My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 175 (Syukuran kecil-kecilan)


__ADS_3

"Hey?"


Ayumi melambaikan tangannya, ketika melihat Una dan Aira memasuki kawasan taman kota pada sore hari. Ketiganya memutuskan untuk bertemu, setelah cukup lama tidak menghabiskan waktu bersama, seperti saat mereka masih lajang dan bekerja di sebuah perusahaan yang sama.


Aira dan Una membalas lambaian tangan Ayumi, kemudian mereka berlari, dan saling memeluk setelahnya.


"Ya ampun seneng banget bisa ngumpul bareng lagi!" Ucap Aira, bahkan dia selalu tertawa pelan dengan ekspresi wajah yang bahagia.


Sementara Una hanya terus memeluk kedua temannya dengan sangat erat.


"Ay, perut kamu!" Una segera menyentuhnya. "Astaga Dede Bayinya Bapak Randy udah gede, Ay! Berapa bulan sekarang?" Katanya lagi dengan sangat antusias.


"Hari ini pas Empat bulan. Tadi pulang dari Dokter aku langsung di antara kesini, soalnya mau ketemu kalian." Jelas Ayumi.


"Pak Randy nggak marah?" Aira bertanya.


Ayumi mengulum senyum, lalu menggelengkan kepala.


"Kalian mau jajan dulu? Atau langsung ke rumah. Hari ini Mama mertua aku masak banyak."


"Lho, kamu nggak bilang!?" Ucap Una dan Aira bersamaan.


"Lupa."


Ayumi hanya tersenyum, sementara kedua temannya mencebikan sudut bibir dengan ekspresi sedikit kesal.


"Tumben masak-masak, ada acara apa?" Aira bertanya lagi.


"Katanya syukuran sederhana. Ajak makan temen-temen deket sama tetangga rumah. Kalau syukuran keluarga nanti saja pas kandungan aku sudah tujuh bulan."


Mereka mengangguk.


"Jadi gimana? Mau jajan dulu atau langsung ke rumah?"


"Ke rumah aja deh, Ay. Langsung makan kayaknya lebih afdhol."


Una memperlihatkan senyuman paling manisnya.


"Dasar tukang makan. Nggak bisa denger sedikit soal makanan langsung Nyamber aja!" Airna menepuk bahu Una.


"Hehehe, … itung-itung irit uang makan Ra." Ucap Una jujur.


"Ayo kalau mau langsung ke rumah. Kita naik taksi aja biar cepet, sama nggak banyak transit ganti bis."


Ayumi segera menarik kedua tangan sahabatnya, berjalan ke arah parkiran, dimana beberapa mobil taksi berwarna biru terparkir di sana.


Dan setelah berkendara hampir satu jam lamanya karena terjebak macet di beberapa tempat. Akhirnya Ayumi, Una dan Aira sampai rumah berasa milik Randy.


Pintu rumah terlihat dibiarkan terbuka, dan suasana sudah terdengar ramai dengan obrolan dan gelak tawa laki-laki yang sangat menggelegar.


Aira menatap Ayumi dengan raut wajah heran.


"Katanya acara kecil-kecilan, Ay!" Aira berbisik.


Hatinya mulai berdetak lebih kencang, saat isi kepalanya berputar-putar, dan mengenali salah satu suara, yang tak lain adalah pria pujaannya, siapa lagi kalau bukan Egy.


Si striker tampan kesayangannya.


Belum sempat Ayumi menjawab, Randy terlebih dulu muncul dari arah dalam dengan raut wajah masamnya. Pria itu seperti ingin segera meluapkan kekesalan setelah menunggu sang istri dalam jangka waktu yang sangat lama.


"Ada apa denganmu? Lama sekali. Aku hubungi kenapa tidak bisa?" Dia langsung bertanya.


"Macet, Abang. Hape nya ada di tas, mungkin nggak kedengaran." Kata Ayumi santai.


Namun tidak dengan Una dan Aira, mereka terlihat langsung ketakutan dan gugup.


"Aku mengantarmu sesudah dari Dokter tadi. Tapi saat aku datang ke rumah kenapa kamu masih belum datang? Berapa jam kalian habiskan hanya untuk mengobrol di taman?"


"Aku nungguin Una sama Aira pulang kerja, udah itu langsung berangkat, terus kena macet." Jelas Ayumi dengan suara yang dia buat selembut mungkin.


"Ta, …"


"Una, Aira. Ayo masuk, jangan merasa takut oke? Ada aku. Kalau ada yang macem-macem aku aduin sama Ibu!" Katanya seraya mendelikan mata kepada Randy.


Setelah itu dia menarik kedua sahabatnya untuk masuk.


"Maaf, Pak. Tadi kamu pulang sedikit terlambat." Una berujar kala melewati tubuh tinggi Randy yang berdiri di ambang pintu masuk.


Pria itu tidak menjawab. Rasanya begitu kesal bahkan hanya karena Ayumi menjadi orang terakhir yang datang, sementara dia adalah objek yang dicari para teman-temannya setelah Randy memamerkan jika dirinya akan segera mempunyai bayi dalam jangka waktu yang tidak lama lagi.


"Oh ini dia Ibu hamilnya." Maria langsung menyambut, beberapa saat setelah menyajikan berbagai macam makanan di meja ruang tamu, dimana teman-teman Randy berada disana.


"Akhirnya datang juga." Salah satu teman pria suaminya berbicara dengan senyuman yang sangat lebar.


Una bersikap biasa, namun tidak dengan Aira. Dia menundukan kepalanya saat merasa begitu gugup, apalagi Egy terus menatapnya setelah menyadari kehadiran Aira disana.


"Halo, selamat menikmati hidangannya. Aku kebelakang dulu yah!" Kata Ayumi.


Lalu menggiring keduanya ke arah taman belakang. Dimana Ali dan Tutih berada disana, menyiapkan segala camilan di atas meja yang sudah disediakan.


"Kamu sudah sampai?" Tutih mendekat. "Randy sudah menggerutu sejak saat dia tiba, karena kamu tidak ada di rumah bahkan sudah sore seperti ini." Tutih berbisik, tentu saja dia takut akan terjadi sesuatu kepada putrinya.


Namun Ayumi hanya tersenyum.

__ADS_1


"Ibu. Masih inget sama Una, Aira? Dia yang suka nemenin aku di awal-awal sewa kamar kost."


Dua gadis itu tersenyum, mendekat dan mencium punggung tangan Tutih bergantian. Dan hal yang sama mereka lakukan kepada Ali juga Maria saat mereka tiba-tiba berkumpul di taman belakang rumah.


"Ayo ambill makanannya. Hanya ada rendang, opor ayam sama Zuppa soup. Kalau cemilannya sangat banyak, ayo dimakan." Maria mempersilahkan.


"Baik, Bu. Sebelumnya terimakasih." Kata Una dan Aira sambil tersenyum malu-malu.


"Ay, ayo antara ambil makannya di dapur. Disini cuma di sediakan cemilan, buah, dan minuman saja."


Ayumi mengangguk, dia segera menggiring kedua temannya untuk membawa makanan. Dan tidak lama mereka segera kembali untuk menempati salah satu kursi kayu yang terletak di tengah-tengah rerumputan, dengan bohlam-bohlam kecil yang mulai Maria nyalakan.


"Pak, Bu. Makan!" Una kepada Tutih, Maria dan Ali.


Ketiga orang tua itu hanya tersenyum.


"Saya makan ya Bu, Pak." Aira dengan gugup.


"Selamat makan." Balas Tutih.


Ketiga perempuan seumuran mulai menyantap hidangan yang mereka ambil masing. Menikmati sambil bercerita banyak hal di selingi gelak canda dan tawa. Pun demikian dengan Randy, pria itu sibuk menemani teman-temannya dengan perasaan yang sedikit kesal kepada Ayumi, sampai dia tidak berniat menemuinya di belakang rumah sana.


Beberapa pria terlihat mulai keluar, membawa beberapa hidangan pencuci mulut juga campuran buah-buahan yang sudah dipotong kecil-kecil, sampai mempermudahkan siapapun yang akan membawanya.


Pandangan Egy kembali tertuju kepada Aira yang tengah mengobrol sambil tertawa. Entah kenapa dirinya merasa heran, dimana ada seorang penggemar yang bisa mengacuhkan idolanya, bahkan Aira sama sekali terlihat tidak tertarik, meski hanya untuk meminta foto.


"Kenapa?" Evan bertanya.


"Tidak ada. Aku hanya merasa aneh, kenapa ada seseorang yang mengidolakan aku, tapi dia benar-benar acuh seperti itu." Kata Egy.


"Mungkin dia malu, atau sungkan."


"Ya, bisa jadi." Balas Egy, kemudian segera kembali ke arah dalam setelah membawa buah-buahan dan minuman dingin.


Ayumi dan teman-teman tetap asik berbincang-bincang, sementara para orang tua mulai disibukkan membenahi barang-barang, di bantu Bi Dini yang terlihat terus mondar-mandir membawa perabotan kotor.


***


"Hati-hati yah!" Ayumi berbicara, saat kedua temannya hendak memasuki taksi dan beranjak pulang ke kediaman masing-masing.


Aira dan Una mengangguk, dia tersenyum dengan tangan yang terus melambai-lambai.


"Makasih ya, Ay. Bilang makasih juga untuk semuanya, terus ini pake repot-repot di bungkusin." Kata Aira.


"Iya sama-sama. Kapan-kapan mampir kesini yah kalo pulang kerja."


Mereka mengangguk.


Keduanya segera masuk kedalam mobil, setelah mendapati anggukan dari Ayumi. Mobil itu mulai melaju, dan meninggalkan area rumahnya pada hampir pukul delapan malam.


Setelah itu dia kembali masuk, menutup pintunya rapat-rapat. Suasana rumah masih terasa hangat, saat teman-teman suaminya masih asik bermain PS di ruang tengah. Suara tawa, teriakan, bahkan umpatan kekesalan terus terdengar.


Dia menatap Randy. Sekilas pria itu menoleh, namun kembali pada game di hadapannya.


"Sifat memang sangat susah di ubah!" Ayumi bergumam, kemudian masuk ke dalam kamar terlebih dulu.


Kandungannya bahkan baru saja berusia empat bulan. Tapi tubuhnya sudah merasa lelah, dan sedikit pegal di bagian pinggang.


Ayumi mendekati pintu kamar mandi. Dia segera masuk untuk membersihkan diri sebelum benar-benar naik ke atas ranjang dan tidur.


Hampir saja Ayumi menutup pintu kamar mandi tersebut. Namun sesuatu terasa menahannya, seraya mendorong sedikit demi sedikit, hingga pandangan Ayumi dan Randy beradu.


"Lho!" Ayumi heran.


"Kau mau mandi? Tidak mengajakku?" Ucapnya dengan nada ketus.


"Kan lagi main game, aku lihat aja tadi seperti tidak mau." Kaya Ayumi santai.


Dia melepaskan pintunya begitu saja, kemudian berbalik badan untuk mendekati sebuah keranjang pakaian kotor, dan mulai membuka pakaiannya satu persatu.


Randy mematung di ambang pintu.


"Kalo mau keluar tolong tutup pintunya, aku mau mandi." Kata Ayumi.


Perempuan itu mulai melangkah mendekati shower, menariknya dengan perlahan, dan mengalirlah air dengan kepulan asap samar. Randy menutup pintunya, namun dia tetap berada disana. Mendekati keranjang pakaian kotor, dan melakukan apa yang istrinya lakukan.


Dia segera mendekat tanpa banyak bertanya. Lalu memeluk Ayumi dari arah belakang, meletakan wajah di ceruk leher Ayumi, sementara kedua tangannya mengusap perut sang istri yang sudah benar-benar memperlihatkan perubahan.


"Kenapa kamu menjadi pendiam seperti ini?" Randy berbisik.


Tubuh keduanya sudah benar-benar basah.


"Aku hanya menghindar dari sebuah perdebatan, atau bahkan pertengkaran. Ada Ibu dan Bapak, tidak enak kalau harus melihat kita seperti itu. Apalagi tadi Ibu kelihatan takut saat kamu terus mengomel hanya karena aku terlambat sampai."


Ayumi tak mengalihkan pandanganya sama sekali. Dia terlihat acuh, dan lebih memilih memfokuskan diri untuk mengaplikasikan sabun keseluruh tubuhnya.


Randy terdiam.


"Kalau mau mandi, mandi yang benar." Ayumi berusaha melepaskan diri.


Tapi Randy justru mengencangkan pelukannya.


"Apa aku keterlaluan?"

__ADS_1


"Tidak tahu. Coba tanya ke Ibu, bagaimana reaksinya saat melihat kamu seperti itu. Aku tidak apa-apa kalau kamu kesal, karena memang kamu seperti itu, pikiranmu pasti berpikir yang tidak-tidak. Tapi bisakan jangan terus menggerutu? Setidaknya jangan saat ada Bapak dan Ibu!"


Randy diam. Dia memejamkan matanya, saat kembali sadar jika reaksinya pada sore hari ini memang sedikit berlebihan.


"Lepas dululah, aku mau mandi. Kalau kamu begini terus aku jadinya susah."


Randy menggelengkan kepala.


"Jangan marah." Kata Randy.


"Siapa yang marah? Aku tidak marah." Balasnya pelan.


Namun itu membuat Randy semakin takut. Karena Randy tahu, jika Ayumi sudah begitu, dia benar-benar merasa kecewa.


"Ay?"


Randy memutar tubuh istrinya, sampai mereka kembali saling menatap. Menyelami mata satu sama lain di bawah kucuran air shower yang terasa hangat.


"Ish aku mau mandi."


Ayumi berusaha mendorong dada suaminya, namun segera Randy tahan sampai telapak tangan itu terus menempel di sana.


"Jangan kesal, aku mohon."


Randy menarik tangan Ayumi sampai tubuh mereka saling beradu satu sama lain.


Dan betapa terkejutnya perempuan itu saya merasakan sesuatu yang sudah tegang di area perutnya.


Ayumi menunduk. Matanya seketika membuat ketika melihat milik suaminya sudah siap, bahkan saat mereka tidak melakukan apapun.


Randy tersenyum kala Ayumi kembali mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Dia menginginkanmu." Bisik Randy.


Ayumi diam.


"Ayolah, agar rasa kesal yang kamu rasakan segera mereda."


Randy hendak meraih tubuh Ayumi, tapi dengan satu kali dorongan Ayumi membuat jarak keduanya menjadi semakin jauh.


"Nggak mau!" Kata Ayumi, lalu dia melanjutkan kegiatan mandinya.


"Benarkah!?"


Dengan satu kali gerakan Randy menutup kran air, menarik handuk dan membawa Ayumi keluar dari dalam sana.


Perempuan itu berteriak, tangannya bahkan memukul-mukul pundak sang suami, saat berusaha membuat dirinya terlepas dari terkaman yang mungkin akan pria itu lakukan.


"Lepas!"


"Ya setelah ini." Bisik Randy sembari meletakan Ayumi di atas tempat tidur.


Ayumi kembali bangkit, hampir saja berlari menuruni ranjang, namun dengan segera Randy meraihnya sampai Ayumi kembali berbaring terlentang di atas sana.


"Aku nggak mau di paksa." Ayumi terus meronta.


Tapi Randy menulikan pendengaran, dia mengacuhkan beberapa ancaman yang Ayumi lontarkan. Tangan Randy menyentuh kedua kaki Ayumi, menekuknya dan langsung saja membenamkan sesuatu yang sudah sangat menegang, membuat Ayumi menjerit dengan sangat kencang.


Pria itu tersenyum, kembali menunduk dan mendekatkan wajah pada telinga istrinya.


"Shutttttt! Nanti orang-orang di luar dengar." Dia berbisik.


"Kenapa nggak pelan-pelan!" Cicit Ayumi dengan perasaan kesal.


"Karena kamu sedang tidak bersahabat malam ini. Kamu terus mengancam, … tapi aku tidak takut dengan ancamanmu. Mommy!"


"Nghhhh!"


Kepala Ayumi mendongak kebelakang, dengan mata yang terpejam rapat, semetara tangannya terus menyentuh perut Randy, berusaha menahan pergerakan yang mulai tidak terkendali.


Randy terus mencumbu Ayumi. Memagut bibir istrinya dengan jangka waktu yang cukup lama. Dia berusaha menahan suara rintihan Ayumi, hingga tidak ada siapapun yang dapat mendengar suaranya selain dirinya sendiri.


Randy menjauhkan wajahnya untuk beberapa saat. Menatap ekspresi wajah yang terlihat begitu cantik, seksi dan menggemaskan.


Tangan Ayumi mencengkram kuat pundaknya, menatap Randy dengan tatapan sayu, seolah memohon sesuatu yang sudah mulai mendesak turun.


"Ahhh, …. Daddy!"


"Baiklah, baiklah. Sesuai permintaan kamu, sayang."


Randy semakin mempercepat hentakannya, berpacu di atas tubuh Ayumi yang sudah menggeliat dan bergerak tak tentu arah.


"Abanghh!"


Randy tersenyum.


Miliknya terasa dicengkram sangat kencang, sampai tak mampu bertahan. Desiran yang sangat luar biasa terasa turun dari atas kepala, mengalir hingga telapak kaki.


"Hhheuhhh!" Ayumi memeluk suaminya dengan sangat erat.


"Argghhh!" Lolongan Randy tertahan, saat wajahnya dia benamkan di ceruk leher Ayumi.


Suasana menjadi hening. Suara-suara indah benar-benar sirna, tergantikan dengan suara deru nafas yang tersengal-sengal, sisa pertarungan yang berakhir imbang.

__ADS_1


__ADS_2