalani hari-hari layaknya Ibu dan anak pada umumnya. Mama harus tahu, walaupun aku mendapatkan keluarga yang utuh, kasih sayang yang luar biasa, kebersamaan yang tidak pernah dapat tergantikan. Tapi bersama Mama aku mendapatkan rasa yang tidak pernah aku rasakan. Entah bagaimana aku harus menyebutnya." Jelas Ayumi.
Sumi tersenyum, dia menundukan kepala, berusaha menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini kenapa kita sering membahas ini ya? Padahal rasanya selalu membuat sedih." Sumi berujar.
"Ya, aku dan Mama sepertinya belum puas untuk mengutarakan perasaan satu sama lain bukan?"
Sumi mengangguk.
"Mama janji? Sekarang tidak boleh merasa sedih, tidak boleh merasa rendah, tidak boleh merasa tidak pantas dan tidak boleh merasa sendiri, karena ada aku, adik Bayi, dan Abang yang akan selalu ada untuk Mama. Belum lagi Bu Maria, juga Bapak sama Ibu."
"Kata-katamu selalu manis. Persi sekali dengannya."
"Om, Valter?"
Sumi mengangguk.
"Tidak apa-apa. Tidak semuanya tidak harus saling memiliki bukan? Mungkin Tuhan menciptakan aku, dan Mama bisa menggunakan cinta Mama untuk mencintai aku sepenuhnya."
"Mama sangat mencintai kamu, Ayumi." Ungkap Sumi.
Klek!
Pintu rumah terdengar di buka. Dan seketika dua wanita itu menoleh, tampaklah Randy berjalan perlahan, dengan jas yang sudah terlepas dan dia sampaikan di lengan, menenteng satu tas kerja.
Pria itu tersenyum.
"Sudah siap?" Randy meraih tangan Sumi, kemudian menciumnya.
"Sudah." Jawab Sumi.
Sama seperti yang Randy lakukan kepada ibunya, Ayumi pun melakukan hal yang sama, dia mencium punggung tangan Randy, di balas dengan kecupan manis di kening oleh pria tampan itu.
"Mau berangkat sekarang?" Tawar Randy.
"Abang tidak mau mandi dulu? Atau aku buatkan kopi dan makan sore?"
"Tadi sudah di kantor, kalau mandi nanti sajalah setelah mengantar kalau, agar bisa langsung tidur."
Kening Ayumi menjengit.
"Masih sore mau tidur?"
"Ya, jam sepuluh malam nanti Pak Raga meminta aku, Egy, Dimas, Evan dan yang lainnya untuk datang ke rumah mereka. Tadinya aku mau mengajak kalian, tapi tidak bisa karena akan pulang bukan?"
Randy menatap mertua dan istrinya bergantian.
Dua perempuan itu mengangguk.
"Ya sudah, ayo aku antar sampai halte."
Randy meraih kedua tas yang sudah berada disana, kemudian berjalan lebih dulu ke arah luar, di susul Sumi juga Ayumi di belakangnya.
Ayumi masuk kedalam mobil lebih dulu, duduk di kursi sampi kemudi, kemudian Sumi masuk dan duduk di kursi belakang.
__ADS_1
"Sudah semuanya?" Ucap Randy ketika pria itu masuk.
"Sudah." Jawab Ayumi juga Sumi bersamaan.
"Tas kecil milikmu mana? Uang cash, ATM dan hape?"
"Sudah di masukan ke dalam tas sama Mama." Jelas Ayumi, dan langsung di jawab anggukan oleh suaminya.
Randy mulai memutar kunci mobilnya, menginjak pedal gas untuk mundur secara perlahan setelah mesin mobil menyala, dan melaju kencang di jalanan komplek perumahan.
Dan setelah hampir tiga puluh menit berkendara. Akhirnya mereka sampai, Randy menepikan mobilnya tepat di halte keberangkatan bus pada sore hari ini.
Randy kembali mencium punggung tangan Sumi saat wanita itu berpamitan.
"Titip Ayumi, Mah. Dia sedikit ceroboh, ngeyel dan susah di kasih tahu." Celetuk Randy kepada ibu mertuanya.
"Tenang saja, jika Ayumi tidak mau mendengarkan Mama. Mama adukan kepada kamu, dan silahkan saja marahi dia." Sumi terkekeh.
Randy tersenyum.
"Aku pamit ya, jangan rindu." Kata Ayumi ketika Randy beralih kepada dirinya.
Randy memutar kedua bola mata.
"Ke geeran kamu!" Ucapnya seraya mencubit ujung hidung Ayumi.
Sementara perempuan itu hanya tersenyum. Randy diam untuk menata Ayumi. Rambut panjang yang dia ikat kucur ke atas, jaket Demin miliknya yang dia kenakan, di padukan dengan kaos hitam dan legging berwarna senada.
Dia memang selalu terlihat cantik, dan Randy selalu memujanya.
"Gunakan ATM yang aku berikan dengan baik, belanja apapun bahan makanan untuk Mama, usahakan Mama kamu tidak kesusahan saat aku menjemputmu pulang nanti." Randy mengingatkan.
Ayumi mengangguk.
"Iya Daddy."
"Jangan nakal oke? Ingat obat, susu dan vitamin nya."
Randy mengusap perut Ayumi. Dia membukung, menciumnya cukup lama, sebelum Randy melepaskan Ayumi untuk segera masuk kedalam bus yang sudah menunggu.
Pria dengan kemeja kerjanya berdiri tegap, mulai mengangkat tangan dan melambaikan dengan sangat perlahan.
"Bye bye, … Daddy!" Wajah ceria itu Ayumi perlihatkan.
Mobil bus mulai melaju, dan sesuatu di dalam dadanya terasa di remat begitu kencang. Ada rasa tidak rela, namun apa boleh buat jika itu untuk kebahagiaan Ayumi.
"Toh dia pergi ke rumah Ibunya, lalu apa yang aku takutkan." Gumam Randy.
Dia segera kembali kemdalam mobilnya, dan pergi meninggalkan halte tersebut. Dimana para perempuan terus memperhatikan dengan tatapan tidak biasa.
......................
__ADS_1
Gimana? seneng? othor double lho :)