My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 176 (Panik)


__ADS_3

Volume tayangan televisi begitu menggema, memenuhi ruang kamar yang Randy juga Ayumi tempati. Perempuan itu terlihat tak terganggu, dengan sebuah toples kue kering yang menjadi temannya menonton film pada malam hari ini. Sementara Randy duduk di sofa kamar, tampak fokus kepada layar laptop, memeriksakan beberapa laporan yang Raga kirimnya sejak dari sore.


Pandangan Randy tertuju kepada Ayumi beberapa saat. Ketika merasa terganggu dengan suara Ayumi yang sedang mengunyah.


"Ay? Jangan makan di atas tempat tidur. Nanti banyak senyum disana." Katanya lalu memfokuskan diri lagi pada pekerjaannya.


Ayumi tidak menjawab, sedari tadi dia terus mengacuhkan peringatan suaminya.


"Ayumi Kirana? Dengar tidak? Jangan makan di atas tempat tidur, nanti remahan kuenya jatuh dan akan mengundang semut!" Pria itu kembali menatap ke arah istrinya.


Membuat Ayumi melirik sekilas.


"Memangnya kenapa kalau ada semut?" Ayumi bertanya dengan pandangan yang kembali tertuju kepada televisi.


"Nanti bisa di gigit, Ay! Kulit kamu merah-merah sama gatal." Tukas Randy.


"Kulit aku merah-merah terus. Padahal nggak ada semut di kasur!" Celetuk Ayumi.


Perempuan itu bahkan berbicara dengan mulut penuh, membuat Randy benar-benar merasa gemas sampai segera menyelesaikan pekerjaannya.


"Itu beda, Ay."


Dia menekan tombol 'save'. Menutup laptopnya, kemudian bangkit dan mendekati Ayumi, yang sedang asik dengan film fantasi yang ditayangkan pada hampir tengah malam.


"Abanggg!" Rengek Ayumi saat Randy merebut toples kue kering kesukaannya.


"Apa? Mau protes? Ayo protes!" Kata Randy sambil menahan senyumannya.


"Kuenya!"


Tangannya meronta-ronta, berusaha meraih toples kue yang Randy rebut dan berusaha pria itu jauhkan.


"Sudah malam. Besok lagi makan kuenya!" Kata Randy kepada istrinya.


Namun Ayumi segera menggelengkan kepala.


"Akunya belum kenyang."


"Besok lagi, sekarang ayo minum airnya, kalau tidak gigimu sakit karena terlalu banyak makan yang manis-manis."


Randy turun dari atas tempat tidurnya, hendak membawa satu toples kue ke arah luar kamar, tapi rengekan Ayumi membuat pria itu menghentikan langkahnya.


"Baby-nya."


Randy berbalik badan.


"Baby-nya masih mau makan, Daddy! Belum kenyang, nanti tidak bisa tidur."


Ayumi menatap suaminya dengan ekspresi penuh permohonan. Membuat Randy terdiam, melihat istrinya yang tampak sedang memohon.


"Daddy? Mommy masih lapar." Ucapnya lagi dengan suara pelan.


Dia menghela nafas, kemudian kembali mendekat dan memberikan toples kuenya kepada sang istrinya. Yang langsung di sambut dengan senyuman yang paling manis.


"Bilang apa?" Randy kembali mendudukan dirinya tepat di samping Ayumi.


"Terimakasih Daddy." Ayumi tersenyum, lalu mendekat dan menyandarkan dirinya di dada Randy.


Akhirnya mereka terdiam. Menikmati kue buatan Maria bersama-sama, sambil menonton film yang masih terus berlangsung. Tangan Ayumi tak lagi bergerak, bahkan suara ocehannya benar-benar tak terdengar lagi, membuat Randy menunudkan kepala untuk memeriksakan keadaan istrinya.


Dan betapa terkejutnya Randy, saat melihat Ayumi sudah terlelap, dengan posisi toples yang masih berada dalam dekapannya.


"Sayang?" Panggil Randy sambil terus memiringkan kepalanya.


Ayumi diam.


"Ay? Kamu sudah benar-benar tidur?" Tanya Randy lagi. Namun Ayumi benar-benar tidak menjawab.


Randy meraih tolples itu, meletakan di atas nakas, dan membenrkan posisi tidur Ayumi. Perempuan yang sudah terlihat begitu pulas, nafasnya sudah teratur, dengan raut wajah yang terlihat sangat tenang.


Cup!


Randy memberikan ciuman di kening istrinya, lalu beralih ke pipi, dan mencium bibirnya cukup lama.


"Selamat tidur istri cantikku. Have a nice dream." Kata Randy sembari menyingkirkan beberapa helai rambut di wajah Ayumi.


Randy menarik selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuh istrinya, kemudian dia turun dan beranjak ke arah luar kamar, membawa toples tadi untuk dia simpan ketempat semula.


"Ayumi sudah tidur?" Maria yang sedang mengisi air kedalam gelas miliknya bertanya.


"Sudah." Sahut Randy. "Lihat! Sudah hampir satu toples Ayumi memakan kuenya. Belum lagi pagi siang dan sore, itu tidak baik untuk kesehatan gigi, Bu. Lain kali bawakan saja kue yang lain." Randy sedikit menggerutu kepada Ibunya.


Maria tidak menjawab, dia hanya fokus meneguk air minumnya dengan sangat perlahan-lahan.


"Kamu ini. Apa-apa tidak baik, apa-apa tidak sehat. Tidak higienis lah, kotorlah, nggak sehat lah. Selama Ayumi makannya lahap, itu sudah lebih bagus, Ran. Toh itu kue buatan Ibu, tidak pakai pengawet."


Randy diam.


"Saat ngidam dia cuma bisa makan jus tomat dan beberapa makan tertentu. Belum lagi muntah-muntah yang tidak tahu waktu, … jadi sekarang biarkan saja, Ayumi sedang enak makan harusnya kamu bersyukur. Tadi juga! Jangan sekali-kali lagi kamu bersikap buruk di depan kedua orang tua Ayumi, untung Bu Tutih dan Pak Ali sangat baik. Bayangkan jika kamu seperti ini di hadapan Bu Sumi dan suaminya sekarang? Ibu yakin Ayumi langsung di bawa kabur ke Jerman." Maria menumpahkan kekesalannya.


Sementara orang yang di maksud berusaha acuh. Meski sedikit banyak dia sedikit kepikiran tentang apa yang baru saja ibunya katakan.


"Sudah malam. Sana masuk, tidur dan temani Ayumi! Bukannya dia suka pusing dan mual ketika dia terbangun dan tidak ada kamu di sampingnya? Manfaatkan itu, karena ada beberapa orang hamil yang sangat membenci suaminya dalam jangka waktu yang sangat lama, … Ibu katakan kamu beruntung karena Ayumi justru malah tidak bisa jauh darimu."

__ADS_1


"Kata-kata Ibu menyeramkan!" Cicit Randy.


Maria tidak menjawab lagi, wanita itu diam sampai benar-benar masuk kedalam kamarnya.


Randy menghela nafas, dan dia pun segera kembali ke dalam kamar sana. Dimana Ayumi sudah terlelap dengan televisi yang masih menyala.


***


Ayumi segera terjaga, ketika sesuatu di dalam dirinya terasa terus begetar-getar. Dan tentu saja dia merasa sangat terkejut, sampai perempuan itu mengubah posisi tidurnya mendaki duduk.


"Abang?" Ayumi menepuk-nepuk punggung suaminya yang masih terlelap.


Geratar di dalam perutnya semakin terasa.


"Abang? Abang bangun! Di dalam perut aku ada yang bergetar-getar, …. Ini kenapa?" Ayumi semakin panik.


Namun Randy terus terlelap, meski suara kicauan burung sudah terdengar begitu jelas, pertanda jika pagi hari sudah menyapa.


Ayumi diam sebentar. Berusaha untuk mengerti apa yang terjadi kepada dirinya, namun dia benar-benar tidak tahu, hingga sesuatu yang terus bergetar di dalam perutnya membuat dia benar-benar ketakutan.


Dengan cepat Ayumi menyingkap selimut yang sedari tadi menggulung tubuhnya, melindungi dia dari hawa dingin Air Conditioner kamar yang semalaman terus menyala.


Ke adaannya panik, Ayumi memutar kunci kamarnya, lalu menekan handle pintu sangat kencang, hingga membuat Randy langsung membuka mata.


Dan terdengarlah teriakan Ayumi meminta pertolongan. Sontak membuat Randy turun dari atas ranjang tidur dan berlari ke arah luar.


"Ada apa?" Maria dan Tutih segera menghampiri.


Dua wanita seumuran itu tak kalah paniknya dengan Ayumi. Perempuan yang masih terlihat berantakan namun sudah berteriak memanggil-manggil dengan suara yang terdengar panik.


"Perutnya."


"Kenapa perutnya?" Tutih segera mendekat, meraih Ayumi dan membawa duduk di sofa ruang tengah.


Nafas Ayumi terengah-engah.


"Kenapa? Kamu mimpi buruk? Kamu melewatkan terapinya atau bahkan lupa minum obat?" Tutih terus bertanya.


Sementara Maria berusaha membuat dirinya tak sepanik Ayumi juga Ibunya.


"Ada apa?" Tiba-tiba Randy berteriak.


Matanya begitu merah. Rambutnya terlihat sangat berantakan dengan raut kepanikan yang sangat jelas terlihat. Belum lagi kedatangan Ali dari arah luar setelah berjalan-jalan pagi, kedua pria itu langsung berlari mendekat, sampai kini Ayumi di kerumuni suami juga para orangtuanya.


"Kamu kenapa teriak? Masih pagi Ay!" Kata Randy dengan kepanikannya.


"Perut aku!" Dia terlihat semakin panik, kala getaran itu tak kunjung reda.


"Kenapa? Sakit? Ayo siap-siap kita ke Dokter!" Randy langsung berlari, kembali memasuki kamar, berniat mengganti kaos tanpa lengan nya dengan pakaian lain.


"Sebentar, jangan panik dulu. Coba jelaskan perutnya kenapa? Sakit? Atau terasa bagaimana?" Maria menatap mata menantunya.


Ayumi menggelengkan kepala, lalu setelah itu mengangguk. Membuat semua orang semakin bingung lagi.


"Apa yang kamu rasakan?" Maria berusaha untuk terus tenang.


"Perutnya terus bergetar. Kencang, … disini!" Katanya lalu meraih tangan sang ibu mertua, dan menempelkannya di perut bagian bawah yang terasa ada yang terus bergerak-gerak.


Mereka semua terdiam.


"Bergetar?" Tutih meracau.


Ayumi mengangguk.


"Ibu mau pegang juga?"


Ayumi melakukan hal yang sama, dia menarik tangan Tutih, dan meletakannya di atas perut Ayumi, bersama tangan Maria.


Dua ibu itu saling menatap. Karena memang tidak merasakan apapun. Namun seulas senyum tipis terukir di kedua sudut bibir Maria.


"Apa masih bergetar?" Maria terus tersenyum.


Ayumi mengangguk.


"Apa ini bahaya?"


"Coba ceritakan dulu. Bagaimana bergeraknya? Apa kencang atau tidak?"


"Jika serius sebaiknya cepat bawa ke klinik terdekat dulu!" Ali ikut berbicara setelah dia berdiam cukup lama.


Sementara Randy belum kembali setelah dia berniat mengganti pakaiannya.


"Tunggu sebentar. Kita harus memastikan." Ucap Tutih.


"Coba katakan lebih spesifik lagi."


Ayumi diam sebentar. Merasakan apa yang sedari tadi menjadi ketakutan besarnya, ketika tiba-tiba saja ada yang bergerak di dalam perut sana.


"Rasanya, … kadang bergetar, terus berkedut kencang, lalu bergetar lagi." Jelas Ayumi.


"Apa sakit?" Maria mulai tersenyum.


"Tidak. Hanya berkedut dan bergetar, tapi kencang sekali!"

__ADS_1


Senyuman Sumi semakin merekah. Namun tidak dengan Ali dan Tutih yang masih kebingunga.


Ya, sepertinya mereka belum menyadari sesuatu, dan hanya Maria yang menyadari dan mengetahui penyebab kepanikan Ayumi.


"Sayang, ayo. Kita ke IGD sekarang juga! Sebelum semuanya terjadi semakin parah." Randy masih panik.


Bahkan pria itu hampir saja berlari ke arah luar setelah membawa kunci mobil di dalam laci, namun teriakan Maria tentu saja menghentikannya.


"Ibu tidak mengerti? Ayumi sedang hamil muda, aku takut terjadi sesuatu, perutnya sakit bukan? Dan itu mungkin kesalahan aku." Kata Randy.


"Kesalahanmu?"


"Iya, aku sering memakasa Ayumi untuk melakukannya!"


Mata Ayumi membulat.


"Abang!" Suara Ayumi memekik kencang.


"Kita bahas itu nanti. Sekarang bagaimana dengan Ayumi." Tutih berujar.


Maria menatap putranya tajam. Rasa malu juga kesal beradu padu menjadi satu.


"Tuh kan! Ada yang bergetar lagi." Ayumi masih tetap panik.


"Apa Dokter tidak memberitahu? Apa yang akan terjadi setelah bayinya berusia 4 bulan?"


Maria kembali kepada Ayumi.


Perempuan itu tampak berpikir untuk beberapa saat. Dia mencoba mengingat-ingat, namun nihil, Ayumi tidak bisa mengingat setiap pesan Dokter, selain masalah vitamin dan susu.


"Ibu banyak nanya. Nanti kalau terjadi sesuatu kepada Ayumi gimana?" Randy mendekat.


Dia hampir saja menari Ayumi, tapi lagi-lagi dia di tahan Ibunya.


"Ay, kamu tidak sadar? Jika yang bergetar itu janin kamu, … anak kalian!?"


"Kalau kata Dokter, baby-nya akan bergerak. Bukan bergetar atau berdenyut seperti sekarang."


Maria menggelengkan kepala.


"Ini awal dari semuanya. Jadi jangan panik, apalagi sampai pergi ke IGD! Kalian bisa di tertawakan para petugas medis."


Ayumi terlihat tidak percaya, pun dengan Ali dan Tutih. Sementara Randy langsung bersimpuh di hadapan Ayumi, menatap istrinya tidak percaya.


Plak!


Tutih menepuk bahu putrinya pelan. Lalu memeluknya sambil tertawa kencang, dengan sisa rasa panik karena kehebohan Ayumi di pagi hari.


"Kamu membuat se isi rumah panik, Ay! Lihat. Bi Dini sampai terus berdiri di dekat meja kompor sambil lihatin kamu." Tutih teratawa.


"Dasar!" Ali mengusap kepala Ayumi.


Dan setelah itu Randy langsung memeluk Ayumi, memberikan perut Ayumi beberapa kali ciuman penuh cinta dan kasih.


"Kamu membuat Mommy, Daddy, Oma, Opa dan Bibi panik sayang. Kenapa tiba-tiba, hem? Bilang-bilang dulu kalau mau bergerak, jadi tidak akan panik seperti ini." Randy berbicara dengan sosok yang ada di dalam perut istrinya.


"Apa Dokter tidak pernah melarang? Sampai kamu berani sekali menghajar Ayumi dalam keadaan hamil muda?" Maria menjewer telinga anaknya.


"Bu!" Randy mengusap daun telinganya yang terasa sedikit panas.


"Sudah. Ibu sedang ngupas bawang tadi, niatnya hari ini mau masak lagi, tapi kamu mmbuat semua orang panik, Ay!" Jelas Tutih, kemudian dia berlaku pergi ke arah dapur kotor yang terletak area paling belakang rumah besar itu.


Begitu pula dengan Ali, Maria dan Dini. Mereka sama-sama pergi, hingga hanya meninggalakn mereka berdua.


"Apa masih bergerak?" Kepala pria itu mendongak.


"Masih. Apa tidak terasa?"


Randy kembali menempelkan wajah di perut istrinya. Berusaha merasakan pergerakan bayi kecil di dalamnya.


"Mungkin belum, dia masih sangat kecil. Dan hanya kamu yang bisa meraskan getarannya." Kata Randy.


"Mungkin iya. Rasanya sangat aneh!" Ayumi terkekeh.


Tangannya terus mengusap rambut Randy. Pria yang tengah asik bersimpuh dan terus mengucapkan kata-kata sapaan, hanya sekedar untuk melakukan interaksi kepada bayinya.


"Sayang! Kamu membuat semua orang heboh hari ini. Bahkan Daddy sudah hampir membawa Mommy ke IGD hanya karena takut terjadi sesuatu kepada dirimu. Tapi ternyata kamu sedang berusaha menyapa Mommy yah?" Kata Randy.


"Sehat-sehat ya. Nanti kita main bola bareng oke?"


"Kok main bola? Gimana kalau Baby-nya cewek?" Ayumi menepuk pundak Randy.


Randy tersenyum.


"Mommy mu sangat kolot. Masa dia tidak tahu, padahal ada sepak bola perempuan."


"Dih, tuaan kamu lho yah!" Ayumi tidak terima.


"Memangnya kamu tidak tua? Kan sebentar lagi mau jadi Mommy?"


"Aku baru 20 tahun lho yah, itu pun masih bulan depan."


"Baiklah-baiklah, terserah kamu saja. Sekarang diamlah aku sedang berusaha merasakan pergerakan dia." Kata Randy.

__ADS_1


Sementara Ayumi mendelikan kedua bola matanya.


__ADS_2