My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 141 (Kamar kost)


__ADS_3

Sebuah taksi mulai lamban, kemudian menepi dan berhenti tepat di salah satu gerbang besar. Pintu mobil itu terbuka, dan keluarlah Ayumi dengan hanya menenteng sebuah tas kecil miliknya.


"Terimakasih, Pak." Ucap Ayumi.


Setelah itu dia menutup pintunya kembali, dan berjalan memasuki gerbang besar yang kini tampak sedikit tertutup.


Pandangan beberapa orang langsung tertuju kepada dirinya, termasuk wanita paruh baya sang pemilik kamar kost yang Ayumi tempati. Dia berjalan tergesa mendekati, dan tanpa aba-aba Amel memeluk Ayumi dengan sangat erat.


"Apa kabar?" Katanya sembari mengusap punggung Ayumi.


"Emmmm, … Ayumi baik Bu. Bu Amel apa kabar? Maaf baru berkunjung, padahal tidak pamit waktu itu." Balas Ayumi kepada wanita yang begitu baik hati kepada dirinya.


Bahkan bisa dibilang Amel adalah salah satu saksi saat hidupnya benar-benar tidak mudah. Tak jarang Amel memberinya nasi ketika Ayumi hanya memiliki beberapa bungkus mie instan yang hampir dia konsumsi setiap hari.


Amel mengurai pelukannya. Mendorong kedua bahu perempuan muda yang terlihat sangat berbeda itu, tersenyum dan menatapnya lekat-lekat.


Tidak ada yang berubah dari segi penampilan, dia selalu memakai legging panjang berwarna hitam, dan di padukan dengan kaos oversize tak lupa dilapisi jaket denim. Hanya saja kini Ayumi terlihat lebih berisi dan sehat, bahkan raut wajahnya terlihat sangat ceria, seperti tidak ada lagi beban berat yang selalu dia pikirkan.


"Mau mampir ke warung?" Tawar Amel.


"Nanti Ayu mampir ya, Bu. Sekarang Ayumi mau ke kamar dulu." Tolak Ayumi sambil tersenyum.


Amel mengangguk, kemudian melepaskan Ayumi begitu saja.


"Mau minum? Atau makan?"


"Nanti saja, sekalian nunggu orang Bu."


"Baiklah."


Ayumi segera beranjak, meninggalkan Amel juga beberapa penghuni yang tidak asing baginya. Mereka menatap dengan ekspresi tak biasa, tak jarang mereka berbisik-bisik, tapi seperti biasa. Ayumi tidak mau melayani setiap ucapan yang dia dengar, bahkan saat mereka membicarakan hal yang tidak benar.


"Kalo mau kaya Ayumi, minggat sana! Cari gadun."


"Mau sih, tapi susah nyarinya dimana?"


"Ya siapa tau pelanggan lu ada yang om-om kaya raya, nggak apa-apa jelek dikit, yang penting duit."


Mendengar itu Ayumi hanya menggelengkan kepalanya.


Pikiran mereka tetap seperti itu dari dulu, mengira aku melakukan apa yang mereka juga lakukan. Batin Ayumi berbicara.


Langkah Ayumi berhenti tepat di hadapan pintu kamarnya. Dia merogoh tas, meraih kunci, dan segera membuka pintu tersebut setelah memutar kunci sebanyak dua kali.

__ADS_1


Lama Ayumi berdiam diri, menatap ruangan kecil dengan barang-barang miliknya yang tak berubah sama sekali. Begitu banyak kenangan di dalamnya, sedih, suka dan duka tempat inilah yang menjadi saksi, di mana dia menangisi segala hal yang membuatnya merasa tidak berguna karena beban hidup yang begitu besar.


Ayumi masuk. Menutup pintu kamar kostnya rapat-rapat, tak lupa menyalakan lampu karena hari sudah mulai petang.


"Sepertinya Bu Amel merawat kamarmu dengan baik Ayumi." Dia bermonolog, ketika menatap seisi ruangan yang tampak bersih.


Termasuk kain pelapis kasur yang sudah berganti.


Brugh!!


Dia melempar tubuhnya sampai berbaring di atas tempat tidur sana. Memejamkan mata, dan menikmati keheningan.


Akhirnya. Setelah susah payah meminta izin kepada Sumi juga Randy, dia memutuskan untuk segera pergi, ketika rasa kesal mendominasi karena Randy tak dapat cepat pulang karena ada beberapa pekerjaan yang tidak dapat dia tunda.


Ayumi menatap langit-langit kamar. Semua memori kembali berputar dengan jelas di dalam isi kepalanya. Dimana dia harus bekerja jauh dari keluarga, mencoba membantu setiap kesusahan Ali dan Tutih, termasuk melunasi hutangnya kepada rentenir, lalu dia dipertemukan dengan orang-orang berbeda. Dan tentu saja itu membuat hal yang paling sulit.


Namun kini Tuhan sudah benar-benar merubah hidupnya. Bertemu dengan orang yang tepat, bahkan sampai menikahinya, membuat Ayumi hidup dengan layak tanpa beban besar yang harus dia tanggung seperti sebelumnya.


Klek!!


Pintu kamar kostnya tiba-tiba terbuka. Membuat Ayumi terkejut, bangun dan menatap ke arah pintu dimana seorang pria berdiri dengan raut wajah penuh dengan rasa khawatir.


Keduanya saling menatap, dan terdiam untuk beberapa saat.


Randy masuk, menutup pintu untuk kemudian berjalan mendekati istrinya, dan memeluk dengan sangat erat.


"Kau membuat aku tidak bisa fokus bekerja Ayumi. Ada apa dengan kamu ini? Kenapa datang kesini sendirian? Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu kepada anakku!" Pria itu merancau tanpa melepaskan dekapannya sedikit pun.


Ayumi hanya diam, membiarkan Randy memeluknya dengan sangat erat.


"Semarah itu kepadaku? Sampai kamu memilih pergi kesini?"


"Aku nggak marah, aku emang lagi mau kesini. Aku bosen di rumah, toh kamu juga nggak bisa pulang cepat." Ayumi menjawab.


Randy bungkam. Dia menghirup aroma tubuh Ayumi, yang seketika membuatnya merasa lega.


"Lalu kenapa kamu kesini? Bukannya ada pekerjaan tambahan?"


Randy menggelengkan kepala.


"Selesai pertemuan aku langsung pulang, … apalagi setelah mendapat pesan darimu, membuat aku tidak bisa berpikir jernih."


Ayumi mendorong tubuh Randy, membuat keadaan mereka sedikit berjarak, juga dapat saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Kamu membuat aku takut!" Suaranya begitu lirih.


Randy menyentuh pipi istrinya, mengusap dengan sangat perlahan. Sementara Ayumi hanya tersenyum samar mendapati suaminya sekacau itu.


Setelan kerja yang masih melekat, raut wajah sendu, dengan nafas yang terdengar memburu, seperti sudah berlari kencang dengan jarang yang cukup jauh.


"Malah senyum-senyum, suaminya lagi panik begini."


"Lah. Kok panik? Kan aku udah bilang mau pergi ke kostan dulu." Ayumi terkekeh.


"Kenapa tidak mengajak Mamamu? Atau setidaknya tunggu aku sampai pulang."


"Aku bete di rumah terus." Ayumi balas menyentuh pipi Randy, dan mengusapnya dengan sangat perlahan.


"Oh ya?"


Randy bernafas lega. Dia bergerak kemudian merebahkan diri tempat di samping Ayumi.


"Iya, aku cuma mau liat keadaannya saja. Nanti aku sortir, atau beresin barang-barangnya. Aku mau minta Mama tinggal disini, tidak di rumahnya yang dulu, kasian Mama kesepian disana." Jelas Ayumi.


"Kamu tidak sedang marah? Tidak sedang mengancam karena aku tidak bisa cepat pulang?"


Ayumi menjawab dengan gelengan kepala.


"Astaga padahal aku sudah takut kamu pergi karena marah. Aku sudah berusaha menahannya agar tidak pergi, tapi Mama memberitahu kalau kamu tiba-tiba berangkat."


Ayumi tersenyum.


"Abang takut? Sampai tidak ganti pakaian dulu?"


"Bagaimana mau ganti pakaian? Pulang ke rumah saja belum, dari kantor aku langsung kesini, aku sangat khawatir kepada kalian!"


"Maaf, aku nggak maksud."


"Lain kali jangan begini, aku tidak mau sesuatu terjadi kepada kalian." Randy mengusap perut rata Ayumi.


Dimana sedang tumbuh janin, buah cinta keduanya.


"Ada Mommy, Adek baik-baik saja di dalam perut."


Tubuh Ayumi bergerak-gerak, mengubah posisi berbaring ya, kemudian memeluk Randy, dan membenamkan wajah di dadanya.


"Kangen." Kata Ayumi pelan.

__ADS_1


__ADS_2