My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 58 (Menantang maut)


__ADS_3

Gemuruh petir menyambar saling bersahutan, disertai angin juga derasnya hujan yang semakin jelas terdengar, menemani dua sejoli yang tengah saling memeluk pada hampir tengah malam.


Ayumi terus terjaga, semakin mengeratkan pelukannya saat rasa takut terus menguasai diri. Begitupun dengan Randy, dia memeluk Ayumi seraya mengusap punggung kekasihnya, berusaha membuat gadis itu sedikit lebih merasa tenang, di tengah perasaan cemasnya yang semakin menjadi-jadi.


Jlepp!!


Tiba-tiba suasana menjadi sangat gelap, saat semua listrik padam, dan hanya menyisakan gemerlap petir yang terus menggelegar.


Ayumi semakin mengeratkan pelukannya.


"Gelap!" Cicit Ayumi dengan suara pelan, bahkan hampir berbisik.


"Hhhh, … sepertinya gardu di depan bermasalah lagi, hampir setiap hujan petir pasti mati lampu." Randy berbicara.


Pria itu berusaha mendorong tubuh Ayumi agar tidak terus menempel pada dirinya, namun gadis itu menolak.


"Tidurlah dengan posisi yang benar, aku harus periksa genset di depan."


"Tidak mau!" Rengek Ayumi, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu bagaimana? Apa kita akan terus seperti ini?" Dia mulai gusar.


Tentu saja, posisi gadis itu yang berada diatasnya, dengan suasana seperti ini, belum lagi listrik yang tiba-tiba padam, membuat suasana semakin terasa tidak kondusif.


Ayumi diam.


"Ay? Bisa kamu sedikit menjauh? Aku sesak jika kamu terlalu lama berbaring di atas tubuhku!" Randy beralasan.


"Baiklah, aku tidur di samping. Tapi kumohon jangan kemana-mana, aku sudah ngantuk, tapi tidak bisa tidur."


"Hemmm, … aku akan tetap disini!" Sahut Randy.


Ayumi pun bangkit, kemudian berbaring tepat di samping Randy, dan kembali memeluk pria itu, seolah takut jika Randy akan meninggalkannya jika dia tertidur nanti.


"Ay? Boleh lepaskan dulu? Aku harus membawa ponsel."


"Aku takut."


"Ya, maka dari itu! Biarkan aku membawa ponselku dulu."


"Tapi untuk apa?"


"Senternya bisa membuat ruangan ini sedikit terang, Ay! Ini terlalu gelap, dan rasanya sesak."


Ayumi pun mengangguk, dia melepaskan Randy, dan membiarkan pria itu bangkit hanya untuk mencari ponselnya yang terletak di atas nakas.


Sorot lampu yang berasal dari telepon genggam mulai menyala, dan membuat keadaan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.


Randy melihat ke arah Ayumi, gadis yang sedang berbaring memeluk guling, dengan wajah cantik membuat perasaannya terus berdesir.


Dia berjalan kearah sofa, menggeser gorden hingga ujung, dan membuka jendelanya lebar-lebar, sampai gemuruh suara hujan semakin terdengar jelas.


Ayumi semakin menyembunyikan diri, keadaan ini benar-benar membuatnya ciut.


"Diam disana, jangan mendekat!" Dia memperingati.

__ADS_1


Tak lama setelah itu Randy membuka laci meja di samping sofa tersebut, membawa satu bungkus rokok dan korek miliknya.


"Abang ngerokok lagi?" Ayumi bertanya.


Randy tidak menjawab, dia hanya mengeluarkan satu batang, menyimpannya di antara celah kedua bibir, menghidupkan korek, dan menghisapnya dalam-dalam, lalu meniupkan asapnya di udara.


"Padahal aku sudah minta jangan merokok!" Kata Ayumi lagi.


"Hanya satu." Pria itu tertawa pelan.


"Iya tapi habis ini satu lagi, dan begitu terus jika rokok itu belum benar-benar habis … bahkan habis pun Abang masih bisa membelinya lagi!" Gadis itu sedikit menggerutu.


Kepulan asap rokok terlihat begitu jelas mengudara, dan sedikit mengganggu indra penciuman Ayumi, sampai dia menarik selimut dan menyembunyikan setengah wajahnya disana.


"Tidurlah!" Kata Randy.


"Ini juga mau."


"Ya, itu bagus. Karena jika kita terus begini, akan sangat berbahaya, kau tahu? Aku ini laki-laki normal. Kau juga yang mengatakan jika kucing tidak akan terus diam saat ada seekor ikan berada di hadapannya. Tapi kenapa ikan itu terus bergerak-gerak, memancing kucing yang sedang menahan rasa laparnya ini!" Suara itu terdengar pelan, juga penuh penekanan.


Ayumi tidak menjawab, tubuhnya terus bergeser, hingga punggungnya menempel di dinding yang saat ini terasa dingin.


Dia memeluk selimutnya erat, dan mulai memejamkan mata.


Sementara pria itu berusaha mengalihkan pikirannya yang mulai kacau, menatap ke arah luar, dengan rokok yang terus mengepulkan asap.


Lima menit.


Lima belas menit.


Dan setelah sekian lama akhirnya hujan pun reda, menyisakan angin dan kilat yang masih memperlihatkan cahaya merah kebiruan, di susul lampu yang juga mulai menyala.


Hal pertama yang Randy lihat adalah Ayumi, gadis yang sudah terlelap dengan posisi memeluk selimut.


"Bahkan tidur pun membuat wajahmu terlihat sangat cantik!" Randy berdecak memuji kecantikan Ayumi, kekasihnya.


Dia tersenyum, menutup kembali jendela dan gorden, kemudian beranjak mendekat ke arah tempat tidur sana.


Dia naik perlahan, menatap wajah Ayumi lekat-lekat. Dan untuk kesekian kalinya dia tersenyum bahagia, betapa beruntungnya dia memiliki kekasih secantik Ayumi.


Randy membujuk, kemudian mencium pipi Ayumi dengan sangat perlahan agar tak mengganggu gadisnya yang mungkin sudah tenggelam dalam lautan mimpi indahnya.


Cup!


"Jauh membuat perasaanku tak menentu, … dekat apalagi! Kau sukses membuat hidupku berubah seketika, Ayumi Kirana!" Randy terkekeh, sembari mengusap kepala Ayumi.


Setelah itu dia menjauh, membawa satu bantal dan kembali melangkahkan kakinya ke arah sofa.


***


Mata Ayumi mulai mengerjap perlahan, saat suara bising dari televisi terdengar begitu jelas oleh indra pendengarannya.


Ruangan temaram, juga sedikit asing baginya, membuat Ayumi langsung bangkit mendudukkan diri.


Samar suara Randy tengah berbincang terdengar, dan kali ini dia baru sadar jika dirinya tak lagi berada di rumah Alvaro, melainkan di rumah Randy, bahkan dia sampai tertidur di kamar pria itu.

__ADS_1


"Ahh, … aku benar-benar menantang maut semalaman." Gadis itu bergumam.


Sekitar sepuluh menit terus berdiam diri, akhirnya dia turun, membuka gorden, kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok giginya terlebih dahulu.


Klek!


Ayumi keluar dari dalam kamar sana dengan keadaan wajah segar, tapi masih terlihat sembab, namun tetap terlihat cantik.


Dia berjalan ke arah luar saat melihat bayangan Randy yang sedang duduk di kursi teras depan.


"Iya nanti aku kesana. Mungkin sore baru sampai, dan setelah itu kita datang bersama."


Randy berbicara dengan seseorang di dalam telepon sana.


"Baiklah, kalau begitu sudah dulu! Aku harus membangunkan Ayumi, ini sudah terlalu siang, bahkan dia melewatkan sarapannya." Kata Randy lagi.


Dia terlihat mengangguk, lalu menjauhkan benda pipih itu, dan meletakan diatas meja.


"Abang?" Panggil Ayumi.


Randy menoleh dengan ekspresi wajah terkejut.


"Kamu sudah bangun?"


Ayumi berjalan mendekat, lalu mengangguk.


"Kok cemberut?" Randy terus mendongak, menatap gadis yang sedang berdiri di hadapannya.


Bukannya menjawab, Ayumi Justru duduk diatas pangkuan Randy persis seperti koala, duduk mengangkang memeluk pundak pria itu erat.


Pria itu mematung, lagi-lagi kelakuan Ayumi membuatnya seperti mati kutu.


"Ada sesuatu?" Randy berusaha menetralisir rasa gugupnya.


"Tidak ada, hanya ingin seperti ini." Dia menjawab.


Randy menghela nafasnya kencang.


"Ayo sarapan. Tadi aku sudah pesan makanan, setelah itu mandi dan kita ke rumah orang tuamu hari ini juga."


Ayumi menarik diri sampai keduanya sedikit berjarak, menatap Randy dengan raut wajah bingung.


"Kenapa mendadak?"


"Kamu tanya kenapa?" Randy memasang waja serius.


Ayumi diam.


"Kali ini aku bisa menahan diri dengan semua kelakuanmu, tidak tahu kedepannya nanti, jadi lebih baik semuanya disegerakan saja."


"Eh tap …"


"Jangan membantah, ayo bangun, masuk, dan kita sarapan."


Ayumi menuruti perintah Randy, dia turun dari atas pangkuan kekasihnya, lalu berjalan masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2