My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 203 (Merajuk)


__ADS_3

"Mommy!" Raizel menangis dengan sangat kencang, saat Ayumi hanya dapat mengantarnya sampai ambang pintu kelas.


Dia kembali berlari ke arah sang ibu berdiri. Lalu memeluk pinggangnya dengan sangat erat.


"Don't leave me alone!" Tangisannya semakin terdengar kencang.


Membuat Ayumi dan wali kelas Raizel saling pandang untuk beberapa detik.


"Kamu tidak sendiri sayang, ada teman-teman. Ada Bryan juga, kan!"


"No, aku mau Mommy!"


"Raizel. Ayo sama Miss, kita bermain bersama teman-teman di dalam." Wanita dengan balutan seragam rapi itu membungkuk, menatap Raizel dengan senyuman yang paling manis.


Namun Raizel menggelengkan kepala, dia semakin mengeratkan pelukannya kepada Ayumi. Dan menyembunyikan wajahnya di perut sang ibu.


"Sayang, Mommy hanya menunggu di luar, tidak pulang!" Ayumi mengusap kepala putrinya.


"I want to go home."


"Nanti setelah selesai kita pulang, … sekalian tunggu Daddy jemput."


"No! Aku mau pulang, aku tidak mau sekolah, aku tidak mau Daddy!"


Ayumi terdiam sebentar. Dia benar-benar bingung dengan sikap putrinya saat ini, dia cenderung lebih manja, dan jika marah maka akan sangat sulit untuk diredakan.


"Kalau begitu tidak apa-apa Mommy nya ikut menunggu di dalam." Wali kelas Raizel berbicara.


"Ya sudah. Ayo masuk, jangan menangis lagi! Tidak biasanya kamu seperti ini, padahal di dalam ada Bryan, El!" Cicit Ayumi.


"Aku mau Mommy."


"Hhhhheuh!"


Ayumi menghela nafasnya, lalu membuka sepatu dan memasuki suatu ruangan luas dengan desain interior menggemaskan, yang dipenuhi anak-anak seusia putrinya.


Raizel terus duduk di dekat Ayumi. Dia bahkan mencengkram baju sang ibu dengan sangat erat, dan menelusupkan wajah di ketiaknya, berusaha menyembunyikan diri dari keramaian, yang sepertinya memang kurang Raizel sukai.


Gadis kecil itu hanya diam bersama ibunya, sementara yang lain tampak mulai bernyanyi, dan bermain untuk pengenalan hari pertama sekolah pada umumnya.


Dan sampai jam pelajaran selesai. Raizel tetap pada posisi yang sama. Duduk di dekapan Ayumi, seolah takut jika wanita itu akan meninggalkannya sendirian, di tempat asing yang bahkan baru sekali dia datangi.


"Tidak apa-apa. Memang ada beberapa anak yang selalu seperti Raizel saat baru pertama kali masuk. Tapi seiring berjalannya waktu, … nanti juga akan terbiasa berbaur dengan teman-temannya yang lain."


"Sekali lagi maaf ya Miss. Gara-gara El anak yang lain jadi menangis, dan meminta orang tuanya masuk juga."


"Tidak apa-apa, Bu."


Setelah itu Ayumi segera menggiring putrinya, berjalan ke arah sebuah parkiran yang sangat luas. Dan di saat yang bersamaan masuklah sebuah mobil Civic hitam, mendekati Ayumi dan Raizel dengan segera, lalu berhenti.


Tidak seperti biasanya. Raizel yang selalu menyambut kedatangan Randy dengan riang, kini terlihat lebih murung. Raut wajahnya sendu, dengan bibir mengerucut, memeluk tangan ibunya sangat erat.

__ADS_1


"Hey, darling?"


Randy keluar dari dalam mobil sana dengan senyum sumringah. Menyapa istri dan putrinya. Namun tidak ada reaksi dari Raizel, sementara Ayumi menatap suaminya, lalu mengendikan kedua bahu.


"El? You okay, Baby?" Pria itu berjongkok tepat di hadapan putrinya.


Lagi-lagi Raizel tidak menjawab, dia hanya semakin merapatkan posisi tubuh kepada sang ibu. Pandangan Randy menengadah, menatap Ayumi untuk mencari jawaban, atas perubahan sikap dari putrinya.


"Selain kesal kepadamu. Dia juga tidak mau aku tinggalkan." Kata Ayumi dengan suara pelan.


Namun, tentu saja Randy masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


"Sebaiknya kita pulang dulu. El kelelahan, sedari pagi dia hanya menangis." Ayumi segera membawa putrinya mendekati mobil.


Membuka pintu belakang sebelah kanan, membantu gadis kecil itu duduk, dan memasangkan seatbelt seperti biasa.


"Sudah nyaman?" Terlebih dulu Ayumi bertanya.


Raizel mengangguk.


"Baiklah, ada yang kamu inginkan saat ini?" Tanya Ayumi lagi, yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh putrinya.


Ayumi meraih pintu mobil, hendak menutupnya, namun suara Raizel membuat wanita itu berhenti.


"Mom?" Raizel menatap wajah ibunya dengan raut sendu.


"Hemm? Kamu menginginkan sesuatu?"


Ayumi tersenyum, dia mengusap puncak kepada Raizel.


"It's okay, kita coba besok yah."


Raizel mengangguk, dan setelah itu Ayumi menutup pintu di samping tempat duduk putrinya. Dia berjalan memutari mobil, membuka pintu bagian depan, dan duduk di samping suaminya.


***


"Kamu tidak kembali ke kantor, Dad?" Ayumi masuk kedalam kamar, dan mendekati suaminya yang sedang duduk sofa kamar, dengan laptop menyala di atas pangkuannya.


Sekilas Randy mengangkat pandangannya, menatap Ayumi, tersenyum dan kembali menatap layar laptop, memeriksakan beberapa laporan yang seseorang kirimkan.


"Aku kerjakan di rumah saja. Aku takut jika berangkat lagi El akan semakin marah." Randy terkekeh.


Mengingat dimana pagi hari tadi Raizel merengek, meminta Randy untuk menemaninya, di hari pertama gadis kecil itu masuk sekolah. Tapi karena satu dan lain hal, Randy tidak dapat mengabulkan permintaan gadis kecil itu. Alhasil Raizel merajuk, dan dia tidak mau berbicara kepadanya sampai detik ini.


"Dia sudah besar. Sudah mengerti, … karena itu dia marah, karena kamu terlalu sibuk bekerja, dan mengabaikan Raizel. Bahkan di hati pertama dia masuk sekolah!"


"Ini semua untuk kalian."


"Aku mengerti, tapi tidak dengan El. Dia hanya akan mengerti keinginannya."


Randy terkekeh.

__ADS_1


"Sifat manjanya semakin mirip denganmu." Kata Randy.


"Ya, dan keras kepalanya sama persis dengan Daddy nya." Balas Ayumi tidak mau kala.


Ayumi berjalan sedikit menjauh, naik ke atas ranjang, berbaring dan segera menyalakan televisi.


"Sekarang El dimana?"


"Sedang bermain air dengan Bi Dini di taman belakang."


Ayumi menekan-nekan remot, mencari tayangan tv pada siang hari ini.


"Bukannya di sekolah ada Bryan? Kenapa dia tidak mau berbaur dengan anak itu? Malam terus menempel kepada dirimu?"


"Sudah aku katakan. Moodnya menjadi buruk setelah kamu tetap pergi bekerja."


Randy menghela nafasnya. Dia merapatkan punggung pada sandaran sofa, kemudian menatap Ayumi, dengan rasa sesak yang teramat sangat.


"Sayang? Menurutmu apa aku keterlaluan?" Tanya Randy.


"Tidak."


"Tapi El marah kepadaku."


"Dia hanya sedikit kecewa saja, … nanti juga sembuh sendiri, dia akan melupakan rasa kesalnya hari ini, tenang saja."


Randy segera menutup laptop miliknya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dan menyimpan file seperti biasa, lalu dia beranjak mendekati Ayumi.


"Ayo kita temui El, dan kita bawa dia jalan-jalan sore."


"Masih siang."


"Memang. Tapi aku harus membujuk putriku dulu sekarang! Gengsinya tinggi, dan memadamkan amarahnya tidak mudah." Randy meraih tangan Ayumi, menggenggamnya, dan menarik wanita itu sampai turun dari atas tempat tidur.


"Hhhheuh! Dia itu kamu versi kecil tahu. Udah kecil, perempuan lagi! Udah, … powerfull jadinya. Kaki Raizel nendang meja, mejanya yang minta maaf." Celetuk Ayumi, sampai membuat suaminya tertawa kencang.


"Lebih tepatnya, emosi Raizel itu perpaduan antara aku dan kamu, Mom. Jadilah begitu! Manja, keras kepala, dan suka mau menang sendiri." Randy memperjelas.


"Hemmm, … sampai Bara saja selalu mengalah kepada El, hanya karena anak itu tidak mau El marah, bahkan El selalu mengancam, meminta untuk pulang dan tidak mau bermain bersamanya lagi."


Ayumi tertawa, saat mengingat beberapa momen ketika El dan Bara selalu bermain bersama, jika ada kesempatan. Entah itu disengaja, maupun tidak.


Mereka berdua berjalan ke arah pintu taman belakang yang terbuka lebar. Dan disanalah Raizel, duduk di atas rerumputan, dengan air yang mengalir melalui selang. Ditemani Dini disana, yang tampak memperhatikan setiap pergerakan yang Raizel perlihatkan. Tentunya agar anak itu selalu terhindar dari marabahaya.


Antara terjatuh, dan di gigit serangga kecil, yang tentu saja akan segera membuat El menangis kencang.


"Dia itu putri kita. Tapi kenapa hanya mirip denganmu yah!" Gumam Ayumi, dengan pandangan yang tertuju ke arah dimana putrinya berada.


Sementara Randy hanya tersenyum, saat memperhatikan putrinya dari ambang pintu. Dan jarak mereka sedikit jauh, hingga Raizel tidak menyadari keberadaan keduanya orang tuanya.


......................

__ADS_1


..."Onti, El belum tamat yah! tungguin El terus, jangan lupa kirim-kirim, biar Mamak othor sembagat nulis El."...


__ADS_2