My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 121 (Sumi & Tutih)


__ADS_3

"Sudah pandai minum obat sekarang?" Randy tersenyum, seraya mengusak rambut istrinya yang saat ini tengah duduk di kursi meja makan, meminum beberapa obat yang memang sudah diresepkan, dan harus diminum rutin setiap harinya.


Perempuan yang dimaksud hanya mengangguk. Memasukan obat terakhir yang Randy siapkan di dalam sebuah tempat kecil, lalu meneguk air sebanyak-banyaknya.


"Mau aku buatkan susu?"


Randy duduk di kursi, tepat di samping istrinya.


"Aku nggak mau, … rasanya hambar, dan setelahnya aku akan muntah!" Jelas Ayumi sembari memasang ekspresi wajah menggemaskan.


"Kenapa? Susu sangat bagus untuk tumbuh kembangnya?" Pria itu terkekeh.


Randy menggeser kursinya, kemudian mengulurkan tangan, sampai dapat mengusap perut rata Ayumi, yang kini tengah tumbuh buah hati keduanya.


"Dia tidak nakal hari ini?" Maniknya memandang lurus tertuju pada Ayumi, dengan bibir yang terus memperlihatkan senyum.


Ayumi menggelengkan kepala.


"Dia tidak pernah nakal!" Balas Ayumi pelan.


"Emmm, … maksudku, tidak membuat Mommy nya mual pagi-pagi seperti kemarin-kemarin?"


"Nggak, kan Abang ada pas aku bangun."


Randy tersenyum, mengangguk, membungkukan badan, kemudian mencium perut istrinya cukup lama. Begitupun dengan Ayumi, dia mengusap kepala Randy dengan seulas senyum bahagia yang terus terpancar.


"Abang?"


"Humm?"


"Kapan kita mau berangkat?"


"Apa tidak sebaiknya kita minta Mama mu datang kesini saja? Bapak dan Ibu akan kesini ternyata, mengantar asisten baru untuk membantu merapikan rumah dan pekerjaan lainnya." Randy berujar.


"Aku lupa memberitahu jika Bapak menghubungi ku juga semalam."


Dia menatap suaminya dengan tatapan penuh kecewa.


"Kamu juga jangan terlalu melakukan perjalanan jauh terlalu sering. Baby nya masih sangat kecil dan rentan terhadap guncangan, kamu lupa apa kata Dokter?" Randy berusaha mengingatkan.


"Ah iya, aku lupa. Ya sudah kalau begitu telepon Mama sekarang juga cepat!" Akhirnya Ayumi mengerti, dan menuruti permintaan suaminya agar Sumi saja yang berkunjung ke rumah mereka.


Pinta Ayumi, yang langsung dijawab anggukan oleh pria yang duduk tidak jauh darinya.


***


"Halo?"


Kata Sumi saat menerima sambungan telepon dari nomor menantunya.


"Mama ini aku."


Suara lembut Ayumi kembali terdengar, membuat Sumi tersenyum dengan raut wajah sumringah. Dia bahagia saat hubungannya dengan sang putri benar-benar mempunyai kemajuan yang pesat, dan itu bagus.

__ADS_1


"Ya, kamu sudah mau sampai?" Tanya Sumi.


"Aku lupa, kalau kata Dokter belum boleh terlalu sering melakukan perjalanan jauh, Baby nya masih sangat kecil, jadi tidak baik jika terlalu banyak guncangan. Bagaimana kalau Mama saja yang keisni?"


"Kamu sakit?" Sumi terlihat khawatir.


"Tidak, aku tidak sakit. Hanya belum boleh terlalu sering berkendara, apalagi ke rumah Mama paling cepat 2 jam. Aku kangen Mama, … apa Mama tidak keberatan aku minta kesini?"


Pinta Ayumi, suaranya terdengar memohon. Ada sedikit perasaan tidak enak, Sumi ingin menolak, tapi apakah bisa dia membiarkan putrinya menahan rindu? Sementara perempuan muda itu sudah sejak semalam mengatakan jika dia ingin menemui dirinya.


"Mama?"


"Baiklah, Mama akan siap-siap sekarang, lalu berangkat kesana."


"Oke, kalau sampai Halte kasih tahu. Nanti aku sama Abang yang jemput." Suaranya terdengar begitu riang.


"Ya sudah, matikan saja sambungan teleponnya."


"Hati-hati."


"Iya, Nak."


Sumi segera meletakan handphone miliknya di atas meja, lalu dia beranjak ke arah kamar, untuk segera bersiap-siap.


Dan setelah beberapa menit berlalu, Sumi keluar dari dalam rumahnya, menenteng sebuah tas berukuran sedang, berjalan mendekati jalan untuk menyetop ojek untuk dia tumpangi sampai halte bus.


"Kang? ojek!" Sumi melambai-lambaikan tangannya.


"Halte, Teh?" Pria itu segera bertanya.


Motor itu mulai melaju dengan perlahan, menyusuri jalanan kampung yang sedikit terlihat rusak di beberapa bagian jalan.


"Malem itu, … saya anter anak gadis. Siapa? Katanya anak teteh pas saya tanya, … memangnya sudah ketemu?" Pria itu bertanya.


Sumi diam, awalnya tidak mau menjawab dan pura-pura tidak mendengar, tapi pria itu kembali mengulangi setiap kata yang membuatnya sangat penasaran.


"Oh itu, … iya dia anak saya." Jawab Sumi.


Memangnya kenapa harus malu? Ayumi saja tidak pernah terlihat malu saat mengakui dirinya sebagai ibu kandung, bahkan di depan beberapa warga kampu ketika mereka membeli sarapan beberapa waktu lalu saat Ayumi menginap di rumahnya.


Keduanya terus berbincang-bincang, obrolan terus tersambung saat pria yang kini berprofesi menjadi tukang ojek terus bertanya, mencari sebuah jawaban atas apa yang baru dia dengar.


Bagaimana keadaan Ayumi, dan bagaimana gadis itu menerimanya, atau bahkan pria itu bertanya tentang awal mula pertemuan mereka, sampai mau tidak mau Sumi menjawab, walaupun tidak terlalu detail.


Setelah beberapa menitnya menempuh perjalanan, akhirnya Sumi sampai di salah satu halte, dia pergi setelah membayar ongkos. Beruntung, ada satu bus keberangkatan ke kota yang masih berada disana, sampai Sumi bisa langsung masuk, dan menempati beberapa bangku yang kosong.


"Bu Sumi?"


Seseorang menepuk bahunya dari arah belakang. Membuat Sumi menoleh seketika, memeriksakan siapa yang menyapanya di dalam bus sana.


Deg!!


Sumi terdiam, menatap Tutih dan Ali penuh keterkejutan.

__ADS_1


Memang tidak ada masalah apapun di antara mereka. Namun entah kenapa rasanya begitu gugup, apalagi tatapan Tutih mempunyai makna yang berbeda, dan hanya Sumi yang dapat merasakannya.


"Bu Sumi mau ke kota juga?"


Sumi tersenyum, kepada orang tua asuh putrinya, juga satu perempuan muda yang duduk di dekat kaca, berdampingan dengan Tutih.


"Bu Tutih dan Pak Ali juga mau ke kota?"


"Iya, Randy meminta kami membawa asisten rumah baru. Ibu sendiri mau kemana?" Tanya Tutih yang terlihat begitu penasaran.


"Sa-saya … saya … juga dipanggil Randy, katanya rumah sedikit tidak terurus."


Tutih mengangguk, dia kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Rasa penasarannya terjawab, dan dia mengetahui jika tujuan mereka sama.


Sumi kembali berbalik badan, juga menyandarkan punggung pada sandaran kursi, menatap ke arah luar saat bus mulai melaju, seraya memeluk tas yang dibawanya erat-erat.


Perasaan itu muncul lagi. Rasa tak enak hati karena dirinya sudah mulai mempunyai kedekatan dengan Ayumi, tidak ada sedikitpun rasa untuk merebut semua perhatian anak kandungnya, hanya saja kenapa wanita yang mengurus Ayumi menatap dia seperti itu?


Apa Tutih keberatan? Atau Tutih merasa terbebani dengan kehadiran Sumi di tengah-tengah keluarganya?


Lalu apa yang harus Sumi lakukan sekarang? Haruskah dia yang menjauh, dan membiarkan Tutih menjadi satu-satunya ibu yang Ayumi miliki.


Sumi memejamkan mata, dia menghirup udara sebanyak mungkin, kemudian menghembuskannya perlahan, berusaha membuang rasa tidak nyaman di dalam dadanya.


"Ibu baik-baik saja?" Tanya Ali kepada Tutih.


Sifat wanita itu tiba-tiba menjadi sangat pendiam. Padahal jelas-jelas dia sangat bahagia saat akan berangkat.


"Bu?" Panggilnya lagi saat Tutih tidak menjawab.


Tutih menghela nafasnya pelan.


"Ibu benar-benar takut sekarang, Pak!" Ungkapnya dengan suara yang terdengar begitu pelan.


Ali diam.


"Apa ketakutan itu dengan pemicu yang sama?" Ali menatap istrinya tidak percaya. "Memangnya kenapa? Seharusnya kita bahagia karena Ayumi sudah menemukan orang tua kandungnya, dan seharusnya kita bersyukur juga, dia tidak melupakan kita." Pria itu mulai geram.


Istrinya terus mempermasalahkan hal yang sama, bahkan karena ketakutan yang tidak mendasar, Amar kembali mencecar Ayumi dengan kata-kata yang kurang baik.


"Bapak itu laki-laki, tidak akan mengerti perasaan kami para perempuan." Ucap Tutih lagi, bahkan lebih pelan.


"Perasan Ibu itu yang aneh. Apa sebenarnya yang membuat pikiran Ibu menjadi seburuk sekarang? Dulu tidak begini!"


"Ibu takut …"


"Ayumi akan melupakan Ibu? Dan menggantikannya dengan wanita lain yang lebih pantas? Tentu saja. Apa yang Ibu pikirkan? Mau seperti apapun Ayumi kepada Ibu kandungnya, kita harus tetap mendukungnya, karena itu memang harus!" Sergah Ali memotong ucapan istrinya.


Keduanya terus berdebat. Sementara wanita yang akan menjadi asisten baru rumah anaknya terdiam sambil memperhatikan.


"Sebaiknya singkirkan pikiran buruk itu! Atau Ibu akan membuat semuanya berantakan, dan membuat Ayumi semakin kecewa kepada Ibu, apalagi jika dia tahu penyebab kemarahan Amar adalah ucapan Ibu yang tidak didasari bukti."


Kini Tutih benar-benar diam. Dia bungkam dan mulai menutup mata, berusaha tertidur dan menghilangkan setiap pikiran buruk yang mungkin saja akan terjadi kepada keluarganya.

__ADS_1


Dia bukan mau egois atas hubungan Ayumi juga Sumi. Bukan juga mau jahat karena berusaha memisahkan keduanya. Hanya saja Tutih sangat menyayangi Ayumi, dan dia belum siap jika anak gadis yang di besarkannya dengan penuh cinta, pergi dan memilih ibu kandungnya, yang jelas-jelas sudah membiarkan Ayumi kecil mengalami kemalangan.


Pikiran Tutih terus berkecamuk, perasaannya tidak menentu. Tapi tidak ada yang bisa Tutih lakukan.


__ADS_2