My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 174 (Oleh-oleh)


__ADS_3

"Valter!" Dia berusaha menatap genggaman tangan suaminya.


Sumi terus menoleh ke arah belakang. Langkahnya terasa begitu berat saat melihat Ayumi menangis, bahkan kali ini sangat kencang dan meraung-raung. Dengan Randy yang terus berusaha menenangkan, memeluk tubuh ringkih Ayumi yang hendak menerobos untuk memaksa masuk.


"Mama!" Dan teriak itu menggema, disaat Sumi benar-benar berbelok sampai keduanya tak dapat lagi saling melihat.


Sumi berhenti, menatap Valter dengan mata yang berkaca-kaca. Sesuatu yang terkurung di dalam dadanya terasa begitu di tekan, sampai menimbulkan rasa sesak juga sakit di waktu yang bersamaan.


"Valter raungan Ayumi semakin kencang!" Dia menarik tangan suaminya, berniat untuk kembali.


Namun dengan segera Valter menahan, dan menggelengkan kepalanya.


"Pesawat kita sudah menunggu." Suaranya terdengar begitu lembut.


"Tapi …"


"Ayumi akan baik-baik saja. Nanti kalau ada waktu kita bisa datang kapanpun kamu mau, hanya saja sekarang kita harus benar-benar pulang, ada banyak pekerjaan yang menungguku." Jelas Valter.


Sumi diam. Hatinya benar-benar berada di tengah persimpangan. Apalagi ketika mendengar suara Ayumi semakin menjauh, bayang-bayangnya kini melihat Ayumi yang sedang ditarik paksa, sampai membuat hati Sumi kembali terasa diremas begitu kencang.


"Oh, … anakku Ayumi! Maafkan Mama, Nak! Mama tidak bisa mengjakmu karena memang kamu sudah milik orang lain yang lebih berhak, yaitu suamimu, orang yang harus kamu patuhi." Ucap Sumi lirih.


"Ayumi hanya sedang terbawa emosi. Tidak ingat? Selagi kita menunggu dia terus bercerita dengan raut wajah yang sangatlah ceria."


Mereka kembali melangkahkan kaki, mendorong koper besar masing-masing.


Sementara Randy terus berusaha meredakan tangisan istrinya, yang terus meminta dirinya pergi membeli tiket dan menyusul ayah dan ibunya.


"Jika perginya ke Bali, atau Indonesia bagian manapun. Maka aku akan membelikannya untukmu. Tapi mereka pergi ke Jerman, kita harus melakukan banyak hal agar bisa benar-benar pergi kesana." Randy mengusap punggung Ayumi.


"Aku masih belum puas. Tapi kenapa Mama sudah pergi, Mama nggak sayang aku yah? Apa karena aku nggak tumbuh sama Mama sampai Mama bisa setega ini sama aku? Mama milih Papa sekarang." Suaranya terdengar bergetar, bahkan beberapa kata tidak dapat Randy mengerti.


"Bukannya itu yang kamu mau? Mereka bersama dan Mamamu akan ada yang menjaga, jauh dari hidup susah dan kesepian yang selalu membuat Mamamu sedih." Randy berusaha membuat Ayumi mengerti.


Dan itu berhasil. Raungan Ayumi terdengar mulai berhenti perlahan-lahan. Sampai pria itu dapat membawa Ayumi keluar dari area sana pada hampir jam 10 malam.


***


Satu Minggu berlalu.


"Makan, minum susu, obat, dan vitamin nya sudah. Mama tidak usah khawatir."


Ayumi meletakan ponselnya di atas sofa tempat dia duduk, setelah membalas pesan dari Sumi yang beberapa menit lalu masuk. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi, dengan satu toples kue akar kelapa yang tak hentinya dia makan.


Rasa manis bercampur gurih, tekstur yang renyah dengan taburan biji wijen, membuat Ayumi tak bisa berhenti jika rahangnya tak benar-benar terasa pegal.


Suara bell pintu rumah beberapa kali berbunyi, membuat Ayumi segera bangkit dan berjalan ke arah sana.


Ting tung!!

__ADS_1


"Ya, sebentar." Kata Ayumi sembari menyingkap tirai tipis yang menghalangi jendela rumahnya.


"Ibu!" Wajah Ayumi berubah menjadi berbinar, bahkan gadis itu tersenyum sumringah kala mendapati Maria berdiri di ambang pintu, dengan sesuatu yang dia letakan.


Mungkin itu oleh-oleh, pikir Ayumi.


Klek!


Ayumi membuka pintu selebar mungkin, kemudian menghambur ke dalam pelukan sang ibu mertua, yang juga langsung Maria sambut dengan sangat baik.


"Menantu kesayangan, Ibu! Bagaimana kabar kalian? Dede bayi sehat? Kamu? Randy?"


"Kami sehat, bagaimana dengan Ibu? Kenapa sekarang Ibu hampir nggak pernah datang, kasian Abang kayanya rindu banget sama masakan Ibu." Kata Ayumi sambil tersenyum.


Mereka mengurai pelukan masing-masing. Dan dengan seketika pandangan Ayumi menunduk, menatap beberapa barang bawaan Maria.


"Ibu bawa apa?" Ayumi sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Nanti kita lihat, sekarang kita masuk dulu." Wanita itu meraih lengan Ayumi, dan menariknya sampai benar-benar masuk ke dalam.


"Bi Dini? Tolong bawa barang bawaan saya di luar yah!" Maria berpesan ketika melihat Dini datang menghampiri.


Dan wanita yang Maria maksud mengangguk, berjalan ke arah luar, memasukan barang bawaan Maria satu persatu.


Tas berisikan pakaian Dini hantar ke dalam kamar. Sementara dua kardus besar, dan freezer box diletakan di atas meja dapur bersih.


"Perutnya sudah kelihatan bulat!" Maria mengusap perut Ayumi dengan senyuman hangat. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah wajah sang menantu.


"Minggu depan sudah empat bulan, Bu." Kata Ayumi.


"Oh iya, … bagaimana dengan tomat? Masih suka?"


Ayumi mengangguk.


"Abang sudah siapkan satu mangkuk besar, di simpan di dalam kulkas, jadi kalau aku mau, … aku tinggal ambil."


"Sudah lihat jenis kelaminnya?"


"Kan belum bisa, bergerak saja belum. Sampai aku dan Abang tidak sabar mau tahu jenis kelaminnya apa." Ayumi terkekeh.


"Yang penting kalian sehat!" Maria kembali mengusap perut Ayumi.


Dimana cucunya sedang tumbuh disana, dan dia sangat bahagia. Kini putra semata wayangnya sudah akan mempunyai anak dari seorang perempuan yang sangat Randy cintai.


Maria bangkit, mendekati satu kardus dan membuka nya. Beberapa tempat Maria keluarkan, berisikan kue-kue tradisional. Lalu dia beralih pada kardus satunya lagi, Maria kembali mengeluarkan toples-toples kue kering yang akhir-akhir ini sering Maria kirimkan, setelah mendapat kabar dari Randy jika Ayumi sedang senang makan yang manis-manis.


"Sagu keju, akar kelapa, sama kue coklat kacang mede." Maria meletakkannya di atas meja kaca, yang berada tepat di hadapan sofa besar ruang tenga.


"Ibu repot-repot."

__ADS_1


Maria menggelengkan kepalanya.


"Untuk kalian tidak repot. Jangan jajan sembarangan kalau lagi hamil, kita nggak tau kadang masa kadaluarsanya sudah lewat." Jelas Maria.


"Ibu bawa cumi-cumi?" Ayumi tampak antusias.


Maria mengangguk.


"Udang?"


Maria mengangguk lagi.


"Kepiting?"


"Cumi-cumi, udang, kepiting, lobster dan masih banyak lagi."


Senyum sumringah Ayumi semakin terpancar.


"Oh iya, waktu itu Ibu sangat terkejut. Mamamu datang bersama Valter, dan memberi kabar jika mereka sudah menikah. Kamu tahu kan?"


"Iya. Nikah dadakan. Dan hanya dihadiri Bu Nur, Pak RT, dan beberapa orang saksi." Kata Ayumi.


"Semoga mereka bahagia yah! Jangan sedih lagi." Maria mengusap kepala menantunya.


Ayumi diam untuk beberapa saat, menatap wajah mertuanya dengan seksama.


"Ibu di paksa Abang kesini yah!?" Akhirnya dia bertanya.


Maria hanya mengulum senyum. Tidak membantah atau mengiyakan pertanyaannya.


"Iyakan? Abang pasti paksa Ibu datang, soalnya dia khawatir kalau pulang kerja aku pasti selesai nangis. Nggak tau kenapa rasanya sangat sulit, apalagi hari-hari pertama, rasanya sedang ditinggalkan orang untuk selama-lamanya."


"Tidak usah sedih. Yang penting Mamamu sudah bahagia, dia kembali menjalin hubungan dengan pria yang sangat dia cintai, ada perjalanan yang sangat tidak mudah, dan mungkin ini hadiah dari Tuhan atas kesabaran orang tuamu."


Ayumi mengangguk.


"Mau Ibu masakin apa sore ini? Sebentar lagi Randy pasti pulang."


"Apa saja makanan kesukaan Abang."


"Dulu dia suka semua jenis makanan. Tapi sekarang ada yang lebih dia sukai." Maria mulai bangkit dari duduknya.


"Apa?"


Ayumi ikut berdiri, dan menghampiri Maria yang mulai membuka freezer box berukuran sedang itu.


"Kamu, apalagi." Maria tertawa pelan.


Namun itu membuat pipi Ayumi bersemu merah seketika.

__ADS_1


"Ibu bisa saja. Aku kan jadi malu!"


__ADS_2